Filosofi yang kita sering dengar dalam melihat wujud gelas yang setengah isi dan setengah kosong adalah sebagai berikut:
- OPTIMIS: “Gelas ini terisi setengahnya”.
- PESIMIS: “Gelas ini kosong setengahnya”.
Optimis berpikir kelimpahan, sedangkan pesimis berpikir kekurangan. Demikian filosofi umum yang melihat gelas tersebut berdasarkan KEADAANnya, yakni kondisi SAAT INI. SAAT INI gelas bisa dalam keadaan setengah isi atau setengah kosong. Setengah isi atau setengah kosong menggambarkan seseorang melihat kelebihan dan bersyukur atau melihat kekurangan dan mengeluh.
—
Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan perspektif baru memaknai gelas setengah isi – setengah kosong ini. Ketimbang menilai KEADAAN gelas pada SAAT INI, kita dapat menilainya dengan PROSES apa yang SEDANG TERJADI pada gelas tersebut. Apa jadinya isi gelas tersebut di MASA DEPAN. Begini maksudnya:
- OPTIMIS: “Gelas ini SEDANG DIISI. Beberapa waktu kemudian ia AKAN PENUH”.
- PESIMIS: “Gelas ini SEDANG DIKOSONGKAN. Beberapa waktu kemudian ia AKAN KOSONG”.
Beda dengan yang pertama, perspektif yang kedua mengamati PROSES YANG SEDANG TERJADI pada gelas tersebut. Setengah isi menggambarkan optimisme bahwa masa depan akan lebih baik, “wah, sudah terisi sebagian!”. Bisa saja sebenarnya orang berpikir AKAN PENUH tapi melihat pada sisi kosongnya, “kurang sedikit lagi nih airnya!”. Demikian pula berpikir AKAN KOSONG juga bisa dilihat dari dua sisi tersebut, tapi dengan pandangan bahwa masa depan akan sulit. Minimal kita akan kehabisan air
.
Mungkin ada lagi pandangan lainnya, Anda mau menambahkan?





hm.. bingung
orang yang selalu “setengah kosong”, akan mampu dan siap menerima ilmu/pengetahuan/wawasan baru dari luar…. menyaringnya, agar selalu jernih.. kalau orang yang sudah “penuh full” ituuuuhh, gak mau menerima ide dari luar..alias ilmu yang didapatnya meleeeberrr sajah keluar “gelas”nya..
ESQ bangetttss deh… *maklum, mantan reporter di sana, kk… i’m pround to be a part of esq’s big fams…wkwkwkw…*
@arif: hehehe, sok diulang-ulang lagi bacanya, mungkin tambah bingung
@yusako: oh bener, itu juga! Oh, ada toh reporter ESQ? baru tahu…
ah, agung, masa gak tau… sekarang sih udah ga ada lagi majalah cetak, bentuknya online.. mampir ke http://yusako.blogspot.com/2008/12/nostalgia-bulan-april.html yaa..
iya, ndak gaul ini..kok ndak bisa dibuka link itu ya?
Gelas yang penuh tidak akan bisa diisi lagi.
Yang ada, apapun isi yang kita tuangkan, malah
akan luber tak tertampung…
@Ales: Betul2, untuk itu kita perlu memperbesar ‘gelas’ nya agar tidak luber, agar airnya tetap bisa masuk
Atau jadi danau aja, katanya, jangan jadi gelas lagi.
(Apalagi kalau jadi laut ya? Subhanallah…)
@sherlanova: …dan kalau laut itu dijadikan tinta, dan pohon-pohon dijadikan pena, tak cukup untuk menuliskan/melukiskan ilmu Allah… Allahu akbar! -eh nyambung geuning-
minta ijin coPAS untuk dipake di kaskus. thx,
nice blog gan
hihihihi….
memmmang segala sesuatu bersifat relatif, bergantung kerangka acuannya/sudut pandang.
sepertinya saya dan reporter esq berbeda cara memaknainya.
namun dua2nya memiliki makna yang positif… yup…
buku yang menarik..
^_^