(sambungan dari Biologi Lelaki(2))
Sejauh ini nampaknya semua lancar-lancar saja, bukan? Benarkah demikian? Ternyata tidak. Setidaknya ada dua pengecualian.
- Masih ingat dongeng ibu yang menyuplai hormon ke janinnya sesuai jenis kelamin itu? Ternyata disebutkan bahwa pada kondisi ibu sedang stres berat (karena penganiayaan, sakit, atau tekanan jiwa yang berat), masalah suplai hormon ini bisa terganggu. Jadilah seorang anak dengan fisik dan otot lelaki, tetapi otaknya perempuan! Betul, konfigurasi hormon yang menyusun otaknya berbeda dengan jenis kelaminnya! Sempat saya tertegun membacanya, apa ini salah satu penyebab banci atau tomboy?
- Berikutnya, entah yang kemudian ini akibat masalah konfigurasi hormon atau bukan, tapi di setiap bab pembahasan, penulis memberi ruang untuk pengecualian yang disebut “otak penyeberang”. Maksudnya sebagai contoh, bila sebagian besar lelaki seharusnya lebih cerdas secara spasial ketimbang verbal, ada saja lelaki yang banyak bicara seperti perempuan. Ada saja lelaki yang menikmati betul pekerjaan motorik halus. Ada saja lelaki yang tidak mempunyai ambisi sosial, dan seterusnya. Demikian pula pada perempuan. Mereka inilah yang disebut otak penyeberang, seolah-olah melintas ke daerah yang berlawanan dengan kecenderungan alamiahnya. Apakah itu bermasalah? Bergantung bagaimana menyikapinya. Bisa ya, bisa tidak. Kalau perempuan tidak masalah memiliki suami berotak penyeberang, mengapa repot? -Eh, dengar-dengar lelaki berotak penyebarang sedang naik daun, hihihi…- Intinya, selalu ada pengecualian dari tabiat dasar lelaki atau perempuan ini. Ah, betapa kompleksnya manusia.
Dalam banyak bagian buku ini, terungkap sekian banyak kebingungan dan frustasi kaum perempuan -sebagai pasangan hidup laki-laki- dalam memahami perilaku sang lelakinya. Wajar saja, keduanya memiliki perbedaan kerja otak yang mendasar. Tanpa pengetahuan akan hal tersebut, sulit rasanya menerima perbedaan sikap sebagai hal yang baik-baik saja. Jika tidak paham, sebuah tindakan yang bermaksud baik dapat ditanggapi sebagai penghinaan. Seringkali, perempuan mengeluh bahwa lelaki telah meninggalkannya dengan menilai sikap lelaki melalui otak perempuan.Tidak pas. Nah. setelah memahaminya bersama, -mungkin bisa dibahas berdua sambil menyeduh teh hangat. “Saatnya bicara” Ah, iklan sekali!- rasanya layak untuk ditertawakan bersama pula. “Bodohnya kita, otakmu dan otakku memang berbeda! Ha ha ha….” Simply, that’s the way it is. Jadi, terima saja. Tinggal mereka berdua mempraktekkan strategi tarik-ulur. Kapan mengalah, kapan menuntut. Kapan menggunakan cara kerja otak lelaki, kapan menggunakan cara kerja otak perempuan. Ya, mereka berdua, siapa lagi? Mudah? Ah, tidak juga. Tapi layak dicoba, bukan?
Sebagai penutup, bagi saya, kehadiran buku ini mampu menjelaskan tabiat-tabiat dasar yang dibawa baik oleh lelaki maupun perempuan. Tabiat-tabiat ini, menurut penulis, tetap menjadi faktor dominan yang mempengaruhi cara orang berpikir dan merasa, walaupun faktor budaya telah mempengaruhi manusia untuk terkadang tidak berperilaku sesuai tabiat dasarnya. Maksudnya, tidak peduli dari budaya mana Anda dilahirkan dan dibesarkan, tabiat biologis ini akan menjadi bagian yang dominan dari hidup Anda. Dan karenanya, sayang jika Anda tidak memahaminya. Maksudnya begini, mengapa ambil risiko sampai bercerai jika ternyata hanya dibutuhkan sikap tertentu yang ‘pas’ dalam menghadapi pernikahan yang tampak tak seindah dulu?
Demikian kiranya, cukup sekian, allahu a’lam.
———————————————
Anak: Horeee, selesai juga akhirnya!
Ibu: Sudah larut, Nak. Kau nampak lelah. Tidurlah setelah meminum susu hangat yang Ibu siapkan.
Ayah: Bagus, Nak! Mungkin kelak kau akan membuat buku tentang ini. Ayah mendukungmu!
-nah, mulai lagi percakapan imajiner ini. Sudah ah. Benar-benar sudah
-


Pembahasan tentang biologi jender di buku ini dibuka dengan fakta bahwa otak kita -ya, benda ajaib yang ada di dalam tempurung kepala kita itu- ternyata mempunyai jenis kelamin (Brain Sex). Ada otak lelaki dan ada otak perempuan. Yang satu punya tabiat dan cara kerja yang berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini salah satunya dapat diamati dengan pemindai MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan PET (Positronic Emission Tomography). Pemindai ini mampu menghasilkan gambar-gambar bewarna tentang cara kerja otak. Dan hasilnya, otak lelaki dan perempuan menghasilkan gambar yang berbeda walaupun mereka sedang melakukan aktivitas yang sama. Menarik, bukan? Lalu apa maksudnya perbedaan gambar itu terhadap cara kerja keduanya?



Komentar