29
Jan
10

Pindah Rumah

Setelah lebih dari 2 tahun mengontrak gratis di aprasetyo.wordpress.com, boleh lah sekarang pindah ke rumah sendiri. Blog ini akan saya tinggalkan apa adanya. Selanjutnya semua saya pindah dan teruskan di:

http://agungprasetyo.org

17
Jan
10

Burung Kutilang

Dipucuk Pohon Cempaka
Burung Kutilang Berbunyi
Bersiul Siul Sepanjang Hari
Dengan Tak Jemu Jemu
Mengangguk Angguk Sambil Berseru
Trilili Lili Lilili

Sambil Berlompat Lompatan
Paruhnya Slalu Terbuka
Digeleng Gelengkan Kepalanya
Menentang Langit Biru
Tandanya Ia Suka Berseru
Trilili Lili Lilili

(Ciptaan: Bintang Soedibjo,
Aransemen gitar: Jubing Kristianto)

—–
Ket: Gambar dari Wikipedia
11
Jan
10

Somewhere on the bridge

31
Dec
09

Catatan Akhir Tahun

Tulisan pertama saya di aprasetyo.wordpress.com ini tercatat pada 24 April 2007. Tulisan itu berupa resensi buku “The Present” yang saya baca di sebuah ruangan di perpustakaan pusat ITB yang nyaman sekali. Saking nyamannya, waktu dua jam saya habiskan sambil bersantai sekaligus menghabiskan buku itu. Karena cukup berkesan, saya tak tahan untuk tidak berbagi. Resensi itu sekaligus mengawali posting pertama di blog yang telah berusia 2 tahun ini.
Apalah arti 2 tahun berbagi lewat tulisan? Apalagi saya tidak cukup rajin untuk menampilkan tulisan baru setiap harinya seperti yang Pak Dosen ini lakukan. Paling saya pasang target setidaknya sekali seminggu ada satu tulisan. Lama kelamaan saya naikkan jadi dua tulisan per minggu. Itupun tidak bisa selalu saya penuhi. Jika dihitung sejak April 2007 hingga Desember 2009 (20 bulan), saya baru mampu menghasilkan 121 tulisan. Ini berarti rata-rata 6 tulisan per bulan, yang artinya tidak sampai 2 tulisan per pekan. Itupun tanpa standar bentuk tulisan yang dimaksud. Bisa berupa tautan video dengan komentar tak panjang, sebuah lelucon, sampai tulisan yang bersambung tiga kali. Mohon maaf pula, masih ada beberapa tulisan yang belum ada sambungannya. Artinya, saya masih belum konsisten menjaga ritme menulis saya. Jika dibandingkan dengan 500 tulisan yang ditulis Bung Karno selama 4 tahun pada usia seperti saya sekarang ini, saya baru bisa mengejar setengahnya. Jelas tak usah dibandingkan dari sisi kualitas. Tulisan Bung Karno ‘menggerakkan’ rakyat, penuh semangat perjuangan, dan kritik keras terhadap pemerintah kolonial Belanda. Berbeda dengan tulisan saya yang hampir semuanya seputar human interest saya pribadi.
Saya memang belum bermaksud untuk ‘menggerakkan’ Anda sebagi pembaca. Saya hanya membayangkan Anda membaca tulisan saya sambil santai. Santai, tapi tetap dapat ‘sesuatu’. Tak heran hampir di setiap paragraf saya bumbui dengan ‘hehehe…” atau😛 untuk mengikuti gagasan yang saya rasa mulai ‘serius’. Saya tak ingin Anda merasa pusing karena terjebak di paragraf-paragraf tulisan saya. Saya tak mau Anda meninggalkan tulisan saya dengan rasa murung apalagi kecewa. Saya ingin Anda terhibur. Setidaknya, dengan satu senyum simpul di bibir Anda. Ya, seperti ini🙂 Terima kasih, saya tahu Anda sedang tersenyum sekarang ini. Tema-temanya pun seputar how dan why dari sesuatu yang saya anggap menarik. Sengaja tidak saya bahas tentang opini-opini ‘serius’ yang banyak Anda temukan di situs-situs berita. Selain karena saya tidak menguasai, saya rasa kunjungan Anda ke blog saya bukan untuk mencari bahan perdebatan baru. Cukuplah informasi serius Anda dapatkan di situs-situs tersebut. Selebihnya, bolehlah Anda sedikit terhibur di sini. Tapi saya tidak pernah memaksa Anda untuk tersenyum, lho.
Dari sisi jurnalistik, mayoritas tulisan saya termasuk feature (karangan khas).
Sifat tulisan feature lebih “menghibur” dan “menjelaskan masalah” daripada sekedar “menginformasikan” karena feature adalah tulisan yang menuturkan peristiwa disertai penjelasan riwayat terjadinya, duduk perkaranya, proses pembentukannya, dan cara kerjanya. Ia lebih banyak mengungkap unsur how dan why sebuah peristiwa sehingga mampu menyentuh ketertarikan manusiawi (human interest) atau menggugah perasaan (human touch)
– dikutip dari buku “Jurnalisme Terapan”, karya Asep Syamsul M. Romli –
Ini pula yang menjelaskan frekuensi tulisan saya yang tidak bisa muncul sehari sekali. Proses menulis feature membutuhkan sekumpulan fakta, opini, dan angle yang tepat. Angle yang tepat inilah yang baru bisa saya peroleh maksimal dua kali seminggu, bahkan lebih sering kurang daripada itu. Angle ini sering muncul justru pada saat tidak sedang memikirkannya. Biasanya saat dalam waktu luang di perjalanan pulang, saat menikmati air hangat sepulang kerja, sampai saat sedang tidak khusyu di rakaat-rakaat shalat. Ayolah, Anda juga pernah merasakannya, kan? Saat ide-ide melintas cepat di sela-sela rakaat? Yang penting kita simpan dulu penjabarannya sampai shalat selesai. Jangan dibahas waktu shalat. Nanti makmum serempak mengucap “subhanallah” saat Anda sebagai imam langsung berdiri pada rakaat kedua. Salah satu angle terbaik yang saya dapatkan, juga terbukti dari banyaknya statistik kunjungan ke tulisan tersebut, adalah tulisan tentang chord lagu We Will Not Go Down yang muncul setahun silam. Setahun lalu, saat agresi Israel ke Jalur Gaza. Wajar saja, tulisan itu muncul 1-2 hari setelah penciptanya mempublikasikan lagu tersebut. Pada saat yang sama, saya juga sedang mencoba teknik mendapatkan chord suatu lagu. Lagu itu adalah studi kasusnya. Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Selama menulis di blog, baik blog pribadi maupun berkomentar di blog orang lain, saya merasakan manfaat blog sebagai media tulisan yang membantu mendewasakan penulisnya. Alhamdulillah, saya merasa beruntung telah menulis di blog sebelum social media seperti Facebook (FB) dan mikroblogging seperti Plurk dan Twitter menjejali ruang dan waktu kita di dunia maya. Hal ini membuat saya lebih punya kesempatan untuk mengembangkan semangat menulis dengan serius. Serius artinya ada ide besarnya, lalu dijabarkan pada paragraf lead, sampai paragraf-paragraf berikutnya yang menjelaskan ide besar tersebut. Sehingga, terciptalah tulisan yang utuh. Ada idenya, dan ada bentuknya. Hal ini –silakan jika Anda tidak sependapat– tidak lagi didapatkan di social media atau mikroblogging. Para narablog kini tidak lagi sebanyak dahulu menuliskan idenya secara utuh dalam bentuk tulisan. Update status FB atau Twitter jauh lebih diminati daripada susah payah menyusun tulisan. Cukup 160 karakter di Twitter, Anda dapat menuai respon yang tidak sedikit dari follower atau teman Anda. Perasaan dapat berkomunikasi interaktif dengan lebih singkat dan lebih cepat inilah yang mungkin membuat keduanya begitu digemari daripada blog. Saya sependapat dengan Kang Romel yang berpendapat bahwa jika tidak diwaspadai, kecenderungan lebih asyik di FB daripada blog dapat mematikan budaya dan kreativitas berpikir dan menulis.
Tidak ada penulis manapun yang dapat berkembang tanpa umpan balik dari pembacanya. Dalam blog ini, Andalah, wahai para komentator, salah satu yang membuat saya bersemangat menulis. Saya sadar traffic blog ini belum sepadat para narablog yang menjadi simpul massa. Belum cukup memberi kebanggaan seorang komentator pertama dengan komentar khasnya, “Pertamax!” sebagai gambaran betapa sulitnya menjadi pemberi komentar yang pertama di antara sekian banyak penggemar. Saya senang mendapat komentar, yang hingga tulisan ini dibuat sudah mencapai 617 komentar, termasuk komentar saya sendiri. Jika bagian saya dihilangkan, mungkin tersisa lebih dari setengahnya. Jadi, rata-rata ada 3-4 komentar per tulisan. Mas Trian tercatat sebagai pemberi komentar terbanyak (30) sekaligus pemberi komentar pertama sejak blog ini dibuat. Saya akui bahwa keberanian untuk mempublikasi tulisan dalam bentuk blog, terutama di periode awal blog tercipta, banyak dipengaruhi oleh komentar-komentar awal. Maklum saja, kita belum cukup percaya diri untuk membiarkan orang lain membaca tulisan ‘baru’ kita yang kita nilai tidak penting, tidak tersusun dengan baik, sampai yang kehilangan ide besarnya. Jadi, sekalian saja saya berterima kasih pada mas Trian ini yang telah membesarkan hati untuk tetap nge-blog di periode awal. Walaupun kini bapak satu anak ini sudah jarang nge-blog, tapi sekira 2 tahun yang lalu narablog yang satu ini cukup populer ditandai dengan traffic nya yang tinggi dan komentatornya yang banyak. Rasanya lebih nyaman kalau blog kita ‘tumbuh’ bersama blog kawan-kawan kita, seperti tumbuhnya kemampuan berpikir dan menulis kita.
Terima kasih juga saya sampaikan kepada Rachma yang telah memberikan kreativ blogger award untuk gaya penulisan blog ini. Saya menilai banyak tulisan saya punya anak kalimat yang panjang. Saya sering merasa harus memasukkan sekian banyak ide dalam satu kalimat. Secara bahasa jurnalistik, ini tidak bagus. Oleh karena itu, tulisan-tulisan berikutnya insyaAllah akan lebih baik. Minimal tidak membuat pembaca terengah-engah menyelesaikan satu kalimat yang tidak kunjung selesai. Ide besar gaya penulisan sesuai visi misi blog ini. Saat pembaca menikmati tulisan, saya ingin mereka tidak kesulitan menemukan ide besarnya. Saya ingin mereka mencerna setiap kalimat dengan senang hati. Santai saja, tapi dapat ‘sesuatu’ setelah membacanya. Entah apa saya masih tertarik untuk mempertahankan misi ini. Siapa tahu ada misi lain yang lebih menarik untuk dilakukan. Selama Anda, sebagai pembaca, merasakan manfaat dari tulisan saya, tentu saya akan senang hati untuk tetap menulis, apapun gayanya.
Last but not least, sudah sekian banyak judul saya gunakan untuk blog ini, mulai dari nama sendiri sampai frasa yang saya rasa menarik. Sengaja saya memperbanyak update status FB agar jangan kalah cepat dengan berubahnya judul blog ini, hahaha…Begitu pula tema warna yang saya pilih di template bawaan wordpress ini. Memang rasanya lebih menarik jika punya desain sendiri dengan alamat sendiri, tanpa ada embel-embel wordpress.com. Hal ini saya rasakan lebih ‘menjual’, dan lebih profesional. Someday, insyaAllah.
Thank you, amigos. Thank you for your supports and critics. Terima kasih untuk orang-orang yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang telah memberi warna tulisan saya. Mari kita tetap menulis, karena:
“Hanya mereka yang merasa hidup ini menarik dan mereka yang ingin membantu memajukan kota dan dunia yang patut terjun di bidang jurnalistik”
– dikutip dari buku “Jurnalisme Terapan”, karya Asep Syamsul M. Romli –
16
Dec
09

Film “The Terminal” dan Grafologi

Inti cerita “The Terminal” (2004) adalah seorang pria yang ‘terjebak’ di bandara John F. Kennedy (JFK), New York karena secara hukum tidak berhak untuk keluar dari bandara dan menuju New York, tapi pada saat bersamaan tidak pula dapat pulang kembali ke negaranya. Hal ini disebabkan saat ia sampai di bandara JFK, negaranya sedang mengalami pemberontakan dari dalam terhadap pemerintah yang sah (Coup d’etat). Akibatnya, paspor negara tersebut tidak berlaku untuk memasuki negara lain, dan tidak pula ada penerbangan yang melayani tujuan ke negara yang sedang kacau itu. Negara buatan itu bernama Krakozhia, dan lelaki sial itu bernama Viktor Navorski (Tom Hanks). Singkat cerita, Viktor seperti jatuh ke dalam celah sistem yang tidak memberikan pilihan kepadanya selain harus menunggu di terminal transit internasional di bandara. Sampai kapan? Sampai negaranya kembali berdaulat atau sampai pemerintah Amerika menemukan aturan legal yang mengizinkan dirinya memasuki New York. Kedua-keduanya tidak jelas. Jadi, Viktor menjalani hari-harinya hidup di terminal transit sambil menunggu waktu yang entah kapan akan berakhir.

Apa gerangan yang terjadi selama waktu Viktor yang tidak jelas itu? Bagaimana caranya bertahan hidup (makan, mandi, tidur, dll) tanpa mampu menukarkan mata uang Krakozhia-nya yang sudah tidak berlaku? Bagaimana ia, yang dalam keadaan sulit, tetap dapat membantu seorang pria yang jatuh cinta? Bagaimana ia tiba-tiba terkenal dan disayangi semua kru bandara, termasuk para penjaga toko, karena menyelamatkan kebebasan seorang pria? Bagaimana pula perasaannya saat ia jatuh hati pada seorang pramugari cantik (Catherine Zeta-Jones)? Berhasilkah ia memasuki New York di tengah ‘jebakan’ yang disiapkan Komisaris Lapangan bandara yang tak berniat memudahkan hidupnya? Dan tentunya, pertanyaan paling penting ini: apa tujuan ia datang ke New York sehingga ia rela bertahan dalam ketidakjelasan? Saksikan sendiri dalam film berdurasi 128 menit ini.

Grafologi

Selain kisah yang menarik, “The Terminal” ternyata menyimpan kejutan lain di akhir filmnya. Setidaknya kejutan bagi saya. Kejutan ini muncul dalam bentuk  penulisan movie credit yang tidak biasa. Wajarnya, credit ditulis dalam huruf-huruf ketik, namun kali ini mereka muncul dalam bentuk tulisan tangan! Ya, tulisan tangan orang-orang yang namanya muncul pada credit tersebut! Maka kita bisa melihat tulisan tangan Steven Spielberg (sang sutradara), Tom Hanks, Catherine Zeta-Jones, berikut semua kru dan aktor yang terlibat. Lalu kenapa? Eh, kenapa bagaimana?? Kita jelas-jelas bisa membaca ‘sekilas’ karakter mereka lewat tulisan tangan mereka sendiri. Inilah yang dinamakan Grafologi, yakni ilmu (atau seni?) membaca karakter dari bentuk tulisan tangan. Keren, bukan?

Tenang saja, saya juga baru membaca dan tertarik sekilas. Tapi melihat manfaatnya, nampaknya ilmu ini patut dipelajari lebih lanjut, hehehe. Ada beberapa buku yang mengulas tentang grafologi ini. Referensi di internet juga ada. Lumayan lah, selain bisa membaca karakter diri sendiri dan orang lain (orang lain yang mana maksudmu, Gung? :P), ternyata Grafologi ini juga bisa dijadikan semacam terapi untuk memperbaiki karakter diri yang negatif. Hebat, bukan? Nah, agar lebih menarik mari kita coba ambil satu saja tulisan tangan yang ada pada movie credit “The Terminal” tadi. Siapa lagi kalau bukan tulisan tangan tuan Spielberg. Siapa tahu kita bisa membaca jejak kesaktiannya sebagai sutradara dari tulisan tangannya sendiri. Dan kawan, saya bisa melihat itu saat pertama kali credit menampilkan namanya.

Yang paling mencolok, menurut saya, dari tulisan Spielberg ini adalah zona atasnya yang tinggi (lihat tinggi dan proporsi huruf “S”, “T”, “L”, dan “B” terhadap huruf lainnya). Garis pada tulisan, berdasarkan letaknya, secara umum dibagi dalam 3 zona: bawah, tengah, dan atas. Masing-masing zona memiliki interpretasinya masing-masing. Nah, zona atas tulisan itu menggambarkan cita-cita, angan-angan, harapan, dan kehidupan spiritual. Maka, bisa dikatakan bahwa orang yang mempunyai tulisan dengan zona atas yang tinggi memiliki kecenderungan untuk memiliki idealisme yang besar, cita-cita yang melangit, harapan yang panjang, imajinasi yang tinggi, atau kehidupan spiritual yang prima. Jreng! Klop sekali dengan kesaktian sutradara Steven Spielberg ini yang film-filmnya selalu memikat karena ramuan jalan ceritanya yang apik, imajinasi yang tinggi, aktornya yang menawan, sampai pengambilan gambarnya yang memukau. Cocok sekali dengan karakter yang dibutuhkan oleh seorang sutradara film-film box office, bukan? Nah, sebenarnya banyak aspek lain yang bisa dinilai dari bentuk tulisan tangan, seperti margin, spasi, jarak antar huruf, jarak antar kata, kemiringan, huruf tegak/bersambung, dan sebagainya. Namun cukuplah analisis sok tahu ini fokus pada zona atasnya yang tinggi.

Sebagai penutup, seolah-olah sambil mendengarkan komposisi musik film “The Terminal” yang menghibur ini (coba dengarkan sendiri) , mari kita lihat bentuk tulisan tangan aktor dan kru lainnya. Siapa tahu jadi lebih tertarik untuk mempelajari grafologi. Selamat penasaran🙂

Music Composer, John Williams

Director of Photography

Tom Hanks

Catherine Zeta-Jones

12
Dec
09

Biologi Lelaki(3): Epilog

(sambungan dari Biologi Lelaki(2))

Sejauh ini nampaknya semua lancar-lancar saja, bukan? Benarkah demikian? Ternyata tidak. Setidaknya ada dua pengecualian.

  • Masih ingat dongeng ibu yang menyuplai hormon ke janinnya sesuai jenis kelamin itu? Ternyata disebutkan bahwa pada kondisi ibu sedang stres berat (karena penganiayaan, sakit, atau tekanan jiwa yang berat), masalah suplai hormon ini bisa terganggu. Jadilah seorang anak dengan fisik dan otot lelaki, tetapi otaknya perempuan! Betul, konfigurasi hormon yang menyusun otaknya berbeda dengan jenis kelaminnya! Sempat saya tertegun membacanya, apa ini salah satu penyebab banci atau tomboy?
  • Berikutnya, entah yang kemudian ini akibat masalah konfigurasi hormon atau bukan, tapi di setiap bab pembahasan, penulis memberi ruang untuk pengecualian yang disebut “otak penyeberang”. Maksudnya sebagai contoh, bila sebagian besar lelaki seharusnya lebih cerdas secara spasial ketimbang verbal, ada saja lelaki yang banyak bicara seperti perempuan. Ada saja lelaki yang menikmati betul pekerjaan motorik halus. Ada saja lelaki yang tidak mempunyai ambisi sosial, dan seterusnya. Demikian pula pada perempuan. Mereka inilah yang disebut otak penyeberang, seolah-olah melintas ke daerah yang berlawanan dengan kecenderungan alamiahnya. Apakah itu bermasalah? Bergantung bagaimana menyikapinya. Bisa ya, bisa tidak. Kalau perempuan tidak masalah memiliki suami berotak penyeberang, mengapa repot? –Eh, dengar-dengar lelaki berotak penyebarang sedang naik daun, hihihi…– Intinya, selalu ada pengecualian dari tabiat dasar lelaki atau perempuan ini. Ah, betapa kompleksnya manusia.

Dalam banyak bagian buku ini, terungkap sekian banyak kebingungan dan frustasi kaum perempuan -sebagai pasangan hidup laki-laki- dalam memahami perilaku sang lelakinya. Wajar saja, keduanya memiliki perbedaan kerja otak yang mendasar. Tanpa pengetahuan akan hal tersebut, sulit rasanya menerima perbedaan sikap sebagai hal yang baik-baik saja. Jika tidak paham, sebuah tindakan yang bermaksud baik dapat ditanggapi sebagai penghinaan. Seringkali, perempuan mengeluh bahwa lelaki telah meninggalkannya dengan menilai sikap lelaki melalui otak perempuan.Tidak pas. Nah. setelah memahaminya bersama, –mungkin bisa dibahas berdua sambil menyeduh teh hangat. “Saatnya bicara” Ah, iklan sekali!– rasanya layak untuk ditertawakan bersama pula. “Bodohnya kita, otakmu dan otakku memang berbeda! Ha ha ha….” Simply, that’s the way it is. Jadi, terima saja. Tinggal mereka berdua mempraktekkan strategi tarik-ulur. Kapan mengalah, kapan menuntut. Kapan menggunakan cara kerja otak lelaki, kapan menggunakan cara kerja otak perempuan. Ya, mereka berdua, siapa lagi? Mudah? Ah, tidak juga. Tapi layak dicoba, bukan?

Sebagai penutup, bagi saya, kehadiran buku ini mampu menjelaskan tabiat-tabiat dasar yang dibawa baik oleh lelaki maupun perempuan. Tabiat-tabiat ini, menurut penulis, tetap menjadi faktor dominan yang mempengaruhi cara orang berpikir dan merasa, walaupun faktor budaya telah mempengaruhi manusia untuk terkadang tidak berperilaku sesuai tabiat dasarnya. Maksudnya, tidak peduli dari budaya mana Anda dilahirkan dan dibesarkan, tabiat biologis ini akan menjadi bagian yang dominan dari hidup Anda. Dan karenanya, sayang jika Anda tidak memahaminya. Maksudnya begini, mengapa ambil risiko sampai bercerai jika ternyata hanya dibutuhkan sikap tertentu yang ‘pas’ dalam menghadapi pernikahan yang tampak tak seindah dulu?😛

Demikian kiranya, cukup sekian, allahu a’lam.

———————————————

Anak: Horeee, selesai juga akhirnya!
Ibu: Sudah larut, Nak. Kau nampak lelah. Tidurlah setelah meminum susu hangat yang Ibu siapkan.
Ayah: Bagus, Nak! Mungkin kelak kau akan membuat buku tentang ini. Ayah mendukungmu!

-nah, mulai lagi percakapan imajiner ini. Sudah ah. Benar-benar sudah :D-

12
Dec
09

Biologi Lelaki(2): Male Brain

(sambungan dari Biologi Lelaki(1))

Aku adalah lelaki…” (Samsons)

Setelah kita melihat inti dari hubungan otak dan hormon di atas, saatnya membahas salah satu jenis kelamin otak yang menjadi fokus buku ini: Otak Lelaki. Mengingat banyaknya bahasan yang berkaitan dengannya, misalnya mulai dari bagaimana pendapat otak lelaki tentang perasaan dan emosi sampai pekerjaan rumah tangga, maka lebih baik saya comot beberapa poin-poin saja secara acak. Satu sama lain bisa berhubungan bisa tidak. Beberapa bagian yang seru sengaja saya sembunyikan agar kawan penasaran dan terdorong untuk membacanya langsung, hehehe…Tak seru kalau dibuka semua, usaha lah sedikit. (lho, kok??). Mari kita mulai.

  • Testosteron dan Oksitosin
    Ada yang berkelakar bahwa testosteron inilah yang bertanggung jawab terhadap perang dan kekacauan dunia. Hahaha…tak sepenuhnya salah, karena memang hormon inilah yang bertanggung jawab terhadap sikap agresi. Selain itu, sebut saja pengaruhnya pada kecenderungan terhadap seks, kemandirian (independensi), kompetisi, dan ambisi kekuasaan sosial. Bagaimana, terdengar maskulin sekali, bukan? Hormon ini dominan pada lelaki.
    Di sudut ring yang lain berdirilah oksitosin, yakni hormon yang berhubungan dengan kesenangan ibu mengasuh anak, hubungan verbal-emosional, dan keterikatan yang simpatik (intimasi). Seperti yang sudah kawan tebak, hormon ini dominan pada perempuan.
    Selain kedua hormon ini, masih terdapat hormon lain seperti esterogen, progesteron, vasopressin, serotonin, dan sebagainya, yang juga bertanggung jawab terhadap kecenderungan-kecenderungan tertentu. Namun saya menangkap pembahasan menguat pada pengaruh dua hormon ini saja. Sebagai catatan, kandungan hormon-hormon ini mempunyai siklus naik-turunnya. Ada saatnya testosteron yang dominan, ada saatnya oksitosin yang menang. Bahkan sampai ada 12 fase pernikahan berdasarkan siklus ini. Penasaran? Baca bukunya ya😛
  • Independensi dan Intimasi
    Independensi itu ciri khas lelaki seperti intimasi yang menjadi ciri khas perempuan. Perbedaan ini digambarkan dengan jelas dari dua ungkapan ayah dan ibu melihat anaknya yang beranjak dewasa.
    Ibu: “Anakku sudah besar, dan ia akan segera pergi. Rasanya ia sudah tidak membutuhkan aku lagi. Dia akan pergi meninggalkanku”
    Ayah: “Bagus sekali, Nak! Kau akan segera hidup mandiri dan menemukan jalanmu sendiri. Hidupmu sendiri. Aku hanya bisa menunjukkan jalannya, kaulah sendiri yang harus melaluinya”.
    Bagi pasangan, hubungan yang langgeng adalah hubungan yang mempunyai strategi pengaturan idependensi dan intimasi yang baik. Jangan sangka kalau sudah menikah lama masih ingin intim terus (hei, ini berdasarkan riset penulis, lho). Ada kalanya ingin sendiri, ada kalanya rindu berdua. Begitulah silih berganti. Tak sehat jika terus menerus berintim-ria, apalagi bersendiri-ria, karena demikianlah tabiat jiwa kita ini, ada dinamikanya. Lagipula, bukankah menikah sebenarnya tetap mempertahankan identitas masing-masing walaupun sudah bersatu? Justru itu kan, yang ‘memperkaya’ hubungan?. Ya, Anda betul sekali, saya mulai sok tahu. Mari kita lanjutkan ke bagian berikutnya😛
  • Pengasuhan paternal (menghargai) dan maternal (membesarkan hati)
    Seorang anak terjatuh saat bermain. Ibu akan berkata, “Kau terjatuh. Apa kau baik-baik saja?”. Ayah akan berkata, “Sudah, tidak apa-apa. Ayo, lanjutkan permainannya”. Well, sebenarnya tergantung jatuhnya seberapa parah sih, kalau sampai patah tulang atau gegar otak, yang jelas Pak Dokter yang akan berkata, hihihi… (lho, orang celaka kok ditertawai?? Eh bukan, ini maksudnya menertawai Pak Dokter berkata itu, bukan ayah atau ibu yang berkata… *halah, dibahas*). Ibu akan cenderung membesarkan hati anak-anaknya. Bersimpati. Sedang ayah cenderung menjaga harga diri anaknya. Me’naik’kannya. Hargailah kekuatan dan ketabahannya. Jatuh tidak masalah. Dia kuat. Jangan sedikit-sedikit, jatuh harga diri. Demikian kiranya.
    Kabar gembiranya adalah kedua sisi ini sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan anak. Ada waktunya saat pertumbuhan dari bayi sampai SD, pengasuhan maternal yang dominan dibutuhkan. Selanjutnya, paternal yang dominan, dan seterusnya.
  • Spasial-Abstrak dan Verbal-Emosional
    Kawan pernah berjumpa pengendara motor / mobil yang berkecepatan rendah tapi mengambil ruang tepat di tengah jalan? Apa, sering?? Hehehe… cobalah tengok pengemudinya, setelah kita klakson dan melewatinya. Hampir semuanya yang saya jumpai adalah perempuan. Wajar saja jika melihat bahwa kecerdasan spasial perempuan tidak sebesar lelaki. Spasial ini maksudnya kecerdasan mengukur diri / objek di dalam ruang. Ruang berarti kiri dan kanan, atas dan bawah, jauh dan dekat. Itulah mungkin penjelasan sederhana pengendara berkecepatan rendah di tengah jalan tadi. Dan itu pula yang menyebabkan lelaki begitu gemar dengan objek dalam ruang. Pandai memperbaiki barang. Sebut saja mobil, mesin, elektronik, komputer, alat musik, bangunan, dan sebagainya. Khusus pada kendaraan, objek ini merupakan objek yang sangat digemari lelaki, berbeda dengan rumah yang sangat digemari perempuan. Sederhananya, kendaraan merupakan manifestasi kekuasaan, kemandirian, petualangan, dan status sosial. Haha, lelaki sekali, bukan?
    Sementara itu, di sisi lain kita juga menjumpai lelaki yang hemat bicara. Sangat hemat. Segan (atau kagok?) orang dibuatnya. Segan istri dan anak dibuatnya, bahkan untuk sekedar meminta pengulangan informasi yang belum jelas. Kalau sudah begini, apalagi mengungkapkan perasaan-perasaan dengan kata-kata. Lupakan. Laki-laki cenderung memiliki kecerdasan verbal-emosional yang lebih rendah daripada perempuan. Bagi lelaki, aksi lebih menarik daripada kata-kata. Bisa saja seorang lelaki menghabiskan berjam-jam memperbaiki mesin mobilnya tanpa bicara sepatah kata pun. Bagi perempuan mungkin itu tampak mengerikan, tapi begitulah dunia lelaki.
    Ketimbang membicarakan perasaannya dengan kata-kata, lelaki memilih untuk menyendiri untuk memulihkan emosinya (pernah dengar istilah lelaki dan ‘gua’nya?). Sikap inilah yang dibaca perempuan sebagai tindakan meninggalkan dirinya. Abang sudah tak cinta lagi karena tak membicarakan masalahnya padaku (perempuan memecahkan masalahnya dengan bercerita, bercerita, dan bercerita). Padahal bukan demikian, karena lelaki itu tetaplah mencintainya. Hanya saja, biarkan aku sendiri dulu. Itu saja.
  • Panggilan hidup
    Bagi lelaki, mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menemukan harga dirinya dibanding perempuan. Perempuan secara inheren telah mendapatkan harga dirinya. Apalagi kalau bukan karena kemampuannya mengandung dan melahirkan anak dari dalam tubuhnya sendiri. Dari rahimnya. Sedangkan laki-laki tak punya rahim. Dia tidak menemukan harga dirinya di ‘dalam’, maka dia harus mencari ke ‘luar’. Berpetualang. Menaklukkan bahaya. Merebut kemenangan. Mendapatkan pekerjaan terbaik. Maka tak heran jika lelaki dengan ambisi sosialnya terus berusaha menonjolkan diri dengan kemampuannya, dengan prestasinya, dengan karyanya. Itulah dorongan terbaik yang dimilikinya. Inilah pula yang membuat kesan lelaki lebih lambat dewasa daripada perempuan. Saat sebagian besar perempuan sudah siap dinikahi (ingat, perempuan tidak punya masalah dengan harga diri), lelaki seumur mereka masih berpetualang ‘menaklukkan dunia’. Membangun harga dirinya.
    Lalu untuk apa itu semua? Harga diri inilah yang memotivasi seorang ayah untuk bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya. Harga diri inilah yang diajarkan ayah pada anaknya kelak. Tanpa harga diri, seorang lelaki tidak akan merasa utuh, seperti layaknya perempuan tanpa kehadiran anak dari rahimnya sendiri.
    Saya merasa bagian ini sudah serius semenjak judulnya, jadi mohon maaf saya tidak membuat lelucon di bagian ini. Tapi Anda tetap boleh tertawa, kok. Terserah alasannya apa. Tapi coba tengok kiri-kanan dulu, pastikan tak ada yang melihat😀
  • Perempuan dan Ekspektasi terhadap lelaki
  • Biologi Pernikahan
  • Lelaki dan Pekerjaan Rumah Tangga

Dua bagian terakhir ini sengaja saya kosongkan agar kawan penasaran dibuatnya.

Cukup.

Saya tidak akan membahas lebih jauh.

Anda tidak bisa mempengaruhi saya.

Saya tidak akan buka mulut. Percayalah, lebih baik saya diam.

Saya ingatkan sekali lagi, Anda tidak bisa mempengaruhi saya. Saya sudah membuat keputusan. Pergilah dari paragraf tidak penting ini sebelum saya berubah pikiran. Hahaha…

(bersambung ke Biologi Lelaki (3))




My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,253 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Astronomi

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia