24
Apr
07

The Present

little girl Buku yang ditulis oleh penulis Who Moved My Cheese (Spencer Johnson) ini entah mengapa terasa menarik untuk dihabiskan dalam setengah jam, itung-itung latihan Reading Revolution. Apa gerangan isi The Present ini, atau kalau di-Indonesiakan bisa berarti “hadiah”, “masa kini / sekarang”, atau bisa juga “hadir” ?

Cerita dibuka dengan keluhan seorang wanita karier bernama Liz pada temannya Bill tentang stress kerja yang menimpanya. Gagal dipromosikan, pekerjaan tidak memenuhi tenggat waktu, kegagalan hubungan dan masalah lainnya yang rasanya juga kita alami. Lalu dengan meyakinkan Liz untuk menghilangkan sikap skeptisnya terhadap cerita “The Present” yang akan disampaikannya, mulailah Bill bercerita…

Seorang anak laki-laki di suatu daerah entah mengapa merasakan kenyamanan untuk bertemu dan berbincang dengan seorang lelaki tua yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Dia merasakan lelaki tua itu tampak bahagia, seolah tidak ada beban dalam hidupnya, wajahnya tampak berseri dan selalu menyambut orang yang ingin berbagi dengannya. Lelaki tua itu berkata padanya, “Nak, kelak kau akan mendapatkan ‘The Present-yang artinya “hadiah” bagi anak laki-laki itu’ dan kau akan merasa sangat bahagia karenanya”. Pesan itu melekat dalam benak si anak dan mulai saat itu ia merasakan kebahagiaan atas apa yang diperolehnya, ya hadiah-hadiah yang diberikan orang padanya. Dia merasa cukup mengerti tentang “The Present” sebagai “hadiah”.Pernah lelaki tua itu mengamati betapa si anak terlihat sangat antusias memotong rumput rumahnya, bahkan permintaan tetangganya agar ia memotong rumput tetangganya juga dipenuhinya dengan suka cita. Jika kelak dia dewasa dan kembali bertanya tentang “The Present”, kejadian ini akan membantu menemukannya.

Singkat cerita, si anak kini tumbuh dewasa dan menjadi seorang pemuda yang telah bekerja. Ia mulai merasakan stress saat jadwal pekerjaannya tidak terpenuhi, gagal dalam hubungan, gagal dipromosikan, dan merasa tidak puas dengan apa yang dilakukannya. Teringat pesan lelaki bijak saat waktu kecilnya, dia pun mengunjungi lelaki tua itu dan menemukannya masih dengan semangat yang dia temui saat dia masih kecil. Ia tampak jauh lebih muda daripada usianya dengan semangat yang juga masih menyala. Dia pun bertanya kembali tentang “The Present” yang dulu sempat membuatnya bahagia. Nampaknya dia mulai paham bahwa “The Present” bukanlah sekedar “hadiah” yang dia pahami. Pemuda itu curhat, dan nampaknya lelaki tua itu sudah tahu tentang apa yang akan dikeluhkannya. Pengalaman hidup menemukan “The Present” telah dirasakannya sehingga masalah-masalah yang dialami pemuda itu bukan hal yang asing baginya. Oya, kini lelaki tua itu menikmati kesuksesan hidupnya, penghormatan dari orang-orang di sekitarnya, harta yang cukup, pasangan hidup yang setia, dan kesehatan yang prima.

Sedikit demi sedikit sosok “The Present” ini terungkap dari hasil curhat si pemuda dan jawaban bijak si lelaki tua. Si pemuda datang dengan masalahnya dan si lelaki tua menuntunnya menemukan jawabannya.

Saat pertama kali datang, si lelaki tua menyarankan si pemuda agar pergi ke suatu tempat untuk merenung. Di sanalah dia temukan bahwa dia tidak pernah lagi merasakan antusiasme bekerja seperti saat dia masih kecil. Di sanalah dia menemukan bahwa :
“JIKA ANDA MENGINGINKAN HARI INI LEBIH BAIK, MAKA ITULAH SAATNYA MELAKUKAN YANG TERBAIK SEKARANG! – MENIKMATINYA DAN BERHENTI MENYESALI MASA LALU DAN MENGKHAWATIRKAN MASA DEPAN”

Berikutnya dia tentu saja merasa jauh lebih berbahagia dan menyelesaikan masalah-masalahnya dengan baik. Hingga suatu hari dia menemukan masalah yang berulang kali terjadi namun belum dapat diselesaikannya hingga dia pun menemui lelaki tua itu. Kali ini dengan bijak ia menuntunnya untuk menemukan bahwa :
“JIKA ANDA INGIN MASA KINI LEBIH BAIK DARIPADA MASA LALU, MAKA BELAJARLAH DARI MASA LALU UNTUK MENGHADAPI MASA KINI”
Saran lelaki tua ini tepat sekali karena si pemuda memang belum mencoba memperbaiki cara yang selalu gagal dilakukannya di masa lalu.

Setelah saran itu dipraktekkan, masalah yang berulang tadi pun berhasil diselesaikannya. Kini dia pun mulai mencemaskan masa depan yang belum pasti tentang karirnya. Dia pun datang lagi dan mendapat nasehat yang menuntunnya bahwa :
“JIKA ANDA INGIN MASA DEPAN LEBIH BAIK DARIPADA MASA KINI, MAKA RENCANAKANLAH MASA DEPAN ANDA AGAR ANDA MEMPUNYAI ARAH YANG JELAS DAN LEBIH SIAP MENGHADAPINYA”

Begitulah ketiga “The Present” itu melengkapi kebahagiannya menjalani hidupnya sampai terdengar berita kematian si lelaki tua. Pemuda itu merasa amat kehilangan orang yang mendampinginya melewati kesulitan-kesulitan hidupnya. Dalam kesedihannya, dia kembali berpikir bahwa lelaki tua itu sudah melakukan sesuatu untuk hidupnya dan hidup sekian banyak orang. Hidupnya berarti, kematiannya pun berarti. Itu dia! Dia menemukan “The Present” keempat yang terungkap justru saat kematian lelaki tua yang selalu menuntunnya. Dia menengok kembali untuk apa hidupnya selama ini, hingga dia tersadar…
“SEMUA SIKAPNYA TERHADAP MASA LALU, KINI, DAN MASA DEPAN TAK KAN BERARTI APAPUN TANPA TUJUAN HIDUP YANG JELAS DAN BERMAKNA”

Kini lengkaplah sudah pelajaran lelaki tua itu pada si pemuda. Dia telah menemukan “The Present” – hadiah yang membahagiakan hidupnya. Kini, di lanjut usianya, dia tak henti untuk selalu berbagi tentang “The Present” pada orang-orang yang mengalami masalah yang pernah dialaminya dulu. Tak terkecuali pada seorang gadis kecil yang senang dekat dengannya karena kehangatan dan semangatnya. Lelaki tua itu pun berpesan pada gadis kecil tentang “The Present”… dan gadis kecil selalu mengingat pesan itu hingga dia dewasa dan bertanya kembali tentang “The Present”…

Begitulah cerita Bill pada Liz yang nampak antusias ingin memperbaiki hidupnya. Dan bisa ditebak, bahagialah Liz. Dan cerita itu pun diceritakan lagi dan lagi, walaupun tak semua orang tertarik untuk mendengar dan melakukannya. Mungkin saja mereka belum merasa perlu memperbaiki hidupnya, atau skeptis terhadap perubahan, karena memang tidak semua orang mau dan berani untuk berubah.

*kutipan di atas tidak persis dari buku, saya ceritakan ulang dengan kesan yang saya tangkap setelah membacanya.


7 Responses to “The Present”


  1. April 24, 2007 at 10:51 am

    i’ll copy it to my blog… of course just a part of, i’ll link to this page bro. tks alot.

  2. April 24, 2007 at 11:32 am

    baca nya cuma setengah jam??! waahh keren gung..
    sandra 10 halaman ky nya dah ngantuk duluan hehe😀

    akhirnya ditulis jg resensi nya, soalnya ga sempat baca review nya😀 sip2..udah ga penasaran lg skr

  3. April 24, 2007 at 11:44 am

    *wiwit : as you please bro. i link your blog to mine njeh, thanks.

    *sandra : ga mustahil bisa dengan Reading Revolution, insyaAllah nanti di-posting. nuhun.

  4. May 31, 2007 at 1:54 am

    hmmm..
    seperti nya menarik utk di baca tuh buku yah..
    kapan2 liat2 deh ke toko buku…
    utk smntr sih pake penjelasan mas Agung..
    heheheh..😀

  5. April 28, 2013 at 3:03 pm

    each time i used to read smaller articles or reviews which also clear their motive, and that is also happening with this piece of
    writing which I am reading at this place.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,170 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: