09
May
07

Senyum ini untuk siapa

Hampir semua orang pasti pernah merasakan bahagia, apapun bentuknya. Bentuk sederhana yang bisa dibaca dari raut wajah salah satunya adalah senyuman. Ya, senyuman yang kata penelitian membutuhkan lebih sedikit energi ketimbang cemberut. Senyuman yang membuat empunya wajah nampak berseri, walaupun ia tidak ganteng atau cantik amat. Senyuman yang menularkan energi positif ke orang-orang yang menemukannya, membuat mereka ikut tersenyum walaupun tanpa alasan yang jelas, ya namanya juga ketularan.

Senyuman yang tulus akan hadir saat hati jujur merasa berbahagia. Bisa saja sih senyuman dimanipulasi demi kepentingan tertentu, tapi tentu tak akan bertahan lama. Bila kepentingan tersebut tak tercapai, bergantilah senyuman menjadi cemberut. Seringkali manipulasi senyuman itu tertutupi oleh ganteng atau cantiknya wajah, tapi namanya hati tidak bisa dibohongi, tetap saja terasa pura-puranya.

Omong-omong, kalau Anda tersenyum, siapa sih orang yang paling berhak menikmati senyuman Anda? Atau lebih jauh lagi, jika Anda bahagia, dengan siapa sih Anda akan berbagi kebahagiaan itu?

Saya menemukan beberapa fenomena senyum yang mungkin kurang pada tempatnya. Seseorang saat bertemu teman-temannya nampak tersenyum dan tertawa lepas, ia nampak bahagia bersama mereka. Namun senyumannya berubah drastis saat ia bertemu keluarga dan orang-orang terdekatnya, seperti orang tua dan saudaranya. Tak ada lagi bekas senyuman yang tadi nampak, bahkan kini nampaknya ia sedang menderita.

Mungkin kita pernah merasakan bahwa kita ramah di depan orang-orang yang tidak mengetahui siapa kita sebenarya. Tidak tahu aslinya kita. Dan kita berlaku sebaliknya pada orang-orang yang tahu aslinya kita. Kita berusaha mengatakan kepada orang-orang lain bahwa kita ramah dan bersahabat, namun rasanya kita jauh dari seperti itu di mata orang-orang dekat kita.Bukankah siapa kita sejujurnya bisa dinilai dari orang-orang terdekat kita?

Sayang sekali entah mengapa keluarga dan orang-orang terdekat sering luput dari kebahagiaan dan senyuman kita. Kita bertemu mereka setiap hari. Mereka membantu kita tanpa pamrih dan tak terhitung banyaknya. Mereka membantu kala kita susah, walaupun jarang kita membantu mereka kala mereka susah. Mereka memang tidak sempurna, begitu juga orang-orang lain itu, hanya saja karena bertemu setiap hari ketidaksempurnaan mereka semakin jelas. Begitu juga ketidaksempurnaan kita di mata mereka. Mereka juga sering luput dari doa-doa kita, apalagi senyuman kita.

Dulu, puluhan dan belasan tahun yang lalu sebelum kita merasakan hidup, mereka sudah bersama kita. Berkeringat untuk kita, menangis untuk kita, tersenyum untuk kita. Dan kelak jika kita mati, mereka pulalah yang mengurus jasad kita, memandikan sampai menguburkan kita untuk selamanya. Mereka adalah orang tua kita, adik atau kakak kita, nenek atau kakek kita, dan orang-orang terdekat kita lainnya.

Kini, sediakah kita tersenyum dan berbagi kebahagiaan dengan mereka? Mereka memang tidak sempurna, pasti ada kekurangannya. Tapi buat kita, apa yang mereka perbuat pada kita sungguh sangat besar dibanding dengan kecilnya kekurangan itu. Seharusnya, jika kita ada masalah, merekalah yang pertama kali tahu dan berusaha membantu, begitu pula sebaliknya. Dan jika kita berbahagia, mereka jualah yang pertama kali tahu dan ikut berbahagia, begitu pula sebaliknya. Bukankah that’s what family is for?


3 Responses to “Senyum ini untuk siapa”


  1. 1 faizah
    May 19, 2007 at 3:24 am

    Hmm, iya setuju senyum itu menular. umm, tapi rasanya kalau seseorang dalam keadaan yang bahagia kayanya bakalan senyum deh baik ke orang yang tak terlalu kenal ataupun keluarga. tapi kalau lagi sedih ya memang terkadang akan terjadi hal tersebut di atas. senyum bisa dipaksakan kepada teman walaupun saat bersedih karena biasanya engan jadi menyusahkan orang(sedih juga menular lo). nah pada saat itu keluargalah yang biasanya jadi tempat bekeluh kesah. Pada siapa lagi tempat berbagi kalua bukan mereka. Nah pada saat itu senyum nya mungkin berganti dengan wajah sendu…heu heu heu

  2. May 19, 2007 at 6:09 am

    Hm, tidak begitu setuju. Jika memang tidak ada masalah di keluarga, insyaallah senyum bukan hal yang aneh. Apalagi di keluarga yang sering melakukan sharing satu sama lain. Klo misalkan ada yang memang seperti di atas, mungkin ada masalah di keluarganya atau di pribadinya. Wallahu a’lam.

  3. May 22, 2007 at 1:44 am

    *Faizah : Fai,berapa lama bisa menahan senyum yg maksa? hehe. Wah kayanya rekening telpon naik nih buat curhat interlokal Belanda-Indonesia :p
    *Arif : betul rif, memang ada masalah, makanya jd cemberut. Walaupun sebenernya kalau dia cemberut yang masalah orang lain yang ngeliatnya :p


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,205 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Astronomi

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: