31
May
07

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk

Rumah GadangSeusai membacanya, sedih rasanya menyaksikan cinta yang tak menyatu dari dua orang insan ini, Zainuddin dan Hayati. Apa mau dikata, peraturan adat menjadi penghalang keduanya mengikat diri dalam sucinya ikatan pernikahan. Zainuddin, yang mempunyai ayah seorang Minangkabau dan ibu seorang Makassar tidak dapat menikahi Hayati, seorang puteri dari kalangan bangsawan Minangkabau. Sesuai adat yang berlaku di daerah asal pengarang ini (Syaikh Prof. Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah-HAMKA) -Sumatera Barat-seorang anak diperhitungkan dari pihak ibunya. Zainuddin, yang beribu Makassar dipandang sebelah mata walau ayahnya bersuku Minangkabau. Hal ini menyebabkan dirinya dianggap tidak pantas menikahi Hayati yang masih keturunan bangsawan Minangkabau walaupun keduanya saling mencintai dengan keikhlasan dan kesucian jiwa. Di negeri yang bersuku dan berlembaga, berkaum kerabat, dan berninik-mamak itu tergambar betapa memilihkan jodoh untuk anak bukan perkara sederhana. Semua keluarga yang bertalian bermusyawarah untuk menentukan ya-tidaknya seorang lelaki pantas menjadi suami dan masuk menjadi anggota keluarga besar. Yang dimusyawarahkan tidak lain mengenai asal usulnya, ada tidaknya darah bangsawan Minangkabau yang mengalir di tubuhnya, bukan perkara baik budinya (mungkin hanya kasus yang ada di roman ini saja). Ujung-ujungnya, agar keluarga tidak malu mempunyai menantu yang tidak terpandang, serta agar terjamin keluarga itu dengan harta yang mencukupi. Hasilnya, Hayati menikah dengan lelaki lain, Aziz namanya, yang memenuhi syarat darah Minangkabau dan harta tadi.

Sakit bagi Zainuddin yang merasa dikhianati dengan janji Hayati untuk hidup bersama. Teringat dia akan janji perempuan itu,

“Bahwa jiwaku telah diisi sepenuh-penuhnya oleh cinta kepadamu. Cintaku kepadamu telah memenuhi hatiku, telah terjadi sebagai nyawa dan badan adanya. Dan selalu saya berkata, biar Tuhan mendengarkan, bahwa engkaulah yang akan jadi suamiku kelak, jika tidak sampai di dunia, biarlah di akhirat.Dan saya tiadakan khianat kepada janjiku, tidak akan berdusta di hadapan Tuhan, dan di hadapan arwah nenek moyangku…..jika engkau kekasihku, berjalan jauh atau dekat sekalipun, entah tidak kembali dalam masa setahun, masa dua tahun, masa sepuluh tahun, entah hitam negeri Batipuh ini baru engkau kembali kemari, namun saya tetap menunggumu. Carilah bahagia dan keberuntungan kita ke mana jua pun, namun saya tetap untukmu. Jika kita bertemu pula, saya akan tetap bersih dan suci, untukmu, kekasihku, untukmu…”

Malang betul Zainuddin harus terusir dari kampung halamannya sendiri di Minangkabau. Dia tak dapat melepaskan cintanya pada Hayati yang disebutnya “Permataku yang Hilang”, cinta yang tak pernah dilupakan dan selalu hadir menjadi bintang yang memancarkan cahaya di balik kabut adat.

” Salah sekali kalau orang sebagai Guru menyangka kebahagiaan ada pada rumah yang indah, atau pada uang berbilang, atau pada perempuan yang cantik. Kalau demikian, apakah akan ubahnya Guru seorang terdidik budiman dengan orang-orang zaman kini. Orang yang sampai gugur rambut di kepala mencari uang kian kemari, tetapi dia tidak hendak puas, hanyalah semata-mata lantaran diperintah oleh senyuman perempuan…cinta bukan mengajar kita lemah tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.”

Kelak, jerih payahnya menyambung hidup di tanah perantauan hingga menjadi penyair yang termasyhur tidak lepas dari cintanya akan separuh nafasnya itu.

Lalu bagaimana pula dengan Hayati? Apakah benar dia telah mengkhianati janjinya itu dengan menikahi Aziz? Bahagiakah rumah tangga mereka? Bagaimanakah akhir dari kisah cinta keduanya? Lalu apa hubungannya dengan tenggelamnya kapal Van Der Wijk itu?

Roman ini antara lain menyimpan pesan tentang ketinggian budi dalam menjalin kasih, kekuatan adat yang dipegang teguh oleh masyarakat Minangkabau, perjuangan hidup, serta konflik antara cinta dan kehidupan karena alasan benda dengan cinta dan kehidupan karena alasan jiwa. Semuanya disusun dengan jiwa keimanan kepadaNya.

“…dan akan tercapai juga kemuliaan bangsaku, persatuan tanah airku. Hilang perbedaan dan kebencian dan tercapai keadilan dan bahagia.”

tulis Zainuddin sesaat sebelum ajal menjemputnya. Ajal yang ia jemput tanpa Hayati di sampingnya.


10 Responses to “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”


  1. May 31, 2007 at 5:00 am

    wah, selamat-selamat mas, sudah masuk dalam orang2 yang membaca sastra lama..🙂

  2. 2 faizah
    May 31, 2007 at 10:00 am

    Cinta bukan mengajar kita lemah tetapi membangkitkan kekuatan Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat “nice quote”
    udah lama banget baca buku ini (jaman es em a kalo ga salah)
    Tapi seingat fay tidak hanya masalah budaya saja yang mempermainkan cinta mereka di sini, tapi juga “ego” hanafi atas perasaannya sendiri. Inget kan kalau sebelum hayati pergi naik kapal van der wijk itu, sebetulnya dia sudah mengemukaan perasaan hati yang sebenarnya, hanafi juga sebenarnya masih mencintai hayati (lukisan yang tergantung itu lo) tapi egonya, harga dirinya atau apapun itu dikedepankan yang sebenernya berujung penderitaan juga buat hatinya. Halah cape deh (jadi inget puisi trian tentang wanita, kayanya egonya kaum lelaki juga ga kalah {“mengerikannya”tuh ). piss ah…
    baca juga : dibawah lindungan ka’bah bagus juga
    o iya blog agung fay link ke blog fay ya di faizah.wordpress.com (jadi pingin nulis juga he he)

  3. May 31, 2007 at 4:50 pm

    *trian: iya saya jg udah baca artikel yang itu. Membaca sastra lama seperti membaca sisi dunia yang hilang hari ini
    *faizah: kok jadi Hanafi? Zainuddin kali ya. Ya namanya sakit hati karena cinta, jauh dirindu dekat dicuekin. Ok Fai saya link juga ya.

  4. June 2, 2007 at 6:27 pm

    salam dari sesama penggemar karya buya Hamka…

  5. June 4, 2007 at 6:23 am

    *salam juga Mif…

  6. June 4, 2007 at 8:19 am

    duuuh, ky nya sandra bener2 Minang coret nih, blm baca soalnya, krn emang ga hobi jg baca, pasti ngantuuukk..

    trus cerita nya gmn, koq ky nya ga selesai nulis nya gung..
    “Lalu bagaimana pula dengan Hayati? Apakah benar dia telah mengkhianati janjinya itu dengan menikahi Aziz? Bahagiakah rumah tangga mereka? Bagaimanakah akhir dari kisah cinta keduanya? Lalu apa hubungannya dengan tenggelamnya kapal Van Der Wijk itu?”

  7. June 4, 2007 at 3:50 pm

    *sandra: makanya biar ga Minang coret baca aja terusan ceritanya San. Itu emang ga diterusin biar baca sendiri🙂 siapa tahu kesannya berbeda…

  8. June 5, 2007 at 11:59 am

    Halah.. Kalimat pertama langsung spoiler gitu deh.. Batal aja baca Novel iltu kekkekek..

  9. June 12, 2007 at 2:01 am

    *ikhsan: ups sori San kalo jadi ga minat baca :p, ya bacanya kalo lagi pengen ngerasain sedih hehe

  10. 10 ilham afandi
    June 20, 2010 at 2:55 pm

    bagus juga tuh ceritanya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,170 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: