Perempuan: Mozaik Cinta

Mozaik CintaBagi banyak laki-laki, perilaku banyak perempuan hari ini membuat mereka geleng-geleng kepala, tak habis pikir betapa banyaknya perempuan yang menjual kehormatannya dengan amat murah untuk mendapatkan popularitas, uang yang (nampaknya) banyak, dan kecantikan ala kulit putih yang tidak pernah berkerut. Demi popularitas dan atas nama seni, perempuan menjadi objek eksploitasi laki-laki. Satu sisi ada tabiat perempuan yang (katanya) suka pamer, dan sisi lain ada tabiat laki-laki yang suka apa yang dipamerkan perempuan. Pada situasi yang seperti ini, dan telah terjadi pada peradaban manusia sebelum kita, peradaban manusia menjauh dari nilai-nilai luhur dan cita-cita mulia mendekati pemuasan hawa nafsu yang tidak pernah selesai. Saat banyak manusia kecanduan nafsu syahwat yang paling rendah (Membentuk Karakter Cara Islam – Ust.Anis Matta), yaitu syahwat binatang ternak, makan, minum, dan s*ks. Mengapa paling rendah? karena untuk mewujudkannya tidak perlu banyak mikir, mungkin itu juga yang menyebabkan hari ini banyak orang kehilangan naluri dan akal sehat.

Saat seperti ini, rasanya kita rindu melihat figur-figur perempuan yang mampu menemukan jalan fitrahnya. Bercerita tentang kebaikan perempuan tidak ada habisnya, contohnya saja bercerita tentang ibu kita yang seakan tidak putus kasih sayangnya menaungi tumbuhnya kita menjadi dewasa dan menenangkan gundah gulana yang sering kita hadapi, begitu pula yang coba disampaikan dalam edisi khusus Tarbawi yang berjudul “Perempuan-perempuan: Mozaik Cinta, Ketulusan dan Pengorbanan”. Pada edisi ini, beberapa sosok perempuan; 7 Indonesia, 1 Jepang, dan 1 Palestina memberikan sekilas perjuangan hidupnya, yakni :

  • Mulia Kuruseng (Sulawesi Selatan), ibunda dari 15 anak (semuanya jadi orang)
  • Khatibah Wahab (Riau), ibunda dari 10 anak berjuang membesarkan anak-anaknya sepeninggal suami
  • Maryam-san (Jepang), mualaf dan aktivis dakwah di Hamamatsu, Jepang
  • Muna Manshur (Palestina), istri pejuang Palestina yang syahid, Jamal Manshur
  • Dr. Sa’diah binti Syaikh Bahmid (Palu), pakar ilmu fiqih
  • Larasati (Depok), setengah abad menjadi guru, peraih satya lencana karya satya presiden R.I
  • Dra. H. Wirianingsih, Ketua Umum PP Salimah, ibunda 11 anak penghafal Qur’an
  • Trimumpuni Wiyatno, aktivis pembangunan listrik pedesaan dengan teknologi mikrohidro
  • Siti Rahayu, ibunda dari Dr. Hidayat Nurwahid (Ketua MPR RI)

Tentu tidak cukup tempat untuk menuliskan sekilas perjuangan hidup beliau-beliau ini, yang masing-masing punya jalan tersendiri dalam menjadi istri, ibu, dan anggota masyarakat. Dan seperti biasa, ibu-ibu lebih banyak bekerja dalam diam, tanpa banyak bicara. Nanti saat beliau tiada, baru terasa kehilangan.

Di bagian akhir, yang biasa selalu ditunggu, kolom peradaban oleh Ust. Anis Matta, beliau mengatakan,

Dalam pola kehidupan nomaden, perempuan adalah bunga di tengah hutan belantara. Tapi dalam pola kehidupan kota, perempuan adalah bunga di tengah taman. Peradaban kita menjadi indah ketika kita ber-empu pada perempuan. Sebab perempuan, seperti kata Hamka, adalah per-empu-an atau tempat bersandar. Sebab perempuan, seperti kata Qur’an, adalah tempat kita menemukan ketenangan.

5 thoughts on “Perempuan: Mozaik Cinta

Add yours

  1. baru tau ada buku macem gitu. Beli ah 😀 Sayang ya…. di sana lum ada muslimah yang juga IT-ers. Kl ada kan bisa lebih buat inspirasi lagi deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: