30
Jun
07

Gaji Pertama : Untuk Orang Tua

Berkumpulnya keluarga besar biasanya terjadi pada beberapa momen kehidupan yang penting seperti pernikahan, syukuran ulang tahun, atau kematian. Di situ, anggota keluarga yang telah lama tak bertemu saling melepas rindu, bahkan tidak jarang ada yang baru tahu bahwa mereka ternyata masih satu keluarga. Kesibukan masing-masing dan tempat tinggal yang berjauhan membuat kumpulnya keluarga besar menjadi momen yang istimewa karena waktunya langka dan seringkali, singkat.

Saat itulah, saya diperkenalkan ibu dengan seorang lelaki tua sepupu ibu yang baru pertama kali saya temui. Saat bertemu, beliau melihat saya dengan pandangan yang tajam dan mimik muka yang serius. Saya mengajukan tangan dahulu untuk bersalaman, lalu beliau menyambutnya masih dengan pandangan dan muka yang sama.”Gaji pertama kamu untuk ini, ibumu!”. Deg! saya kaget. Ini pertama kali kami bertemu, mengapa pesan itu yang disampaikannya?? Biasanya orang tua yang bertemu anak muda di keluarga membesarkan hati pemuda itu, biasa dengan “Cah bagus, sekarang dah semester berapa?”,”kerja di mana”, dan yang sejenis dengan itu. Tapi ini kok? “Jangan dikasih dulu ke pacar, ini dulu, ibumu!” Pacar? lha wong istri saja belum punya, apalagi pacar, pakde (ceritanya pacaran setelah pernikahan, halah..). “Gaji pertama kamu berikan ke ibumu”, pesan itu terus terngiang sampai keesokan harinya, tetap dengan pertanyaan “mengapa itu yang disampaikannya padaku, dan mengapa rasanya pesan itu masih berbekas layaknya sebuah pesan yang harus kuingat terus, bukan yang hanya sambil lalu saja, mengapa?”

Esoknya, hari raya Islam dalam seminggu, hari Jum’at. Bagi lelaki muslim yang sudah baligh merupakan kewajiban untuk datang shalat jum’at. Maka saya pun datang dan mendengarkan ceramah sebelum shalat dilaksanakan. Setelah azan dikumandangkan, khatib memulai ceramahnya. Awalnya sama dengan khutbah-khutbah pada umumnya, perhatianku tidak antusias. Pesan takwa, dan seterusnya. Jika topiknya menarik, kantuk bisa diusir. Kalau tidak, dan ini yang menjadi kebiasaan sebagian jamaah, khutbah jum’at adalah waktu yang tepat untuk istirahat tidur siang. Tidak pulas, toh suara khatib masih terdengar sayup-sayup, tapi lumayanlah (gimana ya bikin shalat jum’at yang bersemangat dan gak bikin ngantuk?). Ceramah pun diteruskan, dan kali ini topiknya tentang infaq. “Ah, paling tentang kewajiban berinfak lagi, manfaatnya, urgensinya, dan seterusnya. Tapi tak apa, toh kata Ali r.a. orang berilmu tidak pernah puas dengan ilmu, walaupun diulang-ulang”.

Benar saja, khatib mengajak untuk menggalakkan infaq di lingkungan masyarakat, mulai dari RT dan RW. Manfaatnya bisa digunakan untuk membantu yang sakit atau yang kena musibah. Nah, lalu siapa yang harus kita beri infaq? Tanya beliau sambil menyitir kisah seorang sahabat nabi yang bertanya tentang hal itu. “Jawabannya ada di Surat Al-Baqarah ayat 215”. Deg! Pesan yang dari kemarin menggangguku itu akhirnya bertemu dengan ayat Allah. Betul! prioritas pertama infaq itu harus diberikan kepada orang tua! kemudian baru kerabat dekat, anak yatim, orang miskin, dan orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan (ibnu sabil). Pada ayat itu tidak disebutkan tentang harta, tapi tentang kebaikan yang diinfakkan. Mungkin infaq itu tidak berbentuk cash tapi bisa macam-macam. Apapun yang bernilai kebaikan. Mungkin orang tua yang berkecukupan tidak merasa enak menerima uang dari anaknya, tapi kalau bentuknya hadiah insyaAllah. Lagi pula, tak akan mungkin jasa orang tua dibalas dengan uang atau apapun. “Kalaupun kamu punya emas sebanyak Bukit Uhud, itu tidak ada apa-apanya untuk membalas jasa orang tua”, begitu pesan Rasul tercinta.

Alhamdulillah, Allah mengulang pesan ini kembali lewat ayatNya setelah sebelumnya disampaikan oleh sepupu ibu tadi. Tetapi masih saja terasa tidak tenang karena belum diamalkan. Semoga Allah Memberi jalan.

NB: Ayo, buat yang udah gajian jangan lupa ayat ini ya, catet Al-Baqarah ayat 215. Selamat berinfak, insyaAllah jaminan Allah gak akan jadi miskin karena infak. Justru membangun mental kaya, karena selalu bermental bisa memberi.


9 Responses to “Gaji Pertama : Untuk Orang Tua”


  1. July 1, 2007 at 1:08 am

    Jadi kapan gajian, Nak? :p
    Betul, ayat tersebut tepat bukan, yang diprioritaskan adalah keluarga terdekat. ku anfusakum wa ahlikum nara..

  2. July 1, 2007 at 1:10 am

    jadi kapan gajian, Nak? :p
    Betul, ayat tersebut tepat sekali, keluarga adalah prioritas. ku anfusakum waahlikum nara..

  3. 4 Heri Setiawan
    July 3, 2007 at 5:53 am

    Tapi jangan lupa kebutuhan sendiri… yang proposional saja….

  4. July 8, 2007 at 10:17 am

    @dika : iya Mak:p, insy secepatnya biar bisa diamalkan ni tulisan
    @pomz, arifromdhoni : ow, memang harus setuju :p
    @Heri Setiawan : iya betul kang Heri, setuju juga🙂

  5. July 13, 2007 at 3:16 am

    Haha gung.. makasi udah mengingatkan.. setelah berkali-kali gajian, eh aku baru bisa ngasi “sesuatu” ke ibuku kemarin pas liburan. Tapi alhamdulillah.. sudah terlaksana..

    gung, tukeran link.. add aku -> http://students.itb.ac.id/~aisar

  6. July 16, 2007 at 9:42 am

    @Aisar: sama2, ok udah di-add tuh🙂

  7. August 26, 2007 at 1:58 am

    wuakakakkakak..boro-boro niih saat ini mikirin gaji mo dikasih siapa..tapi yang jelas gaji buat diri sendiri dulu..baru nyisain buat ortu..jangan sampai menyenangkan yang lain dengan kondisi sendiri sengsara..
    sayangi dulu diri sendiri..baru sayangin yang laen seperti kita sayang ma diri sendiri..
    jangan dibikin pusing musti gimana besok? musti diapain gaji? lakuin yang terbaik yang kita bisa saat ini..karena kita gak pernah tahu masih hidupkah kita dalam satu kedipan mata kedepan..just try ur best..always..n i believe all of us can du det
    apa kabar aguung..?🙂
    di link yaah.. http://hartmind.blogspot.com

    Agung:
    Weis, kang Henri, kumaha damang pa dokter? Hehehe, betul orang tua biasanya juga ngerti kok. Da ini mah buat ngingetin aja, bisa lupa kalo dah gajian, dah mau jadi ‘orang’ suka lupa sama orang tua, padahal baru gaji (yang ga seberapa kalo diitung ama biaya yang mereka keluarkan untuk sekolah n hidup kita), belum yang lain… gitu Hen🙂 Kumaha Unpad? Kuningan? damang? hehehe…OK sip ku urang di-link


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,205 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Astronomi

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: