13
Jul
07

Sombong itu bukan milikmu

Ada nggak ya manusia yang tidak pernah merasa sombong? Dia nggak pernah merendahkan orang lain dan tak pernah menolak kebenaran (apapun bentuknya). Dia punya nikmat lebih dari Allah, tapi nggak merasa lebih baik. Kalau ada betapa beruntungnya dia, dan sepertinya betapa hebat hidupnya. Entahlah, rasanya melawan kesombongan bukan hal yang mudah, karena dia bisa menyerang kapan pun, mungkin rasanya seperti kerasukan (kita bukan lagi kita yang sebenarnya). Kalau pun ia kalah, ia tidak mati. Dia sedang bersembunyi, mengintai. Mengintai saat kita lengah, lalu menyerbu lagi. Dia bisa mati sama sekali, tapi sayang sekali membunuhnya sama saja mengakhiri hidup kita. Mau tidak mau, kita rasanya akan hidup bersamanya, dan melawannya saat ia muncul. Kita mungkin kaget saat melihat wajahnya… karena persis serupa dengan yang kita lihat di cermin!

Kenapa ya kita tergoda untuk sombong? Apakah kita segitu hebatnya hingga tak ada yang bisa mengungguli kita? Hmm..oke mungkin kita punya kelebihan dibandingkan orang lain. Eh tunggu, maksudnya begini…kita (pada suatu waktu merasa bahwa kira-kira)  kita mungkin lebih baik dibandingkan orang lain (yang mungkin kita rasa kira-kira kita tahu). Kita merasa tahu bahwa sekian orang yang kita lihat mungkin sepertinya tidak punya kelebihan yang kira-kira kita punyai. Dengan berbekal “kira-kira”, “mungkin” dan “sepertinya” kita mendeklarasikan diri secara sepihak sebagai yang terbaik, hebat! Yah…namanya juga “tergoda”, ya biasanya pikiran jernih kita nggak jalan, pakai feeling saja.

Kalau kita perhatikan, biasanya si sombong ini menyerang saat beberapa kondisi terpenuhi. Saat kelebihan kita nampak menonjol dari orang-orang (biasanya saat itu orang butuh banget sama kita), pujian datang satu demi satu, kita tidak merasakan kegagalan, semua tampak sempurna untuk kita, dan kita merasa “kalau nggak ada saya nggak bakal beres nih!“, saat itulah dia menyerang, merasuki kita yang sedang sibuk memikirkan pujian-pujian orang. Kita merasa cukup dengan pujian dan lupa kalau waktu terus berjalan, dan semua berubah begitu cepat, yang di atas jadi di bawah, dan sebaliknya. Sebenarnya, kalau mau jujur, apapun yang berubah hasilnya tetap sama: kita tidak pernah menjadi yang terbaik, kita tidak pernah sempurna, karena memang kita tidak diciptakan untuk menjadi sempurna. Kita lupa kalau hidup diciptakan berpasangan dan saling membutuhkan, atau mungkin kita sudah lupa betapa nikmatnya berpasangan dan saling membutuhkan? Mungkin kita lebih senang menjegal saingan kita, lalu berlari sendirian sampai kita mati.

Kita lupa sama Yang Di Atas, mungkin karena kita jarang bertemu denganNya.
Kita lupa bertemu dengan Yang Maha Perkasa, lalu dengan sadar tunduk patuh di hadapanNya.
Kita lupa kalau kita wakilNya, dan nanti kita akan ditanya apa tugas yang Ia Berikan sudah dikerjakan
Kita lupa betapa nikmat merasa butuh padaNya,
betapa nikmat jadi hambaNya,
betapa tenang dijamin olehNya,
betapa nikmat dibimbingNya,
betapa bangga kelak mati di jalanNya,
kita lupa semuanya…
kita lebih senang memakan semuanya sendirian,
walau semakin dimakan semakin haus jadinya

Ah, diri…kau harus “bertemu” denganNya.
Kau harus heran melihat betapa rapinya kau diciptakan,
Kau harus ternganga mengingat dirimu yang diciptakan dari setetes air ,
Kau harus takjub menghitung banyaknya bintang,
Kau harus menangis haru membayangkan syurga yang disediakan untukmu kelak, dan
Kau harus menangis sedih memikirkan ngerinya neraka yang selalu mengancammu
Kau harus!

Ayolah diri, sombong ini bukan untukmu, bukan milik nenek moyangmu Nabi Adam, bukan begitu sejarahnya.
Iblis pernah mencoba memilikinya, tapi lihatlah ia sekarang! tak perlu kau iri padanya. Biarkan dia terbakar dengan kesombongan dan iri hati melihatmu, hai cucu Ibrahim kekasih Allah.
Jangan biarkan Iblis memaksamu pulang ke tempat yang kau tak suka hanya karena sombong ini. Biarkan dia sendiri bersama keturunannya, toh dia memang selalu ingin semuanya untuknya sendiri kan?

Percayalah diri, sombong ini bukan milikmu, tapi milikNya, hanya Ia yang berhak memiliki itu. Dia Menguasai segala-galanya. Tuhanmu yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana, dan Maha Pengampun.


1 Response to “Sombong itu bukan milikmu”


  1. August 21, 2007 at 9:48 pm

    Terima kasih sudah mengingatkan…🙂

    Agung:
    sama2 mas Habib, sebenernya ini lebih mirip curhat daripada mengingatkan :p


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,170 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: