25
Aug
07

Pembantaian Buku di Palasari

Pada tahun 656 Hijirah, Baghdad (Irak) tenggelam dalam merahnya darah dan hitamnya tinta. Invasi tentara Tartar atas negeri ini menyisakan perih untuk dikenang. Sekian banyak jiwa dan ribuan jilid buku dibantai. Maklum, sebagai bangsa yang belum punya peradaban, tidak ada nilai dari rakyat dan ilmu yang dikumpulkan susah payah itu bagi para invader tersebut. Kitab-kitab yang berisi ilmu yang tiada gantinya larut dalam arus sungai, menghitamkan airnya, seolah-olah bumi ikut menangisi malam-malam yang mencekam dan biadab itu. Entah seberapa maju peradaban manusia hari ini jika kitab-kitab itu tidak menemui ajalnya, hanya Allah Yang Tahu.

Jum’at dini hari, 24 Agustus 2007, Bandung (Jawa Barat) kompleks pertokoan Palasari ludes terbakar, menghanguskan (69-80) kios buku yang ada di sana berikut buku-bukunya (Entah mengapa peristiwa Baghdad itu segera hadir di ingatan). Diperkirakan kejadian tersebut disebabkan oleh hubungan pendek, tapi tetap saja bau konspirasi tidak hilang di antara bau hangus kertas dan tinta. Kecurigaan tersebut disampaikan pula oleh warga sekitar di sini, apalagi dengan terbakarnya pasar-pasar rakyat dalam waktu yang berdekatan seperti Pasar Turi di Surabaya, Pasar Banjaran, dan Pasar Bandarharjo. Alasan konspirasi yang paling mengemuka adalah tentang pembebasan lahan pasar-pasar tersebut untuk dijadikan mal (Mal di Palasari?) atau bangunan lain yang akan dibangun di atas lahan hidup rakyat kecil tersebut. Daripada susah-susah merelokasi (mengusir?) pedagang yang tidak setuju dengan ganti rugi atau tidak mau pindah karena alasan ekonomi, bakar saja semua sekalian, biar jadi pelajaran buat yang mau macam-macam dengan yang punya kuasa. Begitu?

Hitungan sementara kerugian ekonomi ditaksir senilai miliaran rupiah. Tapi bagaimana dengan kerugian secara nilai ilmu yang ‘hilang’ dari buku-buku yang terbakar?

  • Bayangkan buku-buku sekolah itu kalau dibagikan gratis (dibakar atau dibagi gratis kan sama-sama berpindah tangan) ke anak-anak sekolah se-Bandung besar kemungkinan banyak orang tua yang menangis haru anaknya punya buku teks sekolah yang bagus, jadi anaknya tak perlu pinjam buku ke temannya kalau ada PR. Waktu ada ulangan bisa belajar agar nilainya bagus dan bisa melanjutkan sekolah memperbaiki nasib keluarga,
  • Atau sumbangkan saja ke perpustakaan-perpustakaan yang tersebar di Bandung dan sekitarnya, terutama perpustakaan sekolah negeri yang terkenal akan nasib malang perpustakaanya. Esoknya anak-anak akan betah menghabiskan lembar demi lembar buku favoritnya di pojok-pojok perpustakaan saat jam istirahat. Juga ke perpustakaan mesjid-mesjid sebagai bentuk memakmurkan mesjid,
  • Atau urunan buat perpustakaan keliling untuk menyambangi lokasi-lokasi anak-anak jalanan dan daerah banyak anak putus sekolah. Lalu nongkrong sekian jam di sana, berikan waktu dan hak mendapat ilmu anak-anak (orang tua juga tentunya) tersebut sehingga mereka bubar dengan wajah berseri-seri karena hari itu mereka belajar ilmu baru. Esoknya mungkin ada yang buka bisnis kecil-kecilan, meneruskan sekolah, gak jadi bunuh diri (setelah baca buku agama yang menerangkan haramnya berputus asa dari rahmat Allah), semangat belajar membaca (ceritanya buta huruf, tapi tertarik dengan gambar-gambar komik, jadi kepengen bisa baca…), dan berbagai kemungkinan pencerahan hidup setelah membaca,
  • Atau berikan saja ke saya, akan saya terima dengan senang hati sekali. Nanti saya buka toko buku menyaingi Gramedia dengan diskon gede-gedean, kalau perlu gratis dengan syarat yang beli harus orang baik biar ilmunya manfaat. Mungkin tidak sampai seminggu toko saya laris manis lalu tokonya tutup karena bukunya sudah habis. Semoga saya dapat amal jariyah karena menjadi jalan menyebarkan ilmu🙂,
  • Atau diloak buat makan sekian ratus kepala keluarga yang hidup dari buku-buku bekas atau barang asongan. Siapa tahu anaknya ada yang jadi pemimpin yang amanah atau ulama (ilmuwan) yang bertakwa,
  • Atau buat hiasan di rak buku biar dianggap intelek sudah baca buku sekian banyak,
  • Atau buat ganjel pintu di rumah,
  • Atau buat apapun, asal JANGAN DIBAKAR! (Saya tidak tega membayangkan buku-buku bagus yang tadinya ada dan menunggu untuk dibeli setelah punya cukup uang kini sudah jadi abu)

Ini bukan usaha memberangus ide-ide kan? Bukan usaha untuk membunuh pikiran rakyat kecil setelah membunuh ekonominya pelan-pelan dengan menaikkan harga kebutuhan pokok lalu membakar pasarnya dan mendirikan mal yang jangan-jangan untuk masuk tidak boleh pakai sendal jepit atau bawa kantong kresek (yang tidak ada hubungan personal antara penjual pembeli layaknya di pasar yang manusiawi) kan? Bukan itu kan? Ini murni kecelakaan kan?

Entahlah, pasti ada hikmah di balik musibah yang Allah sembunyikan untuk kita temukan.

  • Mungkin dengan begini pemkot Bandung akan memberi perhatian serius terhadap nasib pedagang buku Palasari yang rencananya akan direlokasi ke mal (tentu saja mereka menolak karena alasan ekonomi seperti harga sewa, tempat tidak strategis, pelanggan belum tentu sebanyak sekarang, dan sebagainya) .
  • Mungkin juga para pencinta ilmu dan buku, mahasiswa, depdiknas, LSM atau siapapun tergerak merasakan pentingnya ilmu yang sudah hilang. Jadi mungkin bukan bank saja yang dijaga ketat. Setiap toko buku, setiap rumah ilmuwan, setiap perpustakaan akan dijaga ketat oleh tentara. Agar tidak ada orang-orang yang menganut paham tartarisme yang bisa mengulangi peristiwa baghdadi itu.
  • Mungkin kita bisa suatu waktu memandangi kembali buku-buku yang kita simpan rapi di rumah.Bayangkan esok pagi semuanya sudah ludes terbakar, bagaimana? Apakah dengan membeli lagi masalah selesai?
  • Mungkin nanti ada yang buka bisnis jasa pengamanan ilmu, dijamin bisa mengamankan ilmu dan derivasinya (termasuk buku-buku). Atau buat rak buku yang tahan api, tahan dicuri, tahan dibajak (lho?).

Sementara kenikmatan diskon 20-30 persen ala Palasari sudah tinggal kenangan. Apa Ramadhan ini ikut puasa beli buku? puasa beli ilmu baru?

NB: Sekalian menyambut Ramadhan,
Ya Allah, nampaknya Ramadhan ini banyak hal yang harus kami renungkan dalam-dalam, bersama kembali kami mendekat padaMu, merasakan lapar yang mereka (rakyat kecil) rasakan setiap hari, merasakan sudah terlalu banyak dosa dan kesalahan yang terus kami ulangi… Bukakan pintu bulan yang penuh berkah agar kami bisa memasukinya dengan rasa haru, rindu, dan keinsafan yang akan mengeluarkan kami kelak layaknya kupu-kupu yang telah bertransformasi dari larva. Amin. Selamat menjemput Ramadhan, kawan-kawan🙂


2 Responses to “Pembantaian Buku di Palasari”


  1. August 27, 2007 at 2:17 pm

    palasari hangus, sedih mas..😦

    Agung:apa daya cuma bisa nulis ini😦

  2. August 28, 2007 at 1:55 pm

    wah iya tuh… turut berduka cita juga.. Btw ada hubungannya dengan musim kebakaran pasar2 di Indonesia ga ya?

    Agung:Ga tahu pastinya Fred, tapi ga mustahil juga


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,205 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Astronomi

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: