12
Sep
07

Dua Agenda Besar Ramadhan

Menjelang Ramadhan, biasanya ada sebuah harapan umum tentang Ramadhan yang akan kita masuki. “Semoga Ramadhan ini menjadi yang terbaik / lebih baik daripada Ramadhan tahun-tahun sebelumnya” . Wajar saja, kita semua ingin Ramadhan yang akan kita masuki dalam hitungan jam ini adalah yang terbaik. Mari kita mencoba melihat harapan yang sering kita ungkapkan dalam SMS atau email-email itu. “Ramadhan yang baik itu seperti apa sih?” lalu “Kalau lebih baik berarti kita punya parameter tertentu yang siap kita bandingkan dengan parameter yang sama dengan Ramadhan sebelumnya, apakah itu? sudahkah kita siapkan?” kemudian “Dari parameter-parameter baiknya Ramadhan kita tadi, ada gak ya yang prioritas utama dibanding yang lain, sehingga buat yang sibuk kerja atau kuliah mungkin tak semua bentuk ibadah bisa dikerjakan (walaupun pahalanya berlimpah), namun masih bisa meraih keutamaan Ramadhan?”. Tulisan berikut diringkas dari ceramah Ust. Abdul Azis Abdul Rauf, Al-Hafidz, Lc. pada sebuah kesempatan menjelang Ramadhan di Masjid Habiburrahman PTDI Bandung. Intinya tentang dua agenda besar Ramadhan.

Hadits-hadits tentang keutamaan Ramadhan mengungkapkan dua aktivitas yang utama dilakukan pada bulan itu, yang bila dikerjakan dengan iman yang sungguh-sungguh untuk mengharap pahala tertinggi, yakni ampunan dari Allah Subhana wa Ta’ala maka akan terampuni dosa-dosa yang dahulu dan akan datang. Keduanya adalah shaum dan qiyam.

Shaum
+ Ibadah utama Ramadhan di siang hari
+ Berfungsi sebagai generator dari amal-amal shaleh lain, seperti tilawah AlQur’an, shadaqah, dan memenuhi sunnah Rasul saat Ramadhan seperti menyegerakan berbuka (ta’jil). Tidak mengagetkan juga bahkan saat bulan Ramadhan dulu terjadi jihad.

Qiyam (shalat malam)
+ Ibadah utama Ramadhan di malam hari
+ Khusus bulan Ramadhan diberi nama “tarawih” (Asal kata: “tarwih”, artinya menghibur, menyenangkan, membahagiakan, menentramkan) yang bermakna shalat malam yang mampu memberikan ketenangan, kesenangan, dan kebahagiaan jiwa.
+ Mustahil ada peninggalan atau penyia-nyiaan tarawih seperti fenomena semakin berjalan Ramadhan shaf shalat semakin maju (alias jemaah shalat semakin berkurang), shalat dengan bacaan cepat dan ayat pendek biar cepat selesai, atau rela kehilangan malam Ramadhan tanpa tarawih.

Keduanya dikerjakan dengan “iimanan wahtisaban”
Ihtisab, meyakini perhitungan amal Ramadhan. Tidak ada amal yang gratis di sisi Allah pada bulan Ramadhan (juga bulan-bulan lainnya, tapi Ramadhan lebih besar nilainya), bahkan sampai ‘hanya’ memberi seteguk air atau kurma bagi orang yang berbuka. Lebih jauh lagi akhirnya kita menyadari tidak ada ihtisab yang paling tinggi selain mendapat ampunan Allah Subhana Wa Ta’ala. Penjelasan ini salah satunya tersirat pada ayat-ayat yang menceritakan tentang keteguhan iman mantan penyihir Fir’aun yang saat mereka berbalik menentang Fir’aun setelah kalah duel ‘sihir’ dengan Nabi Musa. Bagi mereka tidak ada yang paling berharga dalam hidup ini selain ampunan Allah walau harus menerima risiko akan dipotong tangan dan kaki bersilangan lalu disalib. (Q.S. Thaha (20):71-73) Para Nabi pun selalu menyeru umatnya agar mereka minta ampun kepada Allah. Jihad pun sebagai amal yang besar keutamaannya diiringi oleh janji ampunan Allah.

Tidak ada seorang pun yang bebas dari dosa, karena demikianlah fitrah manusia diciptakan. Penghuni syurga pun adalah orang -orang yang pernah berbuat dosa sebelum Allah menganggap dosa-dosa itu tidak pernah ada dan mengampuni semuanya. Kelebihannya mereka mempunyai mesin pengampun dosa yang efektif membersihkan dosa-dosa mereka.

Namun apa daya, ternyata secara hitung-hitungan matematis umur yang kita gunakan untuk beribadah dibanding seluruh umur kita ternyata tidak sebanyak dosa-dosa yang kita perbuat. Belum lagi kalau dihitung berapa banyak dari amal-amal itu yang tidak memenuhi syarat dan diterima Allah. Bagaimana dong? Maka Ramadhan punya malam yang spesial yang perhitungan ibadah pada malam itu lebih baik daripada hitungan amal selama seribu bulan (kira-kira 83 tahun) (Q.S. Al-Qadr (97)). Inilah kesempatan emas setiap tahunnya yang dinanti-nanti dan dicari-cari agar efektif meraih ampunan Allah.

Kita coba menyiapkan “shoma” dan “qama” Ramadhan yang “iimanan wahtisaban” dengan kerinduan meraih ampunan Allah Subhana wa Ta’ala, semoga Ramadhan ini betul-betul yang terbaik yang pernah kita lewati. Allahumma sallimna fii Ramadhan wa sallim Ramadhana lana. Allahu a’lam.


1 Response to “Dua Agenda Besar Ramadhan”


  1. September 18, 2007 at 3:49 pm

    Assalamualaikum WR WB

    Pak Agung, izin ngelink yak….

    Agung:Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, monggo mas Galih, saya juga nge-link yah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,170 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: