26
Feb
08

Menunggu giliran seperti monopoli

MonopoliPernahkan kawan sampai pada suatu titik yang begitu menguras kesabaran? Usaha terasa sudah maksimal, tenaga yang dikeluarkan sudah habis-habisan, doa pun tak lupa dipanjatkan, dan pedang waktu semakin dekat ke kepala, tak lama lagi kepala ini serasa akan putus dipenggalnya.

Saat terasa di ujung tanduk. Tak mungkin mundur, tapi belum ada petunjuk belok kanan, kiri, atau terus jalan. Saat menunggu datangnya pertolongan Allah yang hanya Dia Yang Tahu kapan datangnya, alias gaib.

Terbayang apa gerangan pertolongan tak segera datang layaknya pahlawan super yang segera melesat ke TKP saat mendengar jeritan seorang perempuan yang dianiaya. Terbersit prasangka nakal apakah Allah Telah Membiarkan diri menunggu dalam cemas dan gundah gulana, Menguji kesabaran hambanya yang sudah seperti mengharap bintang jatuh saja. Benarkah?

Sebagai orang beriman sudah selayaknyalah tak sangsi pertolongan Allah akan datang dalam skenario yang paling baik dalam timbanganNya. Masalahnya sering diri ini menyangka pertolongan Tuhan macam aksi pahlawan super itu, segera menuju ke pusat masalah dan selesai secara instan. Namun ternyata bukanlah macam itu pertolongan yang datang, melainkan butuh ditunggu dan biasanya melibatkan orang atau kondisi di luar diri kita. Di sinilah bertemu dengan analogi permainan monopoli.

Dalam monopoli yang dimainkan beramai-ramai, dirancang orang berbagai kondisi yang sukar diprediksi lewat undian dadu, kartu kesempatan, dan kartu kesialan (lupa nama persisnya, namun terasa sial saat tiba-tiba harus dipenjara tanpa sempat menggelapkan pajak negara). Saat permainan berlangsung, mau tak mau ada giliran permainan, siapa yang maju, siapa yang diam, dan siapa yang mundur. Tak jarang harus menunggu giliran, menunggu banyak uang, menunggu lawan lewat untuk membayar pajak atau membuat kesalahan, atau menunggu azan maghrib (ini kalau dimainkan menjelang berbuka puasa :p). Intinya, ada waktu menunggu yang sebenarnya bukan diam, melainkan tetap berusaha namun kuncinya ada di luar kemampuan kita. Kuncinya ada di kesempatan yang akan datang. Kuncinya ada di rencana orang lain.

Terbayang begitu kompleksnya sistem hubungan antar manusia dan kejadian-kejadian yang melingkupinya. Semua orang memohon pada Allah kebaikan untuk dirinya, dan Allah Yang Maha Kuasa menyusun skenario terbaik yang menguntungkan semua hambaNya dalam jangka panjang, walau misalnya yang terjadi tak sesuai dengan permohonan yang diminta. Begitu pula simulasi secuil skenario pertolongan Allah bisa dicicipi lewat monopoli. Bagi kawan yang tertarik menghitung permutasi atau kombinasi kejadian tak masuk penjara atau tak lewat negara yang pajaknya besar, atau munculnya kesempatan-kesempatan bagus bolehlah membuat riset kecil untuk menguji peluang kejadian yang sesuai dengan doa. Dan setelah itu, untuk mendapatkannya, kita terpaksa menunggu. Menunggu pertolongan / kesempatan yang sedang disiapkan jalannya lewat orang atau kejadian lain di luar kemampuan kita.


2 Responses to “Menunggu giliran seperti monopoli”



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,170 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: