12
Mar
08

Lagi, Film Ayat-Ayat Cinta

Ayat-Ayat CintaSeorang kawan (yang insyaAllah segera menikah setelah meninggalkan jejak perjalanan cinta menuju calon bidadari syurga-nya selama 2 tahun di sini. Romantis betul, dapat tambahan mas kawin sebuah blog🙂. Barakallah akhi…) pernah menanyakan pendapat tentang film adaptasi novel cinta-islami-laris-manis, “Ayat-Ayat Cinta” (AAC). Apakah film ini mampu menyampaikan pesan dakwah yang dapat ditangkap penontonnya, atau malah hanya cinta-cinta-annya saja yang ditonjolkan. Saya jawab tak tahu karena saya belum menonton filmnya. Alasannya lebih karena pesimisme yang sama dengan kawan tadi, ditambah kekecewaan bahwa film itu tak akan mampu menghidupkan tokoh-tokoh di dalamnya yang perfect macam mas Fahri (S2 Al-Azhar, pemuda hafizh, santun, pandai menulis, rajin tahajjud, dan berbakti pada orang tua), Syaikh Ustman (guru-nya guru Qur’an), dan tentu saja, Aisya (baca novelnya sendiri lah).
Karakter-karakter ini akan diperankan oleh artis-artis yang aslinya tidak seperti karakter-karakter tersebut. Selain itu produsernya orang India, terbayang nanti di dalamnya terselip adegan Fahri menari-nari di taman dengan Aisya, atau Fahri saat di penjara dipukul sedikit tapi tubuhnya sampai terlempar jauh sekali (pernah nonton film action India kan?), atau model cinta-cintanya jadi mirip sinetron televisi (yang sebagian besar di-produser-i oleh orang India juga). Ah, mohon maaf bukan rasis, hanya buruk sangka yang cenderung mengeneralisir produk-produk budaya yang dianggap tidak ‘islami’ (padahal kalau saya ditantang untuk membuat film ‘Islami’, tak tahu bagaimana menjawabnya). Mungkin juga gambaran mentalitas inferior kompleks (istilah Ust. Anis Matta) dalam diri yang hanya bisa menyalahkan dan mengkritik yang tidak ‘islami’ tanpa mampu menciptakan produk tandingan karya sendiri, bangkit dari kekuatan sendiri, lalu memberi contoh kongkrit sambil berkata “nah, ini contohnya!”.
Kembali ke film AAC. Sebuah acara gosip-yang mengaku tidak ada gosipnya (infotainment) di TV membahas tentang fenomena film AAC. Sampai sekarang ternyata film ini sudah ditonton oleh 1,9 juta orang Indonesia, yang uniknya ‘ibu-ibu’ berjilbab yang biasanya anti datang ke bioskop (yang memang menyajikan film yang tak layak tonton), pun ikut menjadi penonton AAC. Alasannya jelas, sejauh ini, inilah film yang paling islami (kalau sesuai novelnya) dalam sejarah film produk Indonesia. Alasan lain, ya tema cinta suci, penghargaan suami terhadap istri, dan tentu saja, perspektif poligami.

Lalu bagaimana film AAC menurut para artis dan pengamat film?

  • Seorang artis mengaku terharu terhadap jalan cerita, terutama pada ketabahan Aisya saat Fahri ‘terpaksa’ memperistri Maria. Ia juga mengaku film ini bukan khusus untuk penonton muslim saja, tapi juga untuk semua kalangan. Bagaimana kalo di-poligami? ‘Jangan sampai lah’.
  • Artis lain kebanyakan juga menangis pada adegan ketabahan Aisya itu. Seorang ibu bukan artis mengaku ikhlas di-poligami kalau mendapati dirinya layaknya Aisya dalam situasi pelik itu.
  • Artis lain (nah, ini yang menarik) mengaku kelak akan mencari calon suami yang mirip mas Fahri (selamat buat Lucky yang prediksinya terbukti🙂. To all my brother, gimana nih, siap gak punya istri artis :p ?
  • Artis lain berpendapat film itu akan mempengaruhi penontonnya untuk berbuat sesuai contoh (semoga yang baik) karakter di fim itu. (Jadi, makin banyak Fahri-alike dan Aisya-alike, begitu? Alhamdulillah…)
  • Bang Deddy Mizwar berpendapat bahwa tontonan laris tak harus berisi sadisme dan seks, buktinya AAC ini.
  • Produser AAC mengatakan bahwa ia akan membawa film ini ke luar, bahkan bisa jadi ke festival film Cannes yang elite itu. Ke Amerika pun bisa, dengan dukungan dana yang besar, dan nampaknya ia sangat bersemangat. (Kita doakan semoga berhasil…insyaAllah)

AAC memang fenomenal semenjak kemunculan novelnya. Entahlah, karena belum nonton saya tidak tahu apa adegan-adegan yang kuat dalam novelnya muncul juga di film. Salah satu yang saya suka saat adegan perdebatan di trem yang melibatkan Fahri, Aisya, orang-orang bule Amerika, dan beberapa lelaki Mesir. Intinya tentang sikap orang Islam terhadap orang-orang bule di negerinya. Fahri bisa menyampaikan argumen yang kuat dan shahih, namun tidak berakhir dengan perkelahian, alias disampaikan dengan cara yang santun dan tepat sesuai karakter lawan bicaranya. Walhasil, semua orang bahagia. Oya, bagian mimpi Maria mengetuk-ngetuk pintu syurga juga sangat mengharukan. Dan tentu saja, mungkin kapan-kapan saya ingin juga menggigau membaca ayat suci Qur’an, bukan main!

Novel dan film AAC, novel Laskar Pelangi (yang juga akan segera dibuat filmnya oleh Riri Riza), Nagabonar jadi 2, serta sederet karya-karya sastra dan budaya berkualitas lainnya karya anak bangsa yang luar biasa itu, sedikit banyak menjadi refleksi betapa masyarakat kita butuh dan menunggu hikmah dan pelajaran yang tidak menggurui dari karya-karya seni. Cukup lah sudah berasumsi ‘pasar’ itu sukanya kekerasan dan sadisme, seks dan pornografi, atau cinta-cintaan membosankan ala remaja di sinetron. Karya-karya di atas telah membuktikan diri mendidik pasar dengan karya berkualitas, memimpin pikiran pembaca / penontonnya untuk keluar dari kegelapan menuju cahaya (dakwah?). Kapan ya bisa mempersembahkan karya untuk umat ini? (Maaf, nampaknya saya baru bisa bilang, “sabar ya”).


10 Responses to “Lagi, Film Ayat-Ayat Cinta”


  1. March 12, 2008 at 2:22 pm

    Hmm… Rachma kurang suka jalan cerita novel itu, kurang membumi😀. Tapi mungkin emang tujuannya membawa mimpi kali yak.
    Di filmnya…yang jadi Aisha nya kurang lembut, kalah lembut ma Maria.
    Terus yang jadi Fahrinya… hmm… kurang tau sih, tapi kaya yang kurang tegas gituh.
    Tapi dibanding sinetron kebanyakan, yah AAC jelas lebih bermutu🙂

  2. March 16, 2008 at 10:25 am

    @ Rachma: hehe emang tokoh2nya mendekati sempurna, jadi mungkin ditangkep kurang membumi. Oh, udah nonton toh? Di sana bioskopnya muterin film ini gitu?

  3. March 16, 2008 at 10:59 am

    prediksi bagian mana yg terbukti gung? ga semua wanita jadi mau dipoigami sekarang, hehehe,,,

    AAC lumayan, tapi Islami atau nggak? ribet jawabnya.
    Film Islami kayak apa emang?

    Aisha-nya gak se-alim yang saya bayangin waktu baca novel, fahri nya ga seketat yang saya bayangin juga (tapi self-righteous-nya keliatan sih…), dan maria..cantik, hehehe.

    yang paling pas diperanin emang maria sih…adaptasi dan improvisasi yang bagus, anyway.

  4. 5 Dewi
    March 18, 2008 at 1:24 pm

    hmm,,, lumayan lah film ini sudah mensyiarkan islam sedikit misalnya menghindari hubungan yang tidak sah (baca : pacaran), laki-laki dan perempuan bukan muhrim tuh dilarang bersentuhan loh, trus jilbab itu yang bener lebar loh,,, etc etc

    Syiar Islamnya 10%, cinta2annya 90%. Gak papa lah,, insyaAllah suatu saat nanti persentasenya bisa berbalik,,, amin

  5. March 21, 2008 at 11:12 pm

    Mas, kok kayaknya antum jadi penyiar “gossip” juga, hehe. Sering liat acara TV yaks😛

    Klo untuk dakwah sih, hmm, blm bisa komentar. Semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua.

  6. April 8, 2008 at 12:55 pm

    @lucky: prediksi pemuda idola itu lo ky. Harusnya mungkin memang jangan dibandingin sama novelnya ya, ini kan bentuk interpretasi sutradara terhadap novel itu, dengan berbagai batasan yang ada.
    @Lesly, amin apanya nih?
    @Dewi: wah udah pada nonton ternyata…
    @arifromdhoni: mas, ini acaranya pas makan siang, kebetulan lagi di rumah. Pas nyalain TV cari-cari kalo ada info-info bagus ketemu bahasan AAC ini. Kita kan juga harus menangkap feedback dari masyarakat plus opini-opini yang ada. Bisa jadi bahan evaluasi.

  7. 8 faizah
    April 10, 2008 at 6:53 pm

    awalnya fay juga pesimis sama film aac, umm tapi setelah ditonton unutuk kedua kalinya plus ngebaca blog bapak sutradara pandangan fay berubah. Menurut fay, film adalah salah satu media yang jitu untuk pensosialisasian nilai-nilai tertentu di masyarakat. Menurut fay aac memberikan pencerahan tentang nilai2 keislaman. Setidaknya istilah-istilah, sikap, dan prinsip yang diungkapkan di film aac mulai menggelitik kesadaran orang2 yang melihatnya. Contoh kasus ada temen fay (yang bisa dibilang anak gaul banget) nanya fay emang ga boleh ya pegangan tangan itu, atau fay talaqi itu apa siy..dan lain-lain. Dimulai dari rasa ingin tahu terus beranjak ke pencarian hakiki….tinggal follow up nya..

  8. May 16, 2008 at 6:24 pm

    @ faizah: mangga ditemenin temennya, Fai, buat follow up nya🙂

  9. May 3, 2014 at 10:10 pm

    Hi there, I think your website could possibly be having web
    browser compatibility problems. Whenever I take a look at your blog in
    Safari, it looks fine however when opening in Internet Explorer, it has
    some overlapping issues. I simply wanted to give you a quick
    heads up! Other than that, wonderful website!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,205 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Astronomi

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: