18
Mar
08

Mencerna PKN dengan Model Benda

Gamelan InternasionalBelajar PKN (Pendidikan Kewarganegaraan) atau civic education merupakan satu dari sekian pengalaman belajar masa kecil yang terasa membosankan. Bosan karena pikiran tidak menemukan hubungan (asosiasi) antara materi di kelas dengan berita di surat kabar. Sedangkan asosiasi merupakan makanan penting otak, yang membuat hal-hal baru terhubung secara mengesankan dengan pengalaman hidup yang pernah dialami / disaksikan sendiri. Lebih buruk lagi, materi-materi PKN yang berupa pendidikan menjadi warga negara yang baik dan sadar hukum harus dicerna oleh pikiran anak-anak yang polos, yang membayangkan dunia penuh kebaikan. Padahal negara dan peraturannya (termasuk hukum) dibuat untuk mengatur orang / pikiran ‘jahat’ (kalau masyarakat isinya orang ‘baik’ semua, tak perlu ada hukum kan?). Maka jadilah jam pelajaran PKN serasa begitu lama, beruntung ada tugas dari mata pelajaran lain yang bisa dikerjakan sembunyi-sembunyi, itu pun kalau tidak ketahuan atau tidak sedang sesi membaca buku teks secara bergiliran.

Beruntung saya pernah diajar oleh seorang guru PKN yang menyadari penderitaan anak didik saat menelan bulat-bulat bab-bab dan pasal-pasal yang tak pernah dipahaminya. Beliau menciptakan metode belajar yang mungkin tidak asing kalau mengacu pada buku-buku belajar kreatif, namun masih baru untuk diterapkan di pendidikan SLTP/SMU pada umumnya. Intinya anak didik diajak berpikir mengenai konsep-konsep materi PKN lalu diberi tugas untuk membuat model benda (maket) yang mencerminkan pemahaman mereka dari konsep-konsep tersebut. Beliau hanya mengajarkan sampai anak memahami poin-poin pentingnya, lalu didorong untuk berani mewujudkan pemahamannya (dengan ditambah wawasan umum dan imajinasi) dalam bentuk benda. Kritik yang muncul dari guru lain berupa pesimisme bahwa cara ini bisa membuat siswa tak banyak paham (hafal?) materi, karena toh tak mungkin semua poin bisa mewujud ke dalam maket yang dibuat. Kritik lain muncul dari kalangan konservatif yang sulit menerima gaya baru mengajar siswa (yang setiap hari main game, buka internet, dan main musik?).

Dalam materi hukum internasional yang berisi materi tentang perlindungan HAM, hukum lintas negara, sampai perjanjian ekstradisi (bukan main! serius ini harus dipahami anak SMU? Mahasiswa pun belum tentu paham…) sekelompok siswa membuat maket penjara bawah laut (hebat bukan? terinspirasi karya Jules Verne, Twenty Thousand Leagues Under The Sea?). Kemudian mereka diuji seputar konsep materi dan simbol penjara bawah laut itu. Mengapa di bawah laut? Di laut mana? Mengapa di sana? Siapa yang membangunnya? Siapa yang menghuninya? Darimana duitnya? Mengapa dari sana? Hmm…pertanyaan yang nampaknya sederhana, tapi jawabannya panjang dan menuntut mereka untuk minimal tahu secara global hubungan internasional antar negara di dunia.

Saya beruntung mendapat kesempatan untuk belajar dan berdiskusi dengan jiwa-jiwa muda itu (weit, udah tua bang?) lewat guru saya tadi. Di SMUN 9 Bandung (dekat PTDI), sekian kelompok anak SMU siap dengan maket di atas meja, dan mereka duduk bergerombol dalam formasi kompetisi cerdas cermat. Tiga orang menjadi juru bicara (sekaligus menjawab pertanyaan), dan yang lain tampaknya cukup sebagai pengamat diskusi :p. Tema yang diangkat adalah “Persamaan Kedudukan Warga Negara Dalam Berbagai Aspek Kehidupan”. Berikut ini contoh-contoh karya mereka. Oya, sebagai catatan mereka ini kelas X (sepuluh), dulunya kelas 1 SMU, belum genap setahun pakai putih abu-abu.

Dari model belajar seperti ini, saya mendapat pencerahan pentingnya civic education untuk dipahami siswa sebagai warga negara yang cinta tanah air (ups, maaf terbawa suasana PKN). Saya menangkap aura optimisme bahwa somehow mereka pun mendapat pencerahan setelah membuat maket. Somehow saya merasa PKN itu sangat baik untuk dimengerti, didiskusikan, dibenturkan ke sana sini, dan jika sudah paham (dan memang benar) harap diamalkan.

Sebabnya tidak lain karena negeri ini titipan Tuhan untuk kita, dan kalau kita tidak paham bagaimana cara kerja berbagai hukum yang lahir di dalamnya, maka keberadaan kita sebagai warga negara dipertanyakan. Tanpanya kemungkinan besar ada hak yang tidak dituntut atau kewajiban yang diabaikan. Bisa jadi kekacauan ini karena abainya kita menggunakan berbagai hak atau lalainya kita dari menunaikan kewajiban yang mungkin sudah kita miliki / emban pada saat pertama kali kita lahir di tanah ini. Tanah air beta, begitulah kata sebuah lagu wajib.


0 Responses to “Mencerna PKN dengan Model Benda”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,170 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: