08
Apr
08

Otodidak

Beberapa waktu ini saya menolak berguru secara formal layaknya sekolah atau kursus yang menyediakan guru yang bertemu secara rutin dan seperangkat kurikulum dan materi yang ‘lengkap’. Agaknya ada trauma dengan model belajar sekolah yang rasanya justru membuat saya pasif berpikir, takut salah, mengekor ke guru, mudah puas, dan mudah terpancing untuk bersaing dengan sesama murid untuk memperebutkan nilai (yang semu?).

Kondisi tanpa ilmu yang siap saji untuk disantap (butuh atau tidak itu masalah lain sepertinya) memaksa pikiran untuk mencari apa yang sebenarnya dibutuhkan. Caranya? Tak ada lain selain mencoba, yang berarti pasti berbuat salah. Salah lagi, lagi, dan lagi (yang ini haram hukumnya di sekolah pada umumnya, karena bisa berujung tak lulus ujian). Namun pengalaman berbuat salah terasa lebih mengajari ketimbang hadir di ruang kelas dan mendengar guru yang, karena lebih tahu, segera memberi tahu rambu-rambu yang harus diwaspadai. Hasilnya, takut duluan, dan hanya berani melewati daerah ‘aman’. Padahal belum tentu sekarang rambu-rambu itu masih berlaku, karena zaman guru mungkin sudah berlalu sekian lama.

Otodidak yang saya maksud bukan 100% tanpa guru. Wujud gurunya saja yang berbeda. Otodidak  ini berguru dari orang (ngobrol, baca biografi), buku, internet, dan sebagainya. Intinya sarana informal di luar perangkat-perangkat institusi semacam sekolah. Peran besar terletak pada pengalaman pribadi dan praktek langsung (eksperimen kegagalan, dan sikap bangun-dan-robohkan). Apakah ini yang namanya university of life?

Otodidak tak menawarkan sertifikat sebagai pengakuan kompetensi keilmuan / keterampilan tertentu (benarkah?). Oya, mungkin hal ini tak berlaku untuk ilmu agama. Barangkali guru yang ideal seharusnya bukan membuat orang jadi takut dan mengekor, melainkan mengantar muridnya menjadi dirinya sendiri. Membangkitkan pikirannya dan menemukan jalannya sendiri. Tapi di sinilah sulitnya. Setiap guru cenderung akan memproduksi pengikut ketimbang menjadi ‘pembebas’.  Mungkin alternatif solusinya harus menjadi murid yang ‘nakal’, yang tidak mudah percaya bulat-bulat apa yang disampaikan guru, tanpa mengurangi rasa hormat pada sang guru, tentu saja.

Saya sadar banyak kekurangan cara belajar ‘sok tahu’ ini. Tapi di baliknya ada kehausan untuk mencoba dan membuktikan. Merasakan (to feel) kegagalan setelah berusaha sendiri, tanpa ada guru yang datang untuk mencoba menolong sebelum potensi dan kesabaran hampir diperas habis. Rasanya otodidak memberi pesan kapan saatnya maju, kapan saatnya harus dimantapkan dulu. Tidak terpaksa menelan apa yang belum dipahami (istilah buku Quantum Learning, sampai bertemu “Aha!”).

Paradoks bukan? Keterbatasan waktu menuntut kita harus berguru (bersekolah?). Sedangkan bereksperimen juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar (kecuali murid yang jenius dan rajin luar biasa), dan pengalaman merupakan bentuk pemahaman ilmu di atas sekedar melihat atau mendengar. Mungkin kompromi antara waktu eksperimen dan waktu untuk berguru (bersekolah?) adalah alternatif solusinya.

Lagipula, apa maknanya kita hidup, kalau rasanya orang lain sepertinya selalu berada di depan dan sudah menyelesaikan semua pekerjaan dan penemuan yang penting-penting. Tugas kita hanya mengikuti jejak dan mendapatkan nilai sebagus-bagusnya sebanding dengan seberapa baik kita menghafal jejak-jejak masa lalu itu. Sekali lagi, saya tidak alergi guru. Tapi mungkin sedikit alergi sekolah (atau tidak?). Ataukah memang saya yang lambat mengejar ilmu dan guru, sehingga saya terpaksa menyesuaikan diri sendiri lewat otodidak? Atau berguru harus minimal sampai level tertentu, selebihnya boleh otodidak?

Entahlah. Lihat kan, saya sendiri bingung bedanya berguru dan bersekolah. Jangan-jangan saya sedang mencoba menggurui pembaca. Sudahlah, saya robohkan saja tulisan ini, anggap saja curhat. Silakan kalau mau ikut merobohkan dan membangun yang baru di sebelahnya. Terima kasih.


2 Responses to “Otodidak”


  1. May 11, 2008 at 8:54 pm

    Belajar dari guru dapat mempercepat proses pemahaman daripada belajar sendiri. Dan belajar dari guru juga bisa mendatangkan pemahaman yang benar atas apa yang dipelajari (terkadang timbul persepsi lain waktu belajar otodidak). Tapi bukan berarti belajar sendiri tidak penting. Karena pematangan hasil belajar harus diolah sendiri oleh pihak pelajar (yang belajar).

    Semoga antum tidak trauma belajar dengan guru.

    Kalau menurutku, sistem sekolah yang ada saat ini bukan faktor adanya guru yang dipermasalahkan, karena guru itu memang penting adanya. Tetapi mungkin faktor “mencari nilai” bukan “mencari ilmu” yang dipermasalahkan. Soalnya walaupun ilmunya banyak yang dapat diserap, tetapi yang keluar di ujian ternyata yang belum dipahaminya, maka nilainya bisa hancur. Dan sebaliknya, walaupun ilmunya sedikit, tapi pas yang keluar di ujian bisa memperoleh nilai baik.

  2. May 16, 2008 at 6:28 pm

    @ arifromdhoni: insyaAllah ndak trauma, cuma lagi sejenak ingin memunculkan rasa butuh dan rindu berguru lagi🙂 Tapi gimana lagi ya, buat lulus butuh nilai, sementara terlalu banyak dan kompleks menilai manusia yang sedang belajar…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,170 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: