19
May
08

Software untuk Mahasiswa, antara Bajakan dan OSS (1)

Tak sulit menemukan lokasi strategis bagi penjual dan pembeli software bajakan di Bandung. Entah mengapa, beberapa lokasi tersebut tidak lain adalah daerah kampus-kampus favorit. Akademisi kampus, dalam hal ini mahasiswa, bisa jadi merupakan pelanggan tetap penjual software bajakan itu, yang menjual beragam software dari A sampai Z, dari software serius untuk mengerjakan tugas kuliah, sampai game dan hiburan multimedia lainnya. Setiap penjual bersaing menjadi yang paling up-to-date, paling lengkap, dan tentu saja, paling murah untuk mendapatkan pelanggan setianya. Beginikah cara mahasiswa sebagai kaum terpelajar memperlakukan hasil kerja dan karya orang lain? Mungkinkah penggunaan produk bajakan oleh masyarakat seakan dibenarkan dengan hal tersebut, mengingat kampus sebagai gudangnya orang-orang yang berpendidikan? Lalu mengapa pula mahasiswa harus membeli versi bajakan? Tidakkah pihak kampus punya kebijakan lisensi khusus untuk mahasiswanya? Sehingga mahasiswa tak perlu pusing mencari versi bajakan karena kampusnya telah mengadakan perjanjian dengan vendor software untuk menyediakan lisensi khusus.  Jika software tertentu mutlak dibutuhkan suatu jurusan untuk mendukung proses belajar, bukankah seharusnya software itu tersedia dan dapat digunakan dengan halal dan terjangkau?

Proses pendidikan yang dialami mahasiswa di kampus dilandasi misi yang mulia untuk membentuk manusia-manusia bertipe agent of change, iron stock, dan guardian of values. Tak ada satupun butir dalam penjabaran misi mulia itu yang membolehkan pelanggaran hak orang lain, apapun bentuknya, termasuk hak cipta yang dilanggar dengan pembajakan. Perjuangan membela keadilan dan kesejahteraan rakyat oleh mahasiswa bisa kurang berkah jika mahasiswa sendiri masih tidak adil dengan hak orang lain. Selain itu, dapatkah tindakan tersebut menunjukkan etika sebagai akademisi?

Di sisi lain, sifat ilmu pengetahuan yang terbuka, yang seharusnya bisa dinikmati dengan mudah dan terjangkau oleh siapapun juga, pun dijunjung tinggi oleh misi mulia kampus. Denyut intelektual hidup dari keterbukaan informasi, pertukaran pikiran, dan kontribusi bersama terhadap ilmu pengetahuan. Komersialisasi ilmu pengetahuan dan hasil rekayasa seakan menjadi penghambat misi itu, mengingat tak semua bisa diperoleh dengan biaya yang terjangkau. Kebutuhan penggunaan software, yang kini perannya sangat vital sebagai alat bantu pemrosesan data, pengolah citra, sampai kompilasi program, tidak bisa ditawar lagi. Tidak ada mahasiswa yang bisa lulus tanpa menggunakan software, apapun bentuknya, karena software dan mahasiswa adalah satu kesatuan.

Bagi mahasiswa jurusan ICT, keberadaan open source software (OSS) sangat membantunya mempelajari kode penyusun software, yang kemudian dapat dijadikan bahan penelitian dan pengembangan lebih lanjut. Targetnya, dapat tercipta software dengan kemampuan yang belum dimiliki pendahulunya. Fungsi lainnya tentu saja sebagai alat bantu pembuatan sofware. Jurusan ICT ini dapat dikatakan merupakan pelopor dalam penggunaan OSS, karena praktisi dan pengembang software awalnya memang mengembangkan OSS sebelum software menjadi suatu komoditas komersial. OSS yang melayani kebutuhan ICT pun mempunyai kualitas yang menempatkannya pada jajaran produk bermutu dengan performa yang handal, sehingga secara luas dipakai orang. Secara teknis, software dan layanan ICT dapat dibuat dengan berbagai bahasa dan alat bantu pemrograman yang dapat dijalankan pada berbagai mesin, tanpa bergantung pada tipe hardware yang dimiliki mesin tersebut. Singkatnya, tak sulit bagi mahasiswa ICT untuk secara penuh menggunakan open source software.

Bagi mahasiswa jurusan lain, kisah sukses OSS masih menemui beberapa rintangan. OSS harus mampu menangani pemrosesan data, analisis, dan alat bantu sesuai jurusan tersebut, baik itu sains, teknik, atau seni. Kenyataannya, tidak sedikit jurusan yang sudah menjadikan software berbayar tertentu sebagai standar bersama. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, antara lain karena fungsi sofware berbayar tersebut yang memang belum bisa digantikan oleh OSS, atau karena sudah biasa digunakan saja. Contoh kasus, dosen memberikan tugas pada mahasiswa yang hanya diterima jika dikerjakan dengan software berbayar tersebut. Hal ini membuat mahasiswa tak punya pilihan selain menggunakan produk bajakan, mengingat harga software yang relatif mahal. Awalnya hanya untuk menyelesaikan satu tugas kuliah, namun akhirnya berlanjut digunakan sampai tugas akhir, bahkan saat bekerja, tanpa menyadari bahwa bajakan tetaplah bajakan. Atau mungkin mahasiswa juga tidak ambil pusing, toh kampus pun tidak melarang, bahkan dosen bisa jadi tidak memberikan pilihan lain. Maka perlahan tapi pasti, penggunaan software bajakan menjadi jamak dan diterima sebagai hal yang wajar. Kalau sudah begini, penetrasi OSS akan semakin sulit karena berhadapan dengan kebiasaan dan ketergantungan berlebihan pada jenis software yang closed source dan bajakan.

(bersambung)


0 Responses to “Software untuk Mahasiswa, antara Bajakan dan OSS (1)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,205 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Astronomi

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: