19
May
08

Software untuk Mahasiswa, antara Bajakan dan OSS (2)

Pemegang kebijakan di kampus mempunyai peran penting agar OSS dapat diadopsi secara utuh. Idealnya, melalui surat keputusan yang mengikat seluruh civitas akademika, proses pendidikan dan layanan pendukungnya harus menggunakan OSS. Namun nampaknya hal ini masih merupakan utopia. Pada tulisan sebelumnya, ternyata OSS pun belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pendidikan di jurusan. Di sinilah peran strategis pengelola kampus untuk menyediakan beberapa solusi berikut:

  1. Lisensi Khusus Mahasiswa
    Lisensi ini biasanya ditawarkan vendor untuk mengakomodasi penggunaan software miliknya oleh mahasiswa, dosen, atau peneliti. Harga yang ditawarkan tentu relatif jauh lebih murah daripada versi untuk umum. Batasan umumnya adalah hanya boleh digunakan selama pemegang lisensi masih terdaftar aktif di institut / universitas tertentu.
    Beberapa kampus biasanya baru menyediakan lisensi untuk produk-produk keluaran merek tertentu, biasanya merek yang sama dengan sebuah sistem operasi berbayar. Sedangkan kebutuhan sofware jurusan lain tidak dimiliki oleh merek ini. Seharusnya kampus secara bertahap mampu menjalin kerjasama dengan vendor berbagai software penting untuk menyediakan lisensi ini, sehingga kelak mahasiswa seni rupa, teknik kimia, atau teknik mesin bisa tenang menggunakan software yang sudah berlisensi. Konon software handal yang mereka gunakan belum bisa ditandingi oleh OSS.
    Kerjasama ini dapat dijadikan satu paket dengan pelatihan dan dukungan teknis. Selain itu, vendor diuntungkan jika pemegang lisensi di kampus dapat secara aktif memberikan masukan dan melaporkan kekurangan software yang ada. Bahkan jika ada keluaran versi terbaru, pemegang lisensi dapat membantu mengujinya sebelum dilempar ke pasaran.
    Lebih jauh lagi, jika software tersebut mempunyai penggemar fanatik, tidak menutup kemungkinan akan lahirnya komunitas pengguna yang loyal, yang konsisten melahirkan karya menggunakan software tersebut. Jika ada komunitas OSS Indonesia, mengapa tidak mungkin ada komunitas yang serupa untuk software berbayar?
    Dari sisi mental, civitas akademika dibiasakan untuk menghargai karya orang lain lewat lisensi ini. Selain itu, Jika harga yang ditawarkan masih mahal, maka mahasiswa pun semakin punya alasan untuk segera beralih ke OSS.

  2. Pusat Layanan dan Pengembangan OSS
    Masalah yang sering muncul dari pengguna baru OSS berupa ketidakbiasaan menggunakan OSS sampai masalah kompatibilitas hardware dapat dilayani di suatu pusat pelayanan OSS. Unit ini berfungsi untuk memberikan berbagai layanan pendukung penggunaan OSS seperti instalasi, update, pelatihan, konsultasi, dan troubleshooting. Mahasiswa jurusan ICT atau jurusan lain yang berminat dan menguasai OSS dapat memberikan pelayanan tersebut. Tanpa unit ini, OSS akan sulit untuk digunakan oleh mayoritas civitas akademika, karena cukup sulit pula untuk mengubah kebiasaan jika tidak dengan keterpaksaan didukung sarana yang memadai.
    Jika sumber daya mencukupi, kampus dapat mengembangkan OSS yang memang sesuai dengan kebutuhan belajar mengajar di kampus. Tak perlu dari nol, modifikasi dan perbaikan dapat dimulai dari OSS yang sudah ada, walaupun harus diakui hal ini harus didukung dengan perencanaan, pendanaan, dan SDM yang baik agar hasilnya berkualitas.

Dua alternatif ini nampaknya dapat dijalankan secara paralel dan saling mendukung.

Mengakhiri tulisan ini, tidak elok jika masyarakat kampus terus mengkonsumsi software bajakan, lalu kemudian menghasilkan berbagai inovasi baru yang dari bajakan itu. Coba kita pikirkan, apa artinya inovasi baru yang lahir tanpa menghargai hak orang lain yang telah memberi jalan lahirnya inovasi itu? Lalu tidak butuh kah kita akan nilai keberkahan dari setiap karya yang dihasilkan, yang hilang sebagian atau seluruhnya karena pembajakan?

(selesai)


2 Responses to “Software untuk Mahasiswa, antara Bajakan dan OSS (2)”


  1. 1 Yudha P Sunandar
    May 19, 2008 at 3:15 pm

    untuk lomba blog igos summit yah mas….?? ikutan juga… hehehe…
    sedikit komentar. sebenarnya budaya yang disebut membajak adalah budaya asli indonesia. contohnya terlihat di bali. pematung akan senang karyanya ditiru oleh orang lain. dan peniruan ini adalah bentuk dari penghargaan hak cipta. budaya serupa juga terjadi di pulau lainnya di nusantara. bahkan ini sebenarnya merupakan budaya timur. orang timur dahulu akan lebih senang karyanya dimanfaatkan oleh orang lain.
    tapi ketika berbenturan dengan budaya kapitalisme barat, budaya ini dianggap merugikan. terlebih lagi dengan berkembangnya teknologi informasi dan komputer yang menjadikan proses menyalin sangat mudah. dari sinilah muncul istilah membajak dan dijadikan sebagai tindakan yang negatif karena dinilai merugikan secara finansial.
    mungkin ini masalah paradigma kali yah mas. tapi menurutku, penggunaan open source di masyarakat lebih agar masyarakat mengenal adanya perbedaan dan bebas memilih sehingga tidak menimbulkan ketergantungan terhadap 1 vendor.😀

  2. May 25, 2008 at 2:49 pm

    ya betul Yud🙂. Ga semua setuju hak cipta juga ya, tapi apa boleh buat hukumnya sudah mengikat kita…Tapi bisa jadi ketergantungan itu disukai lho, seperti pemakai fanatik Mac, atau Linux? Bergantung sama yang baik-baik gak masalah juga kan Yud? :p


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,205 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Astronomi

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: