Album Biru

Foto_Kecil_@Airport

kubuka album biru
penuh debu dan usang

kupandangi semua gambar diri
bersih putih belum ternoda

Anda punya album kumpulan foto masa kecil? Saat sepeda roda tiga Anda lebih tinggi sedikit daripada Anda? Saat Anda masih suka berlari-lari ke sana ke mari, bermain air, atau membuat nangis anak tetangga? Saat tubuh dan muka Anda begitu menggemaskan untuk digendong dan dicubiti? Saat Anda masih disuapi bubur di pagi hari, lalu sebelum tidur Anda diceritakan dongeng pengantar tidur? Atau saat kedua orang tua Anda lebih ramping sedikit daripada kini?

Beruntunglah jika album-album yang berisi foto kekuning-kuningan itu masih ada, dan berusahalah untuk menjaganya Siapa tahu di sana, ada jendela untuk melihat siapa dulunya kita, siapa yang membantu kita saat kita begitu ‘bodoh’, lugu, dan tidak berdaya, dan ribuan memori yang dihapal betul oleh orang tua kita.

pikirkupun melayang
dahulu penuh kasih
teringat semua cerita orang
tentang riwayatku

Tak ada salah dan malunya jika saat hati sedang keras akibat merasa diri sudah hebat, pintar, dan berbakat bukan main, album ini dibuka lagi. Mungkin di sana ada gambar kita sedang dipangku, digendong, disuapi, ditidurkan, dibawa jalan-jalan, dan difoto, tentu saja. Begitu tergantung dengan orang lain, bukan? Orang lain? begitu caramu menggunakan kata ganti untuk orang tuamu sendiri? Baiklah kawan, tenang, kuralat kalimat ini. Begitu tergantung dengan orang tua, bukan? Bagaimana, puas kau? Nah, lebih baik lagi album itu dibuka bersama orang tua. Saatnya diam. Tanyakan cerita yang ada di satu foto yang kita tunjuk. Dengarkan, dengarkan cerita mereka tentang foto itu. Tentang tanggalnya, tempatnya, orang-orangnya, dan tentu saja, dirimu yang menjadi pusat perhatian foto itu. Biarkanlah tawa dan haru muncul. Tak masalah jika ada sedikit air mata. Rasakan saja kebahagiaan mereka menceritakan dirimu. Dengarkan, dengarkan baik-baik.

kata mereka diriku slalu dimanja
kata mereka diriku slalu ditimang

Nada-nada yang indah
slalu terurai darimu

tangisan nakal dari bibirku
takkan jadi deritamu

Mungkin tak banyak yang kita ingat. Beberapa orang di foto-foto itu mungkin sudah tiada. Atau pergi tak kembali. Begitu cepat waktu berlalu. Begitu cepat kita tumbuh. Lalu begitu cepat pula kita merasa hebat, dan melupakan masa kecil yang serba tergantung. Kacang lupa kulit? Ah, mungkin terlalu berlebihan disebut demikian. Jika begitu, masihkah kelak kita siap menjadi tempat orang tua kita bergantung? Lalu kita coba buat foto album lagi. Bahagiakah isinya? Sebahagia orang-orang di album masa kecil? Kita lihat saja. Semoga.

tangan halus dan suci
tlah mengangkat tubuh ini
jiwa raga dan seluruh hidup
rela dia berikan

oh bunda, ada dan tiada dirimu
kan selalu ada di dalam hatiku

(Bunda, Melly Goeslaw)

3 thoughts on “Album Biru

Add yours

  1. @ trian: nice comment:) monggo sambil dinyanyiin lagunya. Mohon doanya saja lah mas ๐Ÿ™‚
    @ mas Andik: Alhamdulillah mas, masih inget lah. Amin,insyaAllah mas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: