15
Jul
08

The Right Man on The Right Place

Dan pada dirimu sendiri, tidakkah kamu memperhatikan?
(Q.S. Adz-Dzaariyat:21)

Sejak kecil, menjadi rangking 1 di kelas terasa begitu prestisius. Tidak hanya kita, orang tua pun bangga jika anaknya selalu masuk 10 besar. Wajar, sebab nilai bagus adalah jaminan masuk ke sekolah top, lalu ke universitas top. Tiket emas memperoleh kehidupan masa depan yang lebih baik. Di sana ada pekerjaan bagus, gaji memuaskan, dan jodoh yang bibit-bebet-bobot-nya baik. Begitu kira-kira.

Semakin lama semakin kita sadar bahwa masuk rangking tidak memberikan gambaran yang pas tentang diri kita yang terbaik. Mungkin rangking lebih semacam teknik motivasi dari guru sekolah agar anak didiknya bersemangat mengejar prestasi. Mengalahkan temen-temannya, lebih tepatnya. Dan menyenangkan orang tua, tentu saja. Rangking, yang ditentukan dari akumulasi nilai-nilai mata pelajaran itu, tentu berkait erat dengan sistem pendidikan kita yang berbasis nilai. Nilai pelajaran IPA, maksudnya. Nilai-nilai ini begitu memesona sehingga sistem pendidikan lebih membuat sekolah yang tumbuh, ketimbang siswanya. Indikatornya, selepas sekolah banyak siswa tidak kunjung mampu mengaktualisasikan potensinya. Tidak tahu potensi terbaiknya. Tidak punya rencana masa depan. Tidak kunjung menemukan makna keberadaan dirinya dalam hidup. Tidak tahu / yakin mau kuliah jurusan apa. Salah jurusan? ‘Salah’ pekerjaan? Silakan disensus sendiri jumlahnya.

Jika ‘salah’, maka peluang terciptanya masterpiece atau karya-karya adiluhung yang menggerakkan roda peradaban dan membuat hidup bermakna, akan semakin sulit terwujud. Jika setiap orang di negeri ini mengalaminya, maka hasil akumulasinya akan membuat negeri ini minim kontribusi. ‘Pasar potensial’, demikian reputasi kita yang mendunia. “Gung, pernah kepikiran nggak untuk bikin masterpiece?”, tanya kawan saya yang multi-talented ini. Sesaat saya heran, orang sepertinya masih menanyakan pertanyaan semacam ini. Dengan kemampuannya, tentu masterpiece buatan tangannya hanya menunggu waktu. Sesaat kemudian saya sadar, pertanyaannya cukup beralasan. Kami memang tidak dibesarkan dari sistem pendidikan yang fokus membentuk kami sesuai dengan kekuatan yang kami miliki. Sekian lama kami diberi seragam untuk ‘diseragamkan’ kemampuannya. Hal ini disebabkan sistem kami tidak mampu mengelola potensi-potensi kami dengan baik. Sistem kami tidak mampu mencerna anak yang blingsatan mencari jati diri sehingga demi kemudahan segera melabelinya dengan ‘nakal’. Sistem kami tidak siap mengelola sekian banyak perbedaan manusia karena potensinya. Sistem kami tidak ‘manusiawi’, tidak membuat manusia semakin merasa menjadi ‘manusia’. Status kemanusiaan kami adalah rangking dan nilai UAN. Masterpiece? Cari di kegiatan ekstrakurikuler saja.

Kita tahu Allah membekali kita dengan kecerdasan dengan berbagai tipe. Mengapa? Untuk menjalani misi sebagai khalifah, kita akan sangat membutuhkan kecerdasan. Dan dengan alasan yang sama, setiap kita diberikan kecerdasan-kecerdasan dengan kadar yang berbeda. Mengapa? Karena setiap kita ditakdirkan mengisi ‘pos’-‘pos’ khalifah yang demikian banyak. Layaknya pekerjaan, pos-pos itu membutuhkan orang yang tepat. Orang yang tahu apa yang harus dilakukan di pos itu, dan sepenuh hati melakukannya. Orang ini adalah ahlinya. The right man on the right place. Jika pos-pos tidak dijaga ahlinya, “Jika urusan tidak diserahkan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.”, demikian pesan Rasulullah.

Lihat, pekerjaan memilih orang yang tepat menjadi salah satu pekerjaan utusan Allah. Karena tanpanya, misi mulia menebar rahmat ke seluruh penjuru bumi semakin jauh panggang dari api. Dan kelak, potensi ini harus dipertanggungjawabkan. Kadar dosa kita akan dihitung dari seberapa dekat kita mampu mengaktualisasikan potensi diri dengan potensi yang sebenarnya Allah Berikan untuk kita sebagai penjaga ‘pos khalifah’ tadi.

Masalah besarnya adalah potensi ini sesuatu yang abstrak di dalam diri kita. Cara meyakininya serupa dengan cara meyakini adanya Allah, yakni lihatlah wujud ciptaannya. Maka portofolio pribadi adalah sesuatu yang sebaiknya kita simpan baik-baik untuk melacak jejak potensi-potensi itu. Cara lainnya, ikutilah tes yang mampu membaca potensi-potensi tadi. Sejauh ini, baru satu tes ‘ajaib’ yang saya coba. Tak ada satu soal pun. Semuanya cukup dibaca dari SIDIK JARI. Tenang, ini cukup ilmiah, dan punya kredibilitas.

Penasaran?

Catatan:

Berikut BUKU WAJIB untuk pengenalan kecerdasan dan bakat diri. Wajib dimiliki individu atau keluarga. Guru, dosen, sekolah, mahasiswa. Penting untuk setiap orang. Bukan main. Buku yang membesarkan hati. Buku untuk menghilangkan kebodohan dan rasa minder.

5 Langkah Melahirkan Mahakarya

5 Langkah Melahirkan Mahakarya
Penulis: Muhammad Musrofi
Penerbit: hikmah
Buku yang SANGAT INSPIRATIF! Menceritakan betapa berharganya bakat kita, lalu menunjukkan cara ‘mengeluarkannya’ dalam 5 langkah. Dilengkapi kisah dan contoh nyata bertabur ayat-ayat suci AlQur’an dan Hadits Rasul. Ini buku praktek, jadi segera terapkan 5 langkah itu!

Youre Smarter Than You Think

Kamu itu Lebih Cerdas daripada yang Kamu Duga
Penulis: Thomas Armstrong, Ph.D
Penerbit: Interaksara
Betapa mudahnya untuk menjadi CERDAS! Tidak hanya satu, tapi delapan kali lebih cerdas. Kecerdasan bahasa, logika, musikal, interpersonal, intrapersonal, naturalis, jasmani, dan visual. Identifikasi kecerdasan diri Anda! Lengkap, lengkap sekali! Tidak lupa berbagai profesi yang cocok dengan kecerdasan, kombinasi berbagai kecerdasan itu, saran pengembangan, dan referensi bermutu. Dilengkapi fakta menarik dan ilustrasi lucu, Anda masih tak mau membelinya?
Percayalah, dijamin meningkatkan percaya diri Anda!

6 Responses to “The Right Man on The Right Place”


  1. July 16, 2008 at 12:21 am

    Wew, rangking 1 terus nih?😀

  2. 2 Yudha P Sunandar
    July 16, 2008 at 6:02 pm

    dalem banget tulisannya. ampe2 bingung mau komen apa😀

  3. July 18, 2008 at 3:25 pm

    Tulisannya bagus…
    dan kalimat terakhirnya lucu, promosi yak?😀

  4. July 19, 2008 at 12:16 am

    @arifromdhoni: Bukan, maksudnya buat kita2, mengejar rangking 1 itu begitu prestisius. Bukan saya yang rangking 1 terus :p

    @Yudha: gak wajib komen kok Yudh, dinikmatin aja lah hehehe

    @Rachma: Alhamdulillah, arigato. Promosi yang baik2 boleh dong hehe. Dan kayanya penting banget untuk dicoba setiap orang🙂

  5. July 21, 2008 at 8:14 am

    nuhun referensi bukunya, mau beli..🙂
    ada lagi ref buku yg “wajib” lg?🙂

  6. July 24, 2008 at 7:53 pm

    @ taufikr: sami2 kang. Yes! Promosi berhasil hehe.. Kalo kata penerbit buku, semua bukunya wajib dibeli :-p. Nanti diliat-liat lagi kang, mana yang ‘wajib’.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,170 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: