16
Jan
09

Malu datang ke acara walimah

Seorang tetangga kantor mengadakan acara walimah untuk menikahkan anak perempuannya pada hari Minggu. Hari Senin saya bertanya pada petugas jaga kantor, sebut saja Pak Ari, tentang acara walimah yang diadakan pada hari Minggu. Sekedar ingin tahu.

“Rame gak Pak, acaranya?”
“Ya, di gedung. Rame kayanya mah”
“Bapak dateng?”
“Engga, malu”
“…”
“Tapi diundang kan?”
“Diundang…”

Saya kehabisan kata. Saya pikir percakapan tentang pernikahan dan acaranya seharusnya jadi percakapan yang menyenangkan. Setidaknya acara makan gratis dan jalan-jalan keluarga. Tapi yang ini beda, dan baru saya sadari.

Bagi Pak Ari, acara walimah di gedung membuatnya urung datang. Bisa jadi karena beliau malu untuk datang ke gedung yang mewah dan dihadiri oleh orang-orang yang kebanyakan punya status ekonomi menengah ke atas. Hal itu membuatnya malu, entah karena mungkin tidak punya pakaian resmi yang pantas untuk acara se-level itu atau tak ada hadiah yang bisa diberikan? Atau karena tak ada seorang pun yang dikenalnya di sana? Sehingga tak bisa bersantai makan siang sambil mengobrol dengan orang-orang?

Entah apa alasannya, yang pasti alasan “karena malu” itu agak menohok. Bukankah walimah merupakan acara yang penuh berkah, saat beribu doa mengiringi kedua mempelai memasuki fase kehidupan yang baru? Saat Rasul kita memerintahkan untuk mengundang anak-anak yatim untuk ikut berbahagia bersama? (Dengan mengundang anak yatim, tentu yang empunya acara harus paham menyusun acara yang sesuai dengan atmosfer undangan). Tapi yang sering terjadi justru acara walimah merupakan saat yang tepat untuk menunjukkan status ekonomi pihak penyelenggara. Diselenggarakan di gedung yang megah. Makanan yang banyak. Pakaian dan dekorasi yang wah. Undangan dan tamu dari kelas VIP. Kalau perlu saat pengantin pergi ke lokasi dari rumah hendaknya dikawal vooridjer.

Ada berapa banyak kiranya yang berpikiran sama dengan Pak Ari saat diundang ke acara walimah? Apa seharusnya acara walimah dibuat sederhana saja? Bagaimana kalau tamunya banyak? Bagaimana kalau bos sang ayah yang milyarder itu diundang? Tak mungkin di gedung sederhana dengan pakaian yang tidak wah. Ah, daripada pusing mengakomodasi semua kalangan, sudah saja disesuaikan dengan status ekonomi keluarga penyelenggara. Mohon maaf kalau ada yang malu datang, kami sudah berusaha membuat acara yang tidak mewah. Kami coba membuatnya sehangat mungkin sehingga para undangan nyaman.

Eh, tapi tunggu dulu. Bagaimana kalau kedua mempelai tidak datang dari keluarga dengan status ekonomi yang sama? Ow, bukannya itu salah satu nilai plus jika setelah menikah ada keluarga yang bisa membaik status ekonominya? Lagipula, mereka kan kini satu keluarga besar, mengapa dipermasalahkan? Eh, kok kayanya alinea ini gak nyambung dengan judul dan alinea-alinea sebelumnya ya? -_-‘


0 Responses to “Malu datang ke acara walimah”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,170 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: