16
Jan
09

Rumah Kosong dan Film Horor

Siang itu, seperti beberapa hari yang saya alami di pertengahan bulan Januari 2009, cuaca mendung. Mirip setting suasana film horor. Imajinasi yang melayang-layang bisa memunculkan sosok putih yang berkelebat di balik pepohonan rindang atau tiba-tiba muncul di bayangan cermin. Inilah akibat menawarkan diri untuk ditakut-takuti oleh sutradara film hantu. Sayang, episode ini masih berlanjut. Saya harus mendatangi sebuah rumah yang tidak ditempati untuk memeriksa kelayakannya sebagai lokasi syuting. Oh bukan, saya tidak tertarik untuk menyutradarai film horor, ini untuk keperluan lain.

Rumah ini ditempati sekitar 3-4 bulan yang lalu. Belum ada yang menyewa atau tertarik membeli. Rumah ini terletak di sebuah komplek yang terletak tak jauh dari keramaian. Jadi, lupakan soal pohon rindang tadi. Singkat cerita, saya pun membuka kunci pintu depan, sendirian. Atmosfer mendung dan angin yang bertiup membuat saya seolah aktor film horor yang akan mengalami sesuatu yang aneh di dalam rumah. Segera saya beristighfar, bagaimana mungkin manusia makhluk mulia tunduk takut pada makhluk jin? Tak ada ceritanya di Al-Qur’an. No way! Walaupun saya berharap tak usah lah bertemu dengan wujud jin itu kalau tak kuat iman. Tak ada urusan. Kembali ke tujuan semula. Bismillah.

Sampai di ruang tamu, yang muncul justru perasaan melankolis ini:sedih. Sedih karena rumah ini tidak berdaya guna memayungi orang-orang dari kelelahan, panas matahari, dan dinginnya hujan. Sedih karena teringat orang yang pernah mendiaminya yang telah meninggal dunia, meninggalkan kenangan-kenangan berupa lukisan dan pot bunga kesayangannya. Sedih karena teringat orang-orang yang pernah singgah dan pergi di rumah ini. Sedih karena teringat saudara-saudara di Gaza, Palestina yang kehilangan rumah-rumah mereka. Sedih karena suatu hari nanti saat nyawa tak lagi dikandung badan dan kehidupan berakhir, yang tersisa adalah hampa. Ruang-ruang kosong yang kehilangan kehangatan manusia. Kehilangan canda tawa dan lantunan ayat suci yang menyentuh hati. Rumah tak berpenghuni adalah dingin, dan cenderung berkonotasi horor itu benar adanya.

Setelah keperluan pemeriksaan selesai, saya pun keluar dan mengunci pintu kembali. Perasaan tak enak masih ada. Sebenarnya saat awal masuk, seekor kucing menawarkan diri untuk menemani saya masuk ke dalam rumah. Tapi segera saya usir. Okelah, lebih baik bersama kucing daripada sendirian, tapi lebih baik sendirian daripada sulit menangkap si kucing saat hendak keluar nanti. Apalagi kalau binatang itu tiba-tiba menunjukkan reaksi aneh, yang artinya bisa jadi dia melihat keberadaan jin. Seperti saya katakan sebelumnya, saya tidak tertarik ditemani jin. Kalau begini, repot jadinya. Bayangkan sulitnya situasi saat tak bisa pergi karena harus menangkap kucing di dalam rumah yang ditemani jin. Memang tidak sendirian, tapi yang menemani tidak membuat nyaman.

Tapi siapa bilang kita sendirian? Bukankah ada malaikat yang selalu bersama kita? Dan Allah yang Maha Melihat? Inilah pelajaran bagi mereka yang masih bercita-cita menjadi sutradara film horor. Cobalah cari lagi bakat terpendam yang lain, yang mengajarkan orang memandang hidup lebih dari sekedar kumpulan perasaan takut. Dan bagi penggemar film horor, apa tak ada cara lain melatih adrenalin tanpa membahayakan iman? -lho mas, kok jadi emosi?


6 Responses to “Rumah Kosong dan Film Horor”


  1. January 19, 2009 at 6:00 am

    Another good posting from you🙂 Keep it up, Gung!

  2. January 21, 2009 at 1:19 pm

    @ Arya: alhamdulillah, thank you Ya. I will keep it up!

  3. 3 faizah
    February 3, 2009 at 4:44 am

    😀 hehehe khas agung banget……

  4. February 3, 2009 at 5:43 pm

    @ faizah: apanya Fai?😕

  5. April 3, 2010 at 6:26 pm

    Berarti rasa takut itu masalah fikiran dan hati ya? kalaupun memang begitu, manusiawi juga kalo kita tetap takut jika melihat penampakan ya🙂

    • April 5, 2010 at 10:55 am

      iya, manusiawi lah, lha melihat sesuatu yang aneh. Cuma ya itu, asal muasal penampakan2 kan seringnya dimulai dari hati n pikiran yang udah mikir macem2 dulu, tul ga?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,170 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: