13
Feb
09

Behind The Scene: Membuat Film Pendek

“It’s wrapped!” (Terjemahan bebas: “Bungkus!”), seru sutradara kami sesaat setelah pengambilan adegan terakhir untuk ketiga kalinya. Entah bagaimana sejarahnya, kata-kata ini adalah indikasi bahwa tahap produksi (syuting) selesai dilakukan. Pertama kali saya dengar istilah ini saat menonton acara “MTV Screen” yang menceritakan proses di balik pembuatan sebuah film. Hari itu ternyata kami mendengarnya langsung karena memang kami sedang membuat film! Film pendek pertama kami! Film yang membutuhkan waktu syuting seharian untuk menghasilkan film dengan durasi mendekati 5 menit. Belum ditambah waktu menggodok ide, menyusun skenario, membuat naskah, menyiapkan properti, mengajukan sponsor, dan lain sebagainya yang memakan waktu satu bulan. Semua itu hanya untuk durasi 5 menit?? Bukan main!

Berhubung kami bukan insan film dan tidak kuliah di jurusan film,  maka kami wajib mencari referensi yang singkat dan padat tentang teknik pembuatan film pendek (bisa juga disebut film indie). Minimal kami harus tahu tahap-tahap apa yang harus kami jalani dan mempersiapkan segala sesuatunya dari A sampai Z. Syukurlah kami menemukan buku bagus ini: “Bikin Film Indie itu Mudah!” (Penerbit Andi). Sederhana bukunya, lengkap dan padat isinya. Rasanya buku ini bacaan wajib untuk pembuat film amatir seperti kami ini. Tak terbayang betapa putus asanya kami jika dari awal kami tidak memperhitungkan lamanya waktu persiapan untuk menghasilkan film berdurasi 5 menit itu.

Benar saja, mengetahui tahap-tahap pembuatan film memberi kami perspektif yang berbeda dalam menonton film karena kami berusaha menempatkan diri sebagai orang-orang yang berada di balik layar proses produksi sebuah film. Ada rasa salut pada orang-orang yang telah memproduksi film-film box office semacam Lord of The Ring yang katanya membutuhkan waktu 3 tahun untuk merancang segala macam propertinya, dan menyiapkan 3 stel pakaian untuk setiap tentara uruk-hai yang buannyaak itu, belum lagi karakter-karakter utamanya…

Bagian paling penting dan paling lama dari proses pembuatan film adalah tahap pra-produksi. Intinya adalah mendapatkan ide cerita, menyusun skenario, merancang adegan (lihat “Film: Komik, Imajinasi, dan Pesan Rahasia”) merancang properti, menyusun jadwal, mendapatkan aktor, dan mengkalkulasi anggaran. Setelah pra produksi siap, berikutnya masuk ke tahap produksi, yakni syuting. Tahap ini bisa cepat jika sebelumnya telah jelas adegan-adegan apa yang harus diambil berikut segala macam detilnya. Jadi, jangan terburu-buru ingin syuting sebelum jalan cerita dan detil adegan selesai dibuat. Hal ini sama saja menghabiskan waktu dan membuat frustasi karena tak jelas gambar seperti apa yang harus diambil. Bagian terakhir adalah pasca produksi. Bagian ini meliputi proses penyuntingan adegan-adegan yang telah diambil sampai terbentuk film yang diinginkan. Tak lupa ditambahkan berbagai efek video dan suara, serta tulisan dan credit (daftar kru film). Jika film yang dibuat untuk tujuan komersial, maka setelahnya ada proses pemasaran lewat konferensi pers, nonton bareng, atau jumpa fans. Oya, jangan lupa beres-beres lokasi syuting dan mengumpulkan uang dan bon-bon belanja untuk dicocokkan pengeluaran dan pemasukan oleh produser, siapa tahu nombok-nya kebanyakan hihihi…

Seperti yang ditulis pada buku “Membuat Film Indie” itu, benar sekali bahwa penonton tidak peduli proses pembuatannya, yang penting hasinya harus sempurna. Penonton sangat mudah mengetahui kekurangan dalam pengambilan gambar, akting yang kaku, suara yang jelek, sampai cerita yang membingungkan. Bukannya diapresiasi, film yang sudah capek-capek dibuat bisa saja enggan ditonton sampai ditertawakan karena kelihatan bohongnya (kecuali film komedi kali yak…). Maka dibutuhkan kerjasama yang apik antara sutradara yang mampu bercerita secara visual dengan detil yang baik, kameramen yang jeli mengambil gambar, produser yang siap menyediakan segala macam kebutuhan sutradara, editor yang pandai mengolah video dan suara, serta aktor yang menjiwai perannya dengan utuh. Tentu saja, itu semua didukung kru yang siap bekerja demi hasil yang sempurna. Nah, kalau filmnya sukses, jangan lupa makan-makan ya! (halah). Selamat bercerita lewat film.

Suplemen: Film: Komik, Imajinasi, dan Pesan Rahasia

Film merupakan salah satu teknik bercerita secara visual. Sebenarnya teknik bercerita film ini mirip dengan komik (panjang lebar mengenai komik dapat dibaca di buku “Understanding Comics“). Jadi bagi kawan yang menggemari komik, maka rasanya tidak berlebihan kalau kelak ingin membuat film pendek sendiri dan menjadi sutradara di dalamnya. Beberapa persamaan dan perbedaan film dan komik antara lain:

  • Komik tersusun atas kumpulan potongan-potongan gambar yang saling terkait dengan alur tertentu. Bisa alur maju, mundur, atau kombinasi keduanya. Begitu juga dengan film yang tersusun dari kumpulan adegan yang saling terkait dengan alur tertentu.
  • Keduanya bertutur secara visual atau lewat gambar, sehingga hal ini menjadi pertimbangan utama saat menyusun alur cerita. Contohnya karakter jahat digambarkan dengan warna-warna gelap, diperlihatkan dari sudut pandang yang mengancam ditambah suara latar yang menegangkan. Sebaliknya karakter baik digambarkan dengan warna-warna terang, raut muka yang bersahabat ditambah suara latar yang heroik. Semuanya untuk membangun kesan karakter dan jalan cerita sesuai yang diinginkan sutradara / pembuat komik.
  • Film lebih kaya secara visual lewat kumpulan gambar yang bergerak dan secara audio lewat suara. Komik hanya memiliki kumpulan gambar diam tanpa suara. Komik yang nampak lebih “miskin” bukan berarti kalah dengan film. Pembaca komik diajak lebih berimajinasi untuk menyatukan kumpulan gambar diam itu dan memproduksi suara masing-masing sesuai tulisan yang mewakili suara, semacam “JREENG!”, “DUARR!”, “JLEB!”, dan sebagainya.

Film yang bagus adalah film yang berhasil menggiring pikiran dan perasaan penontonnya untuk berpikir sesuai keinginan sutradara. Jadi jangan protes kalau pikiran dan perasaan kita terasa ‘dipermainkan’ oleh sutradara. Itu memang tugasnya. Maka jangan kesal kalau mendadak muncul fantasi seram di tempat sepi setelah menonton film psikopat atau horor.

Film yang bagus juga mampu membangun sebuah kenyataan baru yang sebelumnya tidak ada, seperti bertamasya ke masa depan, melongok masa lalu, sampai mengubah sejarah. Lihat saja yang melontarkan pikiran penontonnya jauh ke masa depan lewat perjalanan galaksi ala Star Trek, menyaksikan pertarungan antar ras makhluk hidup memperebutkan cincin sakti ala Lord of The Ring, dan mengguncangkan kesadaran saat datangnya bencana global ala Deep Impact atau The Day After Tomorrow. Ada sebuah dunia semu yang bisa diatur seenaknya dalam film, dan tak perlu masuk akal. Lihat saja aksi agen 007 yang tetap ganteng dan tak terluka setelah diberondong sekian puluh tentara yang begitu tampak bodoh tak bisa melumpuhkan satu orang. Sebagaimana muskilnya tokoh jahat yang selalu gagal membunuh tokoh utamanya di detik-detik terakhir.

Ajaibnya, sedemikian rupa penonton dibuat percaya. Oleh karena itu film menjadi alat propaganda yang ampuh untuk membangun cara berpikir dan merasa penontonnya. Maka tak heran sensor dibutuhkan untuk menyaring pikiran-pikiran yang secara halus / kasar diselipkan pada ide-ide cerita film (tapi gimana caranya? sensor visual mah gampang, yang non visual itu sulit bahkan hampir tak mungkin). Contohnya, sudah rahasia umum film-film barat mengirimkan pesan-pesan materialisme dan permisivisme dalam film-filmnya (lihat Eramuslim Digest: HollyWood Undercover). Anyway, membuat film merupakan peluang bagus bagi kawan yang gemar bercerita dan ingin menyampaikan pesan-pesan ke pikiran orang lain (tanpa sepenuhnya disadari) lewat kemampuan mengolah cerita, gambar dan suara.


13 Responses to “Behind The Scene: Membuat Film Pendek”


  1. April 26, 2009 at 9:59 pm

    Salam kenal, kak..

    Wduw.. moviemaker nih? Hehe. Btw sy informatika jg lho (angkatan 2006). Sy jg suka bikin film (masih amatir tp pgn dibilang independen biar keren🙂. Main2 ke blog saya ya.. Sama ke http://seluloid.wordpress.com juga. Thx.

  2. May 1, 2009 at 3:59 pm

    @ bofan: Salam kenal juga🙂 Bolehlah, saya ikutan jadi Indie biar kedengaran keren. Ok nanti saya mampir ya. Thx.

  3. 3 Wahyu
    May 17, 2010 at 11:32 am

    Okk mksh atas cara2nya mmbuat film indie..

  4. August 1, 2010 at 10:10 am

    thanks for info… salam kenal..

  5. October 12, 2010 at 9:25 pm

    makasih ya kak salam kenal,, mungkin kita kenalan dulu nama saya angga umur 14 tahun,, mungkin kk berpikir terlalu muda untuk menjadi seorang sutradara ,, tapi nyatanya tidak lho kak ..
    waalaupun saya cuma punya sebuah camera md 10000 dan jg doly ,.. tapi GPP lah yg penting hasilnya ,, buktinya aja pada suatu perkawinan waktu itu saya dipanggil bersama kameramen lain meliput aca pernikahan ,, tapi apa dikata ternyata punya saya yg paling bagus ,, nah yang saya mau nanya apakah cara editing yg bikin video jd burem atau gimana ? soalnya saya pake adobe premiere CS5 .. dan juga apakah fire wire ngaruh ke gambar ?

  6. July 15, 2013 at 1:10 pm

    We are a group of volunteers and starting a new scheme in our community.
    Your website offered us with valuable information
    to work on. You’ve done an impressive job and our entire community will be thankful to you.

  7. July 19, 2013 at 12:23 pm

    You can definitely see your expertise in the work you write.
    The arena hopes for more passionate writers such as you who aren’t afraid to say how they believe. At all times go after your heart.

  8. July 19, 2013 at 2:36 pm

    There is certainly a lot to learn about this issue. I love all the points you made.

  9. July 20, 2013 at 9:47 pm

    I’ll immediately grasp your rss feed as I can’t to find your email subscription hyperlink or newsletter service.
    Do you have any? Please allow me recognize
    in order that I may just subscribe. Thanks.

  10. 13 Lucky frank
    May 28, 2016 at 10:26 am

    Salam kenal


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,170 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: