18
Feb
09

Makan Murah, Variatif, dan Enak: Warung Meja Makan

Mencari makan siang saat istirahat susah-susah-gampang, bukan? Susah kalau pilihannya terbatas, harganya mahal, atau sedang akhir bulan (ups…). Mudah kalau sudah punya langganan yang cocok di lidah dan di kantong, atau bisa di-hutang-in (ups…). Tempat makan berikut mungkin termasuk kategori kedua. Tak ada namanya, tapi dari setting ruangannya mungkin cocok kalau diberi nama mengikuti model “Rumah Nenek”, “Nyonya Rumah”, atau “Dapur Teteh”. Resepnya rumahan, dan tempatnya memang di rumah! Lihat, yuk!

dsc00424Diawali dari lewat di depannya menuju masjid saat jam istirahat, seterusnya justru jadi langganan. Bagi orang yang sekedar lewat, tempat makan ini agak tak meyakinkan. Tak ada spanduk tulisan ala “Warung Makan” yang dipajang, apalagi menu yang disediakan. Hanya terlihat lorong yang menuju ke dalam rumah. Setengah bagian lorong digunakan untuk meja panjang dengan kursi-kursi plastik untuk makan. Tak nampak ibu-ibu penjaga warung yang biasa melayani pembeli di depan rumah layaknya rumah merangkap tempat makan kecil. Yang lebih aneh lagi, begitu orang-orang yang nampaknya sudah menjadi pelanggan tetapnya melewati lorong itu, mereka baru keluar setelah setengah sampai satu jam berikutnya. Jarang saya amati mereka duduk di meja yang berada di lorong tadi. Lalu di mana mereka menyantap makanannya?

Saya penasaran, dan sempat berpikir bahwa ini hanyalah usaha tempat makan yang khusus untuk langganan tertentu saja, bukan untuk orang luar. Akan tetapi, berhubung sejauh ini belum ada tempat makan sekitar kantor yang memuaskan sesuai dengan kriteria di paragraf pertama tadi, maka tempat makan ini harus dicoba. Masak di restoran Padang terus yang terkenal mahal itu, atau soto lagi-soto lagi, dan seterusnya. Dengan diliputi rasa penasaran, suatu hari saya memberanikan diri melewati lorong bermeja panjang itu dengan risiko terburuk diusir karena ternyata saya tak termasuk daftar pelanggan tetapnya. Tentu saja, saat memasukinya saya merasa bodoh. Repot sekali makan siang ini, dan repot sekali cara kerja tempat makan ini melayani pembelinya. Mereka harus penasaran terlebih dahulu.

dsc00419Di ujung lorong, rahasia itu terkuak. Saya sedang berada di ruang makan rumah itu. Saya berdiri di depan magic jar berisi nasi hangat, di sebelah lemari yang berisi piring-piring makan. Saya berdiri tak jauh dari meja makan berkapasitas 6 orang yang berada di tengah ruangan. Meja itu penuh orang, dan semuanya tak saya kenal. Saya mencoba mengacuhkan pandangan orang-orang yang sedang makan itu, bersikap sesantai mungkin, seolah-olah ini bukan kali pertama saya datang. Segera saya ambil piring dan mengisinya dengan nasi. Sampai sini saya masih bingung. Pelayannya mana?? Saya pesan lauk dan minumannya bagaimana?? Mahal gak harganya??
dsc00420
Belum selesai rasa penasaran saya, seorang ibu yang saya yakin adalah pemilik rumah ini segera menawarkan lauk-pauk menu siang itu.

“Ada ini, ada itu (hehe saya sudah lupa menu hari itu…), sok ambil aja. Nasi tambah gratis kok. Minumnya ada jus jambu, jeruk, tomat, alpukat,….anggap aja rumah sendiri ya…”

Wah, ramah sekali ibu ini untuk orang baru seperti saya. Fiuh…dugaan bahwa ini tempat makan untuk pelanggan tertentu saja sudah gugur. Saya diterima. Walau masih agak janggal harus makan di dalam rumah orang. Sempat saya duga orang-orang di meja makan itu adalah keluarga ibu tadi, bukan pelanggan. Ya, bayangkan saja siapa yang biasanya makan di meja makan rumah kita. Keluarga atau teman dekat, bukan? Lho, ini mau makan atau mau mikir? Susah betul mau makan saja! Ya sudah, karena meja makan penuh, saya dipersilakan makan di ruang tamunya! dsc00418Nah loh, sekarang saya makan di ruang tamu orang! Makin aneh saja. Ah, tapi karena lapar, nikmati saja makanannya🙂

Enak juga masakannya. Jusnya juga enak. Eh, ternyata harganya murah. Hore! Eksperimen penasaran saya tidak sia-sia. Saya punya tempat makan yang enak, murah, dan personal. Ya, personal karena ibu itu mengenal semua pelanggannya. Mulai dari nama, pekerjaan, rumah, tempat kuliah, sampai proyek yang sedang dikerjakan. Sempat saya heran bagaimana ibu itu mengingat semuanya. Ia biasa menyiapkan masakan dan minuman pesanan sambil mengajak ngobrol tamu-tamunya satu persatu. Di sini saya menemukan bahwa memang perempuan mampu mengerjakan beberapa pekerjaan secara paralel tanpa kehilangan fokus. Masalah kepuasan pelanggan tak perlu diragukan. Pesan saja menu apa yang diinginkan. Besok bisa tersedia. Setiap hari menu berganti-ganti jadi tidak bosan. Mau masak mi instan dan telor sendiri? bisa juga di sana (tapi ngapain??). Mau dibungkus untuk dibawa pulang jadi lauk di rumah? Bisa juga. Mau ngutang karena ga bawa duit? Bisa juga, tapi malu dong mas! Modal dong! Eh, tapi bisa saja kalau kebetulan si ibu sedang tidak ada kembalian. Oya, hanya buka siang hari saja.

Orang menyebutnya Warung Bu Muji karena demikian panggilan ibu tadi. Ramah orangnya, enak masakannya. Walau teknik pemasaran untuk menjaring banyak pelanggannya tidak dapat nilai 100, tapi nampaknya merawat pelanggan tetap, jauh lebih penting. Cerita yang baik dari mulut ke telinga sampai rasa masakan yang enak dan murah akan membuat pelanggan betah, bukan? Apalagi mampu membangun kedekatan personal antara pembeli dan penjual, langsung dari dalam rumah. Saya tak habis pikir untuk membangun tempat makan tepat di salah satu bagian paling personal dari sebuah rumah: meja makan! Besar dugaan saya Bu Muji tidak terlalu mencari untung besar dari usahanya. Pastilah beliau hobi memasak dan gemar membantu orang lain, terutama karena merasa pelanggan-pelanggannya adalah seperti anak-anaknya juga yang kini sedang bekerja. Ya, bekerja dan membutuhkan makan siang yang enak dan murah. Apa ya, nama yang cocok, “Warung Meja Makan” ?🙂


6 Responses to “Makan Murah, Variatif, dan Enak: Warung Meja Makan”


  1. February 19, 2009 at 1:16 pm

    ini tempatnya dimana Mas?

    -yangpernahmakansianggratisdirumah:p-

  2. February 19, 2009 at 1:29 pm

    @ trian: di antapani, bandung, dekat radio Antassalam. Yah mas, jangan bikin ngiri gitu dong😛 hehehe…

  3. February 24, 2009 at 10:25 pm

    ulasannya menarik😀 tp kok jauh ya.. hehe..

  4. February 25, 2009 at 4:56 pm

    @ mas Andik: thx, ya kalo lewat boleh lah mampir🙂

  5. February 27, 2009 at 4:15 pm

    hehe.. apa yang dimasak dari hati pasti enak ya ;p

  6. February 28, 2009 at 1:10 pm

    @ lesly: ya, apalagi yang di hati dan di kantong nyambung. Wah enak banget🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,170 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: