27
May
09

WYSIWYG: Windows Rasa Leopard

WYSIWYG.‭ ‬What You See Is What You Get.‭ ‬Istilah ini lazim digunakan untuk menggambarkan bahwa tampilan yang diberikan sebuah software di layar komputer kepada penggunanya adalah tampilan yang sama persis jika tampilan itu dicetak ke‭ ‬printer atau media keluaran lainnya.‭ ‬Tapi bagi saya untuk kasus berikut,‭ ‬WYSIWYG punya arti lain.‭ ‬Setidaknya untuk tampilan Windows rasa Macintosh‭ (‬Mac OS‭)‬.

Mengubah tampilan Windows jelas bukan hal baru.‭ ‬Perubahan tampilan‭ ‬Windows terasa penting bagi orang-orang yang merasa tampilan standar Windows kurang‭ ‘‬wow‭’ ‬kalau tak mau disebut standar,‭ ‬selain untuk menegaskan karakter personal penggunanya.‭ ‬Bagi yang setiap hari harus bekerja sekian jam di depan komputer,‭ ‘‬rasa‭’ ‬sistem operasi dalam bentuk warna,‭ ‬font,‭ ‬icons,‭ ‬wallpaper sedikit banyak mempengaruhi‭ ‬mood‭ ‬kerja.‭ ‬Bagi yang tak mau repot,‭ ‬paling cukup mengubah gambar‭ ‬wallpaper‭ ‬dengan gambar foto keluarga‭ (‬suami,‭ ‬istri,‭ ‬dan anak-anak‭) ‬untuk penyemangat kerja sekaligus penjaga dari godaan kerja-kalau ada‭ (‬halah‭)‬,‭ ‬atau gambar diri bersama rekan-rekan kerja dalam suatu pelatihan yang berkesan.‭ ‬Atau gambar-lain-apa-saja yang sesuai dengan kesukaan masing-masing.‭ ‬Bagi yang‭ ‘‬agak‭’ ‬niat,‭ ‬biasanya sekalian‭ ‬install‭ ‬program tertentu yang mampu menyulap tampilan Windows sesuai‭ ‬theme‭ ‬tertentu sehingga semua pernak-pernik tampilan berubah sesuai‭ ‬theme‭ ‬yang dipilih.‭

Theme-theme‭ ‬ (lihat,‭ ‬inilah kekacauan akibat mencampurbaurkan bahasa Indonesia dan Inggris…‭) ‬ini banyak sekali tersedia di internet untuk diunduh,‭ ‬baik yang‭ ‬freeware‭ ‬maupun yang berbayar.‭ ‬Kalau boleh diklasifikasikan,‭ ‬ada dua jenis‭ ‬theme,‭ ‬yakni‭ ‬theme‭ ‬yang mencitrakan tampilan sistem operasi lain dan yang tidak.‭ ‬Maksudnya,‭ ‬theme‭ ‬yang berada pada kategori pertama akan menyulap tampilan suatu sistem operasi menjadi seperti layaknya tampilan sistem operasi lain.‭ ‬Yang kedua akan mengubah tampilan,‭ ‬namun hasilnya tak mengubah citra tampilan sistem operasi tertentu dengan berbagai ciri khasnya.‭ ‬Jika terasa klasifikasi ini terlalu‭ ‬maksa‭ ‬agar pas dengan tema tulisan ini,‭ ‬maka itulah yang diinginkan.‭ ‬Kembali ke tema pembahasan.‭ ‬Lalu apa dampaknya mengubah‭ ‘‬rasa‭’ ‬Windows menjadi‭ ‘‬rasa‭’ ‬Mac OS atau Linux‭?

Suara-suara‭ ‬miring tentang Windows sudah jadi rahasia umum.‭ ‬Sebut saja tentang Windows yang banyak virusnya,‭ ‬Windows yang tampilannya begitu-begitu saja,‭ ‬Windows yang memonopoli sistem operasi,‭ ‬Windows yang mahal‭ – ‬sehingga muncul Windows yang bajakan,‭ ‬dan sebagainya.‭ ‬Sementara di sisi lain,‭ ‬suara-suara dukungan muncul di sistem operasi Mac OS yang grafisnya memukau,‭ ‬Mac OS yang elegan,‭ ‬Linux yang bebas virus,‭ ‬Linux yang stabil,‭ ‬Linux yang‭ ‬open source,‭ ‬Linux yang cepat,‭ ‬dan masih banyak lagi.‭ ‬Walaupun Windows tetap mendominasi,‭ ‬tak bisa dipungkiri bahwa citra negatifnya tetap terbayang-bayang,‭ ‬terutama bagi pengguna yang dekat dengan bidang komputer.‭ ‬Lalu bagaimana jika masih beroperasi di lingkungan Windows sementara ingin bekerja dengan citra-citra Mac OS atau Linux‭? ‬Ah,‭ ‬sudah ketebak.‭ ‬Ya jelas pakai saja‭ ‬theme-nya‭ ‬Mac OS atau Linux.‭

Itulah yang saya perbuat terhadap laptop bersistem operasi Windows yang digunakan untuk menulis tulisan ini.‭ ‬Windows XP rasa Mac OS.‭ ‬Terima kasih pada pengembang Brico Pack Leopard XP yang mampu mentransformasi laptop ini menjadi seperti Mac Book dengan sistem operasi Mac OS X Leopard di dalamnya‭ (‬Oya,‭ ‬jika menginstallnya perhatikan untuk tidak menginstall semua komponennya karena ada beberapa yang terindikasi ditumpangi virus)‬.‭ ‬Lihat saja tampilan‭ ‬icons,‭ ‬fonts,‭ ‬dan‭ ‬wallpapernya.‭ ‬Tengok pula taskbar Mac OS yang‭ ‬iconnya membesar ala‭ ‬fish-eye‭ ‬bila didekati itu.‭ ‬Tapi tentu tak ada fitur‭time machine‭ ‬yang hanya Leopard yang punya.‭

Laptop_MacDan lihatlah,‭ ‬setelah perubahan itu,‭ ‬tak berapa lama entah mengapa saya merasa Windows ini jadi terasa begitu cepat dan elegan.‭ ‬Semangat kerja meluap-luap‭ (‬halah‭) ‬seperti baru pertama kali laptop ini dioperasikan.‭ ‬Rasanya apapun yang berjalan di atasnya,‭ ‬bagus hasilnya.‭ ‬Tak lupa terasa tak ada virus yang mampu menembusnya.‭ ‬Bukan main pengaruh citra tampilan Mac OS ini.‭ ‬Atau sebenarnya,‭ ‬jangan-jangan obsesi menggunakan Leopard yang belum kesampaian telah menipu kesadaran saya.‭ ‬Tapi menarik,‭ ‬betapa citra Mac OS yang begitu kuat (setidaknya sebelum ditinggal Steve Jobs) telah mampu menelan Windows bulat-bulat.‭

Ah,‭ ‬bukan maksud saya melambungkan satu sistem operasi dan menjatuhkan yang lain.‭ ‬Hanya saja citra yang satu terasa lebih meyakinkan dibanding yang lain.‭ ‬What You See Is What You Get‭ (‬WYSIWYG‭) ‬di sini berarti tampilan Leopard yang saya lihat‭ (‬See‭) ‬membuat saya berpikir bahwa memang Leopard-lah yang saya dapat‭ (‬Get‭)‬.‭ ‬Walaupun tetap saja mengubah‭ ‬theme‭ ‬Windows menjadi Mac OS bukan berarti mengubahnya menjadi Mac OS.‭ ‬Ini penipuan,‭ ‬memang.‭ ‬Tapi setidaknya untuk beberapa waktu ke depan saya menikmati penipuan ini.‭ ‬Sambil menyiapkan waktu yang tepat untuk beralih menggunakan MacOS X Leopard atau keduanya sekaligus.‭ ‬Mengapa tidak‭?

NB:‭ ‬Sekedar tambahan.‭ ‬Ternyata ada satu‭ ‬theme‭ ‬untuk ponsel Sony Ericsson yang setali tiga uang dengan laptop,‭ ‬apalagi kalau bukan‭ ‬theme‭ ‬Mac OS untuk ponsel Sony Ericsson.‭ ‬‬Theme‭ ‬baru membuat ponsel lama terasa baru.‭ ‬Bagi yang merasa bosan dengan ponsel lama tapi belum ingin membeli yang baru,‭ ‬kiranya bisa menerapkan trik ini.‭

sony_os__x___leopard___k550i_theme

WYSIWYG: Windows Rasa Leopard

WYSIWYG. What You See Is What You Get. Istilah ini lazim digunakan untuk menggambarkan bahwa tampilan yang diberikan sebuah software di layar komputer kepada penggunanya adalah tampilan yang sama persis jika tampilan itu dicetak ke printer. Tapi bagi saya untuk kasus berikut, WYSIWYG punya arti lain. Setidaknya untuk tampilan Windows rasa Macintosh (MacOS).

Mengubah tampilan Windows jelas bukan hal baru. Perubahan tampilan Windows terasa penting bagi orang-orang yang merasa tampilan standar Windows kurang ‘wow’ kalau tak mau disebut standar, selain untuk menegaskan karakter personal penggunanya. Bagi yang setiap hari harus bekerja sekian jam di depan komputer, ‘rasa’ sistem operasi dalam bentuk warna, font, icons, wallpaper sedikit banyak mempengaruhi mood kerja. Bagi yang tak mau repot, paling cukup mengubah gambar wallpaper dengan gambar foto keluarga (suami, istri, dan anak-anak) untuk penyemangat kerja sekaligus penjaga dari godaan kerja-kalau ada (halah), atau gambar diri bersama rekan-rekan kerja dalam suatu pelatihan yang berkesan. Atau gambar-lain-apa-saja yang sesuai dengan kesukaan masing-masing. Bagi yang ‘agak’ niat, biasanya sekalian install program tertentu yang mampu menyulap tampilan Windows sesuai theme tertentu sehingga semua pernak-pernik tampilan berubah sesuai theme yang dipilih.

Theme-theme (lihat, inilah kekacauan akibat mencampurbaurkan bahasa Indonesia dan Inggris…) ini banyak sekali tersedia di internet untuk diunduh, baik yang freeware maupun yang berbayar. Kalau boleh diklasifikasikan, ada dua jenis theme, yakni theme yang mencitrakan tampilan sistem operasi lain dan yang tidak. Maksudnya, theme yang berada pada kategori pertama akan menyulap tampilan suatu sistem operasi menjadi seperti layaknya tampilan sistem operasi lain. Yang kedua akan mengubah tampilan, namun hasilnya tak mengubah citra tampilan sistem operasi tertentu dengan berbagai ciri khasnya. Jika terasa klasifikasi ini terlalu maksa agar pas dengan tema tulisan ini, maka itulah yang diinginkan. Kembali ke tema pembahasan. Lalu apa dampaknya mengubah ‘rasa’ Windows menjadi ‘rasa’ MacOS atau Linux?

Suara-suara miring (atau memang betul?) tentang Windows sudah jadi rahasia umum. Sebut saja tentang Windows yang banyak virusnya, Windows yang tampilannya standar (kawan pasti menduga tulisan ini dibuat sebelum Windows Vista dirilis kan?), Windows yang memonopoli sistem operasi, Windows yang mahal – sehingga muncul Windows yang bajakan, dan sebagainya. Sementara di sisi lain, suara-suara dukungan muncul di sistem operasi MacOS yang grafisnya memukau, MacOS yang elegan, Linux yang bebas virus, Linux yang stabil, Linux yang open source, Linux yang cepat, dan masih banyak lagi. Walaupun Windows tetap mendominasi, tak bisa dipungkiri bahwa citra negatifnya tetap terbayang-bayang, terutama bagi pengguna yang dekat dengan bidang komputer. Lalu bagaimana jika masih beroperasi di lingkungan Windows sementara ingin bekerja dengan citra-citra MacOS atau Linux? Ah, sudah ketebak. Ya jelas pakai saja theme-nya MacOS atau Linux.

Itulah yang saya perbuat terhadap laptop bersistem operasi Windows yang digunakan untuk menulis tulisan ini. Windows XP rasa MacOS. Terima kasih pada pengembang Brico Pack Leopard XP yang mampu mentransformasi laptop ini menjadi seperti MacBook dengan sistem operasi MacOS X Leopard di dalamnya (Oya, jika menginstallnya perhatikan untuk tidak menginstall semua komponennya karena ada beberapa yang terindikasi ditumpangi trojan). Lihat saja tampilan icons, fonts, dan wallpapernya. Tengok pula taskbar ala MacOS yang iconnya membesar ala fish-eye bila didekati itu. Tapi tentu tak ada fitur time machine yang hanya Leopard yang punya.

Dan lihatlah, setelah perubahan itu, tak berapa lama entah mengapa saya merasa Windows ini jadi terasa begitu cepat dan elegan. Semangat kerja meluap-luap (halah) seperti baru pertama kali laptop ini dioperasikan. Rasanya apapun yang berjalan di atasnya, bagus hasilnya. Tak lupa terasa tak ada virus yang mampu menembusnya. Bukan main pengaruh citra tampilan MacOS ini. Atau sebenarnya, jangan-jangan obsesi menggunakan Leopard yang belum kesampaian telah menipu kesadaran saya. Tapi menarik, betapa citra MacOS yang begitu kuat telah mampu menelan Windows bulat-bulat. Setidaknya itu yang terjadi pada pikiran saya. Saya tersugesti sepenuhnya. Oya, setidaknya sebelum ditinggal Steve Jobs. Setelahnya kita tunggu saja apa yang terjadi pada citra Apple.

Ah, bukan maksud saya melambungkan satu sistem operasi dan menjatuhkan yang lain. Hanya saja citra yang satu terasa lebih meyakinkan dibanding yang lain. What You See Is What You Get (WYSIWYG) di sini berarti tampilan Leopard yang saya lihat (See) membuat saya berpikir bahwa memang Leopard-lah yang saya dapat (Get). Walaupun tetap saja mengubah theme Windows menjadi MacOS bukan berarti mengubahnya menjadi MacOS. Ini penipuan, memang. Tapi setidaknya untuk beberapa waktu ke depan saya menikmati penipuan ini. Sambil menyiapkan waktu yang tepat untuk beralih menggunakan MacOS X Leopard atau keduanya sekaligus. Mengapa tidak?

NB: Sekedar tambahan. Ternyata ada satu theme untuk ponsel Sony Ericsson yang setali tiga uang dengan laptop, apalagi kalau bukan theme MacOS. iPod bukan, iPhone juga bukan. Bukan main, ponsel bisa menjalankan Leopard. Theme baru membuat ponsel lama terasa baru. Bagi yang merasa bosan dengan ponsel lama tapi belum ingin membeli yang baru, kiranya bisa menerapkan trik ini.


0 Responses to “WYSIWYG: Windows Rasa Leopard”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,170 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: