Culture Shock

Berikut ini saya alihbahasakan dari panduan Beasiswa Erasmus Mundus untuk Mahasiswa di sini.

Riset terhadap efek psikologis dari hidup (dan belajar) di negeri orang menunjukkan beberapa tahap penyesuaian budaya, yakni:

image

  1. Honeymoon (Bulan Madu)
    Anda kagum bukan main dengan negara yang Anda datangi, dan berharap yang indah-indah tentangnya. Segala perbedaan antara budaya dari negara asal dengan negara asing ini nampak begitu positif. Anda mengambil foto dari setiap bangunan yang indah (dan membaginya di Facebook, tentu saja –ini komentar pribadi πŸ˜›), mencoba berbagai macam makanan dan minuman lokal, serta berpetualang ke tempat-tempat yang menarik. Anda merasa sangat bahagia.
  2. Rejection (Penolakan)
    Anda mulai menetap, menjalani rutinitas, dan mulai menghadapi kesalahpahaman. Anda merasa tidak kompeten dan mulai melihat kekurangan negeri baru ini. Anda mulai tidak memahami perilaku penduduk lokal saat mereka menunjukkan sikap cuek dan tidak senang berkawan dengan Anda. Anda mulai merasa rindu kampung halaman saat segala sesuatunya mulai berjalan baik. Saat ini wajar jika Anda membuat stereotip terhadap orang-orang Jerman/Belanda/Spanyol/Swedia sebagai orang-orang yang kasar/tertutup/gila/bodoh/arogan…(hey, saya hanya pengalihbahasa…).
  3. Recovery (Pemulihan)
    Anda mulai menyadari perbedaan budaya yang ada. Anda menerimanya, dan beberapa perilaku Anda mulai berubah menyesuaikan perbedaan tersebut. Anda merasa sudah menjadi bagian dari komunitas yang baru. Anda memahami bagaimana kehidupan berjalan di sana sehingga Anda merasa tidak dikucilkan.
  4. Adjusment (Penyesuaian)
    Anda merasa nyaman dan menjalani rutinitas dengan baik. Anda mulai memahami latar belakang munculnya stereotip yang pernah Anda pikirkan sebelumnya.

Tak diragukan lagi setiap orang akan mengalami beberapa fase penyesuaian budaya dalam waktu yang berbeda-beda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Tingkat intensitas masing-masing fase bergantung pada tipe kepribadian, pengalaman hidup, kondisi keuangan, hubungan kekeluargaan, tingkat pendidikan, dan kemampuan berbahasa.

Beberapa hal berikut dapat Anda lakukan untuk menghindari dampak negatif benturan kebudayaan:

  • Pelajari bahasa yang digunakan di negara tersebut dan bergabunglah dengan komunitas masyarakat. Semakin sering Anda mencoba, semakin baik Anda memahami alasan yang mendasari sikap tertentu dari penduduk lokal.
  • Bersikaplah positif, tetap optimis, dan bangunlah sense of humour. Kritik Anda tidak akan mengubah budaya negara tersebut. Jadi, daripada pusing, lihatlah sisi positifnya, dan cobalah menertawakannya.
  • Tetaplah berhubungan dengan keluarga dan teman di negeri asal. Dengan berbagai macam teknologi yang tersedia, Anda akan mudah untuk berbagi dan mendengar kabar dari orang-orang yang Anda sayangi. Hal ini berguna untuk mengusir kesepian dan perasaan tidak mengikuti perkembangan di negeri asal Anda.
  • Berolahraga. Tanpa Anda sadari, tubuh dan otak Anda sedang berada dalam kondisi tertekan saat Anda belajar (yang memang sudah susah) di negeri asing (tambah susah) dengan bahasa asing (makin tambah susah ++). Bantulah tubuh Anda untuk menjaga daya tahannya. Itu akan membantu meningkatkan gairah Anda.
  • Jadilah proaktif. Selain mengatur waktu untuk belajar, jangan lupakan aktivitas ekstrakurikuler, aktivitas sosial bersama teman, dan jalan-jalan.
  • Alokasikan waktu untuk melakukan refleksi. Hal ini berguna untuk menemukan masalah-masalah pribadi yang tersembunyi, yang butuh ditangani segera. Dengan ini, Anda dapat menemukan sikap terbaik untuk membuat waktu belajar di negeri orang terasa menyenangkan.

Menarik, bukan?

15 thoughts on “Culture Shock

Add yours

  1. @ Rachma: Belum Ma, masih siap-siap(dan beres-beres) yang lain dulu, but insyaAllah,

    @ Dwi: karena pertanyaan Dwi mengacu ke pernyataan Rachma, jadi balik ke komen di atas dulu ya hehe.

  2. @ ulya: hmm kayanya Ulya juga berminat nih ke Eropa hehe (Siapa yang enggak??)

    @ lesly: oh, kalo itu di-DO nanti ama universitasnya Ly, mereka bilang ‘we had enough with you, too. Pulang sana!’ :P. Naudzubillah, jangan sampai deh…

  3. Eh, jadi ingat. Pas saya masuk komunitas Farmasi ITB yang banyak cewek, rasanya de javu dengan tulisan ini. Tapi kok, saya nggak keluar dari “Rejection Phase” ya Mas Agung, bahkan sampai lulus pun, fasenya masih di situ melulu…

    Kok bisa ya ? Duh….

  4. @Max: Oh ya? Hehehe i don’t know about that, tapi bisa jadi seperti kata tulisan ini, bergantung pada faktor2 tertentu seperti “tipe kepribadian, pengalaman hidup, kondisi keuangan, hubungan kekeluargaan, tingkat pendidikan, dan kemampuan berbahasa…” πŸ™‚

  5. oy gung. baru baca2 blog mu!! πŸ˜€ bener banget ini gung! walow…tarap rejection phase gw agak panjang n bikin desperate….*CUrcol* wekekek… maen2 ke tempat eyk!

  6. @nurvit: rejection? for someone like you? really? i thought you’re an easy-going person, won’t have problem about culture shock… well, hope you’ll move to recovery phase soon πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: