22
Oct
09

Sketsa Masa Depan

Kita mafhum bahwa mayoritas usaha skala kecil atau menengah tidak membutuhkan gedung besar. Cukup dalam bentuk rumah tinggal, operasional kantor bisa berjalan. Apalagi untuk usaha di bidang IT (konsultan IT merangkap software house), infrastruktur yang dibutuhkan tidak menuntut berbagai hal untuk disiapkan. Ditambah koneksi internet, rumah tinggal dapat dijadikan kantor yang menaungi sekian karyawan yang berkutat dengan komputernya setiap hari kerja. Saking sederhananya infrastruktur yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk-produk IT sejenis perangkat lunak, seorang dosen pernah berkelakar bahwa untuk membuat perangkat lunak cukup bermodal komputer dan nasi saja. Maksudnya, nasi untuk makan si programmer. Mengapa? Hampir semua bahan baku pembuatan perangkat lunak berwujud ‘gaib’ mulai dari file dalam satuan bit sampai Gigabyte hingga knowledge yang dimiliki oleh programmer yang berguna dalam penyusunan algoritma program sesuai fungsi perangkat lunak yang dikehendaki. Maka yang tidak gaib hanya komputer dan nasi yang dimakan si programmer tersebut. Selebihnya seperti dianggap intangible asset, karena agak butuh waktu untuk menaksir nilainya dalam rupiah. Misalnya, berapa harga perangkat lunak untuk optimasi proses produksi yang terdiri dari sekian ribu baris kode? Atau berapa harga knowledge yang menjadi inti sebuah core banking? Tidak mudah. Saya juga heran kenapa jadi membahas ini, padahal tulisan ini intinya bukan tentang itu.

Alkisah suatu hari datang kabar bahwa kantor membuka cabang baru yang letaknya tidak jauh dari kantor utama. Wah, alhamdulillah, selamat! Ekspansi pertanda bisnis sedang bagus. Kapasitas produksi meningkat, klien bertambah, dan produk semakin berdiferensiasi serta teruji kualitasnya. Selang beberapa hari, saya baru sempat melihat rumah yang dijadikan kantor baru ini. Maklum, masih soft launching, jadi belum ada acara gunting pita atau makan dan doa bersama yang mengumpulkan semua stakeholder. Saat tiba di depan rumah kantor ini (bisakah disebut ruko? apa ruko harus terkumpul bersama dan bentuknya seragam?), saya seperti mengalami Deja Vu. Kaget sekaligus takjub. Rasanya rumah ini pernah terlintas dalam memori saya sekian bulan yang lalu.

Suatu hari saya sedang mencari pencerahan dan sedikit relaksasi. Bagi sebagian orang, menggambar dapat membantu hal tersebut. Maka saya pun menggaet pensil dan kertas gambar, lalu mulai mencari objek gambar. Mencari objek gambar ini perlu pertimbangan estetis dan pragmatis. Estetis bahwa si objek haruslah unik dan menarik untuk digambar, dan pragmatis bahwa untuk menggambarnya tidak harus sampai basah kuyup atau terbakar matahari. Singkatnya, menggambar objek yang menarik dengan nyaman. Setelah sedikit berkeliling, pilihan objek gambar jatuh pada sebuah rumah yang letaknya dekat dengan sebuah kantor RW yang di luarnya tersedia bangku kayu. Ah, momen dan infrastrukturnya sudah cukup artistik. Saatnya menggambar sketsanya. Saat itu tak ada pikiran apapun. Hanya berusaha menggambar dengan baik. Mengapa rumah itu? Feeling saja. Bentuknya agak unik dan tempat menggambarnya nyaman. Sudah, itu saja.

Sudah bisa menebak rumah apa yang saat itu saya gambar? Betul sekali, rumah tersebut tak lain dan tak bukan adalah rumah yang sekian bulan berikutnya menjadi cabang kantor kami. Kebetulan? Bisa jadi, tapi apa guna dan manfaatnya sebuah kebetulan? Melihat kejadian sebagai kebetulan seperti merasakan kehidupan diatur dengan melempar dadu. Takdir? nah, ini lebih menarik. Kita yakin tidak ada yang namanya kebetulan. Segala sesuatunya terjadi dan ditakdirkan demikian oleh Allah dengan sebab dan pengaturan tertentu.

Hal ini nampak jelas jika mencoba melihat ke belakang tentang komponen-komponen penyusun sebuah kejadian. Andai salah satu komponen tersebut tidak diatur pada posisi tertentu, maka kejadian yang dihasilkan pun akan lain. Misalnya, jika hari itu hujan, maka aktivitas relaksasi saya bisa jadi tidur setelah menyeruput secangkir teh hangat. Jika tak ada kursi kayu di kantor RW itu, bisa jadi saya memilih objek yang lain. Jika di depan rumah itu ada penghuninya yang sedang membereskan tanaman, maka saya juga akan memilih objek lain. Oya, ini salah satu alasan saya memilih rumah ini, agar jangan sampai dicurigai orang. Dicurigai sebagai anggota dari komplotan garong yang sedang mengintai rumah sambil memetakan cara dan waktu yang tepat untuk menyatroni rumah tersebut di malam harinya. Dan jika saya tidak sedang tertarik belajar membuat sketsa, maka objek gambar pun tak akan tercipta.

Baiklah Gung, jadi ini sebuah takdir. Tapi takdir apa? Kalau ada pesan, apa pesannya? Nah, kalau yang ini kita hanya punya kuasa menebak-nebak. Sempat terpikir di awal sebuah pola sederhana. Saya gambar rumah. Tak lama rumah dimiliki kantor. Polanya: Saya menggambar sesuatu yang kelak akan dimiliki atau ditempati. Menarik! Mulailah imajinasi bergulir. Selanjutnya saya akan menggambar rumah yang lebih besar dan mewah. Kalau perlu istana. Saya akan menggambar mobil BMW. Saya akan menggambar pesawat jet. Saya akan menggambar seorang… ah tidak jadi. Saya akan menggambar… surga? Amiiin. Tapi ngawur, mana bisa digambar?? Bukankah surga terlalu indah untuk dipandang? Keindahan yang belum pernah dilihat mata? Ini pola sederhana yang sungguh sangat menarik. Sesaat saya merasa seperti Nobita yang memiliki pensil ajaib yang dimantrai Doraemon. Atau seperti robot cerdas yang mampu menggambar masa depannya sendiri (film i-robot). Ah, atau (tiba-tiba teringat) munculnya bayangan penaklukan Romawi dan Persia saat Rasulullah memukul batu keras saat membuat parit di Perang Khandaq (Perang Ahzab). Luar biasa!

Sesakti itukah? Entahlah, allahu a’lam. Yang jelas saya mengalami pengalaman yang mungkin menjadi inspirasi adegan di i-robot tadi. Visualisasi masa depan memang selalu menarik. Berbagai ramalan dengan berbagai metode oleh berbagai peramal memenuhi berbagai literasi berbagai zaman di berbagai tempat (wah, pengulangan kata ‘berbagai’nya menyebalkan). Manusia memang selalu ingin tahu nasibnya di masa depan yang penuh misteri (gaib). Walaupun demikian, diwanti-wanti agar tidak jadi banyak berangan-angan lalu malas berusaha. Masa depan bergantung pada amal manusia tanpa terlepas takdir Allah. (Hei, siapa yang tahu takdir Allah? Bukankah kita harus tetap optimis dan menyempurnakan amal?)

Tapi ada yang lebih menarik lagi. Mari kita kembali ke rumah ini. Setelah memasukinya, saya mengalami perasaan yang lain lagi. Rumah ini jelas dirancang dengan ilmu arsitek dan desain interior yang baik. Ada taman dan kolam ikan di dalam. Ada desain gaya minimalis-keren di interior dan eksteriornya. Ada sentuhan seni yang membuat rumah berbentuk huruf “L” ini (tampak atas) terasa asri dan sejuk.

Baiklah, lalu? Lalu?? Bagaimana tidak menarik saat saya menemukannya dalam keadaan sedang tertarik dunia arsitektur dan desain interior? Apakah ada pesan tersembunyi di balik rumah ini? Adakah ia memberikan sedikit potongan kejadian masa depan lainnya? Adakah sesuatu yang harus dijadikan perhatian lebih dibanding lainnya? Saya mulai sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak bisa dibuktikan selain dengan tindakan. Tak ada gunanya berimajinasi tanpa bertindak, bukan? Tapi setidaknya, rumah ini menambah tempat-tempat yang mempunyai arti khusus bagi saya. Nah, sekarang apa sebaiknya saya mulai menggambar istana-istana megah bertaman luas berikut segala isinya? Hehehe. Mungkin Anda juga tertarik untuk mencobanya🙂

Berikut sketsa rumah tersebut,

A House Near Office


8 Responses to “Sketsa Masa Depan”


  1. 1 Rachma
    October 22, 2009 at 3:54 pm

    Agung, fenomena kaya gini kan yang jadi intisari buku The Secret yang nyeritain detail masalah “law of attraction”, mungkin Agung pernah baca juga bukunya? *kan koleksi bukunya banyak tuh😀.

    Mungkin ini juga kebetulan sih, tapi pengen share aja, dulu pas tingkat dua pernah nulis-nulis (ngayal tepatnya :D), abis lulus s1 pengen kerja di luar negeri dengan gaji minimal 1000 dollar (yang mana saat itu kerasa itu tuh hayalan banget -hayalan asal-asalan tepatnya-, gak kebayang juga merealisasikannya gimana, cuman karena berhayal itu gratis, so why not? :D). Hasilnya, here I am in Holland, *kerja* sebagai PhD yang per bulannya *dikasi* income sangat-sangat lebih dari yang udah Rachma tulis itu. Sekarang kebiasaannya kalo punya keinginan (ato hayalan :D), suka Rachma dokumentasikan, dan emang banyak yang udah jadi real sih (mungkin emang udah taqdirnya aja kali ya kaya gitu, cuman dikasi slight view dari jauh-jauh hari aja :D).

    Oya, Agung kan ahli ngegambar, mungkin sketsa seseorangnya perlu dicoba, eheheheheh😀.

  2. October 22, 2009 at 6:51 pm

    @Rachma: Iya toh? Belum euy, belum baca bukunya, baru liat2 sampulnya aja, soalnya judulnya agak paradoks (kok rahasia(secret) dikasi tahu?? bukan rahasia lagi dong :P). Law of attraction yang intinya seolah-olah segala sesuatu seperti ‘tersedot’/’tertarik’ pada suatu hal sehingga semuanya seperti membantu terbentuknya kejadian-kejadian baru sesuai hal tersebut ya? Sederhananya kalau mikir positif maka emang bener semuanya jadi positif, dan sebaliknya. Kalau mikir impian tertentu maka semua sumber daya, baik yang dimiliki pribadi maupun lingkungan seperti diatur untuk mencapai impian itu…
    Ma, tapi itu kan sedari awal kita udah sadar dan memilih bentuk kejadian masa depan yang kita inginkan, termasuk menghayal-1000-dolar itu. Tapi bagaimana kalau di awal tidak ada bayangan apa pun? Hanya feeling-so-good, lalu…kejadian! Ah, tapi apa gunanya ya kalau begitu? Saat sebelum kejadian tidak ada perasaan apa pun, dan saat terjadi pun tidak bisa diubah. Hanya seolah-olah kejadian masa depan (harusnya) sudah bisa terlihat dari masa lalu.
    Aha! nampaknya memang kurang mikir waktu nggambar rumah itu. Nggak mikir jauh bahwa suatu hari rumah itu akan dimiliki, padahal sudah menarik untuk digambar. Mungkin mulai sekarang harus meneruskan imajinasi jauh sampai ke masa depan, bahwa Allah menunjuki kita sesuatu di masa ini agar menjadi perhatian yang bisa mengubah masa depan kita. Begitu, mungkin?
    Ah, jadi teringat sahabat Rasul Khalid bin Walid yang saat melewati tempat tertentu langsung pikiran beliau tertuju pada strategi perang yang tepat (termasuk tempat-tempat strategis yang harus dikuasai) bila suatu-hari-entah-kapan beliau dan pasukannya harus bertempur di medan itu. Law of Attraction, indeed.
    Eh, itu bisa jadi bisnis lho Ma. Judulnya Konsultan Penulisan Masa Depan. Mungkin deskripsi Rachma soal impian masa depan cukup detail dan cukup mampu menarik sekian banyak attraction agar kelak jadi kenyataan. Nah, siapa tahu orang bisa pesan minta dituliskan kejadian-kejadian masa depan yang diinginkan. Mungkin tidak semua orang punya imajinasi dan kemampuan mendeskripsikan masa depan dengan tajam. Hahaha, bisa buka praktek tuh!
    Soal orang? Hmm…ada saran? eheheheh juga.

  3. 3 sherlanova
    October 25, 2009 at 11:24 am

    Gung, itu pertanda, Gung, pertanda…
    *wink*

    Tapi, kalo soal impian, mesti baca
    bukunya duet maut Jack Canfield dan
    Mark Victor Hansen deh… (my new post)…

    Kalo filmnya (The Secret), udah pernah
    ditonton belum? Mending nonton filmnya
    aja, lebih mantapz! Soalnya kan lebih
    merasuk audio-visualnya; film sih…

  4. October 25, 2009 at 7:05 pm

    @sherlanova: Pertanda apakah ?😕 Ok, maybe i should read and watch that. Nuhun rekomendasinya,

  5. October 28, 2009 at 7:27 am

    kata orang bijak : “bercita-citalah..” apa “berangan-anganlah, mumpung gratis.”

    hm.. pokoknya kira2 begitu :d

    jadi kabita upload koleksi gambar saya. thanks

  6. 6 mia
    October 29, 2009 at 7:06 pm

    Rachma, ikut senang ^_^, selamat buat pencapaiannya ya,,

    seperti yang Rachma bilang,
    tetangga cubicle ku bilang,
    adek ku juga bilang,
    tulislah mimpimu, tulis 100 mimpimu di tahun yang akan datang, lalu lihat apa yang akan terjadi *minjem istilahnya pak Mario Teguh ;p*
    kira-kira begitu katanya,
    mungkin bener, saat kita memimpikan sesuatu, kita berharap sesuatu dan Dia yang Maha Mendengar mengizinkannya, semesta yang bertasbih ini akan nurut padaNya dan support kita untuk mencapai mimpi kita itu,,dan terwujudlah apa yang kita tulis,,
    tapi, entah kalo kejadiannya kayak Agung bilang, yang tanpa tendensi apapun bersketsa, trus tiba2 ketemu langsung dengan sketsanya,
    mungkin memang pertanda,,:p
    but whatever, that sound nice gung! ^_^ kayak dapet kejutan gitu ga sih,,

    Gung, mau liat sketsa seseorangnya😀
    hehehehee,,,,

  7. November 1, 2009 at 7:15 pm

    @Lesly: monggo, silahkan diupload, siapa tahu ada kisah menarik di balik setiap gambar yang dihasilkan🙂

    @Mia: Betul, awalnya yaa kaget, Mi.
    Tingkat kesulitan menggambar manusia, apalagi detail wajah itu cukup lumayan membutuhkan waktu untuk berlatih.
    Difoto atau diabayangkan saja deh (tuh kan katanya disuruh menghayal :P)

  8. August 30, 2013 at 11:29 am

    Everyone loves it whenever people come together and share opinions.

    Great blog, continue the good work!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,170 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: