Setengah Isi, Setengah Kosong

Filosofi yang kita sering dengar dalam melihat wujud gelas yang setengah isi dan setengah kosong adalah sebagai berikut:

  • OPTIMIS: “Gelas ini terisi setengahnya”.
  • PESIMIS: “Gelas ini kosong setengahnya”.

Optimis berpikir kelimpahan, sedangkan pesimis berpikir kekurangan. Demikian filosofi umum yang melihat gelas tersebut berdasarkan KEADAANnya,Ā  yakni kondisi SAAT INI. SAAT INI gelas bisa dalam keadaan setengah isi atau setengah kosong. Setengah isi atau setengah kosong menggambarkan seseorang melihat kelebihan dan bersyukur atau melihat kekurangan dan mengeluh.

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan perspektif baru memaknai gelas setengah isi – setengah kosong ini. Ketimbang menilai KEADAAN gelas pada SAAT INI, kita dapat menilainya dengan PROSES apa yang SEDANG TERJADI pada gelas tersebut. Apa jadinya isi gelas tersebut di MASA DEPAN. Begini maksudnya:

  • OPTIMIS: “Gelas ini SEDANG DIISI. Beberapa waktu kemudian ia AKAN PENUH”.
  • PESIMIS: “Gelas ini SEDANG DIKOSONGKAN. Beberapa waktu kemudian ia AKAN KOSONG”.

Beda dengan yang pertama, perspektif yang kedua mengamati PROSES YANG SEDANG TERJADI pada gelas tersebut. Setengah isi menggambarkan optimisme bahwa masa depan akan lebih baik, “wah, sudah terisi sebagian!”. Bisa saja sebenarnya orang berpikir AKAN PENUH tapi melihat pada sisi kosongnya, “kurang sedikit lagi nih airnya!”. Demikian pula berpikir AKAN KOSONG juga bisa dilihat dari dua sisi tersebut, tapi dengan pandangan bahwa masa depan akan sulit. Minimal kita akan kehabisan air :P.

Mungkin ada lagi pandangan lainnya, Anda mau menambahkan?

Ket: Gambar diambil dari sini
Advertisements

13 thoughts on “Setengah Isi, Setengah Kosong

Add yours

  1. orang yang selalu “setengah kosong”, akan mampu dan siap menerima ilmu/pengetahuan/wawasan baru dari luar…. menyaringnya, agar selalu jernih.. kalau orang yang sudah “penuh full” ituuuuhh, gak mau menerima ide dari luar..alias ilmu yang didapatnya meleeeberrr sajah keluar “gelas”nya.. šŸ˜€ ESQ bangetttss deh… *maklum, mantan reporter di sana, kk… i’m pround to be a part of esq’s big fams…wkwkwkw…*

      1. @sherlanova: …dan kalau laut itu dijadikan tinta, dan pohon-pohon dijadikan pena, tak cukup untuk menuliskan/melukiskan ilmu Allah… Allahu akbar! -eh nyambung geuning-

  2. hihihihi….
    memmmang segala sesuatu bersifat relatif, bergantung kerangka acuannya/sudut pandang.
    sepertinya saya dan reporter esq berbeda cara memaknainya.
    namun dua2nya memiliki makna yang positif… yup…
    buku yang menarik..
    ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: