12
Dec
09

Biologi Lelaki(2): Male Brain

(sambungan dari Biologi Lelaki(1))

Aku adalah lelaki…” (Samsons)

Setelah kita melihat inti dari hubungan otak dan hormon di atas, saatnya membahas salah satu jenis kelamin otak yang menjadi fokus buku ini: Otak Lelaki. Mengingat banyaknya bahasan yang berkaitan dengannya, misalnya mulai dari bagaimana pendapat otak lelaki tentang perasaan dan emosi sampai pekerjaan rumah tangga, maka lebih baik saya comot beberapa poin-poin saja secara acak. Satu sama lain bisa berhubungan bisa tidak. Beberapa bagian yang seru sengaja saya sembunyikan agar kawan penasaran dan terdorong untuk membacanya langsung, hehehe…Tak seru kalau dibuka semua, usaha lah sedikit. (lho, kok??). Mari kita mulai.

  • Testosteron dan Oksitosin
    Ada yang berkelakar bahwa testosteron inilah yang bertanggung jawab terhadap perang dan kekacauan dunia. Hahaha…tak sepenuhnya salah, karena memang hormon inilah yang bertanggung jawab terhadap sikap agresi. Selain itu, sebut saja pengaruhnya pada kecenderungan terhadap seks, kemandirian (independensi), kompetisi, dan ambisi kekuasaan sosial. Bagaimana, terdengar maskulin sekali, bukan? Hormon ini dominan pada lelaki.
    Di sudut ring yang lain berdirilah oksitosin, yakni hormon yang berhubungan dengan kesenangan ibu mengasuh anak, hubungan verbal-emosional, dan keterikatan yang simpatik (intimasi). Seperti yang sudah kawan tebak, hormon ini dominan pada perempuan.
    Selain kedua hormon ini, masih terdapat hormon lain seperti esterogen, progesteron, vasopressin, serotonin, dan sebagainya, yang juga bertanggung jawab terhadap kecenderungan-kecenderungan tertentu. Namun saya menangkap pembahasan menguat pada pengaruh dua hormon ini saja. Sebagai catatan, kandungan hormon-hormon ini mempunyai siklus naik-turunnya. Ada saatnya testosteron yang dominan, ada saatnya oksitosin yang menang. Bahkan sampai ada 12 fase pernikahan berdasarkan siklus ini. Penasaran? Baca bukunya ya😛
  • Independensi dan Intimasi
    Independensi itu ciri khas lelaki seperti intimasi yang menjadi ciri khas perempuan. Perbedaan ini digambarkan dengan jelas dari dua ungkapan ayah dan ibu melihat anaknya yang beranjak dewasa.
    Ibu: “Anakku sudah besar, dan ia akan segera pergi. Rasanya ia sudah tidak membutuhkan aku lagi. Dia akan pergi meninggalkanku”
    Ayah: “Bagus sekali, Nak! Kau akan segera hidup mandiri dan menemukan jalanmu sendiri. Hidupmu sendiri. Aku hanya bisa menunjukkan jalannya, kaulah sendiri yang harus melaluinya”.
    Bagi pasangan, hubungan yang langgeng adalah hubungan yang mempunyai strategi pengaturan idependensi dan intimasi yang baik. Jangan sangka kalau sudah menikah lama masih ingin intim terus (hei, ini berdasarkan riset penulis, lho). Ada kalanya ingin sendiri, ada kalanya rindu berdua. Begitulah silih berganti. Tak sehat jika terus menerus berintim-ria, apalagi bersendiri-ria, karena demikianlah tabiat jiwa kita ini, ada dinamikanya. Lagipula, bukankah menikah sebenarnya tetap mempertahankan identitas masing-masing walaupun sudah bersatu? Justru itu kan, yang ‘memperkaya’ hubungan?. Ya, Anda betul sekali, saya mulai sok tahu. Mari kita lanjutkan ke bagian berikutnya😛
  • Pengasuhan paternal (menghargai) dan maternal (membesarkan hati)
    Seorang anak terjatuh saat bermain. Ibu akan berkata, “Kau terjatuh. Apa kau baik-baik saja?”. Ayah akan berkata, “Sudah, tidak apa-apa. Ayo, lanjutkan permainannya”. Well, sebenarnya tergantung jatuhnya seberapa parah sih, kalau sampai patah tulang atau gegar otak, yang jelas Pak Dokter yang akan berkata, hihihi… (lho, orang celaka kok ditertawai?? Eh bukan, ini maksudnya menertawai Pak Dokter berkata itu, bukan ayah atau ibu yang berkata… *halah, dibahas*). Ibu akan cenderung membesarkan hati anak-anaknya. Bersimpati. Sedang ayah cenderung menjaga harga diri anaknya. Me’naik’kannya. Hargailah kekuatan dan ketabahannya. Jatuh tidak masalah. Dia kuat. Jangan sedikit-sedikit, jatuh harga diri. Demikian kiranya.
    Kabar gembiranya adalah kedua sisi ini sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan anak. Ada waktunya saat pertumbuhan dari bayi sampai SD, pengasuhan maternal yang dominan dibutuhkan. Selanjutnya, paternal yang dominan, dan seterusnya.
  • Spasial-Abstrak dan Verbal-Emosional
    Kawan pernah berjumpa pengendara motor / mobil yang berkecepatan rendah tapi mengambil ruang tepat di tengah jalan? Apa, sering?? Hehehe… cobalah tengok pengemudinya, setelah kita klakson dan melewatinya. Hampir semuanya yang saya jumpai adalah perempuan. Wajar saja jika melihat bahwa kecerdasan spasial perempuan tidak sebesar lelaki. Spasial ini maksudnya kecerdasan mengukur diri / objek di dalam ruang. Ruang berarti kiri dan kanan, atas dan bawah, jauh dan dekat. Itulah mungkin penjelasan sederhana pengendara berkecepatan rendah di tengah jalan tadi. Dan itu pula yang menyebabkan lelaki begitu gemar dengan objek dalam ruang. Pandai memperbaiki barang. Sebut saja mobil, mesin, elektronik, komputer, alat musik, bangunan, dan sebagainya. Khusus pada kendaraan, objek ini merupakan objek yang sangat digemari lelaki, berbeda dengan rumah yang sangat digemari perempuan. Sederhananya, kendaraan merupakan manifestasi kekuasaan, kemandirian, petualangan, dan status sosial. Haha, lelaki sekali, bukan?
    Sementara itu, di sisi lain kita juga menjumpai lelaki yang hemat bicara. Sangat hemat. Segan (atau kagok?) orang dibuatnya. Segan istri dan anak dibuatnya, bahkan untuk sekedar meminta pengulangan informasi yang belum jelas. Kalau sudah begini, apalagi mengungkapkan perasaan-perasaan dengan kata-kata. Lupakan. Laki-laki cenderung memiliki kecerdasan verbal-emosional yang lebih rendah daripada perempuan. Bagi lelaki, aksi lebih menarik daripada kata-kata. Bisa saja seorang lelaki menghabiskan berjam-jam memperbaiki mesin mobilnya tanpa bicara sepatah kata pun. Bagi perempuan mungkin itu tampak mengerikan, tapi begitulah dunia lelaki.
    Ketimbang membicarakan perasaannya dengan kata-kata, lelaki memilih untuk menyendiri untuk memulihkan emosinya (pernah dengar istilah lelaki dan ‘gua’nya?). Sikap inilah yang dibaca perempuan sebagai tindakan meninggalkan dirinya. Abang sudah tak cinta lagi karena tak membicarakan masalahnya padaku (perempuan memecahkan masalahnya dengan bercerita, bercerita, dan bercerita). Padahal bukan demikian, karena lelaki itu tetaplah mencintainya. Hanya saja, biarkan aku sendiri dulu. Itu saja.
  • Panggilan hidup
    Bagi lelaki, mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menemukan harga dirinya dibanding perempuan. Perempuan secara inheren telah mendapatkan harga dirinya. Apalagi kalau bukan karena kemampuannya mengandung dan melahirkan anak dari dalam tubuhnya sendiri. Dari rahimnya. Sedangkan laki-laki tak punya rahim. Dia tidak menemukan harga dirinya di ‘dalam’, maka dia harus mencari ke ‘luar’. Berpetualang. Menaklukkan bahaya. Merebut kemenangan. Mendapatkan pekerjaan terbaik. Maka tak heran jika lelaki dengan ambisi sosialnya terus berusaha menonjolkan diri dengan kemampuannya, dengan prestasinya, dengan karyanya. Itulah dorongan terbaik yang dimilikinya. Inilah pula yang membuat kesan lelaki lebih lambat dewasa daripada perempuan. Saat sebagian besar perempuan sudah siap dinikahi (ingat, perempuan tidak punya masalah dengan harga diri), lelaki seumur mereka masih berpetualang ‘menaklukkan dunia’. Membangun harga dirinya.
    Lalu untuk apa itu semua? Harga diri inilah yang memotivasi seorang ayah untuk bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya. Harga diri inilah yang diajarkan ayah pada anaknya kelak. Tanpa harga diri, seorang lelaki tidak akan merasa utuh, seperti layaknya perempuan tanpa kehadiran anak dari rahimnya sendiri.
    Saya merasa bagian ini sudah serius semenjak judulnya, jadi mohon maaf saya tidak membuat lelucon di bagian ini. Tapi Anda tetap boleh tertawa, kok. Terserah alasannya apa. Tapi coba tengok kiri-kanan dulu, pastikan tak ada yang melihat😀
  • Perempuan dan Ekspektasi terhadap lelaki
  • Biologi Pernikahan
  • Lelaki dan Pekerjaan Rumah Tangga

Dua bagian terakhir ini sengaja saya kosongkan agar kawan penasaran dibuatnya.

Cukup.

Saya tidak akan membahas lebih jauh.

Anda tidak bisa mempengaruhi saya.

Saya tidak akan buka mulut. Percayalah, lebih baik saya diam.

Saya ingatkan sekali lagi, Anda tidak bisa mempengaruhi saya. Saya sudah membuat keputusan. Pergilah dari paragraf tidak penting ini sebelum saya berubah pikiran. Hahaha…

(bersambung ke Biologi Lelaki (3))


4 Responses to “Biologi Lelaki(2): Male Brain”


  1. March 9, 2010 at 3:03 pm

    Dapatkan Panduan Bina Otot Badan Untuk Lelaki Agar Anda Kelihatan Lebih Macho Dan Kacak….Jangan Segan2…..Milikilah Badan Impian Anda Disini….

  2. March 24, 2010 at 9:00 pm

    Numpang baca ya Mas.

    Hihihihi…. Penjelasannya bersifat riang & cukup menyenangkan untuk dibaca. Tadinya berniat untuk blogging hal lain, malah nyasar ke blog ini. Hehehe…

    BTW, itu bukunya ditulis dengan gaya bahasa populer atau tidak ya? Kalau ditulis dengan bahasa populer & disertai ilustrasi yang menarik, saya jadi tertarik buat beli😀

  3. November 26, 2011 at 8:15 am

    mantep pak artikelnya, salam kenal


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 177,170 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia



%d bloggers like this: