Burung Kutilang

Dipucuk Pohon Cempaka
Burung Kutilang Berbunyi
Bersiul Siul Sepanjang Hari
Dengan Tak Jemu Jemu
Mengangguk Angguk Sambil Berseru
Trilili Lili Lilili

Sambil Berlompat Lompatan
Paruhnya Slalu Terbuka
Digeleng Gelengkan Kepalanya
Menentang Langit Biru
Tandanya Ia Suka Berseru
Trilili Lili Lilili

(Ciptaan: Bintang Soedibjo,
Aransemen gitar: Jubing Kristianto)

—–
Ket: Gambar dari Wikipedia
Advertisements

Catatan Akhir Tahun

Tulisan pertama saya di aprasetyo.wordpress.com ini tercatat pada 24 April 2007. Tulisan itu berupa resensi buku “The Present” yang saya baca di sebuah ruangan di perpustakaan pusat ITB yang nyaman sekali. Saking nyamannya, waktu dua jam saya habiskan sambil bersantai sekaligus menghabiskan buku itu. Karena cukup berkesan, saya tak tahan untuk tidak berbagi. Resensi itu sekaligus mengawali posting pertama di blog yang telah berusia 2 tahun ini.
Apalah arti 2 tahun berbagi lewat tulisan? Apalagi saya tidak cukup rajin untuk menampilkan tulisan baru setiap harinya seperti yang Pak Dosen ini lakukan. Paling saya pasang target setidaknya sekali seminggu ada satu tulisan. Lama kelamaan saya naikkan jadi dua tulisan per minggu. Itupun tidak bisa selalu saya penuhi. Jika dihitung sejak April 2007 hingga Desember 2009 (20 bulan), saya baru mampu menghasilkan 121 tulisan. Ini berarti rata-rata 6 tulisan per bulan, yang artinya tidak sampai 2 tulisan per pekan. Itupun tanpa standar bentuk tulisan yang dimaksud. Bisa berupa tautan video dengan komentar tak panjang, sebuah lelucon, sampai tulisan yang bersambung tiga kali. Mohon maaf pula, masih ada beberapa tulisan yang belum ada sambungannya. Artinya, saya masih belum konsisten menjaga ritme menulis saya. Jika dibandingkan dengan 500 tulisan yang ditulis Bung Karno selama 4 tahun pada usia seperti saya sekarang ini, saya baru bisa mengejar setengahnya. Jelas tak usah dibandingkan dari sisi kualitas. Tulisan Bung Karno ‘menggerakkan’ rakyat, penuh semangat perjuangan, dan kritik keras terhadap pemerintah kolonial Belanda. Berbeda dengan tulisan saya yang hampir semuanya seputar human interest saya pribadi.
Saya memang belum bermaksud untuk ‘menggerakkan’ Anda sebagi pembaca. Saya hanya membayangkan Anda membaca tulisan saya sambil santai. Santai, tapi tetap dapat ‘sesuatu’. Tak heran hampir di setiap paragraf saya bumbui dengan ‘hehehe…” atau 😛 untuk mengikuti gagasan yang saya rasa mulai ‘serius’. Saya tak ingin Anda merasa pusing karena terjebak di paragraf-paragraf tulisan saya. Saya tak mau Anda meninggalkan tulisan saya dengan rasa murung apalagi kecewa. Saya ingin Anda terhibur. Setidaknya, dengan satu senyum simpul di bibir Anda. Ya, seperti ini 🙂 Terima kasih, saya tahu Anda sedang tersenyum sekarang ini. Tema-temanya pun seputar how dan why dari sesuatu yang saya anggap menarik. Sengaja tidak saya bahas tentang opini-opini ‘serius’ yang banyak Anda temukan di situs-situs berita. Selain karena saya tidak menguasai, saya rasa kunjungan Anda ke blog saya bukan untuk mencari bahan perdebatan baru. Cukuplah informasi serius Anda dapatkan di situs-situs tersebut. Selebihnya, bolehlah Anda sedikit terhibur di sini. Tapi saya tidak pernah memaksa Anda untuk tersenyum, lho.
Dari sisi jurnalistik, mayoritas tulisan saya termasuk feature (karangan khas).
Sifat tulisan feature lebih “menghibur” dan “menjelaskan masalah” daripada sekedar “menginformasikan” karena feature adalah tulisan yang menuturkan peristiwa disertai penjelasan riwayat terjadinya, duduk perkaranya, proses pembentukannya, dan cara kerjanya. Ia lebih banyak mengungkap unsur how dan why sebuah peristiwa sehingga mampu menyentuh ketertarikan manusiawi (human interest) atau menggugah perasaan (human touch)
– dikutip dari buku “Jurnalisme Terapan”, karya Asep Syamsul M. Romli –
Ini pula yang menjelaskan frekuensi tulisan saya yang tidak bisa muncul sehari sekali. Proses menulis feature membutuhkan sekumpulan fakta, opini, dan angle yang tepat. Angle yang tepat inilah yang baru bisa saya peroleh maksimal dua kali seminggu, bahkan lebih sering kurang daripada itu. Angle ini sering muncul justru pada saat tidak sedang memikirkannya. Biasanya saat dalam waktu luang di perjalanan pulang, saat menikmati air hangat sepulang kerja, sampai saat sedang tidak khusyu di rakaat-rakaat shalat. Ayolah, Anda juga pernah merasakannya, kan? Saat ide-ide melintas cepat di sela-sela rakaat? Yang penting kita simpan dulu penjabarannya sampai shalat selesai. Jangan dibahas waktu shalat. Nanti makmum serempak mengucap “subhanallah” saat Anda sebagai imam langsung berdiri pada rakaat kedua. Salah satu angle terbaik yang saya dapatkan, juga terbukti dari banyaknya statistik kunjungan ke tulisan tersebut, adalah tulisan tentang chord lagu We Will Not Go Down yang muncul setahun silam. Setahun lalu, saat agresi Israel ke Jalur Gaza. Wajar saja, tulisan itu muncul 1-2 hari setelah penciptanya mempublikasikan lagu tersebut. Pada saat yang sama, saya juga sedang mencoba teknik mendapatkan chord suatu lagu. Lagu itu adalah studi kasusnya. Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Selama menulis di blog, baik blog pribadi maupun berkomentar di blog orang lain, saya merasakan manfaat blog sebagai media tulisan yang membantu mendewasakan penulisnya. Alhamdulillah, saya merasa beruntung telah menulis di blog sebelum social media seperti Facebook (FB) dan mikroblogging seperti Plurk dan Twitter menjejali ruang dan waktu kita di dunia maya. Hal ini membuat saya lebih punya kesempatan untuk mengembangkan semangat menulis dengan serius. Serius artinya ada ide besarnya, lalu dijabarkan pada paragraf lead, sampai paragraf-paragraf berikutnya yang menjelaskan ide besar tersebut. Sehingga, terciptalah tulisan yang utuh. Ada idenya, dan ada bentuknya. Hal ini –silakan jika Anda tidak sependapat– tidak lagi didapatkan di social media atau mikroblogging. Para narablog kini tidak lagi sebanyak dahulu menuliskan idenya secara utuh dalam bentuk tulisan. Update status FB atau Twitter jauh lebih diminati daripada susah payah menyusun tulisan. Cukup 160 karakter di Twitter, Anda dapat menuai respon yang tidak sedikit dari follower atau teman Anda. Perasaan dapat berkomunikasi interaktif dengan lebih singkat dan lebih cepat inilah yang mungkin membuat keduanya begitu digemari daripada blog. Saya sependapat dengan Kang Romel yang berpendapat bahwa jika tidak diwaspadai, kecenderungan lebih asyik di FB daripada blog dapat mematikan budaya dan kreativitas berpikir dan menulis.
Tidak ada penulis manapun yang dapat berkembang tanpa umpan balik dari pembacanya. Dalam blog ini, Andalah, wahai para komentator, salah satu yang membuat saya bersemangat menulis. Saya sadar traffic blog ini belum sepadat para narablog yang menjadi simpul massa. Belum cukup memberi kebanggaan seorang komentator pertama dengan komentar khasnya, “Pertamax!” sebagai gambaran betapa sulitnya menjadi pemberi komentar yang pertama di antara sekian banyak penggemar. Saya senang mendapat komentar, yang hingga tulisan ini dibuat sudah mencapai 617 komentar, termasuk komentar saya sendiri. Jika bagian saya dihilangkan, mungkin tersisa lebih dari setengahnya. Jadi, rata-rata ada 3-4 komentar per tulisan. Mas Trian tercatat sebagai pemberi komentar terbanyak (30) sekaligus pemberi komentar pertama sejak blog ini dibuat. Saya akui bahwa keberanian untuk mempublikasi tulisan dalam bentuk blog, terutama di periode awal blog tercipta, banyak dipengaruhi oleh komentar-komentar awal. Maklum saja, kita belum cukup percaya diri untuk membiarkan orang lain membaca tulisan ‘baru’ kita yang kita nilai tidak penting, tidak tersusun dengan baik, sampai yang kehilangan ide besarnya. Jadi, sekalian saja saya berterima kasih pada mas Trian ini yang telah membesarkan hati untuk tetap nge-blog di periode awal. Walaupun kini bapak satu anak ini sudah jarang nge-blog, tapi sekira 2 tahun yang lalu narablog yang satu ini cukup populer ditandai dengan traffic nya yang tinggi dan komentatornya yang banyak. Rasanya lebih nyaman kalau blog kita ‘tumbuh’ bersama blog kawan-kawan kita, seperti tumbuhnya kemampuan berpikir dan menulis kita.
Terima kasih juga saya sampaikan kepada Rachma yang telah memberikan kreativ blogger award untuk gaya penulisan blog ini. Saya menilai banyak tulisan saya punya anak kalimat yang panjang. Saya sering merasa harus memasukkan sekian banyak ide dalam satu kalimat. Secara bahasa jurnalistik, ini tidak bagus. Oleh karena itu, tulisan-tulisan berikutnya insyaAllah akan lebih baik. Minimal tidak membuat pembaca terengah-engah menyelesaikan satu kalimat yang tidak kunjung selesai. Ide besar gaya penulisan sesuai visi misi blog ini. Saat pembaca menikmati tulisan, saya ingin mereka tidak kesulitan menemukan ide besarnya. Saya ingin mereka mencerna setiap kalimat dengan senang hati. Santai saja, tapi dapat ‘sesuatu’ setelah membacanya. Entah apa saya masih tertarik untuk mempertahankan misi ini. Siapa tahu ada misi lain yang lebih menarik untuk dilakukan. Selama Anda, sebagai pembaca, merasakan manfaat dari tulisan saya, tentu saya akan senang hati untuk tetap menulis, apapun gayanya.
Last but not least, sudah sekian banyak judul saya gunakan untuk blog ini, mulai dari nama sendiri sampai frasa yang saya rasa menarik. Sengaja saya memperbanyak update status FB agar jangan kalah cepat dengan berubahnya judul blog ini, hahaha…Begitu pula tema warna yang saya pilih di template bawaan wordpress ini. Memang rasanya lebih menarik jika punya desain sendiri dengan alamat sendiri, tanpa ada embel-embel wordpress.com. Hal ini saya rasakan lebih ‘menjual’, dan lebih profesional. Someday, insyaAllah.
Thank you, amigos. Thank you for your supports and critics. Terima kasih untuk orang-orang yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang telah memberi warna tulisan saya. Mari kita tetap menulis, karena:
“Hanya mereka yang merasa hidup ini menarik dan mereka yang ingin membantu memajukan kota dan dunia yang patut terjun di bidang jurnalistik”
– dikutip dari buku “Jurnalisme Terapan”, karya Asep Syamsul M. Romli –

Film “The Terminal” dan Grafologi

Inti cerita “The Terminal” (2004) adalah seorang pria yang ‘terjebak’ di bandara John F. Kennedy (JFK), New York karena secara hukum tidak berhak untuk keluar dari bandara dan menuju New York, tapi pada saat bersamaan tidak pula dapat pulang kembali ke negaranya. Hal ini disebabkan saat ia sampai di bandara JFK, negaranya sedang mengalami pemberontakan dari dalam terhadap pemerintah yang sah (Coup d’etat). Akibatnya, paspor negara tersebut tidak berlaku untuk memasuki negara lain, dan tidak pula ada penerbangan yang melayani tujuan ke negara yang sedang kacau itu. Negara buatan itu bernama Krakozhia, dan lelaki sial itu bernama Viktor Navorski (Tom Hanks). Singkat cerita, Viktor seperti jatuh ke dalam celah sistem yang tidak memberikan pilihan kepadanya selain harus menunggu di terminal transit internasional di bandara. Sampai kapan? Sampai negaranya kembali berdaulat atau sampai pemerintah Amerika menemukan aturan legal yang mengizinkan dirinya memasuki New York. Kedua-keduanya tidak jelas. Jadi, Viktor menjalani hari-harinya hidup di terminal transit sambil menunggu waktu yang entah kapan akan berakhir.

Apa gerangan yang terjadi selama waktu Viktor yang tidak jelas itu? Bagaimana caranya bertahan hidup (makan, mandi, tidur, dll) tanpa mampu menukarkan mata uang Krakozhia-nya yang sudah tidak berlaku? Bagaimana ia, yang dalam keadaan sulit, tetap dapat membantu seorang pria yang jatuh cinta? Bagaimana ia tiba-tiba terkenal dan disayangi semua kru bandara, termasuk para penjaga toko, karena menyelamatkan kebebasan seorang pria? Bagaimana pula perasaannya saat ia jatuh hati pada seorang pramugari cantik (Catherine Zeta-Jones)? Berhasilkah ia memasuki New York di tengah ‘jebakan’ yang disiapkan Komisaris Lapangan bandara yang tak berniat memudahkan hidupnya? Dan tentunya, pertanyaan paling penting ini: apa tujuan ia datang ke New York sehingga ia rela bertahan dalam ketidakjelasan? Saksikan sendiri dalam film berdurasi 128 menit ini.

Grafologi

Selain kisah yang menarik, “The Terminal” ternyata menyimpan kejutan lain di akhir filmnya. Setidaknya kejutan bagi saya. Kejutan ini muncul dalam bentuk  penulisan movie credit yang tidak biasa. Wajarnya, credit ditulis dalam huruf-huruf ketik, namun kali ini mereka muncul dalam bentuk tulisan tangan! Ya, tulisan tangan orang-orang yang namanya muncul pada credit tersebut! Maka kita bisa melihat tulisan tangan Steven Spielberg (sang sutradara), Tom Hanks, Catherine Zeta-Jones, berikut semua kru dan aktor yang terlibat. Lalu kenapa? Eh, kenapa bagaimana?? Kita jelas-jelas bisa membaca ‘sekilas’ karakter mereka lewat tulisan tangan mereka sendiri. Inilah yang dinamakan Grafologi, yakni ilmu (atau seni?) membaca karakter dari bentuk tulisan tangan. Keren, bukan?

Tenang saja, saya juga baru membaca dan tertarik sekilas. Tapi melihat manfaatnya, nampaknya ilmu ini patut dipelajari lebih lanjut, hehehe. Ada beberapa buku yang mengulas tentang grafologi ini. Referensi di internet juga ada. Lumayan lah, selain bisa membaca karakter diri sendiri dan orang lain (orang lain yang mana maksudmu, Gung? :P), ternyata Grafologi ini juga bisa dijadikan semacam terapi untuk memperbaiki karakter diri yang negatif. Hebat, bukan? Nah, agar lebih menarik mari kita coba ambil satu saja tulisan tangan yang ada pada movie credit “The Terminal” tadi. Siapa lagi kalau bukan tulisan tangan tuan Spielberg. Siapa tahu kita bisa membaca jejak kesaktiannya sebagai sutradara dari tulisan tangannya sendiri. Dan kawan, saya bisa melihat itu saat pertama kali credit menampilkan namanya.

Yang paling mencolok, menurut saya, dari tulisan Spielberg ini adalah zona atasnya yang tinggi (lihat tinggi dan proporsi huruf “S”, “T”, “L”, dan “B” terhadap huruf lainnya). Garis pada tulisan, berdasarkan letaknya, secara umum dibagi dalam 3 zona: bawah, tengah, dan atas. Masing-masing zona memiliki interpretasinya masing-masing. Nah, zona atas tulisan itu menggambarkan cita-cita, angan-angan, harapan, dan kehidupan spiritual. Maka, bisa dikatakan bahwa orang yang mempunyai tulisan dengan zona atas yang tinggi memiliki kecenderungan untuk memiliki idealisme yang besar, cita-cita yang melangit, harapan yang panjang, imajinasi yang tinggi, atau kehidupan spiritual yang prima. Jreng! Klop sekali dengan kesaktian sutradara Steven Spielberg ini yang film-filmnya selalu memikat karena ramuan jalan ceritanya yang apik, imajinasi yang tinggi, aktornya yang menawan, sampai pengambilan gambarnya yang memukau. Cocok sekali dengan karakter yang dibutuhkan oleh seorang sutradara film-film box office, bukan? Nah, sebenarnya banyak aspek lain yang bisa dinilai dari bentuk tulisan tangan, seperti margin, spasi, jarak antar huruf, jarak antar kata, kemiringan, huruf tegak/bersambung, dan sebagainya. Namun cukuplah analisis sok tahu ini fokus pada zona atasnya yang tinggi.

Sebagai penutup, seolah-olah sambil mendengarkan komposisi musik film “The Terminal” yang menghibur ini (coba dengarkan sendiri) , mari kita lihat bentuk tulisan tangan aktor dan kru lainnya. Siapa tahu jadi lebih tertarik untuk mempelajari grafologi. Selamat penasaran 🙂

Music Composer, John Williams

Director of Photography

Tom Hanks

Catherine Zeta-Jones

Biologi Lelaki(3): Epilog

(sambungan dari Biologi Lelaki(2))

Sejauh ini nampaknya semua lancar-lancar saja, bukan? Benarkah demikian? Ternyata tidak. Setidaknya ada dua pengecualian.

  • Masih ingat dongeng ibu yang menyuplai hormon ke janinnya sesuai jenis kelamin itu? Ternyata disebutkan bahwa pada kondisi ibu sedang stres berat (karena penganiayaan, sakit, atau tekanan jiwa yang berat), masalah suplai hormon ini bisa terganggu. Jadilah seorang anak dengan fisik dan otot lelaki, tetapi otaknya perempuan! Betul, konfigurasi hormon yang menyusun otaknya berbeda dengan jenis kelaminnya! Sempat saya tertegun membacanya, apa ini salah satu penyebab banci atau tomboy?
  • Berikutnya, entah yang kemudian ini akibat masalah konfigurasi hormon atau bukan, tapi di setiap bab pembahasan, penulis memberi ruang untuk pengecualian yang disebut “otak penyeberang”. Maksudnya sebagai contoh, bila sebagian besar lelaki seharusnya lebih cerdas secara spasial ketimbang verbal, ada saja lelaki yang banyak bicara seperti perempuan. Ada saja lelaki yang menikmati betul pekerjaan motorik halus. Ada saja lelaki yang tidak mempunyai ambisi sosial, dan seterusnya. Demikian pula pada perempuan. Mereka inilah yang disebut otak penyeberang, seolah-olah melintas ke daerah yang berlawanan dengan kecenderungan alamiahnya. Apakah itu bermasalah? Bergantung bagaimana menyikapinya. Bisa ya, bisa tidak. Kalau perempuan tidak masalah memiliki suami berotak penyeberang, mengapa repot? –Eh, dengar-dengar lelaki berotak penyebarang sedang naik daun, hihihi…– Intinya, selalu ada pengecualian dari tabiat dasar lelaki atau perempuan ini. Ah, betapa kompleksnya manusia.

Dalam banyak bagian buku ini, terungkap sekian banyak kebingungan dan frustasi kaum perempuan -sebagai pasangan hidup laki-laki- dalam memahami perilaku sang lelakinya. Wajar saja, keduanya memiliki perbedaan kerja otak yang mendasar. Tanpa pengetahuan akan hal tersebut, sulit rasanya menerima perbedaan sikap sebagai hal yang baik-baik saja. Jika tidak paham, sebuah tindakan yang bermaksud baik dapat ditanggapi sebagai penghinaan. Seringkali, perempuan mengeluh bahwa lelaki telah meninggalkannya dengan menilai sikap lelaki melalui otak perempuan.Tidak pas. Nah. setelah memahaminya bersama, –mungkin bisa dibahas berdua sambil menyeduh teh hangat. “Saatnya bicara” Ah, iklan sekali!– rasanya layak untuk ditertawakan bersama pula. “Bodohnya kita, otakmu dan otakku memang berbeda! Ha ha ha….” Simply, that’s the way it is. Jadi, terima saja. Tinggal mereka berdua mempraktekkan strategi tarik-ulur. Kapan mengalah, kapan menuntut. Kapan menggunakan cara kerja otak lelaki, kapan menggunakan cara kerja otak perempuan. Ya, mereka berdua, siapa lagi? Mudah? Ah, tidak juga. Tapi layak dicoba, bukan?

Sebagai penutup, bagi saya, kehadiran buku ini mampu menjelaskan tabiat-tabiat dasar yang dibawa baik oleh lelaki maupun perempuan. Tabiat-tabiat ini, menurut penulis, tetap menjadi faktor dominan yang mempengaruhi cara orang berpikir dan merasa, walaupun faktor budaya telah mempengaruhi manusia untuk terkadang tidak berperilaku sesuai tabiat dasarnya. Maksudnya, tidak peduli dari budaya mana Anda dilahirkan dan dibesarkan, tabiat biologis ini akan menjadi bagian yang dominan dari hidup Anda. Dan karenanya, sayang jika Anda tidak memahaminya. Maksudnya begini, mengapa ambil risiko sampai bercerai jika ternyata hanya dibutuhkan sikap tertentu yang ‘pas’ dalam menghadapi pernikahan yang tampak tak seindah dulu? 😛

Demikian kiranya, cukup sekian, allahu a’lam.

———————————————

Anak: Horeee, selesai juga akhirnya!
Ibu: Sudah larut, Nak. Kau nampak lelah. Tidurlah setelah meminum susu hangat yang Ibu siapkan.
Ayah: Bagus, Nak! Mungkin kelak kau akan membuat buku tentang ini. Ayah mendukungmu!

-nah, mulai lagi percakapan imajiner ini. Sudah ah. Benar-benar sudah :D-

Biologi Lelaki(2): Male Brain

(sambungan dari Biologi Lelaki(1))

Aku adalah lelaki…” (Samsons)

Setelah kita melihat inti dari hubungan otak dan hormon di atas, saatnya membahas salah satu jenis kelamin otak yang menjadi fokus buku ini: Otak Lelaki. Mengingat banyaknya bahasan yang berkaitan dengannya, misalnya mulai dari bagaimana pendapat otak lelaki tentang perasaan dan emosi sampai pekerjaan rumah tangga, maka lebih baik saya comot beberapa poin-poin saja secara acak. Satu sama lain bisa berhubungan bisa tidak. Beberapa bagian yang seru sengaja saya sembunyikan agar kawan penasaran dan terdorong untuk membacanya langsung, hehehe…Tak seru kalau dibuka semua, usaha lah sedikit. (lho, kok??). Mari kita mulai.

  • Testosteron dan Oksitosin
    Ada yang berkelakar bahwa testosteron inilah yang bertanggung jawab terhadap perang dan kekacauan dunia. Hahaha…tak sepenuhnya salah, karena memang hormon inilah yang bertanggung jawab terhadap sikap agresi. Selain itu, sebut saja pengaruhnya pada kecenderungan terhadap seks, kemandirian (independensi), kompetisi, dan ambisi kekuasaan sosial. Bagaimana, terdengar maskulin sekali, bukan? Hormon ini dominan pada lelaki.
    Di sudut ring yang lain berdirilah oksitosin, yakni hormon yang berhubungan dengan kesenangan ibu mengasuh anak, hubungan verbal-emosional, dan keterikatan yang simpatik (intimasi). Seperti yang sudah kawan tebak, hormon ini dominan pada perempuan.
    Selain kedua hormon ini, masih terdapat hormon lain seperti esterogen, progesteron, vasopressin, serotonin, dan sebagainya, yang juga bertanggung jawab terhadap kecenderungan-kecenderungan tertentu. Namun saya menangkap pembahasan menguat pada pengaruh dua hormon ini saja. Sebagai catatan, kandungan hormon-hormon ini mempunyai siklus naik-turunnya. Ada saatnya testosteron yang dominan, ada saatnya oksitosin yang menang. Bahkan sampai ada 12 fase pernikahan berdasarkan siklus ini. Penasaran? Baca bukunya ya 😛
  • Independensi dan Intimasi
    Independensi itu ciri khas lelaki seperti intimasi yang menjadi ciri khas perempuan. Perbedaan ini digambarkan dengan jelas dari dua ungkapan ayah dan ibu melihat anaknya yang beranjak dewasa.
    Ibu: “Anakku sudah besar, dan ia akan segera pergi. Rasanya ia sudah tidak membutuhkan aku lagi. Dia akan pergi meninggalkanku”
    Ayah: “Bagus sekali, Nak! Kau akan segera hidup mandiri dan menemukan jalanmu sendiri. Hidupmu sendiri. Aku hanya bisa menunjukkan jalannya, kaulah sendiri yang harus melaluinya”.
    Bagi pasangan, hubungan yang langgeng adalah hubungan yang mempunyai strategi pengaturan idependensi dan intimasi yang baik. Jangan sangka kalau sudah menikah lama masih ingin intim terus (hei, ini berdasarkan riset penulis, lho). Ada kalanya ingin sendiri, ada kalanya rindu berdua. Begitulah silih berganti. Tak sehat jika terus menerus berintim-ria, apalagi bersendiri-ria, karena demikianlah tabiat jiwa kita ini, ada dinamikanya. Lagipula, bukankah menikah sebenarnya tetap mempertahankan identitas masing-masing walaupun sudah bersatu? Justru itu kan, yang ‘memperkaya’ hubungan?. Ya, Anda betul sekali, saya mulai sok tahu. Mari kita lanjutkan ke bagian berikutnya 😛
  • Pengasuhan paternal (menghargai) dan maternal (membesarkan hati)
    Seorang anak terjatuh saat bermain. Ibu akan berkata, “Kau terjatuh. Apa kau baik-baik saja?”. Ayah akan berkata, “Sudah, tidak apa-apa. Ayo, lanjutkan permainannya”. Well, sebenarnya tergantung jatuhnya seberapa parah sih, kalau sampai patah tulang atau gegar otak, yang jelas Pak Dokter yang akan berkata, hihihi… (lho, orang celaka kok ditertawai?? Eh bukan, ini maksudnya menertawai Pak Dokter berkata itu, bukan ayah atau ibu yang berkata… *halah, dibahas*). Ibu akan cenderung membesarkan hati anak-anaknya. Bersimpati. Sedang ayah cenderung menjaga harga diri anaknya. Me’naik’kannya. Hargailah kekuatan dan ketabahannya. Jatuh tidak masalah. Dia kuat. Jangan sedikit-sedikit, jatuh harga diri. Demikian kiranya.
    Kabar gembiranya adalah kedua sisi ini sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan anak. Ada waktunya saat pertumbuhan dari bayi sampai SD, pengasuhan maternal yang dominan dibutuhkan. Selanjutnya, paternal yang dominan, dan seterusnya.
  • Spasial-Abstrak dan Verbal-Emosional
    Kawan pernah berjumpa pengendara motor / mobil yang berkecepatan rendah tapi mengambil ruang tepat di tengah jalan? Apa, sering?? Hehehe… cobalah tengok pengemudinya, setelah kita klakson dan melewatinya. Hampir semuanya yang saya jumpai adalah perempuan. Wajar saja jika melihat bahwa kecerdasan spasial perempuan tidak sebesar lelaki. Spasial ini maksudnya kecerdasan mengukur diri / objek di dalam ruang. Ruang berarti kiri dan kanan, atas dan bawah, jauh dan dekat. Itulah mungkin penjelasan sederhana pengendara berkecepatan rendah di tengah jalan tadi. Dan itu pula yang menyebabkan lelaki begitu gemar dengan objek dalam ruang. Pandai memperbaiki barang. Sebut saja mobil, mesin, elektronik, komputer, alat musik, bangunan, dan sebagainya. Khusus pada kendaraan, objek ini merupakan objek yang sangat digemari lelaki, berbeda dengan rumah yang sangat digemari perempuan. Sederhananya, kendaraan merupakan manifestasi kekuasaan, kemandirian, petualangan, dan status sosial. Haha, lelaki sekali, bukan?
    Sementara itu, di sisi lain kita juga menjumpai lelaki yang hemat bicara. Sangat hemat. Segan (atau kagok?) orang dibuatnya. Segan istri dan anak dibuatnya, bahkan untuk sekedar meminta pengulangan informasi yang belum jelas. Kalau sudah begini, apalagi mengungkapkan perasaan-perasaan dengan kata-kata. Lupakan. Laki-laki cenderung memiliki kecerdasan verbal-emosional yang lebih rendah daripada perempuan. Bagi lelaki, aksi lebih menarik daripada kata-kata. Bisa saja seorang lelaki menghabiskan berjam-jam memperbaiki mesin mobilnya tanpa bicara sepatah kata pun. Bagi perempuan mungkin itu tampak mengerikan, tapi begitulah dunia lelaki.
    Ketimbang membicarakan perasaannya dengan kata-kata, lelaki memilih untuk menyendiri untuk memulihkan emosinya (pernah dengar istilah lelaki dan ‘gua’nya?). Sikap inilah yang dibaca perempuan sebagai tindakan meninggalkan dirinya. Abang sudah tak cinta lagi karena tak membicarakan masalahnya padaku (perempuan memecahkan masalahnya dengan bercerita, bercerita, dan bercerita). Padahal bukan demikian, karena lelaki itu tetaplah mencintainya. Hanya saja, biarkan aku sendiri dulu. Itu saja.
  • Panggilan hidup
    Bagi lelaki, mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menemukan harga dirinya dibanding perempuan. Perempuan secara inheren telah mendapatkan harga dirinya. Apalagi kalau bukan karena kemampuannya mengandung dan melahirkan anak dari dalam tubuhnya sendiri. Dari rahimnya. Sedangkan laki-laki tak punya rahim. Dia tidak menemukan harga dirinya di ‘dalam’, maka dia harus mencari ke ‘luar’. Berpetualang. Menaklukkan bahaya. Merebut kemenangan. Mendapatkan pekerjaan terbaik. Maka tak heran jika lelaki dengan ambisi sosialnya terus berusaha menonjolkan diri dengan kemampuannya, dengan prestasinya, dengan karyanya. Itulah dorongan terbaik yang dimilikinya. Inilah pula yang membuat kesan lelaki lebih lambat dewasa daripada perempuan. Saat sebagian besar perempuan sudah siap dinikahi (ingat, perempuan tidak punya masalah dengan harga diri), lelaki seumur mereka masih berpetualang ‘menaklukkan dunia’. Membangun harga dirinya.
    Lalu untuk apa itu semua? Harga diri inilah yang memotivasi seorang ayah untuk bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya. Harga diri inilah yang diajarkan ayah pada anaknya kelak. Tanpa harga diri, seorang lelaki tidak akan merasa utuh, seperti layaknya perempuan tanpa kehadiran anak dari rahimnya sendiri.
    Saya merasa bagian ini sudah serius semenjak judulnya, jadi mohon maaf saya tidak membuat lelucon di bagian ini. Tapi Anda tetap boleh tertawa, kok. Terserah alasannya apa. Tapi coba tengok kiri-kanan dulu, pastikan tak ada yang melihat 😀
  • Perempuan dan Ekspektasi terhadap lelaki
  • Biologi Pernikahan
  • Lelaki dan Pekerjaan Rumah Tangga

Dua bagian terakhir ini sengaja saya kosongkan agar kawan penasaran dibuatnya.

Cukup.

Saya tidak akan membahas lebih jauh.

Anda tidak bisa mempengaruhi saya.

Saya tidak akan buka mulut. Percayalah, lebih baik saya diam.

Saya ingatkan sekali lagi, Anda tidak bisa mempengaruhi saya. Saya sudah membuat keputusan. Pergilah dari paragraf tidak penting ini sebelum saya berubah pikiran. Hahaha…

(bersambung ke Biologi Lelaki (3))

Biologi Lelaki(1): Brain Sex

Judul: Apa sih yang si Abang Pikirkan? Membedah Cara Kerja Otak Laki-Laki (What Could He Be Thinking? How Man’s Mind Really)
Penulis: Michael Gurian
Penerbit: Serambi (2005)

Pembahasan tentang biologi jender di buku ini dibuka dengan fakta bahwa otak kita –ya, benda ajaib yang ada di dalam tempurung kepala kita itu– ternyata mempunyai jenis kelamin (Brain Sex). Ada otak lelaki dan ada otak perempuan. Yang satu punya tabiat dan cara kerja yang berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini salah satunya dapat diamati dengan pemindai MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan PET (Positronic Emission Tomography). Pemindai ini mampu menghasilkan gambar-gambar bewarna tentang cara kerja otak. Dan hasilnya, otak lelaki dan perempuan menghasilkan gambar yang berbeda walaupun mereka sedang melakukan aktivitas yang sama. Menarik, bukan? Lalu apa maksudnya perbedaan gambar itu terhadap cara kerja keduanya?

Mari kita mulai dongengnya. Sejak dalam janin ibu, ternyata –betul lho, saya baru tahu hal ini– dengan mekanisme tertentu, sistem hormon pada tubuh ibu akan menyuplai konfigurasi hormon pada otak janin sesuai jenis kelaminnya. Apabila janinnya lelaki (XY), maka konfigurasi hormon lelakilah yang disuplai ke otak.Demikian pula bila janinnya perempuan (XX), maka konfigurasi hormon perempuanlah yang disuplai. (Catatan: Penulis menyebutkan alam lah yang mengaturnya, padahal kita ketahui bersama bahwa Allah lah yang Maha Kuasa atas hal tersebut. Allahu Akbar!) Sebagai contoh, bila janin berjenis kelamin lelaki, maka otaknya akan disuplai oleh lebih banyak hormon testosteron dan lebih sedikit oksitosin. Demikian sebaliknya pada janin perempuan. Selama masa pertumbuhan, hormon-hormon ini akan terus ‘membentuk’ otak. Jangan kaget bahwa ada bagian otak tertentu yang berkembang besar pada perempuan, namun kecil pada lelaki, demikian pula sebaliknya. Sekedar informasi, otak kan pada dasarnya tersusun atas sekian banyak bagian, sebut saja batang otak, corpus colassum, sampai neokorteks. Bagian-bagian ini memegang peran dan fungsi tertentu bagi tubuh, bahkan bertanggung jawab terhadap sikap-sikap tertentu. Nah, akibat perbedaan struktur fisik dan fungsional bagian-bagian otak lelaki dan perempuan inilah (ditambah karakteristik dari hormon yang dikandungnya), maka jelas berbeda pula cara kedua insan ini berpikir, merasa, dan bersikap. Inilah dasar pembahasan buku setebal 400 halaman ini.

Fiuh, istirahat sebentar, ya. Eh ngomong-ngomong, banyak istilah yang kawan tidak paham, ya? Itulah akibat tidak memerhatikan penjelasan guru biologi kita dahulu, hihihi…maklum dulu tak paham apa gunanya belajar hormon selain untuk lulus ujian. Padahal nanti kalau kawan berkesempatan membaca buku ini sampai habis, banyak hal menarik yang membuat kita dapat memahami sikap-sikap kita (dan pasangan kita) sebagai mahluk biologis. Lalu pada akhirnya, lelaki dan perempuan dapat hidup bersama dalam bahtera pernikahan yang langgeng -sampai entah kapan- atas dasar saling memahami tabiat dasar masing-masing. Jreng! Jreng! Inilah sebenarnya harta karun tersembunyi dari buku ini. Sangat baik kiranya kawan yang masih single atau sudah menikah untuk membaca dan merenungkannya baik-baik. Boleh juga dijadikan hadiah jika menjumpai undangan pernikahan seorang teman, dan sebagainya, dan sebagainya. Cukup istirahatnya, lanjut lagi. “Siko ciek, da!” Eh salah, harusnya “Tarik, mang!”

(bersambung ke Biologi Lelaki (2))

Belajar Gitar Klasik

Semenjak kemunculan acoustic fingerstyle guitarist Indonesia, Jubing Kristianto, rasanya bermain gitar klasik terasa lebih menarik untuk dipelajari. Setidaknya karena dua alasan berikut:

  1. Panggilan jiwanya untuk menjadi gitaris profesional membuatnya meninggalkan pekerjaannya sebagai wartawan sebuah tabloid yang sudah lama digelutinya. Tentu ia begitu mencintai alat musik ini dengan beragam bunyi dan komposisi lagu yang bisa dihasilkan dari gitar. Tidak sedikit penghargaan yang sudah diraihnya.
    • Kagum rasanya melihat musisi profesional yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk menggeluti musik. Musik sebagai profesi utama. Dan untuk yang satu ini kawan, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk berlatih. Misalnya saja, menurut sebuah referensi, untuk menjadi pemain biola profesional dibutuhkan waktu berlatih setidaknya 7-8 jam sehari! Persis seperti orang kantoran. Saya rasa tidak jauh berbeda juga untuk alat musik lainnya. Sampai berapa lama? Jika ingin menjadi outliers, setidaknya lakukanlah minimal selama 10 tahun (horeee!).
    • Bergantung pada motivasi Anda bermain musik, Anda dapat menentukan besarnya pengorbanan (waktu, biaya, dan sebagainya) yang akan Anda lakukan. Bagi saya yang tidak bercita-cita menjadi musisi profesional, rasanya cukuplah belajar dan melancarkan permainan setengah sampai 1 jam sehari. Satu jam terasa sudah cukup mewah. Lumayan, selain menghibur diri, rasanya bisa sekalian senam otak 🙂
    • Kapan waktu terbaik untuk berlatih, dan bagaimana? Setiap orang punya waktu-waktu tertentu yang dirasa optimal untuk berlatih musik. Bagi saya, waktu itu adalah pagi hari, saat pikiran dan tenaga masih segar. Berhubung saat berlatih banyak melakukan kesalahan :P, maka pikiran yang segar dan mood yang baik akan sangat membantu. Selain itu, sebelum mulai bekerja (dan berpikir), senam otak di pagi hari akan membantu ‘membangunkan’ dan menyiapkan otak untuk berpikir kreatif. Sebagai referensi, tips berlatih salah satunya dapat dibaca di sini.

    Intinya, musisi profesional telah menginspirasi orang lain untuk menemukan keindahan dan kecintaan yang diwujudkan dalam permainan yang indah dan ‘dalam’. Mendengarnya membuat kita jatuh hati sehingga tertarik untuk ikut mempelajarinya. Untuk kasus gitar klasik ini, walaupun sempat mengikuti les gitar klasik saat SMP, tapi rasanya ‘hambar’ sehingga ditinggalkan. Nah, kehadiran bung Jubing dan permainannya telah membangkitkan kenangan lama dan mengubah rasa ‘hambar’ tadi menjadi ‘manis’. Walaupun terasa ‘pahit’ saat berlatih, tapi kalau sudah bisa, ‘manis’ rasanya. Lebay? Ah dikit-dikit lebay, plis deh 😛

  2. Banyak lagu-lagu Indonesia dalam albumnya yang diaransemen ulang untuk dimainkan dengan gaya acoustic fingerstyle tersebut seperti Ambilkan Bulan, Melati dari Jayagiri, Indonesia Pusaka, Delman Fantasy, Hujan Fantasy, dan sebagainya. Menurutnya, komposisi lagu-lagu Indonesia lama ini tidak kalah menarik dibanding lagu-lagu import. Ini menarik sekali. Setelah diaransemen ulang, lagu-lagu tersebut terdengar ‘ramai’ dan indah. Bangga juga rasanya memainkan lagu Indonesia aseli dalam gaya gitar klasik. Biasanya kan yang dimainkan adalah karya-karya komposer Barat yang kita sama sekali tidak mengerti cerita lagu-lagu itu, atau kalaupun tahu, rasanya tidak nyambung dengan iklim kehidupan tanah air ini. Keren sih kalau sudah memainkan karya-karya klasik yang njelimet dan terasa ‘tinggi’. Lalu orang-orang bertepuk tangan tanda kagum. Kagum karena tampak canggih, walaupun tidak mengerti ceritanya 😛
    Dilihat dari aransemennya, jelas tak mudah untuk dibuat. Jadi, salut untuk bung Jubing yang sudah menyumbangkan karya aransemen lagu-lagu Indonesia untuk gitar klasik. Singkatnya, senang dan bangga memainkan lagu Indonesia dengan gaya acoustic fingerstyle.

Dua alasan ini cukup, kan? 🙂

Lalu, belajarnya mulai dari mana?
Banyak jalan untuk memulai belajar gitar klasik ini. Paling mudah ya ikut kursus. Tak perlu banyak urusan, ikuti saja kurikulum yang sudah disediakan. Atur waktu, bayar gurunya, beli bukunya, selesai urusan. Tapi jangan lupa berlatih dan berlatih. Biasanya untuk yang satu ini butuh motivasi lebih. Secara alami kita akan malas berlatih. Rasanya sudah cukup dengan mengikuti kursus dan hadir saat jam pelajaran. Bangga sudah ikut kursus, padahal kan baru mulai, belum  bisa apa-apa. Seringkali waktu kursus yang hanya setengah jam habis untuk melatih materi pertemuan sebelumnya karena tidak dilatih di rumah. Semakin sulit lagu, semakin butuh waktu berlatih. Jika tidak disikapi dengan baik, sayang uang dan sayang waktu. Lalu akhirnya frustasi karena merasa semakin tertinggal. Semenjak itu siswa tidak pernah datang lagi (gurunya juga tidak mencari), dan les gitar pun berakhir tragis. Bagaimana, terasa menjiwai, bukan? Maklumlah, pengalaman pribadi 😛

Tentu banyak pula siswa yang sukses mengikuti kursus ini. Syaratnya selain bakat, dukungan orang tua, lingkungan, guru, dan fasilitas, tentu tidak lupa berlatih dan berlatih. Sayang sekali tidak ada cara instan bermain musik. Ada sih, kalau melihat judul buku-buku musik rilis terbaru belakangan ini. “Menjadi gitaris handal dalam sehari”,”Cara Cepat Bermain Keyboard”, “Jurus Cepat Menguasai Accord”, dan sebagainya. Sebagai catatan, contoh tersebut bukanlah judul asli buku, saya hanya mengarang indah sesuai ingatan yang intinya menawarkan cara instan jago bermusik. Bisa jadi memang bisa dikuasai dalam waktu singkat untuk jurus-jurus atau lagu-lagu tertentu, tapi biasanya penulis tetap sangat menyarankan untuk memperbanyak latihan. Lagipula, kita membutuhkan bumbu-bumbu kesalahan dan kesulitan untuk mendapatkan feeling yang pas, bukan begitu?

Cara berikutnya adalah dengan otodidak. Belajar sendiri. Sumbernya? Wuih, banyak sekali. Situs, buku, software, apapun namanya banyak sekali memberikan pelajaran semacam jump start atau quick start bermain gitar klasik. Metodenya macam-macam, tinggal pilih sesuai kebutuhan dan kesukaan. Yang jelas tidak ada jaminan mutu, karena tidak ditemani guru yang bersertifikat, hehehe. Tapi yang menyenangkan ada proses berpikir dan merasakan saat belajar. Mau belajar apa dulu, dari mana, bagaimana caranya, berapa lama, kapan saja, setelah ini apalagi, dan seterusnya. Kita jadi lebih fleksibel mengukur dan mengapresiasi diri. Kadang, dalam kursus guru sudah memberikan materi kedua saat yang pertama belum kita kuasai dengan baik. Belum ‘klik’. Wajar saja karena ada tuntutan kurikulum dan waktu. Jalan tengahnya tentu mengkombinasikan otodidak dan berguru. Selain bisa berpikir dan mengatur diri, adanya guru jelas dapat memberikan ilmu lebih berikut umpan balik berupa kritik dan masukan yang kita butuhkan untuk mengembangkan permainan kita.

Jadi, selamat belajar gitar klasik.

Sebagai penutup, tak seru jika tidak dicoba langsung. Berikut ini dari lagu “Ambilkan Bulan”. Selamat mendengarkan.
Oya, mohon maaf jika tidak sebaik aslinya 😀

———————————————-
Keterangan: Gambar diambil dari sini

Culture Shock

Berikut ini saya alihbahasakan dari panduan Beasiswa Erasmus Mundus untuk Mahasiswa di sini.

Riset terhadap efek psikologis dari hidup (dan belajar) di negeri orang menunjukkan beberapa tahap penyesuaian budaya, yakni:

image

  1. Honeymoon (Bulan Madu)
    Anda kagum bukan main dengan negara yang Anda datangi, dan berharap yang indah-indah tentangnya. Segala perbedaan antara budaya dari negara asal dengan negara asing ini nampak begitu positif. Anda mengambil foto dari setiap bangunan yang indah (dan membaginya di Facebook, tentu saja –ini komentar pribadi 😛), mencoba berbagai macam makanan dan minuman lokal, serta berpetualang ke tempat-tempat yang menarik. Anda merasa sangat bahagia.
  2. Rejection (Penolakan)
    Anda mulai menetap, menjalani rutinitas, dan mulai menghadapi kesalahpahaman. Anda merasa tidak kompeten dan mulai melihat kekurangan negeri baru ini. Anda mulai tidak memahami perilaku penduduk lokal saat mereka menunjukkan sikap cuek dan tidak senang berkawan dengan Anda. Anda mulai merasa rindu kampung halaman saat segala sesuatunya mulai berjalan baik. Saat ini wajar jika Anda membuat stereotip terhadap orang-orang Jerman/Belanda/Spanyol/Swedia sebagai orang-orang yang kasar/tertutup/gila/bodoh/arogan…(hey, saya hanya pengalihbahasa…).
  3. Recovery (Pemulihan)
    Anda mulai menyadari perbedaan budaya yang ada. Anda menerimanya, dan beberapa perilaku Anda mulai berubah menyesuaikan perbedaan tersebut. Anda merasa sudah menjadi bagian dari komunitas yang baru. Anda memahami bagaimana kehidupan berjalan di sana sehingga Anda merasa tidak dikucilkan.
  4. Adjusment (Penyesuaian)
    Anda merasa nyaman dan menjalani rutinitas dengan baik. Anda mulai memahami latar belakang munculnya stereotip yang pernah Anda pikirkan sebelumnya.

Tak diragukan lagi setiap orang akan mengalami beberapa fase penyesuaian budaya dalam waktu yang berbeda-beda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Tingkat intensitas masing-masing fase bergantung pada tipe kepribadian, pengalaman hidup, kondisi keuangan, hubungan kekeluargaan, tingkat pendidikan, dan kemampuan berbahasa.

Beberapa hal berikut dapat Anda lakukan untuk menghindari dampak negatif benturan kebudayaan:

  • Pelajari bahasa yang digunakan di negara tersebut dan bergabunglah dengan komunitas masyarakat. Semakin sering Anda mencoba, semakin baik Anda memahami alasan yang mendasari sikap tertentu dari penduduk lokal.
  • Bersikaplah positif, tetap optimis, dan bangunlah sense of humour. Kritik Anda tidak akan mengubah budaya negara tersebut. Jadi, daripada pusing, lihatlah sisi positifnya, dan cobalah menertawakannya.
  • Tetaplah berhubungan dengan keluarga dan teman di negeri asal. Dengan berbagai macam teknologi yang tersedia, Anda akan mudah untuk berbagi dan mendengar kabar dari orang-orang yang Anda sayangi. Hal ini berguna untuk mengusir kesepian dan perasaan tidak mengikuti perkembangan di negeri asal Anda.
  • Berolahraga. Tanpa Anda sadari, tubuh dan otak Anda sedang berada dalam kondisi tertekan saat Anda belajar (yang memang sudah susah) di negeri asing (tambah susah) dengan bahasa asing (makin tambah susah ++). Bantulah tubuh Anda untuk menjaga daya tahannya. Itu akan membantu meningkatkan gairah Anda.
  • Jadilah proaktif. Selain mengatur waktu untuk belajar, jangan lupakan aktivitas ekstrakurikuler, aktivitas sosial bersama teman, dan jalan-jalan.
  • Alokasikan waktu untuk melakukan refleksi. Hal ini berguna untuk menemukan masalah-masalah pribadi yang tersembunyi, yang butuh ditangani segera. Dengan ini, Anda dapat menemukan sikap terbaik untuk membuat waktu belajar di negeri orang terasa menyenangkan.

Menarik, bukan?

Outliers: Tentang Hutang Budi

Buku “International Best Seller” ini adalah buku ketiga Malcolm Gladwell setelah “Blink” dan “Tipping Point” (sudah baca kan? ah tak apa, saya juga belum). Genre buku ini (baca di sampul belakangnya, terbitan Gramedia) tertulis “Non Fiksi-Psikologi Sosial”. Lalu baca tulisan di halaman depannya dan tulisan dengan maksud yang sama di banner yang berada di toko buku. “Rahasia Di Balik Sukses”. “Ternyata tanggal kelahiran mempengaruhi kesuksesan Anda”. Apa yang Anda pikirkan? Ah, lagi-lagi kiat-kiat sukses. Betul, memang ini lagi-lagi. Bedanya, sesuai genre “Psikologi Sosial” tadi, kesuksesan dianalisa dengan variabel yang lebih kompleks ketimbang sekedar rumus generik sukses seperti kerja keras-cerdas dan banyak berdoa. Ow, bagaimana ceritanya?

Alkisah kesuksesan punya wujud yang berbeda-beda, yang tentu saja tidak datang pada setiap orang, pada setiap waktu. Singkatnya, orang-orang yang kebagian sukses tersebut, bisa dikatakan datang pada saat yang tepat, di tempat yang tepat, keahlian yang tepat, dan jangan lupa, dengan latar belakang keluarga yang tepat juga. Berbagai kombinasi ketepatan inilah yang dibahas secara menarik (terima kasih pada hasil terjemahannya yang apik) pada sembilan bab di buku ini. Disertai kisah riwayat hidup orang-orang yang dijadikan studi kasus kesuksesan (merekalah yang disebut outliers), pembaca diantarkan menuju analisis-analisis dan hasil penelitian yang menyimpulkan penyebab kesuksesan mereka (dan hey, ada Steve Jobs dan Apple-nya di sana!).

Dibagi dalam dua bab besar, yakni “Kesempatan” dan “Warisan Budaya”, kesuksesan outliers menemukan kunci-kunci pentingnya (saya rasa beberapa hal dari buku “Tipping Point” cukup berguna di sini). Sebut saja Bill Gates yang mendapatkan serangkain ‘keberuntungan’ lahir di tahun yang tepat, tinggal dan sekolah di tempat yang tepat (tentu sebelum dia drop-out), ditambah bakat dan kerja kerasnya. Paman Bill bahkan mengakui keberuntungannya itu (ok, baiklah jika Anda lebih nyaman dengan kata ‘takdir’. Buku ini menyebutnya ‘kesempatan’). Lalu ada lagi tentang rahasia kecerdasan matematika anak-anak Asia (sayang sekali, Indonesia belum masuk hitungan) yang secara umum lebih baik daripada anak-anak Amerika. Yang ini masuk kategori ‘Warisan Budaya’. Demikian seterusnya dengan contoh-contoh lainnya yang sayang untuk tidak dibaca sampai habis.

Lalu pelajaran apa yang bisa diambil dari buku ini untuk kehidupan kita? Bagi saya setidaknya ada beberapa hal, yakni:

  1. Teruslah berlatih. Oya, saya lupa menyebutkan kaidah 10.000 jam latihan (yang kira-kira 4 jam per hari selama sepuluh tahun) yang harus dilalui orang-orang untuk menjadi outliers. Para outliers di buku ini telah berlatih kira-kira selama waktu itu sebelum mereka bertemu dengan kesempatan yang melambungkan nama mereka. Lalu bagaimana jika rasanya kita sudah terlalu ‘tua’ untuk itu? Maaf kawan, tak ada ampun. Eh, maksudnya dimulai saja menyisihkan waktu itu sekuat tenaga selama masih ada umur. Itulah mengapa latihan sejak kecil dibutuhkan. Kalau sudah usia tanggung, sudah banyak urusannya. Apalagi sudah menikah dan punya anak, beda lagi ceritanya.
  2. Masukan bagi kurikulum pendidikan sekolah (nah, datang lagi). Sehubungan dengan faktor tanggal lahir yang dibahas di sini (baca sendiri ya), ada kiranya keinginan untuk meninjau ulang sistem pendidikan yang secara seragam mengelompokkan anak-anak yang berusia sama (dengan kemungkinan perbedaan bulan kelahiran yang jauh) untuk disatukan  dalam sekali masa penerimaan dalam setahun. (lihat, anak kalimat yang terlalu panjang memang membingungkan. Lengkapnya baca di buku saja ya).
  3. Banyak-banyak berdoa. Walaupun tidak secara tersurat disarankan di buku ini, perihal bab ‘Kesempatan’ tadi jelas urusan Takdir Allah SWT. Kita tidak tahu yang gaib di masa depan, yang bisa jadi merupakan kesempatan emas bagi kita untuk menyemai benih-benih kesuksesan yang sudah ditanam sebelumnya. Mungkin Paman Bill seharusnya bilang “Aku sangat bersyukur” ketimbang “Aku sangat beruntung”.
  4. Kita jelas berhutang budi pada orang tua kita, orang tua dari orang tua kita, sampai orang tua dari orang tuanya orang tua kita (heh, capek). Berkat usaha, kesempatan, dan warisan budaya merekalah kita akhirnya bisa dilahirkan dalam lingkungan yang kita syukuri hari ini. Terlepas dari kekurangan yang ada, mereka telah membawa kita yang datang kemudian, ke dalam masa-masa yang mudah untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan. Oya, sebenarnya kerusakan lingkungan juga kita rasakan, tapi sudahlah. Intinya, kita berhutang budi yang katanya, dibawa mati. Jadi, mari lakukan hal yang sama untuk generasi sesudah kita. Biarlah masalah hutang jasa-jasa orang tua hanya Allah Yang Bisa Membalasnya. Inilai pelajaran yang paling agung yang saya dapat dari buku ini.

Mari kita tunggu apalagi yang datang dari Malcolm Gladwell setelah Outliers ini. Sementara itu, kita masih punya pekerjaan rumah 10.000 jam (lama amat 10 tahun!) dan hutang budi pada orang tua kita. Tentu saja, tak lupa banyak berdoa. Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaa ha illallah wallahu akbar.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑