Catatan Akhir Tahun

Tulisan pertama saya di aprasetyo.wordpress.com ini tercatat pada 24 April 2007. Tulisan itu berupa resensi buku “The Present” yang saya baca di sebuah ruangan di perpustakaan pusat ITB yang nyaman sekali. Saking nyamannya, waktu dua jam saya habiskan sambil bersantai sekaligus menghabiskan buku itu. Karena cukup berkesan, saya tak tahan untuk tidak berbagi. Resensi itu sekaligus mengawali posting pertama di blog yang telah berusia 2 tahun ini.
Apalah arti 2 tahun berbagi lewat tulisan? Apalagi saya tidak cukup rajin untuk menampilkan tulisan baru setiap harinya seperti yang Pak Dosen ini lakukan. Paling saya pasang target setidaknya sekali seminggu ada satu tulisan. Lama kelamaan saya naikkan jadi dua tulisan per minggu. Itupun tidak bisa selalu saya penuhi. Jika dihitung sejak April 2007 hingga Desember 2009 (20 bulan), saya baru mampu menghasilkan 121 tulisan. Ini berarti rata-rata 6 tulisan per bulan, yang artinya tidak sampai 2 tulisan per pekan. Itupun tanpa standar bentuk tulisan yang dimaksud. Bisa berupa tautan video dengan komentar tak panjang, sebuah lelucon, sampai tulisan yang bersambung tiga kali. Mohon maaf pula, masih ada beberapa tulisan yang belum ada sambungannya. Artinya, saya masih belum konsisten menjaga ritme menulis saya. Jika dibandingkan dengan 500 tulisan yang ditulis Bung Karno selama 4 tahun pada usia seperti saya sekarang ini, saya baru bisa mengejar setengahnya. Jelas tak usah dibandingkan dari sisi kualitas. Tulisan Bung Karno ‘menggerakkan’ rakyat, penuh semangat perjuangan, dan kritik keras terhadap pemerintah kolonial Belanda. Berbeda dengan tulisan saya yang hampir semuanya seputar human interest saya pribadi.
Saya memang belum bermaksud untuk ‘menggerakkan’ Anda sebagi pembaca. Saya hanya membayangkan Anda membaca tulisan saya sambil santai. Santai, tapi tetap dapat ‘sesuatu’. Tak heran hampir di setiap paragraf saya bumbui dengan ‘hehehe…” atau 😛 untuk mengikuti gagasan yang saya rasa mulai ‘serius’. Saya tak ingin Anda merasa pusing karena terjebak di paragraf-paragraf tulisan saya. Saya tak mau Anda meninggalkan tulisan saya dengan rasa murung apalagi kecewa. Saya ingin Anda terhibur. Setidaknya, dengan satu senyum simpul di bibir Anda. Ya, seperti ini 🙂 Terima kasih, saya tahu Anda sedang tersenyum sekarang ini. Tema-temanya pun seputar how dan why dari sesuatu yang saya anggap menarik. Sengaja tidak saya bahas tentang opini-opini ‘serius’ yang banyak Anda temukan di situs-situs berita. Selain karena saya tidak menguasai, saya rasa kunjungan Anda ke blog saya bukan untuk mencari bahan perdebatan baru. Cukuplah informasi serius Anda dapatkan di situs-situs tersebut. Selebihnya, bolehlah Anda sedikit terhibur di sini. Tapi saya tidak pernah memaksa Anda untuk tersenyum, lho.
Dari sisi jurnalistik, mayoritas tulisan saya termasuk feature (karangan khas).
Sifat tulisan feature lebih “menghibur” dan “menjelaskan masalah” daripada sekedar “menginformasikan” karena feature adalah tulisan yang menuturkan peristiwa disertai penjelasan riwayat terjadinya, duduk perkaranya, proses pembentukannya, dan cara kerjanya. Ia lebih banyak mengungkap unsur how dan why sebuah peristiwa sehingga mampu menyentuh ketertarikan manusiawi (human interest) atau menggugah perasaan (human touch)
– dikutip dari buku “Jurnalisme Terapan”, karya Asep Syamsul M. Romli –
Ini pula yang menjelaskan frekuensi tulisan saya yang tidak bisa muncul sehari sekali. Proses menulis feature membutuhkan sekumpulan fakta, opini, dan angle yang tepat. Angle yang tepat inilah yang baru bisa saya peroleh maksimal dua kali seminggu, bahkan lebih sering kurang daripada itu. Angle ini sering muncul justru pada saat tidak sedang memikirkannya. Biasanya saat dalam waktu luang di perjalanan pulang, saat menikmati air hangat sepulang kerja, sampai saat sedang tidak khusyu di rakaat-rakaat shalat. Ayolah, Anda juga pernah merasakannya, kan? Saat ide-ide melintas cepat di sela-sela rakaat? Yang penting kita simpan dulu penjabarannya sampai shalat selesai. Jangan dibahas waktu shalat. Nanti makmum serempak mengucap “subhanallah” saat Anda sebagai imam langsung berdiri pada rakaat kedua. Salah satu angle terbaik yang saya dapatkan, juga terbukti dari banyaknya statistik kunjungan ke tulisan tersebut, adalah tulisan tentang chord lagu We Will Not Go Down yang muncul setahun silam. Setahun lalu, saat agresi Israel ke Jalur Gaza. Wajar saja, tulisan itu muncul 1-2 hari setelah penciptanya mempublikasikan lagu tersebut. Pada saat yang sama, saya juga sedang mencoba teknik mendapatkan chord suatu lagu. Lagu itu adalah studi kasusnya. Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Selama menulis di blog, baik blog pribadi maupun berkomentar di blog orang lain, saya merasakan manfaat blog sebagai media tulisan yang membantu mendewasakan penulisnya. Alhamdulillah, saya merasa beruntung telah menulis di blog sebelum social media seperti Facebook (FB) dan mikroblogging seperti Plurk dan Twitter menjejali ruang dan waktu kita di dunia maya. Hal ini membuat saya lebih punya kesempatan untuk mengembangkan semangat menulis dengan serius. Serius artinya ada ide besarnya, lalu dijabarkan pada paragraf lead, sampai paragraf-paragraf berikutnya yang menjelaskan ide besar tersebut. Sehingga, terciptalah tulisan yang utuh. Ada idenya, dan ada bentuknya. Hal ini –silakan jika Anda tidak sependapat– tidak lagi didapatkan di social media atau mikroblogging. Para narablog kini tidak lagi sebanyak dahulu menuliskan idenya secara utuh dalam bentuk tulisan. Update status FB atau Twitter jauh lebih diminati daripada susah payah menyusun tulisan. Cukup 160 karakter di Twitter, Anda dapat menuai respon yang tidak sedikit dari follower atau teman Anda. Perasaan dapat berkomunikasi interaktif dengan lebih singkat dan lebih cepat inilah yang mungkin membuat keduanya begitu digemari daripada blog. Saya sependapat dengan Kang Romel yang berpendapat bahwa jika tidak diwaspadai, kecenderungan lebih asyik di FB daripada blog dapat mematikan budaya dan kreativitas berpikir dan menulis.
Tidak ada penulis manapun yang dapat berkembang tanpa umpan balik dari pembacanya. Dalam blog ini, Andalah, wahai para komentator, salah satu yang membuat saya bersemangat menulis. Saya sadar traffic blog ini belum sepadat para narablog yang menjadi simpul massa. Belum cukup memberi kebanggaan seorang komentator pertama dengan komentar khasnya, “Pertamax!” sebagai gambaran betapa sulitnya menjadi pemberi komentar yang pertama di antara sekian banyak penggemar. Saya senang mendapat komentar, yang hingga tulisan ini dibuat sudah mencapai 617 komentar, termasuk komentar saya sendiri. Jika bagian saya dihilangkan, mungkin tersisa lebih dari setengahnya. Jadi, rata-rata ada 3-4 komentar per tulisan. Mas Trian tercatat sebagai pemberi komentar terbanyak (30) sekaligus pemberi komentar pertama sejak blog ini dibuat. Saya akui bahwa keberanian untuk mempublikasi tulisan dalam bentuk blog, terutama di periode awal blog tercipta, banyak dipengaruhi oleh komentar-komentar awal. Maklum saja, kita belum cukup percaya diri untuk membiarkan orang lain membaca tulisan ‘baru’ kita yang kita nilai tidak penting, tidak tersusun dengan baik, sampai yang kehilangan ide besarnya. Jadi, sekalian saja saya berterima kasih pada mas Trian ini yang telah membesarkan hati untuk tetap nge-blog di periode awal. Walaupun kini bapak satu anak ini sudah jarang nge-blog, tapi sekira 2 tahun yang lalu narablog yang satu ini cukup populer ditandai dengan traffic nya yang tinggi dan komentatornya yang banyak. Rasanya lebih nyaman kalau blog kita ‘tumbuh’ bersama blog kawan-kawan kita, seperti tumbuhnya kemampuan berpikir dan menulis kita.
Terima kasih juga saya sampaikan kepada Rachma yang telah memberikan kreativ blogger award untuk gaya penulisan blog ini. Saya menilai banyak tulisan saya punya anak kalimat yang panjang. Saya sering merasa harus memasukkan sekian banyak ide dalam satu kalimat. Secara bahasa jurnalistik, ini tidak bagus. Oleh karena itu, tulisan-tulisan berikutnya insyaAllah akan lebih baik. Minimal tidak membuat pembaca terengah-engah menyelesaikan satu kalimat yang tidak kunjung selesai. Ide besar gaya penulisan sesuai visi misi blog ini. Saat pembaca menikmati tulisan, saya ingin mereka tidak kesulitan menemukan ide besarnya. Saya ingin mereka mencerna setiap kalimat dengan senang hati. Santai saja, tapi dapat ‘sesuatu’ setelah membacanya. Entah apa saya masih tertarik untuk mempertahankan misi ini. Siapa tahu ada misi lain yang lebih menarik untuk dilakukan. Selama Anda, sebagai pembaca, merasakan manfaat dari tulisan saya, tentu saya akan senang hati untuk tetap menulis, apapun gayanya.
Last but not least, sudah sekian banyak judul saya gunakan untuk blog ini, mulai dari nama sendiri sampai frasa yang saya rasa menarik. Sengaja saya memperbanyak update status FB agar jangan kalah cepat dengan berubahnya judul blog ini, hahaha…Begitu pula tema warna yang saya pilih di template bawaan wordpress ini. Memang rasanya lebih menarik jika punya desain sendiri dengan alamat sendiri, tanpa ada embel-embel wordpress.com. Hal ini saya rasakan lebih ‘menjual’, dan lebih profesional. Someday, insyaAllah.
Thank you, amigos. Thank you for your supports and critics. Terima kasih untuk orang-orang yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang telah memberi warna tulisan saya. Mari kita tetap menulis, karena:
“Hanya mereka yang merasa hidup ini menarik dan mereka yang ingin membantu memajukan kota dan dunia yang patut terjun di bidang jurnalistik”
– dikutip dari buku “Jurnalisme Terapan”, karya Asep Syamsul M. Romli –

Setengah Isi, Setengah Kosong

Filosofi yang kita sering dengar dalam melihat wujud gelas yang setengah isi dan setengah kosong adalah sebagai berikut:

  • OPTIMIS: “Gelas ini terisi setengahnya”.
  • PESIMIS: “Gelas ini kosong setengahnya”.

Optimis berpikir kelimpahan, sedangkan pesimis berpikir kekurangan. Demikian filosofi umum yang melihat gelas tersebut berdasarkan KEADAANnya,  yakni kondisi SAAT INI. SAAT INI gelas bisa dalam keadaan setengah isi atau setengah kosong. Setengah isi atau setengah kosong menggambarkan seseorang melihat kelebihan dan bersyukur atau melihat kekurangan dan mengeluh.

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan perspektif baru memaknai gelas setengah isi – setengah kosong ini. Ketimbang menilai KEADAAN gelas pada SAAT INI, kita dapat menilainya dengan PROSES apa yang SEDANG TERJADI pada gelas tersebut. Apa jadinya isi gelas tersebut di MASA DEPAN. Begini maksudnya:

  • OPTIMIS: “Gelas ini SEDANG DIISI. Beberapa waktu kemudian ia AKAN PENUH”.
  • PESIMIS: “Gelas ini SEDANG DIKOSONGKAN. Beberapa waktu kemudian ia AKAN KOSONG”.

Beda dengan yang pertama, perspektif yang kedua mengamati PROSES YANG SEDANG TERJADI pada gelas tersebut. Setengah isi menggambarkan optimisme bahwa masa depan akan lebih baik, “wah, sudah terisi sebagian!”. Bisa saja sebenarnya orang berpikir AKAN PENUH tapi melihat pada sisi kosongnya, “kurang sedikit lagi nih airnya!”. Demikian pula berpikir AKAN KOSONG juga bisa dilihat dari dua sisi tersebut, tapi dengan pandangan bahwa masa depan akan sulit. Minimal kita akan kehabisan air :P.

Mungkin ada lagi pandangan lainnya, Anda mau menambahkan?

Ket: Gambar diambil dari sini

Outliers: Tentang Hutang Budi

Buku “International Best Seller” ini adalah buku ketiga Malcolm Gladwell setelah “Blink” dan “Tipping Point” (sudah baca kan? ah tak apa, saya juga belum). Genre buku ini (baca di sampul belakangnya, terbitan Gramedia) tertulis “Non Fiksi-Psikologi Sosial”. Lalu baca tulisan di halaman depannya dan tulisan dengan maksud yang sama di banner yang berada di toko buku. “Rahasia Di Balik Sukses”. “Ternyata tanggal kelahiran mempengaruhi kesuksesan Anda”. Apa yang Anda pikirkan? Ah, lagi-lagi kiat-kiat sukses. Betul, memang ini lagi-lagi. Bedanya, sesuai genre “Psikologi Sosial” tadi, kesuksesan dianalisa dengan variabel yang lebih kompleks ketimbang sekedar rumus generik sukses seperti kerja keras-cerdas dan banyak berdoa. Ow, bagaimana ceritanya?

Alkisah kesuksesan punya wujud yang berbeda-beda, yang tentu saja tidak datang pada setiap orang, pada setiap waktu. Singkatnya, orang-orang yang kebagian sukses tersebut, bisa dikatakan datang pada saat yang tepat, di tempat yang tepat, keahlian yang tepat, dan jangan lupa, dengan latar belakang keluarga yang tepat juga. Berbagai kombinasi ketepatan inilah yang dibahas secara menarik (terima kasih pada hasil terjemahannya yang apik) pada sembilan bab di buku ini. Disertai kisah riwayat hidup orang-orang yang dijadikan studi kasus kesuksesan (merekalah yang disebut outliers), pembaca diantarkan menuju analisis-analisis dan hasil penelitian yang menyimpulkan penyebab kesuksesan mereka (dan hey, ada Steve Jobs dan Apple-nya di sana!).

Dibagi dalam dua bab besar, yakni “Kesempatan” dan “Warisan Budaya”, kesuksesan outliers menemukan kunci-kunci pentingnya (saya rasa beberapa hal dari buku “Tipping Point” cukup berguna di sini). Sebut saja Bill Gates yang mendapatkan serangkain ‘keberuntungan’ lahir di tahun yang tepat, tinggal dan sekolah di tempat yang tepat (tentu sebelum dia drop-out), ditambah bakat dan kerja kerasnya. Paman Bill bahkan mengakui keberuntungannya itu (ok, baiklah jika Anda lebih nyaman dengan kata ‘takdir’. Buku ini menyebutnya ‘kesempatan’). Lalu ada lagi tentang rahasia kecerdasan matematika anak-anak Asia (sayang sekali, Indonesia belum masuk hitungan) yang secara umum lebih baik daripada anak-anak Amerika. Yang ini masuk kategori ‘Warisan Budaya’. Demikian seterusnya dengan contoh-contoh lainnya yang sayang untuk tidak dibaca sampai habis.

Lalu pelajaran apa yang bisa diambil dari buku ini untuk kehidupan kita? Bagi saya setidaknya ada beberapa hal, yakni:

  1. Teruslah berlatih. Oya, saya lupa menyebutkan kaidah 10.000 jam latihan (yang kira-kira 4 jam per hari selama sepuluh tahun) yang harus dilalui orang-orang untuk menjadi outliers. Para outliers di buku ini telah berlatih kira-kira selama waktu itu sebelum mereka bertemu dengan kesempatan yang melambungkan nama mereka. Lalu bagaimana jika rasanya kita sudah terlalu ‘tua’ untuk itu? Maaf kawan, tak ada ampun. Eh, maksudnya dimulai saja menyisihkan waktu itu sekuat tenaga selama masih ada umur. Itulah mengapa latihan sejak kecil dibutuhkan. Kalau sudah usia tanggung, sudah banyak urusannya. Apalagi sudah menikah dan punya anak, beda lagi ceritanya.
  2. Masukan bagi kurikulum pendidikan sekolah (nah, datang lagi). Sehubungan dengan faktor tanggal lahir yang dibahas di sini (baca sendiri ya), ada kiranya keinginan untuk meninjau ulang sistem pendidikan yang secara seragam mengelompokkan anak-anak yang berusia sama (dengan kemungkinan perbedaan bulan kelahiran yang jauh) untuk disatukan  dalam sekali masa penerimaan dalam setahun. (lihat, anak kalimat yang terlalu panjang memang membingungkan. Lengkapnya baca di buku saja ya).
  3. Banyak-banyak berdoa. Walaupun tidak secara tersurat disarankan di buku ini, perihal bab ‘Kesempatan’ tadi jelas urusan Takdir Allah SWT. Kita tidak tahu yang gaib di masa depan, yang bisa jadi merupakan kesempatan emas bagi kita untuk menyemai benih-benih kesuksesan yang sudah ditanam sebelumnya. Mungkin Paman Bill seharusnya bilang “Aku sangat bersyukur” ketimbang “Aku sangat beruntung”.
  4. Kita jelas berhutang budi pada orang tua kita, orang tua dari orang tua kita, sampai orang tua dari orang tuanya orang tua kita (heh, capek). Berkat usaha, kesempatan, dan warisan budaya merekalah kita akhirnya bisa dilahirkan dalam lingkungan yang kita syukuri hari ini. Terlepas dari kekurangan yang ada, mereka telah membawa kita yang datang kemudian, ke dalam masa-masa yang mudah untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan. Oya, sebenarnya kerusakan lingkungan juga kita rasakan, tapi sudahlah. Intinya, kita berhutang budi yang katanya, dibawa mati. Jadi, mari lakukan hal yang sama untuk generasi sesudah kita. Biarlah masalah hutang jasa-jasa orang tua hanya Allah Yang Bisa Membalasnya. Inilai pelajaran yang paling agung yang saya dapat dari buku ini.

Mari kita tunggu apalagi yang datang dari Malcolm Gladwell setelah Outliers ini. Sementara itu, kita masih punya pekerjaan rumah 10.000 jam (lama amat 10 tahun!) dan hutang budi pada orang tua kita. Tentu saja, tak lupa banyak berdoa. Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaa ha illallah wallahu akbar.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑