Kungfu: The Legend Continues

kung_fu_the_legend_continues-showKungfu: The Legend Continues. Yes, that’s the title of my favorite TV serial on RCTI back there in 1990s (what? that’s more than 10 years ago). It becomes my favorite at least for two reasons. First, i admire the old-wise-monk character, Kwai Chang Caine, which is a father of a 30-year-old LA cop. Though he’s not young anymore, he’s really good at kungfu and Tai Chi (CMIIW, in one of the episode, even bullets can’t stop him). He becomes a good father that always there for his growing-up son (hey, his son is 30 years old, what you mean growing-up?). In his calm way, Mr. Caine helps his son to solve the case, helps his son to find wife, and specially, teaches his son the wisdom of life from the spirit of Kungfu (okay, we can argue about this later). Misunderstanding between them who come from two different worlds –old and new world– happens everytime, but somehow they learn to understand each other. But please, don’t ask me why Mr.Caine misteriously dissapear  when he thinks he must go somewhere else after helping his son fighting the bad guys. Enough for Mr.Caine. The second reason is, in that time, RCTI is the only TV station that had ‘good’ TV serials, so let’s forget about having ‘Bioskop TransTV at night (gee, where are you living anyway? in what year?). Ok, back again to Mr.Caine (i mean, in the next paragraph).

Last week i read a news about the death of Mr. David Carradine,  the actor who played Kwai Chang Caine. Sad to hear that. His good role in that Kungfu serial made me interesting on Kungfu and Tai Chi (okay, for 10-years-old boy, a martial art that moves elegantly and still able to knock down the enemies without hitting hard on them, is very interesting). He produces several video lessons about Kungfu and TaiChi that makes him more famous. I bought one of them to learn Tai Chi (you can find it easily in Gramedia Book Store). It’s a good and easy-to-follow Tai Chi tutorial. If you think that doing slow movement in Tai Chi makes you fell that you’re part of old-ages doing the same thing at city park in the morning, than you’re half right. Young-ages should also practice their breathing, while at the same time, adjust their body movement with the harmony of the nature (hm, nice).

So, Mr.Carradine taught me Tai Chi years after “Kungfu: The Legend Continues” has gone throughout the history of my childhood. My sympathy to his family and relatives. Good bye, Mr. Caine.

‘Sibuk’nya kita

photo_3601_20090117

Rabb kalian berfirman: ‘Wahai anak Adam, beribadahlah engkau kepadaKu dengan sungguh-sungguh, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam, janganlah engkau menjauh dariKu: jika Engkau menjauh dariKu, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan‘ “ (H.R. Thabarani dan Hakim)

Kok rasanya ‘kena’ sekali ya, hadits ini? Astaghfirullah…

* Mohon pamit sebentar… silakan tinggalkan komentar-komentar yang dirasa perlu, insyaAllah baru bisa direspon seminggu kemudian. Trims 🙂

** Gambar dari FreeDigitalPhotos.net

Malu datang ke acara walimah

Seorang tetangga kantor mengadakan acara walimah untuk menikahkan anak perempuannya pada hari Minggu. Hari Senin saya bertanya pada petugas jaga kantor, sebut saja Pak Ari, tentang acara walimah yang diadakan pada hari Minggu. Sekedar ingin tahu.

“Rame gak Pak, acaranya?”
“Ya, di gedung. Rame kayanya mah”
“Bapak dateng?”
“Engga, malu”
“…”
“Tapi diundang kan?”
“Diundang…”

Saya kehabisan kata. Saya pikir percakapan tentang pernikahan dan acaranya seharusnya jadi percakapan yang menyenangkan. Setidaknya acara makan gratis dan jalan-jalan keluarga. Tapi yang ini beda, dan baru saya sadari.

Bagi Pak Ari, acara walimah di gedung membuatnya urung datang. Bisa jadi karena beliau malu untuk datang ke gedung yang mewah dan dihadiri oleh orang-orang yang kebanyakan punya status ekonomi menengah ke atas. Hal itu membuatnya malu, entah karena mungkin tidak punya pakaian resmi yang pantas untuk acara se-level itu atau tak ada hadiah yang bisa diberikan? Atau karena tak ada seorang pun yang dikenalnya di sana? Sehingga tak bisa bersantai makan siang sambil mengobrol dengan orang-orang?

Entah apa alasannya, yang pasti alasan “karena malu” itu agak menohok. Bukankah walimah merupakan acara yang penuh berkah, saat beribu doa mengiringi kedua mempelai memasuki fase kehidupan yang baru? Saat Rasul kita memerintahkan untuk mengundang anak-anak yatim untuk ikut berbahagia bersama? (Dengan mengundang anak yatim, tentu yang empunya acara harus paham menyusun acara yang sesuai dengan atmosfer undangan). Tapi yang sering terjadi justru acara walimah merupakan saat yang tepat untuk menunjukkan status ekonomi pihak penyelenggara. Diselenggarakan di gedung yang megah. Makanan yang banyak. Pakaian dan dekorasi yang wah. Undangan dan tamu dari kelas VIP. Kalau perlu saat pengantin pergi ke lokasi dari rumah hendaknya dikawal vooridjer.

Ada berapa banyak kiranya yang berpikiran sama dengan Pak Ari saat diundang ke acara walimah? Apa seharusnya acara walimah dibuat sederhana saja? Bagaimana kalau tamunya banyak? Bagaimana kalau bos sang ayah yang milyarder itu diundang? Tak mungkin di gedung sederhana dengan pakaian yang tidak wah. Ah, daripada pusing mengakomodasi semua kalangan, sudah saja disesuaikan dengan status ekonomi keluarga penyelenggara. Mohon maaf kalau ada yang malu datang, kami sudah berusaha membuat acara yang tidak mewah. Kami coba membuatnya sehangat mungkin sehingga para undangan nyaman.

Eh, tapi tunggu dulu. Bagaimana kalau kedua mempelai tidak datang dari keluarga dengan status ekonomi yang sama? Ow, bukannya itu salah satu nilai plus jika setelah menikah ada keluarga yang bisa membaik status ekonominya? Lagipula, mereka kan kini satu keluarga besar, mengapa dipermasalahkan? Eh, kok kayanya alinea ini gak nyambung dengan judul dan alinea-alinea sebelumnya ya? -_-‘

Blog at WordPress.com.

Up ↑