A Little Trip to Solo and Jogja

“Gung, ini lho Laweyan yang terkenal batiknya itu …”, kata Pakde saya saat memboncengi saya melewati sebuah kawasan di kota Solo.
“Oh iya, Pakde”, sahut saya cepat. Saya bergumam.
Laweyan? Batik? Terkenal? Kok saya baru dengar ya? Apa karena saya tak bersekolah di Jawa jadi saya tak tahu Laweyan dan batiknya? Apa karena buku sejarah tak memasukkan Laweyan dalam bab-babnya? Apa pentingnya memasukkan kota penghasil batik? Atau karena saya yang tidak peduli? Atau… (semoga cerita tentang batik ini bersambung di tulisan berikutnya…)

“Nah, ini Kalitan tempatnya Pak Harto itu lho”, sambung Pakde saya lagi.
“Oh iya, Pakde, saya tahu!”, jawab saya.
Nah, kalau yang ini saya tahu dari TV waktu Pak Harto wafat tempo hari. Aha, ternyata tak buta benar lah tentang Solo hahaha…

Stasiun Purwosari Demikian seterusnya Pakde saya bercerita saat mengantarkan saya berkeliling kota Solo. Selalu menarik mengikuti ceritanya dan cara beliau menceritakannya. Sebut saja tempat-tempat di Solo seperti Keraton Solo (Kasunanan Surakarta), Pasar Klewer, Laweyan, Kalitan, Stasiun Solobalapan, Stasiun Purwosari, dan sebagainya. Tak lupa kami melewati pabrik PT. Batik Keris yang luasnya bukan main itu, dan saat di Jogja bertemu dengan cerita batik Danar Hadi yang aslinya dari Solo tersebut. Pakde saya sendiri tinggal di Kabupaten Sukoharjo, di luar kota Solo. Tulisan kali ini sedikit banyak berbagi tentang dua kota yang saya dan kakak saya singgahi dalam ‘A Little Trip’ ke Solo dan Jogja sepekan yang lalu.

Solo “The Spirit of  Java”
Jalanan Kota Solo bersih dan mulus (hei, saya tidak bilang jalanan Bandung kotor dan berlubang, ya 😛). Kota Solo tidak terlalu besar, sehingga tata kotanya pun bisa dibuat tidak semrawut. Lampu merah yang terpasang di jalan besar dilengkapi dengan penanda waktu hitung mundur  sehingga pengemudi tahu sisa waktu sebelum lampu merah / hijau berakhir. Fasilitas ini cukup sederhana, tapi cukup membantu psikologis pengemudi. Pertokoan jelas tidak seramai kota besar, dan seingat saya hanya ada 2 mall di Solo.

Pasar Klewer adalah daya tarik utama dan pusat oleh-oleh kota Solo. Di sini dijual berbagai macam batik, baik kain maupun pakaian jadi. Ratusan (ribuan?) lapak di dalam pasar menjual berbagai motif batik yang beraneka rupa. Sempat heran mengapa tak habis orang mengarang motif batik. Luar biasa. Pakaian anak, perempuan, laki-laki, tinggal pilih. Kalau menawar harga, awalilah dengan setengah dari harga yang ditawarkan. Lebih baik lagi kalau ditawar dengan bahasa Jawa, sehingga tidak nampak sebagai pendatang. Pengalaman kemarin, untuk pakaian yang sama antara satu pedagang dengan pedagang lain bisa selisih 20ribu-an. Dari banyak pilihan inilah kita melatih selera kita akan motif dan barang yang bagus.

Oleh-oleh Solo Kuliner khas Solo? Ada intip yang bahannya mirip rengginang itu, tapi disajikan dalam bentuk seperti mangkok besar diolesi pemanis dari campuran gula Jawa yang lengket di gigi hihihi. Karena ukurannya yang seperti mangkok itu, agak repot membawanya, tak heran salah satunya hancur lebur saat sampai rumah. Makanan lainnya adalah tengkleng, yakni seperti tongseng. Ya betul! Jeroan, man! Isinya? Ya..jeroan, ditambah kuah yang sedap disantap saat berbuka (halah, makanan apapun mah sedap saat perut kosong…). Harap berhati-hati mengkonsumsinya bagi bapak-bapak dan ibu-ibu yang punya koleterol dan asam urat. Yang tidak kalah segarnya adalah susu segar yang dijual hanya pada malam hari. Susu ini berasal dari peternakan sapi di Boyolali yang dikirim pada sore hari, sehingga baru bisa dijual di malam harinya. Saat bulan puasa, waktu ini pas sekali. Setelah berbuka dan makan berat, saatnya minum susu hangat untuk daya tahan tubuh esoknya hmmm yummy (woi, tarawih bro, malah minum susu *halah*).

Jogja “Never Ending Asia
Siapa sih yang tidak kenal Jogja sebagai Kota Budaya dan Wisata itu? Pemerintah kota nampak serius membangun citra dan sarana kota ini sebagai kota wisata. Sarana jalan dan taman terpelihara dengan baik (saya lagi-lagi tidak bilang jalan dan taman di Bandung tidak terawat ya 😛), terutama kawasan sekitar Malioboro. Ehm, kecuali tempat parkirnya yang cepat penuh, tentu saja. Jalanan tidak berlubang dan sama seperti di Solo, lampu merah dilengkapi penanda waktu yang membantu psikologis pengemudi itu. Jangan lupa dengan Trans Jogja (seperti Trans Jakarta) yang melayani rute-rute keliling kota, bahkan sampai ke arah candi Prambanan. Sayang akibat singkatnya waktu kunjungan, tak sempat dicoba. Kami juga tak sempat mengunjungi Kaliurang (seperti Lembang-nya Bandung), Prambanan, atau Borobudur di sekitar Jogja. Suasana kota jawa, pedagang, sepeda tua, kereta keraton, kebaya jawa, blangkon, keris, gudeg, bakpia, semuanya ada. Termasuk warnet yang tersebar di mana-mana (betul lho, banyak sekali warnet di Jogja). Tak lupa pula mengunjungi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang punya masjid kampus yang bagus itu lho.

Gudeg Makanan khas Jogja? Pasti juga sudah hafal dengan rasa Gudeg dan Bakpia. Pemandu lokal dapat membantu kita menemukan gudeg dan bakpia yang enak. Selain itu dapat pula mencoba mangut (semacam seafood yang diasapi. Aroma daging asapnya terasa sekali), atau nasi gandul yang sejatinya berasal dari Pati, Jawa Tengah.

Malioboro. Sudah tahu lah soal lokasi ini, cuma ada yang terkenal kalau soal urusan belanja. Mirota Batik dan Pasar Beringhardjo. Mirota Batik terkenal karena koleksinya yang lengkap dan harganya yang pas (tak perlu ditawar). Biasanya orang menjadikan harga di Mirota sebagai referensi harga jika ingin berbelanja di sekitarnya. Kata orang sih harga di Mirota tidak terlalu mahal / murah. Di sini tersedia kain batik dan pakaian jadinya (yang lagi-lagi membuat saya heran betapa banyaknya motif yang bisa diciptakan) dan beraneka ragam kerajinan berikut printilan-printilan yang membuat mbak-mbak dan ibu-ibu betah berlama-lama di dalamnya. Di sini kepekaan kita akan motif dan barang bagus kembali diuji. Toliet MirotaSuasana tempat belanja pun dibuat cukup nyaman, bahkan toiletnya pun dibuat dengan dengan sentuhan seni. Kami sempat dua kali berkunjung sebelum pulang. Biasa, ada titipan oleh-oleh, mulai dari kain sampai gantungan kunci. Saking banyaknya yang dijual, saya malas merinci satu persatu. Datang dan lihat sendiri saja ya, hehehe.

Pasar Beringhardjo Di seberang jalan dari Mirota, di situlah pintu masuk pasar Beringhardjo. Setelah masuk, apa yang dilihat? Batik lagi, batik lagi. Tak habis-habisnya. Dugaan saya pasar ini lebih besar atau setidaknya sama dengan Pasar Klewer di Solo tadi. Lalu belanja apa? Ya…batik! Mencari apa yang tidak ada di Mirota atau sengaja mencoba peruntungan mendapat harga yang lebih murah. Di sini aturan penawaran harganya lebih dahsyat. Penawaran pertama adalah sepertiga dari yang ditawarkan! Ah, mbak-mbak dan ibu-ibu lebih ahli soal tawar menawar ini. Saya sih ikut saja dan diam-diam belajar ‘sadis’ menawar hihihi. Padahal kalau Rasul kan malah ditambahi ya harganya hehehe. Ah, sudah lama pula tak mendengar ramai-ramai orang tawar menawar pakai bahasa Jawa. Selain batik, cinderamata lain juga bisa ditemui di sini.

Di akhir kunjungan, saya tertarik dengan kain yang motifnya bagus, yang saya temukan di Mirota. Kami mencoba mencarinya di Beringhardjo, tetapi nihil. Aneh, barang bagus kok ndak dijual di tempat lain. Akhirnya, saya membelinya di Mirota. Betapa terkejutnya setelah saya lihat, ternyata kain ini is made in China! Saya kira buatan lokal, toh dijualnya di Jogja, di pusat batik. Memang benar adanya serangan batik asal Cina sudah mulai terasa. Batik diserang Cina, hak cipta diakui Malaysia. Wadow, saatnya menyerang balik nih. Empire strikes back kalau kata Star Wars. Ada ide mulai dari mana? Bagaimana kalau sejenak melihat masa kejayaan bisnis batik para santri yang pernah dibahas di Majalah Gatra tahun 2006. Dari sana akan nampak penyebab munculnya juragan-juragan batik masa lalu di kota-kota seperti Solo, Pekalongan, dan sebagainya. Juga analisa penyebab tumbangnya bisnis-bisnis tersebut di masa orde baru hingga hari ini. Oya, termasuk serbuan kain asal Cina itu. Semoga sempat saya bahas di tulisan berikutnya.

Berikut moda transportasi yang kami gunakan dalam trayek Bandung-Solo-Jogja-Bandung:

  1. KA Lodaya Malam tujuan Bandung-Solo
    Perjalanan kami mulai pada Jum’at malam pukul 20.00 WIB menaiki KA Lodaya Malam jurusan Bandung-Solo dan tiba di Solo pada hari Sabtu pukul  05.15 WIB di Stasiun Solobalapan. Ya betul, kami memulai puasa tahun ini dengan bersahur di kereta malam. Asyik, bukan?
  2. KA Prambanan Ekspres (Prameks) tujuan Solo-Jogja | Tarif Rp. 8.000
    Karcis Prameks PrameksMinggu siang kami menaiki KA Prameks (Prambanan Ekspres) jurusan Solo-Jogja, berangkat pukul 11.00 WIB dari Stasiun Purwosari dan di Stasiun Tugu, Jogja pukul 13.00 WIB. Agak lama memang, karena sesuai saran Pakde, kami lebih baik naik Prameks dari Purwosari tidak langsung ke Jogja, tapi ikut dulu sampai melewati stasiun Solobalapan, Jebres, dan Palur. Dari Palur, Prameks putar arah menuju Jogja melewati kembali Jebres, Solobalapan, Purwosari, Klaten, dan seterusnya. Mengapa? Berdasarkan pengalaman, saat hari libur Prameks kebanjiran peminat orang Solo yang hendak berekreasi ke Jogja, begitu pula sebaliknya. Pergi pagi, pulang sore. Kebanyakan orang akan naik langsung Prameks yang langsung menuju Jogja. Agar kami dapat tempat duduk, tidak apa ikut memutar dulu sebelum Prameks menuju Jogja. Eh, ternyata tidak terlalu ramai, mungkin karena sedang bulan puasa, tak banyak orang yang ingin jalan-jalan.
  3. KA Lodaya Malam Jurusan Jogja-Bandung
    Stasiun Tugu Senin malam kami pulang dengan Lodaya Malam, berangkat dari Stasiun Tugu Jogja pukul 21.30 WIB sampai Stasiun Bandung pukul 06.05 WIB. Ini kali keduanya kami kembali sahur di kereta malam. Rasanya cukup dua kali saja hehehe. Oya, kekurangan naik kereta malam adalah melewatkan pemandangan indah yang bisa disaksikan dari kereta Lodaya dalam perjalanannya dari/menuju Bandung.

Ah, terlalu singkat perjalanan kali ini. Semoga masih ada jodoh di lain waktu mengunjungi lebih banyak tempat dan mengenal lebih banyak budaya masa lalu yang masih terpelihara. Berkunjung ke kota-kota budaya ini seperti merasakan waktu yang terperangkap di sana. Kalaupun keluar, debitnya tidak sederas di Bandung / Jakarta. Entah sampai kapan seperti itu. Jika melihat pedagang mbok-mbok yang berusia lanjut, lalu membandingkannya dengan remaja-remaja usia tanggung, rasanya tak lama lagi. Ah, semoga tidak, lha wong budaya itu aset yang penting sekali, minimal sebagai identitas bangsa. Sampai Malaysia rela mempermalukan diri sendiri mengakui budaya orang lain. Ups,  mulai lagi nih. Sudah ah, sudah beda topik, di tulisan yang lain saja kali yaaaa…

Album Biru

Foto_Kecil_@Airport

kubuka album biru
penuh debu dan usang

kupandangi semua gambar diri
bersih putih belum ternoda

Anda punya album kumpulan foto masa kecil? Saat sepeda roda tiga Anda lebih tinggi sedikit daripada Anda? Saat Anda masih suka berlari-lari ke sana ke mari, bermain air, atau membuat nangis anak tetangga? Saat tubuh dan muka Anda begitu menggemaskan untuk digendong dan dicubiti? Saat Anda masih disuapi bubur di pagi hari, lalu sebelum tidur Anda diceritakan dongeng pengantar tidur? Atau saat kedua orang tua Anda lebih ramping sedikit daripada kini?

Beruntunglah jika album-album yang berisi foto kekuning-kuningan itu masih ada, dan berusahalah untuk menjaganya Siapa tahu di sana, ada jendela untuk melihat siapa dulunya kita, siapa yang membantu kita saat kita begitu ‘bodoh’, lugu, dan tidak berdaya, dan ribuan memori yang dihapal betul oleh orang tua kita.

pikirkupun melayang
dahulu penuh kasih
teringat semua cerita orang
tentang riwayatku

Tak ada salah dan malunya jika saat hati sedang keras akibat merasa diri sudah hebat, pintar, dan berbakat bukan main, album ini dibuka lagi. Mungkin di sana ada gambar kita sedang dipangku, digendong, disuapi, ditidurkan, dibawa jalan-jalan, dan difoto, tentu saja. Begitu tergantung dengan orang lain, bukan? Orang lain? begitu caramu menggunakan kata ganti untuk orang tuamu sendiri? Baiklah kawan, tenang, kuralat kalimat ini. Begitu tergantung dengan orang tua, bukan? Bagaimana, puas kau? Nah, lebih baik lagi album itu dibuka bersama orang tua. Saatnya diam. Tanyakan cerita yang ada di satu foto yang kita tunjuk. Dengarkan, dengarkan cerita mereka tentang foto itu. Tentang tanggalnya, tempatnya, orang-orangnya, dan tentu saja, dirimu yang menjadi pusat perhatian foto itu. Biarkanlah tawa dan haru muncul. Tak masalah jika ada sedikit air mata. Rasakan saja kebahagiaan mereka menceritakan dirimu. Dengarkan, dengarkan baik-baik.

kata mereka diriku slalu dimanja
kata mereka diriku slalu ditimang

Nada-nada yang indah
slalu terurai darimu

tangisan nakal dari bibirku
takkan jadi deritamu

Mungkin tak banyak yang kita ingat. Beberapa orang di foto-foto itu mungkin sudah tiada. Atau pergi tak kembali. Begitu cepat waktu berlalu. Begitu cepat kita tumbuh. Lalu begitu cepat pula kita merasa hebat, dan melupakan masa kecil yang serba tergantung. Kacang lupa kulit? Ah, mungkin terlalu berlebihan disebut demikian. Jika begitu, masihkah kelak kita siap menjadi tempat orang tua kita bergantung? Lalu kita coba buat foto album lagi. Bahagiakah isinya? Sebahagia orang-orang di album masa kecil? Kita lihat saja. Semoga.

tangan halus dan suci
tlah mengangkat tubuh ini
jiwa raga dan seluruh hidup
rela dia berikan

oh bunda, ada dan tiada dirimu
kan selalu ada di dalam hatiku

(Bunda, Melly Goeslaw)

Kita dan Bahasa Daerah yang Memunah

Salah satu berita di halaman depan harian Kompas 23 Mei 2007 menarik perhatian saya pagi ini (sekaligus tersindir), judulnya “Bahasa Daerah Memunah”. Berikut ini ulasan awalnya,

“Kepunahan bahasa, terutama bahasa daerah, menjadi masalah serius yang juga perlu perhatian pemerintah dan masyarakat. Sebab, proses kepunahan bahasa ini akan diikuti dengan kepunahan budaya dan pada akhirnya kepunahan masyarakat”

Wah. Pendapat ini disampaikan oleh Prof. Arif Rachman yang kemarin (Selasa, 22 Mei 2007) dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu pendidikan bahasa Inggris pada Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) (Selamat, Pak!). Beliau berpendapat,

“Kepunahan bahasa daerah di Indonesia, seperti terhimpun dalam Atlas of The World’s Languages in Danger of Disappearing karya Stephen A Wurm (2001) yang diterbitkan UNESCO menunjukkan fenomena itu. Di Sulawesi, misalnya, dari 110 bahasa daerah, 36 bahasa terancam punah dan satu sudah punah. Di Maluku, 22 bahasa terancam punah dan 11 sudah punah dari 80 bahasa daerah yang ada. Ancaman kepunahan cukup besar ada di Papua. Dari 271 bahasa yang ada di sana, 56 terancam punah.”

Pendidikan di Indonesia juga membuat anak sekolahan berpandangan bahwa bahasa Indonesia dan Inggris lebih superior dibanding bahasa daerahnya. Selain itu, keluarga di rumah juga tidak membiasakan bahasa daerah sebagai bahasa percakapan. Hasilnya, fenomena umum yang kita jumpai ada teman ngakunya dari daerah tertentu tapi ternyata gak bisa bahasa daerahnya, paling sebagai pendengar pasif, itu juga kosakatanya tidak banyak. Salah satu contoh nyatanya, penulis blog ini yang ngakunya orang Jawa tapi nggak bisa basa Jawa, kecuali sedikit. (O..0)

Penyebab utamanya yang saya rasakan karena tidak pernah ‘hidup’ lama di lingkungan masyarakat Jawa sehingga tidak pernah terpaksa harus bisa bahasa Jawa. Bisa bahasa Jawa yang sedikit itu berkat orang tua yang masih menggunakan bahasa Jawa di rumah, walaupun campur Indonesia. Saat dulu tinggal di Padang, ternyata bisa bahasa Padang. Sama halnya saat di Palembang. Agak sedikit berbeda saat di Bandung karena saat SMP, Bahasa Sunda menjadi menu wajib pelajaran sekolah (ini adalah pengalaman pertama saya belajar bahasa daerah secara resmi). Mau tidak mau berbagai macam jenis kecap basa sunda dipelajari, pupuh asmarandana, kinanti, jurudemung, dangdanggula dkk dilantunkan, sampai harus mengarang menggunakan basa sunda urang. Tentu kamus basa sunda dan buku peperenian sangatlah membantu saya melewati pelajaran ini dengan nilai baik, alhamdulillah. Ironis, begitu keluar kelas, akibat modernisasi Bandung kami yang duduk di SMP tidak mengamalkan pelajaran yang kami dapat di kelas itu, begitu juga mungkin yang lain. Aneh rasanya berbahasa sunda halus dengan teman sendiri. Basa sunda lemes tinggal kenangan tergantikan dengan basa sunda loma alias yang kasar.

Kini, Padang dan Palembang berstatus pasif; Jawa dan Sunda bisa sedikit dan jadi amburadul kalau kosakatanya asing dan struktur kalimatnya jadi kompleks. Pada saat seperti itu, saya menyerah dan bahasa Indonesia keluar sebagai pemenangnya. Selama di kampus ITB, bahasa daerah seingat saya tidak pernah digunakan oleh dosen-dosen, seperti dianggap (maaf) kampungan. Coba saja, bagaimana menjelaskan istilah-istilah IT dalam basa sunda? Apa memang bahasa-bahasa daerah kita kurang kaya untuk mengikuti perkembangan zaman ini ? Seorang dosen Informatika ITB bernama Pak Rinaldi Munir yang saya tahu merupakan dosen yang berusaha untuk selalu menggunakan istilah-istilah asli Indonesia untuk menggantikan istilah asing dalam dunia IT. Maka muncullah kata-kata seperti “sangkil” dan “mangkus” untuk menggantikan “efektif” dan “efisien” dalam kuliah-kuliahnya. Eh, saya hampir lupa, Google juga punya fasilitas pencarian dalam boso jowo, bahasa daerah Indonesia pertama di mesin pencari itu (ditunggu bahasa-bahasa yang lain).

Apa iya penggunaan bahasa daerah di suatu kota besar tempat hidup berbagai suku bangsa menghambat komunikasi sehingga lebih baik gunakan bahasa Indonesia saja? Atau justru kaum pendatang di luar daerah tersebut harusnya ikut menguasai bahasa daerah itu. Kenapa kalau kita berkunjung ke luar negeri kita mau ikut “bahasa daerah” mereka, sedang di daerah sendiri justru bahasa daerah dikalahkan? Apa seharusnya bahasa Indonesia itu baru dipakai kalau sudah kepepet? Oya, maksud saya untuk komunikasi lisan. Kalau tulisan umum nampaknya bahasa Indonesia cukup penting, kecuali tulisan-tulisan yang bersifat lokal harusnya menggunakan bahasa daerah untuk melestarikannya. Hal ini nampak dari bermunculannya surat kabar dan televisi berbahasa daerah di Bandung, Yogyakarta, dan daerah lainnya.

Kini nampak bagi kita yang masih fasih berbahasa daerah adalah mereka yang sudah berusia 40 tahun-an ke atas. Yang muda-muda lebih senang berbahasa Indonesia, Inggris, atau Betawi prokem (ya gitu deh, gua-lo, rese, cape deh). Di suatu daerah, orang yang mampu berbahasa daerah itu lebih dihargai bila berinteraksi dengan penduduk lokal, paling jelasnya terlihat kalau mau nawar harga bisa dapat lebih murah dan berita-berita lokal lebih mudah dimengerti. Selain itu, bahasa daerah itu bisa memperkaya rasa bahasa kita dengan berbagai kosakata dan ungkapan yang berbeda-beda dan lucu-lucu bunyinya. Terbayang dahulu kala saat bahasa daerah itu diciptakan pertama kali, betapa sulitnya membuat bahasa baru! Ada sekian banyak suku dan bahasanya membuat Indonesia sangat kaya, tapi sayang seribu sayang…Beginilah kita, lalu tiba-tiba kita kaget melihat orang Belanda serius menekuni musik angklung khas Jawa Barat atau Batik Jawa. Lama-lama setelah bahasa dan budaya punah, kita sebagai bangsa bisa menyusul ikut punah.

Di akhir, langkah pelestarian bahasa daerah menurut Prof. Arif salah satunya dengan

“…diberi peran yang berarti dalam kehidupan modern, termasuk pemakaian bahasa lokal pada kehidupan sehari-hari, perdagangan, dan pendidikan”

*Ada yang punya info buku pelajaran atau kursus belajar Boso Jowo ?

Sumber Kompas : http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/23/humaniora/3552295.htm

Blog at WordPress.com.

Up ↑