Balik lagi

Sudah lama tidak ngeblog baik di blog ini maupun di paid web hosting (yang sekarang juga sudah tidak diperpanjang lagi, hehe). Tapi hari ini angin berhembus ke arah lain, karena kebiasaan menulis saya tetap harus dilatih.

Minggu lalu pada acara pernikahan sepupu istri, saya sempatkan ngobrol dengan om yang rajin menulis. Saat acara kemarin, seperti pada acara kumpul-kumpul lainnya, beliau katanya selalu menyempatkan diri untuk mojok dengan iPad Pro untuk menulis. Tentu selepas bersilaturahmi dengan anggota keluarga yang lain. Profesinya sebagai seorang dosen (spesialisasinya di logistik, teknik industri) menuntut dirinya banyak menulis. Mengumpulkan ide, opini, bahkan materi yang bisa disampaikan saat kuliah. Materi tulisannya terakhir ada yang membahas teknologi yang sedang trending, yakni pemanfaatan block chain dalam bidang logistik.

Bayangkan saja kalau profesi pengajar tidak menulis, risikonya ilmunya tidak terstruktur dengan baik dan tidak bisa dirujuk untuk dimanfaatkan dirinya (terutama kalau lupa!) atau orang lain. Orang boleh beretorika panjang lebar, tapi coba minta dia untuk menuliskan gagasannya, bisa-bisa hanya berputar-putar dan idenya kosong belaka (nyambung ke debat ILC Reuni 212 yang menampilkan debat ‘retorika’ pembicara yang tidak ada isinya, melawan Rocky Gerung)

Anyway, bagi saya pribadi, menulis seringkali bisa memberikan ketenangan kalau pikiran sedang kalut. Ibaratnya, menulis dapat menguraikan benang kusut pikiran, sehingga jelas depan, tengah, dan ujungnya.

 

Menggelitik

Ada dua hal yang cukup menggelitik dalam pikiran saya selama beberapa minggu ini:

  1. Kalau yang kita kerjakan adalah pekerjaan karyawan, ya…yang didapat gaji karyawan

    the_power_of_kepepetPikiran ini muncul setelah membaca buku wirausaha berjudul “The Power of Kepepet” (TEPOK). Banyak hal yang diulas, tapi satu ini yang menggelitik. Mengapa?

    Sering pikiran dan mental kita tidak mau susah-susah mengerjakan pekerjaan wirausaha dan menjadi bos. Pekerjaan bos adalah berpikir strategis, mengambil risiko, pasang badan, berani aksi cepat, berorientasi tujuan “pokoknya harus bisa”, mencari investor, berani ‘gagal’, berani beda, dan bermental membuat terobosan.

    Sedangkan pekerjaan karyawan adalah berpikir cari aman, menunggu perintah, bergerak berdasarkan kebutuhan atasan, menyukai rutinitas, dan mengerjakan hal-hal teknis. Lalu, apanya yang menggelitik?
    Lucunya, yang saya kerjakan adalah mayoritas pekerjaan karyawan, sedangkan yang saya inginkan adalah pendapatan bos. Lalu dengan yang saya lakukan itu, tanpa sadar saya masih bertanya-tanya mengapa rasanya saya belum merasa menjadi bos. Konyol, kan? Ya jelas nggak nyambung.

    Saya nggak bicara jumlah nominal yang didapat antara bos dan karyawan. Gaji karyawan perusahaan multinasional relatif lebih besar daripada pendapatan bos lokal perusahaan menengah. Yang lebih esensial adalah apa yang kita lakukan untuk mendapatkan pendapatan tersebut. Sederhananya, bagaimana uang itu bekerja untuk kita. Bukan kita bekerja untuk uang.

    Tidak semua orang cocok jadi bos, begitu pula tidak semua orang betah jadi karyawan. Tapi karena konteks tulisan ini adalah tentang wirausaha, anggap saja ini provokasi untuk menjadi wirausaha. Boleh menjadi karyawan saat yang menjadi bos sudah terlalu banyak. Ah, masa sih bisa seperti itu?

  2. Baru masyarakat lho, belum ketemu ‘musuh’.

    logoPKS-8Sekian puluh hari menjelang Pemilu 2009, segenap kader-kader partai ramai-ramai melakukan sosialisasi dan kampanye ke masyarakat. Tak terkecuali untuk Partai Dakwah yang satu ini, Partai Keadilan Sejahtera.
    Salah satu fenomena lucu yang sempat saya amati pada beberapa kadernya adalah masih adanya rasa canggung  saat berinteraksi dengan masyarakat. Biasanya bagi mereka yang masih aktif di kampus atau lulusan kampus. Dunia dakwah di kampus dan masyarakat jelas berbeda. Singkatnya, mereka tak mampu habis-habisan di masyarakat dengan berbagai faktor penyebab. Lalu, apanya yang menggelitik?

    Lho, bukannya Partai Dakwah ini mendambakan Indonesia menjadi masyarakat madani yang adil dan sejahtera? Nah, kalau mengacu pada sejarah Rasulullah SAW, kehidupan kan tidak adem ayem saja. Ada musuh yang mengkhianati perjanjian. Ada yang berniat membunuh. Ada yang berkonfrontasi terbuka dengan perang. Mereka kan akan muncul lagi, hanya beda wajah. Konflik dan konfrontasi pasti akan terjadi, walau tetap berusaha diminimalisir.

    Lucunya, bagaimana bisa mengalahkan musuh yang nanti akan muncul kalau dengan masyarakat saja (yang notabene sebagai orang baik-baik dan saudara-saudara kita juga) masih canggung. Bagaimana menang menghadapi agresor, koruptor, intimidator, atau provokator? Hari gini mah masyarakat sudah banyak tahu, dan insyaAllah mendukung. Jangan ragu, bro. Ini hanya masalah komunikasi dan kedekatan hubungan dengan masyarakat. Terus saja dilatih. Menyenangkan bisa mengenal banyak orang dengan berbagai gaya pemikiran dan budayanya. Toh kita berjuang bersama masyarakat kan? Eh, kita kan masyarakat juga. Jadi masyarakat berjuang bersama masyarakat. Lihat, mengapa harus canggung?

    Masih panjang cerita dakwah ini, insyaAllah. Selama dakwah tetap konsiten untuk Bersih, Peduli, dan Profesional. Jadi, berpikir besar, bertindak lokal, dan lakukan sekarang juga! Lho, ini menggelitik apa kampanye?

Makan Murah, Variatif, dan Enak: Warung Meja Makan

Mencari makan siang saat istirahat susah-susah-gampang, bukan? Susah kalau pilihannya terbatas, harganya mahal, atau sedang akhir bulan (ups…). Mudah kalau sudah punya langganan yang cocok di lidah dan di kantong, atau bisa di-hutang-in (ups…). Tempat makan berikut mungkin termasuk kategori kedua. Tak ada namanya, tapi dari setting ruangannya mungkin cocok kalau diberi nama mengikuti model “Rumah Nenek”, “Nyonya Rumah”, atau “Dapur Teteh”. Resepnya rumahan, dan tempatnya memang di rumah! Lihat, yuk!

dsc00424Diawali dari lewat di depannya menuju masjid saat jam istirahat, seterusnya justru jadi langganan. Bagi orang yang sekedar lewat, tempat makan ini agak tak meyakinkan. Tak ada spanduk tulisan ala “Warung Makan” yang dipajang, apalagi menu yang disediakan. Hanya terlihat lorong yang menuju ke dalam rumah. Setengah bagian lorong digunakan untuk meja panjang dengan kursi-kursi plastik untuk makan. Tak nampak ibu-ibu penjaga warung yang biasa melayani pembeli di depan rumah layaknya rumah merangkap tempat makan kecil. Yang lebih aneh lagi, begitu orang-orang yang nampaknya sudah menjadi pelanggan tetapnya melewati lorong itu, mereka baru keluar setelah setengah sampai satu jam berikutnya. Jarang saya amati mereka duduk di meja yang berada di lorong tadi. Lalu di mana mereka menyantap makanannya?

Saya penasaran, dan sempat berpikir bahwa ini hanyalah usaha tempat makan yang khusus untuk langganan tertentu saja, bukan untuk orang luar. Akan tetapi, berhubung sejauh ini belum ada tempat makan sekitar kantor yang memuaskan sesuai dengan kriteria di paragraf pertama tadi, maka tempat makan ini harus dicoba. Masak di restoran Padang terus yang terkenal mahal itu, atau soto lagi-soto lagi, dan seterusnya. Dengan diliputi rasa penasaran, suatu hari saya memberanikan diri melewati lorong bermeja panjang itu dengan risiko terburuk diusir karena ternyata saya tak termasuk daftar pelanggan tetapnya. Tentu saja, saat memasukinya saya merasa bodoh. Repot sekali makan siang ini, dan repot sekali cara kerja tempat makan ini melayani pembelinya. Mereka harus penasaran terlebih dahulu.

dsc00419Di ujung lorong, rahasia itu terkuak. Saya sedang berada di ruang makan rumah itu. Saya berdiri di depan magic jar berisi nasi hangat, di sebelah lemari yang berisi piring-piring makan. Saya berdiri tak jauh dari meja makan berkapasitas 6 orang yang berada di tengah ruangan. Meja itu penuh orang, dan semuanya tak saya kenal. Saya mencoba mengacuhkan pandangan orang-orang yang sedang makan itu, bersikap sesantai mungkin, seolah-olah ini bukan kali pertama saya datang. Segera saya ambil piring dan mengisinya dengan nasi. Sampai sini saya masih bingung. Pelayannya mana?? Saya pesan lauk dan minumannya bagaimana?? Mahal gak harganya??
dsc00420
Belum selesai rasa penasaran saya, seorang ibu yang saya yakin adalah pemilik rumah ini segera menawarkan lauk-pauk menu siang itu.

“Ada ini, ada itu (hehe saya sudah lupa menu hari itu…), sok ambil aja. Nasi tambah gratis kok. Minumnya ada jus jambu, jeruk, tomat, alpukat,….anggap aja rumah sendiri ya…”

Wah, ramah sekali ibu ini untuk orang baru seperti saya. Fiuh…dugaan bahwa ini tempat makan untuk pelanggan tertentu saja sudah gugur. Saya diterima. Walau masih agak janggal harus makan di dalam rumah orang. Sempat saya duga orang-orang di meja makan itu adalah keluarga ibu tadi, bukan pelanggan. Ya, bayangkan saja siapa yang biasanya makan di meja makan rumah kita. Keluarga atau teman dekat, bukan? Lho, ini mau makan atau mau mikir? Susah betul mau makan saja! Ya sudah, karena meja makan penuh, saya dipersilakan makan di ruang tamunya! dsc00418Nah loh, sekarang saya makan di ruang tamu orang! Makin aneh saja. Ah, tapi karena lapar, nikmati saja makanannya 🙂

Enak juga masakannya. Jusnya juga enak. Eh, ternyata harganya murah. Hore! Eksperimen penasaran saya tidak sia-sia. Saya punya tempat makan yang enak, murah, dan personal. Ya, personal karena ibu itu mengenal semua pelanggannya. Mulai dari nama, pekerjaan, rumah, tempat kuliah, sampai proyek yang sedang dikerjakan. Sempat saya heran bagaimana ibu itu mengingat semuanya. Ia biasa menyiapkan masakan dan minuman pesanan sambil mengajak ngobrol tamu-tamunya satu persatu. Di sini saya menemukan bahwa memang perempuan mampu mengerjakan beberapa pekerjaan secara paralel tanpa kehilangan fokus. Masalah kepuasan pelanggan tak perlu diragukan. Pesan saja menu apa yang diinginkan. Besok bisa tersedia. Setiap hari menu berganti-ganti jadi tidak bosan. Mau masak mi instan dan telor sendiri? bisa juga di sana (tapi ngapain??). Mau dibungkus untuk dibawa pulang jadi lauk di rumah? Bisa juga. Mau ngutang karena ga bawa duit? Bisa juga, tapi malu dong mas! Modal dong! Eh, tapi bisa saja kalau kebetulan si ibu sedang tidak ada kembalian. Oya, hanya buka siang hari saja.

Orang menyebutnya Warung Bu Muji karena demikian panggilan ibu tadi. Ramah orangnya, enak masakannya. Walau teknik pemasaran untuk menjaring banyak pelanggannya tidak dapat nilai 100, tapi nampaknya merawat pelanggan tetap, jauh lebih penting. Cerita yang baik dari mulut ke telinga sampai rasa masakan yang enak dan murah akan membuat pelanggan betah, bukan? Apalagi mampu membangun kedekatan personal antara pembeli dan penjual, langsung dari dalam rumah. Saya tak habis pikir untuk membangun tempat makan tepat di salah satu bagian paling personal dari sebuah rumah: meja makan! Besar dugaan saya Bu Muji tidak terlalu mencari untung besar dari usahanya. Pastilah beliau hobi memasak dan gemar membantu orang lain, terutama karena merasa pelanggan-pelanggannya adalah seperti anak-anaknya juga yang kini sedang bekerja. Ya, bekerja dan membutuhkan makan siang yang enak dan murah. Apa ya, nama yang cocok, “Warung Meja Makan” ? 🙂

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑