Short Movie(2): “Mendingan”

Setelah film sebelumnya, film pendek (hanya 1 menit) yang berjudul “Mendingan” ini menjadi salah satu peserta kompetisi film pendek di HelloFest. Selamat menyaksikan!

Wika harus menemukan semua temannya yang sedang bersembunyi.
Mereka punya waktu 10 detik sebelum Wika mulai mencari.
Apa yang dilakukan Wika sebelum 10 detik habis?
Saksikan hanya di “Mendingan”!

Behind the scene:

Advertisements

Sketsa Masa Depan

Kita mafhum bahwa mayoritas usaha skala kecil atau menengah tidak membutuhkan gedung besar. Cukup dalam bentuk rumah tinggal, operasional kantor bisa berjalan. Apalagi untuk usaha di bidang IT (konsultan IT merangkap software house), infrastruktur yang dibutuhkan tidak menuntut berbagai hal untuk disiapkan. Ditambah koneksi internet, rumah tinggal dapat dijadikan kantor yang menaungi sekian karyawan yang berkutat dengan komputernya setiap hari kerja. Saking sederhananya infrastruktur yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk-produk IT sejenis perangkat lunak, seorang dosen pernah berkelakar bahwa untuk membuat perangkat lunak cukup bermodal komputer dan nasi saja. Maksudnya, nasi untuk makan si programmer. Mengapa? Hampir semua bahan baku pembuatan perangkat lunak berwujud ‘gaib’ mulai dari file dalam satuan bit sampai Gigabyte hingga knowledge yang dimiliki oleh programmer yang berguna dalam penyusunan algoritma program sesuai fungsi perangkat lunak yang dikehendaki. Maka yang tidak gaib hanya komputer dan nasi yang dimakan si programmer tersebut. Selebihnya seperti dianggap intangible asset, karena agak butuh waktu untuk menaksir nilainya dalam rupiah. Misalnya, berapa harga perangkat lunak untuk optimasi proses produksi yang terdiri dari sekian ribu baris kode? Atau berapa harga knowledge yang menjadi inti sebuah core banking? Tidak mudah. Saya juga heran kenapa jadi membahas ini, padahal tulisan ini intinya bukan tentang itu.

Alkisah suatu hari datang kabar bahwa kantor membuka cabang baru yang letaknya tidak jauh dari kantor utama. Wah, alhamdulillah, selamat! Ekspansi pertanda bisnis sedang bagus. Kapasitas produksi meningkat, klien bertambah, dan produk semakin berdiferensiasi serta teruji kualitasnya. Selang beberapa hari, saya baru sempat melihat rumah yang dijadikan kantor baru ini. Maklum, masih soft launching, jadi belum ada acara gunting pita atau makan dan doa bersama yang mengumpulkan semua stakeholder. Saat tiba di depan rumah kantor ini (bisakah disebut ruko? apa ruko harus terkumpul bersama dan bentuknya seragam?), saya seperti mengalami Deja Vu. Kaget sekaligus takjub. Rasanya rumah ini pernah terlintas dalam memori saya sekian bulan yang lalu.

Suatu hari saya sedang mencari pencerahan dan sedikit relaksasi. Bagi sebagian orang, menggambar dapat membantu hal tersebut. Maka saya pun menggaet pensil dan kertas gambar, lalu mulai mencari objek gambar. Mencari objek gambar ini perlu pertimbangan estetis dan pragmatis. Estetis bahwa si objek haruslah unik dan menarik untuk digambar, dan pragmatis bahwa untuk menggambarnya tidak harus sampai basah kuyup atau terbakar matahari. Singkatnya, menggambar objek yang menarik dengan nyaman. Setelah sedikit berkeliling, pilihan objek gambar jatuh pada sebuah rumah yang letaknya dekat dengan sebuah kantor RW yang di luarnya tersedia bangku kayu. Ah, momen dan infrastrukturnya sudah cukup artistik. Saatnya menggambar sketsanya. Saat itu tak ada pikiran apapun. Hanya berusaha menggambar dengan baik. Mengapa rumah itu? Feeling saja. Bentuknya agak unik dan tempat menggambarnya nyaman. Sudah, itu saja.

Sudah bisa menebak rumah apa yang saat itu saya gambar? Betul sekali, rumah tersebut tak lain dan tak bukan adalah rumah yang sekian bulan berikutnya menjadi cabang kantor kami. Kebetulan? Bisa jadi, tapi apa guna dan manfaatnya sebuah kebetulan? Melihat kejadian sebagai kebetulan seperti merasakan kehidupan diatur dengan melempar dadu. Takdir? nah, ini lebih menarik. Kita yakin tidak ada yang namanya kebetulan. Segala sesuatunya terjadi dan ditakdirkan demikian oleh Allah dengan sebab dan pengaturan tertentu.

Hal ini nampak jelas jika mencoba melihat ke belakang tentang komponen-komponen penyusun sebuah kejadian. Andai salah satu komponen tersebut tidak diatur pada posisi tertentu, maka kejadian yang dihasilkan pun akan lain. Misalnya, jika hari itu hujan, maka aktivitas relaksasi saya bisa jadi tidur setelah menyeruput secangkir teh hangat. Jika tak ada kursi kayu di kantor RW itu, bisa jadi saya memilih objek yang lain. Jika di depan rumah itu ada penghuninya yang sedang membereskan tanaman, maka saya juga akan memilih objek lain. Oya, ini salah satu alasan saya memilih rumah ini, agar jangan sampai dicurigai orang. Dicurigai sebagai anggota dari komplotan garong yang sedang mengintai rumah sambil memetakan cara dan waktu yang tepat untuk menyatroni rumah tersebut di malam harinya. Dan jika saya tidak sedang tertarik belajar membuat sketsa, maka objek gambar pun tak akan tercipta.

Baiklah Gung, jadi ini sebuah takdir. Tapi takdir apa? Kalau ada pesan, apa pesannya? Nah, kalau yang ini kita hanya punya kuasa menebak-nebak. Sempat terpikir di awal sebuah pola sederhana. Saya gambar rumah. Tak lama rumah dimiliki kantor. Polanya: Saya menggambar sesuatu yang kelak akan dimiliki atau ditempati. Menarik! Mulailah imajinasi bergulir. Selanjutnya saya akan menggambar rumah yang lebih besar dan mewah. Kalau perlu istana. Saya akan menggambar mobil BMW. Saya akan menggambar pesawat jet. Saya akan menggambar seorang… ah tidak jadi. Saya akan menggambar… surga? Amiiin. Tapi ngawur, mana bisa digambar?? Bukankah surga terlalu indah untuk dipandang? Keindahan yang belum pernah dilihat mata? Ini pola sederhana yang sungguh sangat menarik. Sesaat saya merasa seperti Nobita yang memiliki pensil ajaib yang dimantrai Doraemon. Atau seperti robot cerdas yang mampu menggambar masa depannya sendiri (film i-robot). Ah, atau (tiba-tiba teringat) munculnya bayangan penaklukan Romawi dan Persia saat Rasulullah memukul batu keras saat membuat parit di Perang Khandaq (Perang Ahzab). Luar biasa!

Sesakti itukah? Entahlah, allahu a’lam. Yang jelas saya mengalami pengalaman yang mungkin menjadi inspirasi adegan di i-robot tadi. Visualisasi masa depan memang selalu menarik. Berbagai ramalan dengan berbagai metode oleh berbagai peramal memenuhi berbagai literasi berbagai zaman di berbagai tempat (wah, pengulangan kata ‘berbagai’nya menyebalkan). Manusia memang selalu ingin tahu nasibnya di masa depan yang penuh misteri (gaib). Walaupun demikian, diwanti-wanti agar tidak jadi banyak berangan-angan lalu malas berusaha. Masa depan bergantung pada amal manusia tanpa terlepas takdir Allah. (Hei, siapa yang tahu takdir Allah? Bukankah kita harus tetap optimis dan menyempurnakan amal?)

Tapi ada yang lebih menarik lagi. Mari kita kembali ke rumah ini. Setelah memasukinya, saya mengalami perasaan yang lain lagi. Rumah ini jelas dirancang dengan ilmu arsitek dan desain interior yang baik. Ada taman dan kolam ikan di dalam. Ada desain gaya minimalis-keren di interior dan eksteriornya. Ada sentuhan seni yang membuat rumah berbentuk huruf “L” ini (tampak atas) terasa asri dan sejuk.

Baiklah, lalu? Lalu?? Bagaimana tidak menarik saat saya menemukannya dalam keadaan sedang tertarik dunia arsitektur dan desain interior? Apakah ada pesan tersembunyi di balik rumah ini? Adakah ia memberikan sedikit potongan kejadian masa depan lainnya? Adakah sesuatu yang harus dijadikan perhatian lebih dibanding lainnya? Saya mulai sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak bisa dibuktikan selain dengan tindakan. Tak ada gunanya berimajinasi tanpa bertindak, bukan? Tapi setidaknya, rumah ini menambah tempat-tempat yang mempunyai arti khusus bagi saya. Nah, sekarang apa sebaiknya saya mulai menggambar istana-istana megah bertaman luas berikut segala isinya? Hehehe. Mungkin Anda juga tertarik untuk mencobanya 🙂

Berikut sketsa rumah tersebut,

A House Near Office

Berjodoh di Kantor

Urusan jodoh ternyata bisa cukup kompleks bagi orang kantoran. Apalagi bagi perusahaan yang menetapkan larangan menikah bagi sesama karyawan dengan pertimbangan conflict of interest. Boleh menikah, tapi salah satu harus mengundurkan diri dari perusahaan. Dan pada sebagian besar kasus, suami yang tetap bertahan di perusahaan dengan pertimbangan posisinya sebagai kepala keluarga. Bagi sebagian besar orang, keluar dari pekerjaan sama sekali bukan ide bagus, apalagi jika hidup di kota besar dan kondisi perekonomian sedang lesu. Maka tak heran sesama karyawan (laki-laki dengan perempuan yang masih single, tentu saja) nampak saling jaim, menahan diri. Tak ada gunanya melakukan pendekatan serius jika salah satunya tak siap untuk keluar. Ini bagus untuk perusahaan, karena asmara bisa mengaburkan kinerja, begitu prinsipnya.

Di sini lain, pekerjaan di perusahaan jelas mengkonsumsi sebagian besar waktu hidup karyawan. Apalagi kalau tempat tinggal jauh dari kantor. Sebut saja pergi dari rumah setelah subuh dan pulang kembali pukul 8 atau 9 malam. Hampir tak ada waktu bersosialisasi selain akhir pekan, itu juga kalau tidak lembur. Maka dalam situasi seperti itu, bagaimana seorang pria bisa mengenal calon istrinya, dan demikian sebaliknya? Di kantor, saat sebagian besar waktu dihabiskan, sesama karyawan bisa lebih mengenal satu sama lain. Tapi ini tak mungkin mengingat peraturan di paragraf pertama tadi. Maka tak heran di berbagai perusahaan kita menemukan banyak karyawan yang baru menikah pada usia 30-an. Selain karena mengejar karir, tentu urusan jodoh yang tak kunjung bertemu juga jadi sebab. Jadi?

Lalu bertemulah kita dengan beberapa metode perjodohan yang memungkinkan untuk orang kantoran. Pertama, lewat guru ngaji atau dijodohkan orang tua. Yang ini kita sudah mahfum bahwa cara-caranya lebih elegan dan lewat perantara yang dianggap lebih berpengalaman mempertemukan kedua insan ke pelaminan (terdengar seperti bahasa orang KUA, bukan?). Yang kedua lewat pertemanan masa lalu di bangku kuliah atau SMU yang meningkat tarafnya menjadi lebih serius. Maka baik-baiklah menjalin pertemanan sejak SMU, jika perlu sejak SD (halah). Yang ketiga, dan nampaknya mulai menjadi tren, yakni lewat situs pertemanan semacam Facebook (FB).

Selain sebagai sarana pertemanan dan ajang narsisme, FB seperti yang sejenisnya seperti Friendster memang memungkinkan untuk dijadikan sarana mencari calon pendamping. Di luar kebenaran data atau foto yang ditampilkan, setidaknya menyimpan harapan, sekecil apapun itu. Bagi karyawan yang ‘terkurung’ di gedung kantornya di saat-saat istirahat, menjelajahi FB bisa jadi punya misi tertentu. Itu juga kalau perusahaan tidak menutup aksesnya dengan pertimbangan pemborosan waktu dan kemungkinan kebocoran data perusahaan. Lalu bagaimana kelanjutannya setelah mengenal dari FB? Ah, tanya saja dengan yang sudah berpengalaman. Nanti tulisan ini terdengar terlalu membual. Tapi untuk yang satu ini nampaknya tidak kena kategori fatwa haram penggunaan FB.

Eh, bagaimanapun metodenya, tetap saja tulisan ini tak punya pijakan yang berarti tanpa pengalaman penulisnya. Tapi kalaupun ada, tak mungkin pula diceritakan detailnya karena terlalu personal. Jadi sambil berusaha, biarlah sejenak do’a indah ini kita renungkan, agar kelak jadilah ia kenyataan.


“Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yun. Waj’alna lil muttaqiina imaama”
Ya Rabb kami, karuniakan kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata kami. Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Amin.


Impossible Dream

Melongok sebuah kaset jadul (milik orang tua) dari tahun 1960-an, bertemulah dengan suara Andy Williams (kenal, kan? ayolah, masa tak pernah dengar “Moon River”?). Berikut lirik yang heroik dari lagu “Impossible Dream” yang pernah muncul di iklan Honda (Inggris, 2005) yang keren sekali (lihat videonya). Selamat menikmati.

To dream the impossible dream
To fight the unbeatable foe
To bear with unbearable sorrow
To run where the brave dare not go

To right the unrightable wrong
To be better far than you are
To try when your arms are too weary
To reach the unreachable star

This is my quest, to follow that star
No matter how hopeless, no matter how far
To be willing to give when there’s no more to give
To be willing to die so that honor and justice may live

And I know if I ll only be true to this glorious quest
That my heart will lie peaceful and calm when I’m laid to my rest

And the world will be better for this
That one man scorned and covered with scars
Still strove with his last ounce of courage
To reach the unreachable star

Sandal Megalomania

Pria sekarang semakin doyan bersolek. Ah, bukan, bukan, maksudku semakin memperhatikan cita rasa dalam penampilannya, terutama yang tinggal di kota macam Bandung. Beragam aksesori pria semakin artistik dan mencerminkan karakter pemakainya, tak kalah dengan ragam aksesori wanita. Sebut saja untuk yang satu ini, sandal, yang selain berfungsi utama sebagai alas kaki, juga harus matching dengan kepribadian orang dan busana yang dikenakannya.

Alkisah saya sedang mencari sandal baru untuk menggantikan sandal lama yang sudah usang. Well, biasanya atas alasan kepraktisan, saya (dan mungkin sekian banyak pria lainnya) akan memilih sandal tipe ATS (All Terrain Sandal), alias sandal satu bisa dipake macam-macam. Mulai dari jalan-jalan santai sampai hiking ringan.Ya, benar, untuk yang begini, sandal gunung adalah jawabannya.

Selain penampilannya yang macho, sandal gunung terkenal awet, dan akibatnya, jarang dirawat alias jarang dicuci, karena pria menganggap sandal itu sudah mampu merawat dirinya sendiri (what?). Tak heran, banyak sandal gunung yang mengakhiri masa baktinya dalam keadaan yang cukup tragis. Terkoyak di sana-sini, hilang, sampai mengeluarkan bau yang tak keruan.

Strategi ATS ini jelas sekali menyimpan kekurangan besar. Coba pikirkan, apa jadinya mobil jeep yang biasa untuk offroad dipakai untuk datang ke acara-acara onroad? Ya, pemiliknya akan nampak cuek, tak bisa menempatkan diri, dan agaknya, si mobil juga malu. Demikian juga dengan sandal gunung yang dipakai untuk bertandang ke rumah orang lain, makan-makan silaturahmi di restoran, atau sekedar mampir ke toko buku besar. Sandal gunung akan nampak terlalu macho. Cuek lebih tepatnya.

Maka saya putuskan untuk mengubah strategi per-sandal-an ini. Mari kita pilih sandal yang sesuai dengan habitatnya. Gunung untuk hiking, dan sandal ala bapak-bapak mapan untuk selainnya. Bagaimana, canggih bukan? (kemana aja loe?). Sudah saatnya memperhatikan penampilan. Tak perlu macam model tersohor di Milan, tapi setidaknya tidak terlalu amburadul macam tentara baru keluar dari hutan. Maka sore itu strategi hebat ini diputuskan. Btw, alasan sebenarnya lebih pada harga sandal gunung bagus yang ternyata agak mahal, jadi ‘terpaksa’ cari alternatif tanpa harus kehilangan muka. Maka muncullah strategi di atas.

Sandal cokelat muda ini cukup manis dilihat dan nyaman dipakai. Tapi ternyata bukan itu daya tarik sesungguhnya yang ditawarkan pembuatnya. Wajar bukan, bila kita melakukan uji coba ‘kepeleset’ pada sandal yang mau kita beli. Maksudnya, saat dipakai, sandal mampu mencengkeram tanah dengan baik, sehingga kelak kita bisa sigap berlari jika harus mengejar seorang pencopet di keramaian mall. Maka kuperiksa telapak sandal itu.

Peta Australia
Peta Australia

Subhanallah! Bukan main! Lihatlah kawan, telapaknya bukan sembarangan. Peta sebagian dunia, yakni benua Australia tertulis di atasnya! Tepat berada di kakimu kemana pun kau melangkah. Bukan main, betul-betul bukan main pembuatnya. Besar sekali imajinasinya membuat sandal. Bukan hanya untuk melangkah biasa. Melainkan ia ingin mengajak kita melangkah besar. Langkah yang mendunia. Jelajahi Australia dan dunia, mungkin begitu pesannya. Walaupun sangat sulit kuhindari untuk mengaitkan (sebagian) dunia di telapak sandal ini dengan konsep “Megalomania” dari Ustadz Anis Matta.

Konsep ala Nabi Sulaiman ini mengajarkan pikiran kita untuk mendunia, bahwa suatu saat nanti peradaban dunia ketiga, dunia timur, kelak minimal akan sejajar dengan peradaban Barat. Target ujungnya mengontrol, mendominasi, dengan nilai keimanan, kebaikan dan keadilan, tentu saja (tapi mengejar Barat untuk sejajar saja sudah ngos-ngosan, nggak nyampe-nyampe. Kita maju selangkah, situ sudah seribu langkah). Lalu mengadakan dialog peradaban, untuk bersama-sama membangun dunia yang lebih baik, yang lebih beriman, tepatnya. Dan untuk mencapainya harus dimulai dari pikiran megalomania itu.

Jadi, strategi membeli sandal megalomania ini sudah tepat nampaknya. Merasakan perasaan mendunia, “the world at your feet“. Entah mengapa tiba-tiba aku terkena sindrom megalomania ini. Aku merasa gagah sekali saat melangkah, disertai beban berat dari ‘dunia’ yang kuinjak setiap kali berjalan. Bukan main ini sandal. Sesaat aku merasa menjadi Ibnu Batutah atau Marcopolo yang mahsyur akan perjalanan keliling dunianya yang melegenda. Efek psikologisnya bukan main, rasanya kaki ini akan siap melangkah ke dunia, memimpin peradaban yang gilang gemilang, sekali lagi. Besar dugaanku pembuat sandal ini mungkin terinspirasi dari sandal-sandal milik para pembesar zaman kuno. Bukan tak mungkin para khalifah memesan sandal bertapak kaki peta dunia untuk memberinya sugesti lebih akan daerah yang akan dibebaskannya. Atau setidaknya seperti kata tokoh Arai dalam Laskar Pelangi, “Dunia, ini Aku, datang padamu”.

Demikian sejarah sandal megalomania yang inspiratif itu. Belakangan aku harus rela melepas ambisiku untuk mengejar copet di mall itu, jika ada. Sebabnya, tak lain akibat peta dunia di sandal itu, karetnya tak mencengkeram kuat di lantai yang licin. Sebenarnya dia tak lulus tes ‘kepeleset’, namun godaan “the world at your feet” ini begitu sulit ditolak. Pelajaran penting segera kuambil. Untuk menjadi megaloman, risiko langsungnya adalah mudah terpeleset dan terjungkal. Terjungkal karena terlalu banyak bermimpi, atau terlalu sombong ingin menaklukkan dunia di kakinya sendiri.

Kursus Bahasa Mars dan Venus

Kursus bahasa Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Jepang atau Mandarin bukan hal yang asing bagi kita. Sekian banyak lembaga menawarkan program untuk mempelajari bahasa di luar bahasa ibu kita tersebut. Penguasaan bahasa ‘asing’ membuat orang mampu mencerna informasi yang disampaikan dalam bahasa ‘asing’, berkomunikasi dengan baik dengan orang ‘asing’, memahami budaya ‘asing’, sampai tak masalah kalau harus tinggal di negara ‘asing’. Tak heran program beasiswa atau pertukaran pelajar menuntut penguasaan bahasa ‘asing’ ini, agar misalnya jangan sampai ekspresi suka cita ditanggapi sebagai hinaan oleh orang ‘asing’.

Berbicara tentang ‘asing’ dan bahasanya, nampaknya ‘asing’ tak melulu berwujud bangsa yang berbeda. Semua di luar diri kita bisa disebut ‘asing’. Bahkan sebagian besar diri kita pun masih ‘asing’. ‘Asing’ yang coba saya tampilkan adalah ‘asing’ antara bahasa pria dan wanita.

Komentar: What?

Mungkin sebagian besar kita sudah pernah membaca, atau setidaknya mendengar slogan “Men are from Mars, Women are from Venus”. Ya, slogan yang dijabarkan panjang lebar tentang cara berbahasa dua jenis manusia itu berbentuk buku dengan judul yang sama. Penelitian yang dilakukan John Gray, Ph.D ini membagi karakter yang berpengaruh terhadap cara berbahasa pria dan wanita menjadi karakter ‘makhluk’ ala planet Mars dan Venus.

Komentar: Hei kawan, itu buku lama, kami sudah pernah membacanya. So what?

Tak perlu saya uraikan berbagai karakter dan studi kasus yang sudah cukup detail dari buku itu. Kebanyakan saya amini. Kebanyakan yang lain saya tercerahkan dalam memahami cara berbahasa diri saya sebagai pria dan ibu saya, kakak saya, serta teman-teman saya sebagai wanita. Sederhananya, pria dan wanita punya cara berbahasa yang berbeda, yang dipengaruhi karakter bawaanya sebagai pria dan wanita tersebut. Memang, selalu saja ada pengecualian, namun pada umumnya sejauh ini demikian adanya.

Komentar: Ha, kemana aja ente? Baru ngerti kalo beda?

Memahami cara berbahasa orang lain sangat membantu kita memahami mereka, di samping memperkaya cara kita memandang masalah. Lebih jauh hal itu akan membantu terciptanya hubungan yang sehat dan saling pengertian. Ini tidak melulu soal hubungan asmara antara pria dan wanita. Di keluarga, organisasi, kantor, sekolah, bisnis, sampai politik pun bisa, selama ada komunikasi, sesederhana apapun bentuknya. Tak usah cemas pikiran kita dibaca orang. Toh untuk itu kan kita berkomunikasi. Bukannya kita di sini untuk bekerja dan berkarya bersama? Bukankah menyenangkan kalau orang lain bisa memahami kita dan kita pun memahami mereka? Bukankah nyaman kalau kita bisa menempatkan diri dengan baik terhadap orang lain? Lalu saling melengkapi? Kalau canggih, bahkan orang sudah paham sebelum mulut berbicara, seperti kata Ronan Keating, “You say it best when you say nothing at all“.

Jika setiap pria dan wanita saling memahami cara berbahasa mereka masing-masing, beberapa hal berikut mungkin dapat diatasi:

  • Kasus KDRT yang sering diakibatkan masalah ‘sepele’ yang tidak dibicarakan, atau tidak dipahami bersama
  • Kasus ’emansipasi’ wanita dan ‘sok-kuasa’ pria dalam wadah kerja bersama
  • Kasus sales yang penjualannya tak kunjung meningkat
  • Kasus dosen yang heran mengapa hanya murid perempuannya saja yang mayoritas nilainya bagus (ha?)

Terimalah kenyataan ini. Pria dan wanita punya bahasa yang berbeda. Tanpa mengetahuinya, keduanya sering nggak nyambung. Masalah tak selesai, hati tak puas, kepala pusing, sampai stres bisa muncul. Lalu, kenapa sampai hari ini masalah perbedaan bahasa ini belum sampai pada taraf cukup ‘asing’ untuk dijadikan semacam kursus atau pelajaran yang bisa diambil SKS-nya?

Hal ini nampaknya baru muncul pada pelatihan atau kursus pra-nikah, sebuah persiapan pria dan wanita yang ingin bersatu dalam sebuah keluarga. Padahal setiap pria sudah harus berurusan dengan wanita sejak bertemu ibu dan adik perempuannya. Begitu pula setiap wanita sudah harus berurusan dengan pria sejak bertemu ayah dan kakak laki-lakinya. Dan sejak saat itu mereka menggunakan bahasa masing-masing yang harus diartikan tanpa pedoman yang jelas tentang grammar dan vocabulary dari masing-masing bahasa tersebut. Bahasa ini begitu basic , bahkan lebih basic daripada bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Ini bahasa karakter, bahasa bawaan, bahkan bahasa pikiran. Lebih sederhana dan inti daripada bahasa lisan.

Komentar: Ow, gitu maksudmu. Jadi kongkritnya apa mas?

Jadi, mengapa besok kita tidak buka kelas kursus “Belajar Bahasa Pria dan Wanita”? Biar keren, namanya dibuat jadi “Kursus Bahasa Mars dan Venus”, norak bukan? Taruhlah 2-4 SKS saja. Atau dibuat 3 level: beginner, intermediate, advanced. Gagal uang kembali. Kuliah jarak jauh juga bisa. Tidak perlu ijazah apapun untuk memulainya. Hari ini daftar, besok mulai kursus. Dibuka kelas karyawan malam hari. Ruangan ber-AC dan dilengkapi fasilitas audio visual. Satu kelas dibatasi 10 pria dan 10 wanita. Mau daftar nggak?

Tak ada alasan untuk malu kan? Ini bukan hak eksklusif mahasiswa psikologi, konsultan keluarga, atau divisi SDM perusahaan kan? Iya kan? Ya kan?…

Komentar:

Membuat Tamu Anak Senang

Bertamu ke rumah orang lain bagi anak-anak / remaja (mahasiswa dihitung remaja ya :p ) seringkali merupakan pengalaman yang membosankan dan sedikit menyiksa batin. Bayangkan, saat bertamu bersama orang tua, biasanya sesama orang tua akan berdiskusi ke sana ke mari tentang kesehatan, kondisi keluarga, kabar si anu, perkembangan bisnis, dengan sesekali bertanya ke anak / remaja tadi tentang sudah kelas berapa, hobinya apa, mau kuliah di mana, yang kadang diselingi cerita orang tua tentang perbuatan lucu / konyol anaknya untuk ditertawakan bersama.

Selama 1-2 jam acara bertamu itu, sesama orang tua bisa tertawa bersama sambil bernostalgia masa lalu, sementara si anak yang berada di tengah-tengah percakapan yang tidak dia mengerti akhirnya hanya duduk manis mendengarkan dengan sesekali menjawab pendek pertanyaan basa-basi yang diajukan padanya. Selama itu dia sedikit bisa rileks dengan secara periodik menyeruput suguhan teh dan memakan cemilan / kue kecil yang disajikan. Begitu yang dia lakukan sampai pertemuan berakhir.

Kondisinya lebih baik jika di rumah yang didatangi juga terdapat anak/remaja seusianya. Kalau anak di rumah tidak punya percakapan yang menarik, maka keduanya kini menderita dan tertekan bersama. Yah, lebih baik daripada tertekan sendiri. Hal ini bukan hanya terjadi pada anak yang pendiam / kalem, namun anak yang hiperaktif, setelah lelah menghabiskan energi lebihnya, maka akan tertekan juga. Maka jangan heran bila anak-anak malas ikut orang tua bertamu ke rumah orang lain, dan kalaupun ikut inginnya segera pulang saja. Setuju?

Tunggu dulu, kira-kira apa yang bisa dilakukan untuk membuat suasana bertamu menjadi menyenangkan? Bertamu itu penting untuk silaturahmi dan saling berkenalan antar kerabat dekat. Siapa tahu anak-anak ada yang jodoh :p. Atau ada anak-anak yang cocok buat usaha bersama, buat band bersama, atau jangan-jangan baru tahu kalau teman satu kelas ternyata anaknya teman orang tua kita. Jadi, apa yang bisa dilakukan?

Solusi sederhana adalah orang tua dengan orang tua, dan anak dengan anak. Masalahnya, sesama anak belum tentu nyambung. Kedua, biasanya mereka malu-malu untuk memulai diskusi dan saling berkenalan. Ketiga, kalaupun berkenalan dan mulai berbincang, bahan obrolan belum tentu banyak, yang menyebabkan waktu 10 menit terasa sejam.

Nah, di sinilah fungsi strategis dari semua hal-hal lucu masa kecil yang bernama permainan. Ya, permainan semacam ludo/halma, monopoli, kartu remi, uno-stacko, gaplek, scrabble, atau karambol seharusnya tersedia di setiap rumah. Bukan mau menyia-nyiakan waktu, namun fungsi strategisnya terletak pada kemampuan beragam permainan itu untuk membuat suasana lebih menyenangkan lewat tawa dan canda yang mengiringinya, selain unsur edukasi tentu saja. Orang bilang, tertawa adalah jarak paling dekat antara dua orang yang belum saling mengenal / tak akrab. Permainan memaksa orang untuk mengeluarkan kemampuannya, memancing persaingan, sampai saling ejek untuk menjatuhkan mental dengan cara yang lucu. Sambil bermain, obrolan bisa terjadi dengan santai, bisa tanya ini tanya itu, macam-macam sesuai keinginan.Dengan begini penderitaan dan tekanan batin bisa dihilangkan sambil menyeruput secangkir teh dan dua toples cemilan yang enak. Jika permainan menarik, tak terasa waktu berlalu. Strategi ini sukses besar jika orang tua terpaksa menghampiri dan menyudahi permainan secara halus mengingat waktu bertamu sudah selesai.

Untuk membuatnya lebih menarik, berikan hukuman / imbalan untuk yang kalah dan menang. Saat kecil dulu, the looser harus menerima hukuman pencorengan muka dengan bedak. Di sisi papan permainan disediakan bedak yang telah siap ditempelkan ke muka yang kalah oleh peserta lainnya. Colek sekali (hanya boleh sekali) lalu buat jejak putih sesukamu di muka kawanmu yang sudah pasrah menerima kekalahannya. Bahkan, zaman orang tua dulu hukuman ini lebih kejam. Bukan bedak, melainkan arang hitam yang mencucinya butuh waktu dan tenaga ekstra. Bukan main. Oya, jangan lupa sediakan cermin. Bukan apa-apa, beberapa orang cukup gembira melihat orang lain tampak kesal melihat mukanya sendiri yang penuh coretan kekalahan :p. Tentu saja, pemenangnya akan langsung tampak dari muka yang paling bersih (bukannya ini mirip muka calon penghuni syurga yang berseri-seri :p).

Kalau mau lebih canggih, permainan bisa juga lewat bantuan komputer atau alat permainan elektronik macam Wii atau Playstation. Tapi modalnya cukup besar, jadi tak semua orang mampu. Apalagi, kekurangan strategi ini terletak pada interaksi pribadi yang minim. Anak lebih terfokus ke media tersebut daripada ke kawannya yang sudah jauh-jauh datang ke rumah untuk silaturahmi. Tapi cara ini mungkin lebih manjur untuk remaja dewasa yang sudah lebih individualis atau masa bodoh dengan silaturahmi, yang penting gua senang.

Dengan begitu semoga bertamu akan selalu menyenangkan dan dirindukan. Permainan yang terputus bisa disambung lagi saat acara bertamu berikutnya. Semakin banyak permainan semakin asyik dibuatnya. Dan semua ini berangkat dari filosofi sederhana yang tertanam di jiwa setiap manusia sejak masa kecilnya, yakni setiap orang suka bermain. Jadi, siapkan permainan di setiap rumah untuk acara bertamu yang lebih menyenangkan untuk anak-anak / remaja.

*terinspirasi dari ketidaktegaan melihat anak yang nampak menderita saat bertamu.

“Akordion” untuk Uang

Mengatur uang bila tak terbiasa dan tidak dibiasakan tentulah menjadi masalah. Salah atur mengakibatkan tabungan minim, tengah bulan uring-uringan, sampai terpaksa harus berhutang. Berbagai formula sakti dirumuskan orang untuk mengatur uang pribadi. Sasarannya tak lain untuk mahasiswa, karyawan, dan berbagai profesi lain yang jika tidak menerapkan formula tertentu, maka lupakan impian untuk pindah ke kuadran Kiyosaki tipe B (business owner) atau I (investor). Beberapa formula sederhana dan membutuhkan disiplin, diulas di sini.

Disiplin memisahkan uang menurut keperluannya jelas bukan perkara mudah. Fungsi uang sebagai alat tukar begitu menggoda untuk diaplikasikan di toko, mall, dan berbagai tempat yang memajang benda-benda yang indah dilihat, lebih indah lagi jika dimiliki. Maka bagi kita yang lebih suka meng-impor barang mewah dan setiap hari dibujuk iklan hendaknya punya alat bantu pengatur uang. Alat bantu yang cukup sederhana dan tersedia di toko ATK terdekat ini, fungsi pentingnya baru saja terpikirkan.

Expanding FileBenda yang mirip akordion ini, karena bisa melar dan merapat bak pegas, hanya tak membunyikan not apapun, ternyata alat bantu pengatur uang. Tak heran profesi bendahara dan pemegang dana kantor mungkin akrab dengannya. Jika tutupnya dibuka dan diregangkan, akan tampak ruang penyimpanan seukuran amplop air-mail yang disekat melintang oleh 12 plastik kaku yang trasparan. Mengapa 12? entahlah, mungkin untuk membagi uang menurut bulan dalam setahun. Setiap plastik bisa diberi label agar cicilan hutang tak masuk ke belanja bulanan.

Dalam akordian tak berbunyi inilah formula-formula itu bekerja, lebih tepatnya pada ruang-ruang di antara plastik penyekat itu. Di sanalah lembaran-lembaran merah, biru, dan hijau dikelompokkan menjadi “pengeluaran rutin”, “tabungan”, “investasi dan pengembangan diri”, infaq”, dan sebagainya. Ruang-ruang itu akan berbicara jatah bulan ini yang masih tersisa. Tentu saja, harap menggunakan lembaran itu sesuai labelnya, kecuali jika formula gagal atau ada kebutuhan yang sangat mendesak. Bila perlu, tempelkan gambar yang seram di ruang “tabungan” sebagai pengingat, maklum daerah ini lebih sering dikosongkan ketimbang dibiarkan terisi. Di akhir bulan, bersama dengan catatan pengeluaran harian, keduanya bisa menjadi auditor independen pribadi yang jujur apa adanya. Hebat, bukan?

Jika kawan mencarinya di toko, “expanding file” mungkin lebih hemat kata daripada cerita deskripsi bentuk dan fungsinya. Jumlah sekatnya yang lebih banyak daripada jumlah klasifikasi alokasi uang pada formula-formula itu membuat benda ini multifungsi. Dari namanya, mungkin seharusnya bisa juga digunakan untuk menyimpan lembaran semacam bon pembelian, fotokopi KTP, atau kartu berobat. Bentuknya yang bisa kembang kempis itu menyimpan pesan moral nomor empat belas tentang uang, yakni uang terus berputar, satu saat kolom saldo bernilai plus, saat lainnya minus. Dan dalam perputaran itu, sekat-sekatnya berbicara tentang pesan nomor berikutnya, lima belas. Dalam uang yang kita miliki ada sekian banyak hak yang harus ditunaikan, termasuk hak orang lain. Bijak, bukan?

Kepada kawan yang sedang menulis buku tentang formula baru mengatur uang, kusarankan hendaknya tak lupa menyertakan “akordion” ini sebagai bonus.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑