Archive for the 'Islam' Category

22
Nov
09

Naik Haji 1430 H

Budi: Naik apa yang nggak pernah turun?
Wati: Naik haji, dong!
Budi: Yak,tul!

Lebih kurang seminggu lagi umat Muslim sedunia berkumpul di Masjidil Haram untuk menunaikan ibadah haji. Teriring do’a dan air mata melepas kepergian kakek, nenek, bapak, ibu, paman, bibi, saudara, dan kerabat yang sudah berangkat memenuhi seruan Allah yang agung ini. Semoga mereka menjadi haji yang mabrur, dan yang wafat menjadi syahid / syahidah.

Kita yang belum bisa memenuhi panggilan itu hendaknya berkurban di tanah air sebagai bukti ketaatan kita pada perintahNya sekaligus menjadi jalan kebaikan untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Ya Allah, Ka’bah ini indah nian, kapankah giliran kami bisa memenuhi  panggilanmu? Kalaulah film bilang “Emak ingin naik haji”, bolehlah judul itu ditimpali “Aye juga pengen, mak”. Lalu tahun depan muncul sekuelnya, “Emak ingin naik haji (sekali lagi)”, dan seterusnya 🙂

Selamat Idul Adha 1430 H

Keterangan sketsa:
Sketsa ka’bah bersumber dari foto postcard di majalah National Geographic Indonesia:

Mekah, Arab Saudi (1965)
oleh Thomas J. Abercrombie
Seprempat juta Muslim mengelilingi Ka’bah untuk berdoa kepada Allah.
Efek buram pada foto orang-orang yang mengelilingi Ka’bah tepat di tengah,
menciptakan, “bayangan tentang gerakan kosmis,” kata Abercrombie.

Gambar “Emak ingin naik haji” diambil dari sini.

22
Oct
09

Sketsa Masa Depan

Kita mafhum bahwa mayoritas usaha skala kecil atau menengah tidak membutuhkan gedung besar. Cukup dalam bentuk rumah tinggal, operasional kantor bisa berjalan. Apalagi untuk usaha di bidang IT (konsultan IT merangkap software house), infrastruktur yang dibutuhkan tidak menuntut berbagai hal untuk disiapkan. Ditambah koneksi internet, rumah tinggal dapat dijadikan kantor yang menaungi sekian karyawan yang berkutat dengan komputernya setiap hari kerja. Saking sederhananya infrastruktur yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk-produk IT sejenis perangkat lunak, seorang dosen pernah berkelakar bahwa untuk membuat perangkat lunak cukup bermodal komputer dan nasi saja. Maksudnya, nasi untuk makan si programmer. Mengapa? Hampir semua bahan baku pembuatan perangkat lunak berwujud ‘gaib’ mulai dari file dalam satuan bit sampai Gigabyte hingga knowledge yang dimiliki oleh programmer yang berguna dalam penyusunan algoritma program sesuai fungsi perangkat lunak yang dikehendaki. Maka yang tidak gaib hanya komputer dan nasi yang dimakan si programmer tersebut. Selebihnya seperti dianggap intangible asset, karena agak butuh waktu untuk menaksir nilainya dalam rupiah. Misalnya, berapa harga perangkat lunak untuk optimasi proses produksi yang terdiri dari sekian ribu baris kode? Atau berapa harga knowledge yang menjadi inti sebuah core banking? Tidak mudah. Saya juga heran kenapa jadi membahas ini, padahal tulisan ini intinya bukan tentang itu.

Alkisah suatu hari datang kabar bahwa kantor membuka cabang baru yang letaknya tidak jauh dari kantor utama. Wah, alhamdulillah, selamat! Ekspansi pertanda bisnis sedang bagus. Kapasitas produksi meningkat, klien bertambah, dan produk semakin berdiferensiasi serta teruji kualitasnya. Selang beberapa hari, saya baru sempat melihat rumah yang dijadikan kantor baru ini. Maklum, masih soft launching, jadi belum ada acara gunting pita atau makan dan doa bersama yang mengumpulkan semua stakeholder. Saat tiba di depan rumah kantor ini (bisakah disebut ruko? apa ruko harus terkumpul bersama dan bentuknya seragam?), saya seperti mengalami Deja Vu. Kaget sekaligus takjub. Rasanya rumah ini pernah terlintas dalam memori saya sekian bulan yang lalu.

Suatu hari saya sedang mencari pencerahan dan sedikit relaksasi. Bagi sebagian orang, menggambar dapat membantu hal tersebut. Maka saya pun menggaet pensil dan kertas gambar, lalu mulai mencari objek gambar. Mencari objek gambar ini perlu pertimbangan estetis dan pragmatis. Estetis bahwa si objek haruslah unik dan menarik untuk digambar, dan pragmatis bahwa untuk menggambarnya tidak harus sampai basah kuyup atau terbakar matahari. Singkatnya, menggambar objek yang menarik dengan nyaman. Setelah sedikit berkeliling, pilihan objek gambar jatuh pada sebuah rumah yang letaknya dekat dengan sebuah kantor RW yang di luarnya tersedia bangku kayu. Ah, momen dan infrastrukturnya sudah cukup artistik. Saatnya menggambar sketsanya. Saat itu tak ada pikiran apapun. Hanya berusaha menggambar dengan baik. Mengapa rumah itu? Feeling saja. Bentuknya agak unik dan tempat menggambarnya nyaman. Sudah, itu saja.

Sudah bisa menebak rumah apa yang saat itu saya gambar? Betul sekali, rumah tersebut tak lain dan tak bukan adalah rumah yang sekian bulan berikutnya menjadi cabang kantor kami. Kebetulan? Bisa jadi, tapi apa guna dan manfaatnya sebuah kebetulan? Melihat kejadian sebagai kebetulan seperti merasakan kehidupan diatur dengan melempar dadu. Takdir? nah, ini lebih menarik. Kita yakin tidak ada yang namanya kebetulan. Segala sesuatunya terjadi dan ditakdirkan demikian oleh Allah dengan sebab dan pengaturan tertentu.

Hal ini nampak jelas jika mencoba melihat ke belakang tentang komponen-komponen penyusun sebuah kejadian. Andai salah satu komponen tersebut tidak diatur pada posisi tertentu, maka kejadian yang dihasilkan pun akan lain. Misalnya, jika hari itu hujan, maka aktivitas relaksasi saya bisa jadi tidur setelah menyeruput secangkir teh hangat. Jika tak ada kursi kayu di kantor RW itu, bisa jadi saya memilih objek yang lain. Jika di depan rumah itu ada penghuninya yang sedang membereskan tanaman, maka saya juga akan memilih objek lain. Oya, ini salah satu alasan saya memilih rumah ini, agar jangan sampai dicurigai orang. Dicurigai sebagai anggota dari komplotan garong yang sedang mengintai rumah sambil memetakan cara dan waktu yang tepat untuk menyatroni rumah tersebut di malam harinya. Dan jika saya tidak sedang tertarik belajar membuat sketsa, maka objek gambar pun tak akan tercipta.

Baiklah Gung, jadi ini sebuah takdir. Tapi takdir apa? Kalau ada pesan, apa pesannya? Nah, kalau yang ini kita hanya punya kuasa menebak-nebak. Sempat terpikir di awal sebuah pola sederhana. Saya gambar rumah. Tak lama rumah dimiliki kantor. Polanya: Saya menggambar sesuatu yang kelak akan dimiliki atau ditempati. Menarik! Mulailah imajinasi bergulir. Selanjutnya saya akan menggambar rumah yang lebih besar dan mewah. Kalau perlu istana. Saya akan menggambar mobil BMW. Saya akan menggambar pesawat jet. Saya akan menggambar seorang… ah tidak jadi. Saya akan menggambar… surga? Amiiin. Tapi ngawur, mana bisa digambar?? Bukankah surga terlalu indah untuk dipandang? Keindahan yang belum pernah dilihat mata? Ini pola sederhana yang sungguh sangat menarik. Sesaat saya merasa seperti Nobita yang memiliki pensil ajaib yang dimantrai Doraemon. Atau seperti robot cerdas yang mampu menggambar masa depannya sendiri (film i-robot). Ah, atau (tiba-tiba teringat) munculnya bayangan penaklukan Romawi dan Persia saat Rasulullah memukul batu keras saat membuat parit di Perang Khandaq (Perang Ahzab). Luar biasa!

Sesakti itukah? Entahlah, allahu a’lam. Yang jelas saya mengalami pengalaman yang mungkin menjadi inspirasi adegan di i-robot tadi. Visualisasi masa depan memang selalu menarik. Berbagai ramalan dengan berbagai metode oleh berbagai peramal memenuhi berbagai literasi berbagai zaman di berbagai tempat (wah, pengulangan kata ‘berbagai’nya menyebalkan). Manusia memang selalu ingin tahu nasibnya di masa depan yang penuh misteri (gaib). Walaupun demikian, diwanti-wanti agar tidak jadi banyak berangan-angan lalu malas berusaha. Masa depan bergantung pada amal manusia tanpa terlepas takdir Allah. (Hei, siapa yang tahu takdir Allah? Bukankah kita harus tetap optimis dan menyempurnakan amal?)

Tapi ada yang lebih menarik lagi. Mari kita kembali ke rumah ini. Setelah memasukinya, saya mengalami perasaan yang lain lagi. Rumah ini jelas dirancang dengan ilmu arsitek dan desain interior yang baik. Ada taman dan kolam ikan di dalam. Ada desain gaya minimalis-keren di interior dan eksteriornya. Ada sentuhan seni yang membuat rumah berbentuk huruf “L” ini (tampak atas) terasa asri dan sejuk.

Baiklah, lalu? Lalu?? Bagaimana tidak menarik saat saya menemukannya dalam keadaan sedang tertarik dunia arsitektur dan desain interior? Apakah ada pesan tersembunyi di balik rumah ini? Adakah ia memberikan sedikit potongan kejadian masa depan lainnya? Adakah sesuatu yang harus dijadikan perhatian lebih dibanding lainnya? Saya mulai sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak bisa dibuktikan selain dengan tindakan. Tak ada gunanya berimajinasi tanpa bertindak, bukan? Tapi setidaknya, rumah ini menambah tempat-tempat yang mempunyai arti khusus bagi saya. Nah, sekarang apa sebaiknya saya mulai menggambar istana-istana megah bertaman luas berikut segala isinya? Hehehe. Mungkin Anda juga tertarik untuk mencobanya 🙂

Berikut sketsa rumah tersebut,

A House Near Office

18
Sep
09

Selamat Idul Fitri 1430 H

SelamatIdulFitri1430H
Kawan-kawanku semua,
Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1430 H
bersama keluarga dan sanak saudara.
Semoga Allah menerima segala ibadah kita di bulan Ramadhan
dan mengampuni dosa-dosa yang kita perbuat.

Saya mohon maaf atas kesalahan yang saya perbuat,
atas kata atau perbuatan yang tidak berkenan,
atas silaturahmi yang terputus.

Semoga Allah mempertemukan kita dalam keadaan yang lebih baik daripada sebelumnya,
dan memberikan kesempatan kita berjumpa Ramadhan tahun depan.
Amin.

20
Aug
09

Marhaban Ya Ramadhan 1430 H

MasjiMedan_Ramadhan1430

Brothers & Sisters,
Selamat Menunaikan Ibadah Ramadhan 1430 Hijriah,
Semoga Allah Memberikan kesempatan pada kita untuk mengisinya dengan sebaik-baiknya,
Menyelamatkannya dari perbuatan buruk kita,
dan Menerima segala amal kita di dalamnya.
Amin. Amin.
Amin.

28
Jan
09

HAMAS, Palestina, dan Salahuddin Al-Ayyubi

Agresi militer Israel ke Gaza yang masih segar dalam ingatan kita semoga tidak berlalu begitu saja seiring berkurangnya liputan media. Selain nampak media mana saja yang peduli (saya nggak bilang TV One lho…) dan tidak peduli (saya juga nggak bilang Metro TV lho ya…) terhadap krisis ini, beberapa pertanyaan penting setidaknya terlintas dalam pikiran kita. Menyegarkan memori kita tentang apa yang sebenarnya terjadi di sana. Bagaimana sejarahnya. Siapa saja yang terlibat. Dan bagaimana perkembangannya dalam tahun-tahun ke depan.

Saya yakin banyak dari kita aktif mencari jawaban-jawaban pertanyaan itu selain ikut menyumbang, berdoa, dan memutar berulang-ulang lagu “We Will Not Go Down” setelah mengunduhnya dari situs Michael Heart. Banyak juga yang mencari chord-nya atau menjadikannya nada dering ponsel. Semua untuk menunjukkan dukungan atas perjuangan rakyat Palestina atas aksi biadab Israel. Mengenai sejarah Palestina yang panjang dapat dibaca di berbagai literatur, situs, atau buku-buku yang sudah sangat banyak mengulasnya. Mengenai alasan politis Israel menjelang Pemilu pun ada di Pikiran Rakyat dan Majalah Gatra. Mengenai jumlah korban sebenarnya dari Israel yang ternyata mencapai ratusan orang pun ada di Eramuslim. Mengenai nasib diplomasi dengan perantara Amerika pasca dilantiknya Obama pun ada dimana-mana (emang ngaruh ya?). Tulisan sekaligus resensi berikut lebih pada melihat sosok HAMAS sebagai motor perjuangan rakyat Palestina dan pemenang Pemilu 2006 lalu.

Berikut saya kutip beberapa isi buku “HAMAS Kenapa Dibenci Amerika” yang ditulis oleh Tiar Anwar Bachtiar dan diterbitkan oleh Penerbit Hikmah.

dsc004131Banyak analis memperkirakan bahwa sikap keras HAMAS ini sesungguhnya bukan karakter asli HAMAS, mengingat latar belakang HAMAS yang sebelum tahun 1987 (Intifadhah I) merupakan organisasi sosial dan keagamaan. Sikap keras HAMAS justru dipicu oleh kekerasan yang dilakukan Israel dan dukungan Amerika atas segala bentuk kekerasan itu. Menurut pengamat politik Arab, Huda Huseini seperti dikutip Mustafa Abd Rahman: “HAMAS mulai melakukan aksi kekerasan dengan cara bunuh diri sejak pembantaian oleh ekstrimis Yahudi, Baruch Goldstein, di Hebron tahun 1994 yang menewaskan sekitar 40 warga Palestina. Maka, kata Huda, HAMAS secara ideologi pada dasarnya bukan organisasi radikal. Lingkungan politik keras yang diciptakan Israel memaksa HAMAS melakukan aksi kekerasan.”

“Wahai Muadz, sesungguhnya Allah akan menaklukkan Syam untuk kalian pada abad sesudahnya sejak dari Arisy sampai ke Furat. Para penduduknya, laki-laki, wanita atau para budak, “bersiap-siaga” sampai Hari Kiamat. Siapa saja di antara kamu memilih (bertempat tinggal) di salah satu pantai Syam atau Baitulmaqdis, berarti dalam keadaan jihad terus-menerus sampai Hari Kiamat”

Cita-Cita dan Tujuan HAMAS

  1. Tujuan Umum: Mendirikan Negara Islam di Palestina
  2. Tujuan Strategis: Memerdekakan Seluruh Tanah Palestina
  3. Tujuan Antara
    • Membebaskan Tepi Barat dan Jalur Gaza
    • Mengislamkan masyarakat
    • Memperkuat legitimasi Sayap Militer
    • Melanjutkan gerakan Intifadhah
    • Menjaga Kesatuan Nasional
    • Membebaskan para tawanan dan menghentikan serangan Israel terhadap rakyat sipil Palestina
    • Menggali dukungan negara-negara Arab dan Islam
  4. Tujuan Segera
    • Netralisasi Kekuatan Militer Israel
      (Inilah salah satu penjelasan aksi Intifadhah dalam bentuk pelemparan batu yang  tampak tak seimbang melawan senjata Israel. Aksi ini bertujuan untuk menetralisasi kekuatan militer Israel agar tidak terlampau merasuk ke dalam jantung-jantung pertahanan rakyat Palestina)
    • Memantapkan legitimasi politik

Buku kecil ini memberikan kita pemahaman yang objektif (ya iyalah, situ dukung HAMAS) tentang sejarah, cita-cita, tujuan, tokoh-tokoh penting, bentuk organisasi, sampai ke strategi perjuangan HAMAS dalam konteks sejarah Palestina. Yang lebih keren lagi ditambah Lampiran Piagam HAMAS yang menjabarkan landasan, cita-cita, koridor perjuangan, serta sikap HAMAS. Sayang sekali untuk dilewatkan, apalagi mumpung memori dan semangat kita masih belum padam pasca kekalahan agresi Israel kemarin.

Menutup tulisan ini, saya segarkan kembali ingatan kita akan pahlawan pembebas Palestina pada 2 Oktober 1187, Salahuddin Al-Ayubi (“Saladin” kata orang Barat). Satu video berupa film animasi yang dibuat Malaysia (kapan ni film sampai Indonesia?). Satu video lagi menampilkan nasyid Sami Yusuf yang berlatar belakang cuplikan dari film “Kingdom of Heaven” yang luar biasa (sudah nonton, kan?). Film yang disudtradarai Ridley Scott dan dibintangi Orlando Bloom (pemeran Legolas dalam Lord Of The Ring) ini dinilai sebagai film produksi Holywood yang objektif menggambarkan peristiwa pembebasan Palestina saat itu. Heroik. Tidak ada pembantaian. Elegan sekali.

Selamat menonton.

17
Jan
09

We Will Not Go Down: Chords & Lyrics

wewillnotgodown
(klik pada gambar untuk mengunduh PDF)

Catatan: Lagu ini bisa diunduh cuma-cuma di sini, tapi jangan lupa untuk ikut melakukan donasi ke Palestina.
Begitu pesan Michael Heart.

dsc00390Terima kasih untuk mas Yulia Rendra dengan buku bagusnya yang berjudul
“Metode Mencari serta Menentukan Not & Accord Pada Sebuah Lagu”.
Dengan teknik di dalamnya, lagu “We Will Not Go Down” ini bisa diulik chord-nya
dengan gitar.
Kalau ada susunan chord yang keliru tolong dikomentari. Semoga bermanfaat, trims.

Gambar Anak Palestina diambil dari sini

16
Jan
09

Rumah Kosong dan Film Horor

Siang itu, seperti beberapa hari yang saya alami di pertengahan bulan Januari 2009, cuaca mendung. Mirip setting suasana film horor. Imajinasi yang melayang-layang bisa memunculkan sosok putih yang berkelebat di balik pepohonan rindang atau tiba-tiba muncul di bayangan cermin. Inilah akibat menawarkan diri untuk ditakut-takuti oleh sutradara film hantu. Sayang, episode ini masih berlanjut. Saya harus mendatangi sebuah rumah yang tidak ditempati untuk memeriksa kelayakannya sebagai lokasi syuting. Oh bukan, saya tidak tertarik untuk menyutradarai film horor, ini untuk keperluan lain.

Rumah ini ditempati sekitar 3-4 bulan yang lalu. Belum ada yang menyewa atau tertarik membeli. Rumah ini terletak di sebuah komplek yang terletak tak jauh dari keramaian. Jadi, lupakan soal pohon rindang tadi. Singkat cerita, saya pun membuka kunci pintu depan, sendirian. Atmosfer mendung dan angin yang bertiup membuat saya seolah aktor film horor yang akan mengalami sesuatu yang aneh di dalam rumah. Segera saya beristighfar, bagaimana mungkin manusia makhluk mulia tunduk takut pada makhluk jin? Tak ada ceritanya di Al-Qur’an. No way! Walaupun saya berharap tak usah lah bertemu dengan wujud jin itu kalau tak kuat iman. Tak ada urusan. Kembali ke tujuan semula. Bismillah.

Sampai di ruang tamu, yang muncul justru perasaan melankolis ini:sedih. Sedih karena rumah ini tidak berdaya guna memayungi orang-orang dari kelelahan, panas matahari, dan dinginnya hujan. Sedih karena teringat orang yang pernah mendiaminya yang telah meninggal dunia, meninggalkan kenangan-kenangan berupa lukisan dan pot bunga kesayangannya. Sedih karena teringat orang-orang yang pernah singgah dan pergi di rumah ini. Sedih karena teringat saudara-saudara di Gaza, Palestina yang kehilangan rumah-rumah mereka. Sedih karena suatu hari nanti saat nyawa tak lagi dikandung badan dan kehidupan berakhir, yang tersisa adalah hampa. Ruang-ruang kosong yang kehilangan kehangatan manusia. Kehilangan canda tawa dan lantunan ayat suci yang menyentuh hati. Rumah tak berpenghuni adalah dingin, dan cenderung berkonotasi horor itu benar adanya.

Setelah keperluan pemeriksaan selesai, saya pun keluar dan mengunci pintu kembali. Perasaan tak enak masih ada. Sebenarnya saat awal masuk, seekor kucing menawarkan diri untuk menemani saya masuk ke dalam rumah. Tapi segera saya usir. Okelah, lebih baik bersama kucing daripada sendirian, tapi lebih baik sendirian daripada sulit menangkap si kucing saat hendak keluar nanti. Apalagi kalau binatang itu tiba-tiba menunjukkan reaksi aneh, yang artinya bisa jadi dia melihat keberadaan jin. Seperti saya katakan sebelumnya, saya tidak tertarik ditemani jin. Kalau begini, repot jadinya. Bayangkan sulitnya situasi saat tak bisa pergi karena harus menangkap kucing di dalam rumah yang ditemani jin. Memang tidak sendirian, tapi yang menemani tidak membuat nyaman.

Tapi siapa bilang kita sendirian? Bukankah ada malaikat yang selalu bersama kita? Dan Allah yang Maha Melihat? Inilah pelajaran bagi mereka yang masih bercita-cita menjadi sutradara film horor. Cobalah cari lagi bakat terpendam yang lain, yang mengajarkan orang memandang hidup lebih dari sekedar kumpulan perasaan takut. Dan bagi penggemar film horor, apa tak ada cara lain melatih adrenalin tanpa membahayakan iman? -lho mas, kok jadi emosi?




My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 189,810 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia