Archive for the 'karya' Category

11
Jan
10

Somewhere on the bridge

03
Dec
09

Short Movie(2): “Mendingan”

Setelah film sebelumnya, film pendek (hanya 1 menit) yang berjudul “Mendingan” ini menjadi salah satu peserta kompetisi film pendek di HelloFest. Selamat menyaksikan!

Wika harus menemukan semua temannya yang sedang bersembunyi.
Mereka punya waktu 10 detik sebelum Wika mulai mencari.
Apa yang dilakukan Wika sebelum 10 detik habis?
Saksikan hanya di “Mendingan”!

Behind the scene:

18
Sep
09

Selamat Idul Fitri 1430 H

SelamatIdulFitri1430H
Kawan-kawanku semua,
Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1430 H
bersama keluarga dan sanak saudara.
Semoga Allah menerima segala ibadah kita di bulan Ramadhan
dan mengampuni dosa-dosa yang kita perbuat.

Saya mohon maaf atas kesalahan yang saya perbuat,
atas kata atau perbuatan yang tidak berkenan,
atas silaturahmi yang terputus.

Semoga Allah mempertemukan kita dalam keadaan yang lebih baik daripada sebelumnya,
dan memberikan kesempatan kita berjumpa Ramadhan tahun depan.
Amin.

07
Sep
09

Artworks #1 (Rose)

Since today is still in Ramadhan, then it’s a very good time to do charity. I share my cartoon-style artworks, free for you to use in any kind of means (designs, avataar, wallpaper logo, etc). And hey, look! no watermarks :).

For return, you might want to donate to help the victims of Tasikmalaya’s Earthquake almost a week ago (many bank accounts for this purpose; just watch TV, read the news, or googling). Or if you want to help poor children and their parents in Bandung (specially near my house at Kiaracondong) to have happier Idul Fitri, then you can. Just donate to BNI Syariah Acc. No. 0174072385 on behalf of Agung Prasetyo. I’ll post the report later, insyaAllah.

Let’s say i’m trying to do what Michael Heart did with his royalte-free song “We Will Not Go Down“. It’s free, but please donate to help Palestinians. Who knows it works too for royalty-free artworks… hehehe. Well, see you again then, enjoy your Ramadhan 🙂

23
Jul
09

Jangan Keluar Dari Pekerjaan Sebelum Dipecat

Sebelum dibahas, saya cuplik satu kutipan yang saya suka di dalam buku ini. Coba dengar ini,

Membenci Senin adalah alasan lemah karena telah menyia-nyiakan sepertujuh hidup Anda.

DSC00691 Ok kawan, pasti ada yang tak sepakat dengan judul tulisan ini. Setidaknya dengarkanlah dulu isi buku terjemahan dari judul aslinya ini, “Love It, Don’t Leave It: 26 Ways to Get What You Want At Work”. Kalau di-Indonesiakan menjadi “26 Kiat Meraih Kesuksesan dan Kepuasan Kerja Tanpa Berganti Pekerjaan”. Hoah…another How-To Books? No, thanks. Eit tunggu, duduklah sebentar, dan coba pikirkan beberapa pertanyaan ini,

  • Bagaimana pekerjaan dapat membuat saya bergegas bangun di pagi hari?
  • Seandainya saya memenangkan undian dan berhenti bekerja, apakah yang menjadi kehilangan terbesar bagi saya?
  • Apakah Anda sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tak sempat untuk memikirkan masa depan?
  • Dalam bekerja, pencapaian apa yang secara khusus membuat saya merasa bangga?
  • Perubahan besar apakah yang sedang terjadi di bidang industri, ekonomi, politik, dan sosial yang memengaruhi perusahaan?
  • Apakah pekerjaan Anda membuat hubungan Anda dengan keluarga menjadi renggang?
  • Kapankah terakhir kali Anda tertawa terbahak-bahak (ya, maksudnya tertawa dengan rasa gembira yang amat sangat) sewaktu bekerja? Tahun lalu? Bulan lalu? Minggu lalu? Kemarin?
  • Bayaran saya kurang dibanding dengan apa yang saya kerjakan?
  • … Bagaimana, seperti yang ditanyakan saat wawancara masuk kerja ya? Hihihi…

Bekerja, seperti kita tahu, merupakan aktivitas yang kita jalani hampir selama separuh umur hidup kita. Pagi sampai sore (bahkan sampai malam) kita habiskan untuk bekerja. Bekerja menjadi hidup kita yang kedua. Layaknya hidup, berbagai macam hal harus kita hadapi, baik yang sederhana maupun yang kompleks. Mulai dari pekerjaan itu sendiri, rekan kerja, atasan, lingkungan kantor, peraturan perusahaan, gaji, kesempatan mengembangkan diri, sampai menu makanan di kantin. Seiring waktu, tak semua hal ini memuaskan. Setidaknya itu yang kita pikirkan selain rumput tetangga yang nampak lebih hijau. Jadi, apakah ini saat yang tepat untuk mengundurkan diri? Keluar? Pindah perusahaan? Atau memulai bisnis sendiri? Apapun jawabannya, setidaknya ada beberapa pekerjaan rumah yang hendaknya dikerjakan. Nah, buku ini memberikan 26 daftar pekerjaan rumah itu.

Heh sebentar, mengapa pula saya harus bertahan di perusahaan ini kalau semuanya sudah ‘selesai’ buat saya? Hmm…bagaimana ya, apa Anda yakin semuanya sudah ‘selesai’? Apa Anda yakin rumput itu memang lebih hijau? Apa Anda yakin masalah-masalah yang menyebalkan di perusahaan ini tidak akan Anda alami di perusahaan yang baru? Apa Anda yakin sudah tidak ada lagi yang menantang untuk dipelajari? Nah, demikianlah kiranya sebagian besar isi buku ini. Keluhan. Pertanyaan. Curhat. Jawaban. Lalu pertanyaan lagi. Demikian seterusnya. Kalau mau dirangkum dalam beberapa ide besar, kiranya demikian:

  • Tanyalah. Anda tidak akan mendapatkan apa yang tidak anda minta. Tak ada ruginya, karena memang Anda berhak untuk bertanya dan meminta. Tentu dengan cara-cara yang elegan.
  • Jangan menunggu orang lain, siapapun itu, melakukannya untuk Anda. Jika Anda menginginkan sesuatu, Andalah orang pertama yang melakukannya, bukan orang lain.
  • Banyak-banyak mendengar dan memahami.
  • Terus kenali diri Anda sendiri. Cita-cita, rasa suka, rasa benci, semuanya. Apa yang Anda inginkan? Bagaimana semua itu mempengaruhi pilihan-pilihan Anda?
  • (Hei, ini tampak sebagai penjabaran, bukan rangkuman…) Ups, nampaknya saya belum mendapatkan ide-ide besarnya. Eh, atau memang ide besarnya cukup banyak?

Yang membuat buku ini bagus antara lain penulisnya yang berpengalaman menangani keluhan rutin karyawan yang hendak keluar, gaya penyampaiannya yang santai tapi mengena, pertanyaan-pertanyaan yang bagus, dan kutipan-kutipan yang sayang untuk dilupakan. Ternyata bersyukur dengan pekerjaan yang sudah dijalani memang tidak mudah. Apalagi jika terdengar kabar lulusan perguruan tinggi tertentu mudah sekali pindah-pindah perusahaan sehingga muncul istilah ‘kutu loncat’ itu lho.

Membaca buku ini saya jadi teringat nasihat tentang hak dan kewajiban yang memang seharusnya sudah kita miliki saat kita bergabung ke organisasi tertentu. Saat kita telah bergabung, kita sudah termasuk pada definisi tentang organisasi itu. Dengan kata lain, kita menentukan bagaimana bentuk organisasi itu kemudian. Lihat? Kita punya kuasa. Kita adalah penentu. Hanya memang, sering kita abai. Tak mudah memang untuk benar-benar ‘klik’ dengan pekerjaan berikut segala macam keterkaitannya. Kalau ada yang bilang,

Pilihlah pekerjaan yang kau sukai, maka Engkau tak akan perlu bekerja dalam hidupmu. (Confusius)

maka seperti yang (mungkin) sering diulang oleh bagian HRD perusahaan,

Ini bukan tentang memilih pekerjaan yang dicintai, tapi tentang mencintai pekerjaanmu.

Hmm… butuh waktu melakukannya. Baca buku dulu, ah.

—————

Keterangan:

  • Judul: Jangan Keluar Dari Pekerjaan Sebelum Dipecat, 26 Kiat Meraih Kesuksesan dan Kepuasan Kerja Tanpa Berganti Pekerjaan
  • Penulis: Beverly Kaye dan Sharon Jordan-Evans
  • Penerbit: Kaifa (2004)
13
Feb
09

Behind The Scene: Membuat Film Pendek

“It’s wrapped!” (Terjemahan bebas: “Bungkus!”), seru sutradara kami sesaat setelah pengambilan adegan terakhir untuk ketiga kalinya. Entah bagaimana sejarahnya, kata-kata ini adalah indikasi bahwa tahap produksi (syuting) selesai dilakukan. Pertama kali saya dengar istilah ini saat menonton acara “MTV Screen” yang menceritakan proses di balik pembuatan sebuah film. Hari itu ternyata kami mendengarnya langsung karena memang kami sedang membuat film! Film pendek pertama kami! Film yang membutuhkan waktu syuting seharian untuk menghasilkan film dengan durasi mendekati 5 menit. Belum ditambah waktu menggodok ide, menyusun skenario, membuat naskah, menyiapkan properti, mengajukan sponsor, dan lain sebagainya yang memakan waktu satu bulan. Semua itu hanya untuk durasi 5 menit?? Bukan main!

Berhubung kami bukan insan film dan tidak kuliah di jurusan film,  maka kami wajib mencari referensi yang singkat dan padat tentang teknik pembuatan film pendek (bisa juga disebut film indie). Minimal kami harus tahu tahap-tahap apa yang harus kami jalani dan mempersiapkan segala sesuatunya dari A sampai Z. Syukurlah kami menemukan buku bagus ini: “Bikin Film Indie itu Mudah!” (Penerbit Andi). Sederhana bukunya, lengkap dan padat isinya. Rasanya buku ini bacaan wajib untuk pembuat film amatir seperti kami ini. Tak terbayang betapa putus asanya kami jika dari awal kami tidak memperhitungkan lamanya waktu persiapan untuk menghasilkan film berdurasi 5 menit itu.

Benar saja, mengetahui tahap-tahap pembuatan film memberi kami perspektif yang berbeda dalam menonton film karena kami berusaha menempatkan diri sebagai orang-orang yang berada di balik layar proses produksi sebuah film. Ada rasa salut pada orang-orang yang telah memproduksi film-film box office semacam Lord of The Ring yang katanya membutuhkan waktu 3 tahun untuk merancang segala macam propertinya, dan menyiapkan 3 stel pakaian untuk setiap tentara uruk-hai yang buannyaak itu, belum lagi karakter-karakter utamanya…

Bagian paling penting dan paling lama dari proses pembuatan film adalah tahap pra-produksi. Intinya adalah mendapatkan ide cerita, menyusun skenario, merancang adegan (lihat “Film: Komik, Imajinasi, dan Pesan Rahasia”) merancang properti, menyusun jadwal, mendapatkan aktor, dan mengkalkulasi anggaran. Setelah pra produksi siap, berikutnya masuk ke tahap produksi, yakni syuting. Tahap ini bisa cepat jika sebelumnya telah jelas adegan-adegan apa yang harus diambil berikut segala macam detilnya. Jadi, jangan terburu-buru ingin syuting sebelum jalan cerita dan detil adegan selesai dibuat. Hal ini sama saja menghabiskan waktu dan membuat frustasi karena tak jelas gambar seperti apa yang harus diambil. Bagian terakhir adalah pasca produksi. Bagian ini meliputi proses penyuntingan adegan-adegan yang telah diambil sampai terbentuk film yang diinginkan. Tak lupa ditambahkan berbagai efek video dan suara, serta tulisan dan credit (daftar kru film). Jika film yang dibuat untuk tujuan komersial, maka setelahnya ada proses pemasaran lewat konferensi pers, nonton bareng, atau jumpa fans. Oya, jangan lupa beres-beres lokasi syuting dan mengumpulkan uang dan bon-bon belanja untuk dicocokkan pengeluaran dan pemasukan oleh produser, siapa tahu nombok-nya kebanyakan hihihi…

Seperti yang ditulis pada buku “Membuat Film Indie” itu, benar sekali bahwa penonton tidak peduli proses pembuatannya, yang penting hasinya harus sempurna. Penonton sangat mudah mengetahui kekurangan dalam pengambilan gambar, akting yang kaku, suara yang jelek, sampai cerita yang membingungkan. Bukannya diapresiasi, film yang sudah capek-capek dibuat bisa saja enggan ditonton sampai ditertawakan karena kelihatan bohongnya (kecuali film komedi kali yak…). Maka dibutuhkan kerjasama yang apik antara sutradara yang mampu bercerita secara visual dengan detil yang baik, kameramen yang jeli mengambil gambar, produser yang siap menyediakan segala macam kebutuhan sutradara, editor yang pandai mengolah video dan suara, serta aktor yang menjiwai perannya dengan utuh. Tentu saja, itu semua didukung kru yang siap bekerja demi hasil yang sempurna. Nah, kalau filmnya sukses, jangan lupa makan-makan ya! (halah). Selamat bercerita lewat film.

Suplemen: Film: Komik, Imajinasi, dan Pesan Rahasia

Film merupakan salah satu teknik bercerita secara visual. Sebenarnya teknik bercerita film ini mirip dengan komik (panjang lebar mengenai komik dapat dibaca di buku “Understanding Comics“). Jadi bagi kawan yang menggemari komik, maka rasanya tidak berlebihan kalau kelak ingin membuat film pendek sendiri dan menjadi sutradara di dalamnya. Beberapa persamaan dan perbedaan film dan komik antara lain:

  • Komik tersusun atas kumpulan potongan-potongan gambar yang saling terkait dengan alur tertentu. Bisa alur maju, mundur, atau kombinasi keduanya. Begitu juga dengan film yang tersusun dari kumpulan adegan yang saling terkait dengan alur tertentu.
  • Keduanya bertutur secara visual atau lewat gambar, sehingga hal ini menjadi pertimbangan utama saat menyusun alur cerita. Contohnya karakter jahat digambarkan dengan warna-warna gelap, diperlihatkan dari sudut pandang yang mengancam ditambah suara latar yang menegangkan. Sebaliknya karakter baik digambarkan dengan warna-warna terang, raut muka yang bersahabat ditambah suara latar yang heroik. Semuanya untuk membangun kesan karakter dan jalan cerita sesuai yang diinginkan sutradara / pembuat komik.
  • Film lebih kaya secara visual lewat kumpulan gambar yang bergerak dan secara audio lewat suara. Komik hanya memiliki kumpulan gambar diam tanpa suara. Komik yang nampak lebih “miskin” bukan berarti kalah dengan film. Pembaca komik diajak lebih berimajinasi untuk menyatukan kumpulan gambar diam itu dan memproduksi suara masing-masing sesuai tulisan yang mewakili suara, semacam “JREENG!”, “DUARR!”, “JLEB!”, dan sebagainya.

Film yang bagus adalah film yang berhasil menggiring pikiran dan perasaan penontonnya untuk berpikir sesuai keinginan sutradara. Jadi jangan protes kalau pikiran dan perasaan kita terasa ‘dipermainkan’ oleh sutradara. Itu memang tugasnya. Maka jangan kesal kalau mendadak muncul fantasi seram di tempat sepi setelah menonton film psikopat atau horor.

Film yang bagus juga mampu membangun sebuah kenyataan baru yang sebelumnya tidak ada, seperti bertamasya ke masa depan, melongok masa lalu, sampai mengubah sejarah. Lihat saja yang melontarkan pikiran penontonnya jauh ke masa depan lewat perjalanan galaksi ala Star Trek, menyaksikan pertarungan antar ras makhluk hidup memperebutkan cincin sakti ala Lord of The Ring, dan mengguncangkan kesadaran saat datangnya bencana global ala Deep Impact atau The Day After Tomorrow. Ada sebuah dunia semu yang bisa diatur seenaknya dalam film, dan tak perlu masuk akal. Lihat saja aksi agen 007 yang tetap ganteng dan tak terluka setelah diberondong sekian puluh tentara yang begitu tampak bodoh tak bisa melumpuhkan satu orang. Sebagaimana muskilnya tokoh jahat yang selalu gagal membunuh tokoh utamanya di detik-detik terakhir.

Ajaibnya, sedemikian rupa penonton dibuat percaya. Oleh karena itu film menjadi alat propaganda yang ampuh untuk membangun cara berpikir dan merasa penontonnya. Maka tak heran sensor dibutuhkan untuk menyaring pikiran-pikiran yang secara halus / kasar diselipkan pada ide-ide cerita film (tapi gimana caranya? sensor visual mah gampang, yang non visual itu sulit bahkan hampir tak mungkin). Contohnya, sudah rahasia umum film-film barat mengirimkan pesan-pesan materialisme dan permisivisme dalam film-filmnya (lihat Eramuslim Digest: HollyWood Undercover). Anyway, membuat film merupakan peluang bagus bagi kawan yang gemar bercerita dan ingin menyampaikan pesan-pesan ke pikiran orang lain (tanpa sepenuhnya disadari) lewat kemampuan mengolah cerita, gambar dan suara.

01
Feb
09

Film: Save Energy, Save Your Life!

Indosat mengadakan kompetisi “Indosat Short Movie” dalam rangka ulang tahunnya yang ke-41 dengan mengusung tema “Green Technology“. Tim kami, yang disponsori oleh Humane City Foundation, membuat film dengan judul “Save Energy, Save Your Life”. Film ini ber-genre komedi-thriller. Selamat menyaksikan.

Sinopsis:
Tommy cuek dalam menghemat energi. Ia suka menjahili Bayu yang punya kebiasaan sebaliknya. Larut malam, saat ia menonton TV, ia kena batunya. Terbukti, sikap hemat akan menyelamatkan nyawa Anda.

(mengerti kan, mengapa komedi-thriller?)

Dukung film ini? Thanks, kunjungi kami di:

http://indosatshortmovie.com/?ad=v&d=706

(catatan: selain penilaian juri yang utama, terbuka kesempatan bagi pemilih untuk memilih film favoritnya sampai 10 Februari 2009)

FAQ bagi voters (dikutip dari FAQ indosatshortmovie)

  • Bagaimanakah cara melakukan voting?
    Voting bisa dengan dua cara, yaitu dengan klik tombol “Vote” pada film yang anda pilih, atau dengan cara mengirimkan sms ke 668 dengan format ISM<spasi>Kode Film.
  • Apa perbedaan voting lewat website dengan voting lewat sms?
    Untuk voting langsung melalui website, setiap user hanya dapat mem-vote satu kali untuk setiap film yang dia pilih. Sedangkan voting melalui sms, setiap nomor pengirim sms dapat mengirimkan sms vote sebanyak-banyaknya untuk setiap film yang dia pilih.
  • Apakah bisa mengirimkan voting sms dari nomor selain Indosat?
    Voting sms hanya berlaku bagi nomor Indosat saja.
  • Bagaimana bila ada peserta yang curang membuat account palsu dan melakukan voting palsu untuk filmnya sendiri?
    Setiap voting yang masuk ke database akan melalui pengecekan secara ketat oleh sistem dan tim Admin ISMC, jadi apabila ada yang berbuat curang seperti itu dia hanya buang-buang waktu dan tenaga saja, karena voting dia akan langsung kami batalkan. Jadi setiap kali melakukan voting, isilah data diri anda secara benar, terutama nomor indosat dan alamat email anda, bila tidak voting anda nantinya akan kami batalkan.

Credits
Alhamdulillah, terima kasih untuk Pak Bambang dari HCF, Tri (produser), Nita (asisten produser), Luky (aktor), mas Gele (director, cameraman, dan editor), dan mas Fendi (lighting). We did our best! Senang rasanya bekerja dengan orang-orang yang kreatif dan bersemangat. Semoga karya kita berkah dan menang! (Looking forward for our next project 🙂 )

That’s all, hope you’ll enjoy. Ada komentar?




My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 180,998 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia