Archive for the 'lagu' Category

31
Dec
09

Catatan Akhir Tahun

Tulisan pertama saya di aprasetyo.wordpress.com ini tercatat pada 24 April 2007. Tulisan itu berupa resensi buku “The Present” yang saya baca di sebuah ruangan di perpustakaan pusat ITB yang nyaman sekali. Saking nyamannya, waktu dua jam saya habiskan sambil bersantai sekaligus menghabiskan buku itu. Karena cukup berkesan, saya tak tahan untuk tidak berbagi. Resensi itu sekaligus mengawali posting pertama di blog yang telah berusia 2 tahun ini.
Apalah arti 2 tahun berbagi lewat tulisan? Apalagi saya tidak cukup rajin untuk menampilkan tulisan baru setiap harinya seperti yang Pak Dosen ini lakukan. Paling saya pasang target setidaknya sekali seminggu ada satu tulisan. Lama kelamaan saya naikkan jadi dua tulisan per minggu. Itupun tidak bisa selalu saya penuhi. Jika dihitung sejak April 2007 hingga Desember 2009 (20 bulan), saya baru mampu menghasilkan 121 tulisan. Ini berarti rata-rata 6 tulisan per bulan, yang artinya tidak sampai 2 tulisan per pekan. Itupun tanpa standar bentuk tulisan yang dimaksud. Bisa berupa tautan video dengan komentar tak panjang, sebuah lelucon, sampai tulisan yang bersambung tiga kali. Mohon maaf pula, masih ada beberapa tulisan yang belum ada sambungannya. Artinya, saya masih belum konsisten menjaga ritme menulis saya. Jika dibandingkan dengan 500 tulisan yang ditulis Bung Karno selama 4 tahun pada usia seperti saya sekarang ini, saya baru bisa mengejar setengahnya. Jelas tak usah dibandingkan dari sisi kualitas. Tulisan Bung Karno ‘menggerakkan’ rakyat, penuh semangat perjuangan, dan kritik keras terhadap pemerintah kolonial Belanda. Berbeda dengan tulisan saya yang hampir semuanya seputar human interest saya pribadi.
Saya memang belum bermaksud untuk ‘menggerakkan’ Anda sebagi pembaca. Saya hanya membayangkan Anda membaca tulisan saya sambil santai. Santai, tapi tetap dapat ‘sesuatu’. Tak heran hampir di setiap paragraf saya bumbui dengan ‘hehehe…” atau 😛 untuk mengikuti gagasan yang saya rasa mulai ‘serius’. Saya tak ingin Anda merasa pusing karena terjebak di paragraf-paragraf tulisan saya. Saya tak mau Anda meninggalkan tulisan saya dengan rasa murung apalagi kecewa. Saya ingin Anda terhibur. Setidaknya, dengan satu senyum simpul di bibir Anda. Ya, seperti ini 🙂 Terima kasih, saya tahu Anda sedang tersenyum sekarang ini. Tema-temanya pun seputar how dan why dari sesuatu yang saya anggap menarik. Sengaja tidak saya bahas tentang opini-opini ‘serius’ yang banyak Anda temukan di situs-situs berita. Selain karena saya tidak menguasai, saya rasa kunjungan Anda ke blog saya bukan untuk mencari bahan perdebatan baru. Cukuplah informasi serius Anda dapatkan di situs-situs tersebut. Selebihnya, bolehlah Anda sedikit terhibur di sini. Tapi saya tidak pernah memaksa Anda untuk tersenyum, lho.
Dari sisi jurnalistik, mayoritas tulisan saya termasuk feature (karangan khas).
Sifat tulisan feature lebih “menghibur” dan “menjelaskan masalah” daripada sekedar “menginformasikan” karena feature adalah tulisan yang menuturkan peristiwa disertai penjelasan riwayat terjadinya, duduk perkaranya, proses pembentukannya, dan cara kerjanya. Ia lebih banyak mengungkap unsur how dan why sebuah peristiwa sehingga mampu menyentuh ketertarikan manusiawi (human interest) atau menggugah perasaan (human touch)
– dikutip dari buku “Jurnalisme Terapan”, karya Asep Syamsul M. Romli –
Ini pula yang menjelaskan frekuensi tulisan saya yang tidak bisa muncul sehari sekali. Proses menulis feature membutuhkan sekumpulan fakta, opini, dan angle yang tepat. Angle yang tepat inilah yang baru bisa saya peroleh maksimal dua kali seminggu, bahkan lebih sering kurang daripada itu. Angle ini sering muncul justru pada saat tidak sedang memikirkannya. Biasanya saat dalam waktu luang di perjalanan pulang, saat menikmati air hangat sepulang kerja, sampai saat sedang tidak khusyu di rakaat-rakaat shalat. Ayolah, Anda juga pernah merasakannya, kan? Saat ide-ide melintas cepat di sela-sela rakaat? Yang penting kita simpan dulu penjabarannya sampai shalat selesai. Jangan dibahas waktu shalat. Nanti makmum serempak mengucap “subhanallah” saat Anda sebagai imam langsung berdiri pada rakaat kedua. Salah satu angle terbaik yang saya dapatkan, juga terbukti dari banyaknya statistik kunjungan ke tulisan tersebut, adalah tulisan tentang chord lagu We Will Not Go Down yang muncul setahun silam. Setahun lalu, saat agresi Israel ke Jalur Gaza. Wajar saja, tulisan itu muncul 1-2 hari setelah penciptanya mempublikasikan lagu tersebut. Pada saat yang sama, saya juga sedang mencoba teknik mendapatkan chord suatu lagu. Lagu itu adalah studi kasusnya. Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Selama menulis di blog, baik blog pribadi maupun berkomentar di blog orang lain, saya merasakan manfaat blog sebagai media tulisan yang membantu mendewasakan penulisnya. Alhamdulillah, saya merasa beruntung telah menulis di blog sebelum social media seperti Facebook (FB) dan mikroblogging seperti Plurk dan Twitter menjejali ruang dan waktu kita di dunia maya. Hal ini membuat saya lebih punya kesempatan untuk mengembangkan semangat menulis dengan serius. Serius artinya ada ide besarnya, lalu dijabarkan pada paragraf lead, sampai paragraf-paragraf berikutnya yang menjelaskan ide besar tersebut. Sehingga, terciptalah tulisan yang utuh. Ada idenya, dan ada bentuknya. Hal ini –silakan jika Anda tidak sependapat– tidak lagi didapatkan di social media atau mikroblogging. Para narablog kini tidak lagi sebanyak dahulu menuliskan idenya secara utuh dalam bentuk tulisan. Update status FB atau Twitter jauh lebih diminati daripada susah payah menyusun tulisan. Cukup 160 karakter di Twitter, Anda dapat menuai respon yang tidak sedikit dari follower atau teman Anda. Perasaan dapat berkomunikasi interaktif dengan lebih singkat dan lebih cepat inilah yang mungkin membuat keduanya begitu digemari daripada blog. Saya sependapat dengan Kang Romel yang berpendapat bahwa jika tidak diwaspadai, kecenderungan lebih asyik di FB daripada blog dapat mematikan budaya dan kreativitas berpikir dan menulis.
Tidak ada penulis manapun yang dapat berkembang tanpa umpan balik dari pembacanya. Dalam blog ini, Andalah, wahai para komentator, salah satu yang membuat saya bersemangat menulis. Saya sadar traffic blog ini belum sepadat para narablog yang menjadi simpul massa. Belum cukup memberi kebanggaan seorang komentator pertama dengan komentar khasnya, “Pertamax!” sebagai gambaran betapa sulitnya menjadi pemberi komentar yang pertama di antara sekian banyak penggemar. Saya senang mendapat komentar, yang hingga tulisan ini dibuat sudah mencapai 617 komentar, termasuk komentar saya sendiri. Jika bagian saya dihilangkan, mungkin tersisa lebih dari setengahnya. Jadi, rata-rata ada 3-4 komentar per tulisan. Mas Trian tercatat sebagai pemberi komentar terbanyak (30) sekaligus pemberi komentar pertama sejak blog ini dibuat. Saya akui bahwa keberanian untuk mempublikasi tulisan dalam bentuk blog, terutama di periode awal blog tercipta, banyak dipengaruhi oleh komentar-komentar awal. Maklum saja, kita belum cukup percaya diri untuk membiarkan orang lain membaca tulisan ‘baru’ kita yang kita nilai tidak penting, tidak tersusun dengan baik, sampai yang kehilangan ide besarnya. Jadi, sekalian saja saya berterima kasih pada mas Trian ini yang telah membesarkan hati untuk tetap nge-blog di periode awal. Walaupun kini bapak satu anak ini sudah jarang nge-blog, tapi sekira 2 tahun yang lalu narablog yang satu ini cukup populer ditandai dengan traffic nya yang tinggi dan komentatornya yang banyak. Rasanya lebih nyaman kalau blog kita ‘tumbuh’ bersama blog kawan-kawan kita, seperti tumbuhnya kemampuan berpikir dan menulis kita.
Terima kasih juga saya sampaikan kepada Rachma yang telah memberikan kreativ blogger award untuk gaya penulisan blog ini. Saya menilai banyak tulisan saya punya anak kalimat yang panjang. Saya sering merasa harus memasukkan sekian banyak ide dalam satu kalimat. Secara bahasa jurnalistik, ini tidak bagus. Oleh karena itu, tulisan-tulisan berikutnya insyaAllah akan lebih baik. Minimal tidak membuat pembaca terengah-engah menyelesaikan satu kalimat yang tidak kunjung selesai. Ide besar gaya penulisan sesuai visi misi blog ini. Saat pembaca menikmati tulisan, saya ingin mereka tidak kesulitan menemukan ide besarnya. Saya ingin mereka mencerna setiap kalimat dengan senang hati. Santai saja, tapi dapat ‘sesuatu’ setelah membacanya. Entah apa saya masih tertarik untuk mempertahankan misi ini. Siapa tahu ada misi lain yang lebih menarik untuk dilakukan. Selama Anda, sebagai pembaca, merasakan manfaat dari tulisan saya, tentu saya akan senang hati untuk tetap menulis, apapun gayanya.
Last but not least, sudah sekian banyak judul saya gunakan untuk blog ini, mulai dari nama sendiri sampai frasa yang saya rasa menarik. Sengaja saya memperbanyak update status FB agar jangan kalah cepat dengan berubahnya judul blog ini, hahaha…Begitu pula tema warna yang saya pilih di template bawaan wordpress ini. Memang rasanya lebih menarik jika punya desain sendiri dengan alamat sendiri, tanpa ada embel-embel wordpress.com. Hal ini saya rasakan lebih ‘menjual’, dan lebih profesional. Someday, insyaAllah.
Thank you, amigos. Thank you for your supports and critics. Terima kasih untuk orang-orang yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang telah memberi warna tulisan saya. Mari kita tetap menulis, karena:
“Hanya mereka yang merasa hidup ini menarik dan mereka yang ingin membantu memajukan kota dan dunia yang patut terjun di bidang jurnalistik”
– dikutip dari buku “Jurnalisme Terapan”, karya Asep Syamsul M. Romli –
29
May
09

‘V’ in ‘Very’

Once upon a time in junior high school, i took an english course in Lembaga Indonesia Amerika (LIA), where i had this gentleman as my teacher. My teacher is a kind of an old-wise man who can makes you feel that learning English is very important and it has to be done seriously. Very seriously (eg. don’t forget to bring dictionary in his class). But of course, he understands not to leave jokes and humour to make English even more fun. For example, he might calls you with names that he instantly makes from the letters that are printed in your t-shirt or pictures that is drawn on it. So, don’t wear t-shirt with some monkey smiling on it. Joking. Or sometimes we sang songs to practice our pronounciations. We enjoy it, we miss that guy.

So, one day we learned how to pronounce the letter ‘V’. He told us about how to correctly pronounce it.

“If you can’t pronounce ‘V’ as the way it should (look at the dictionary), then it’s better to pronounce it like ‘W’ instead of ‘F’. For example, if you can’t speak the word ‘very’ correctly, then it’s better to pronounce it ‘wery’ than ‘fery’, because ‘wery’ sounds closer to ‘very’ than ‘fery’ “

He told us to pronounce it again, again, and again until it is correct. Difficult, but we made it. We spoke ‘very’, ‘everyday’, and ‘volkswagen’ just like true englishman. Cool.

Until several weeks ago i listened this song about ‘jomblo’ by a woman singer.

“..I’m single and very happy…”

That’s what she means, but listen carefully. She pronounce it ‘fery happy’ instead ‘wery happy’ or even further than ‘very happy’ itself. It bothers me because ‘fery happy’ is part of reffrain, so it is repeated again, again, and again. If he listen to this, maybe he will tell us,

“Now you understand why i told you that, so perhaps you can smile every time that song is played. Maybe i should open an english class special for singer. Their song is listened everywhere by everybody, so they must pronounce words correctly”

There you go. So, let’s pay attention to the words we are pronouncing, it’s important. My friend once told me that he felt so unconfidence when his American relative told him after a little bit misunderstanding session,

“Excuse me, what are you talking about ??”

Now back to the song. It has nice melodies. It’s just the problem of ‘fery’ and the lyric itself that tell us not to be affraid of being single. A married couple perhaps will sing another song too. They say,

“..I’m married and even happier…”

26
Feb
09

Belajar Biola (1): ‘Yay’ dan ‘Nay’

biola_wiki1

Sebelum kita melihat apa dan bagaimana memainkan biola, terlebih dahulu kita lihat beberapa gosip dan fakta seputar bermain biola. Sebut saja kita bagi ke dalam dua kategori besar: yang membuat orang ingin bermain biola kita sebut ‘Yay’ (alias “yes!”) dan yang membuat orang tak tertarik kita sebut ‘Nay’ (alias “no!”). Kita mulai dari ‘Yay’.

  • ‘Yay’ :

    • Bunyinya itu lho, melankolis-dramatis!

    • Bentuknya artistik abis!

    • Orkestra! Orkestra! Pokoknya saya harus bisa main di orkestra! Sangat berkelas!

    • Tengoklah cara orang menyandarkan biola di atas bahunya dengan kepala setengah menoleh. Amboi, anggun sekali…

    • Pengen kaya Vanessa Mae, Maylaffayza, Idris Sardi, The Corrs, Yehudi Menuhin, …

    • Einstein itu main biola lho! Aha, aku tahu…ini pasti membantu bakat jenius untuk muncul!

    • Dikasih biola sama mama. Dapet warisan biola tua dari eyang. Daripada nganggur, cobain ah…

    • Pengen bisa mainin lagu klasik pakai biola…Klasik is the best lah pokoknya!

    • Pengen ngamen pakai biola, soalnya orang ngasihnya lebih banyak daripada pakai gitar. Orang kan mikirnya biola lebih sulit, lebih berkelas. Jadi aja mau ngasih lebih…

    • Keroncong, musik yang katanya asli Indonesia itu…gak afdhal kalau gak ada biola. Gue cinta musik Indonesia…(teu nyambung pren…)

    • Justru karena biola itu sulit, saya berani coba. Ini tantangan buat saya. Mampu memainkan yang sulit dimainkan orang lain. Always one step ahead. Salam hebat!

    • Musik itu ekspresi jiwa, melembutkan sekaligus membuatnya lebih peka. Suara biola itu cepat sekali tembus ke hati. Memainkannya seperti merontokkan ‘kerak-kerak’ yang ada di sana…

  • ‘Nay’ :

    • Lihat fingerboard biola, tak ada batas nada seperti fret pada gitar! Bagaimana mungkin kami membedakan mana Do, mana Re?

    • Sudah digesek pakai bow kok nggak ada bunyinya? Cuma ada bunyi kaya siulan. Cape deh

    • Sulit sekali mengontrol bow agar tidak mencong sana-sini. Lebih sulit lagi untuk menghasilkan bunyi yang sempurna. Kayanya saya nggak bakat deh jadi violinis!

    • Sakit ih di ujung jari setelah agak lama menekan senar-senar biola. Kapok deh main biola!

    • Susah banget sih menyandarkan biola di atas bahu dan menjaga beratnya agar tidak bertumpu pada tangan. Bahu jadi pegel dan gerakan tangan tidak lincah memainkan nada-nada. Gue bilang juga apa, mending main gitar!

    • Idih, mainannya lagu-lagu klasik! Nyerah deh, pusing baca not baloknya!

    • Denger-denger cuma bisa melodi doang ya? Gak ada chord-nya? Gak rame deh, gak bisa dimainin sambil nyanyi!

    • Suara ngak-ngek-ngok-nya berisik tauk!

    • Kayanya saya sudah terlalu tua untuk main biola. Lupakan saja.

dsc00493

Coba lihat, kelompok ‘Nay’ didominasi (atau semuanya?) hal-hal teknis, sedangkan kelompok ‘Yay’ hampir semuanya non teknis. Kelompok ‘Yay’ memikirkan hal-hal ‘besar’ untuk mengatasi kesulitan yang dibayangkan dan memang terjadi pada permainan biola. Seringkali justru kelompok ‘Yay’ tak menemui kesulitan yang berarti seperti bayangan ‘Nay’. ‘Yay’ merasa kesulitan-kesulitan itu menyenangkan, dan cukup sebanding dengan hasil yang diharapkan.

Bagaimana, pilih ‘Yay’ atau ‘Nay’?

(bersambung)

19
Dec
08

Impossible Dream

Melongok sebuah kaset jadul (milik orang tua) dari tahun 1960-an, bertemulah dengan suara Andy Williams (kenal, kan? ayolah, masa tak pernah dengar “Moon River”?). Berikut lirik yang heroik dari lagu “Impossible Dream” yang pernah muncul di iklan Honda (Inggris, 2005) yang keren sekali (lihat videonya). Selamat menikmati.

To dream the impossible dream
To fight the unbeatable foe
To bear with unbearable sorrow
To run where the brave dare not go

To right the unrightable wrong
To be better far than you are
To try when your arms are too weary
To reach the unreachable star

This is my quest, to follow that star
No matter how hopeless, no matter how far
To be willing to give when there’s no more to give
To be willing to die so that honor and justice may live

And I know if I ll only be true to this glorious quest
That my heart will lie peaceful and calm when I’m laid to my rest

And the world will be better for this
That one man scorned and covered with scars
Still strove with his last ounce of courage
To reach the unreachable star

25
Jun
08

Nostlagia: Lagu “Mentari”

Sebuah iklan kebangkitan nasional yang menampilkan Ekspedisi Trike Sabang Merauke, dilatarbelakangi oleh lagu “Mentari”. Lagu ini sering kami dengar saat masa OSKM 2002. Awalnya agak heran mengapa lagu ini ada di iklan itu, karena setahu saya, lagu ini semacam ‘lagu rakyat’ ITB. Namun belakangan diketahui ternyata ekspedisi itu diselenggarakan oleh Wanadri, dan Abah Iwan Abdulrachman, pencipta lagu “Mentari” ini, adalah anggota Wanadri juga. Klop. Perlu diklarifikasi juga nampaknya lagu ini bukan ‘lagu rakyat’ ITB., melainkan untuk semua. Selain itu, nampaknya lagu “Mentari” yang selama ini beredar di ITB sedikit dimodifikasi, karena sedikit berbeda dengan yang tertulis di sini. Yang jelas, akibat pengkondisian panitia OSKM 2002, dan film pergerakan mahasiswa saat orde lama/baru yang menggunakan lagu ini juga, lagu “Mentari” selalu terasa mengharukan.

Ada kesan sedih dari ‘mentari’ masa depan yang ‘terhalang’ ‘tembok’ dan ‘pagar duri’ rezim otoriter. Walau demikian, cahayanya tak kan berhenti menyinari hati-hati yang selalu optimis memandang hari esok. Mungkin demikian yang dirasakan kakak-kakak mahasiswa saat dahulu ditangkap, disiksa, bahkan dipenjara saat harus menyuarakan kebenaran. Mendengarkan versi yang dinyanyikan seorang pria bersuara sendu (tahu kan versi yang diputar saat OSKM 2002?) seperti di sini, serasa mendengarnya dinyanyikan dari balik jeruji penjara. Merinding. Sedikit menyayat, tapi menyimpan harapan. (Walah, sok tahu nih :p).

Siapa tahu tertarik untuk mendendangkannya sendiri, atau sekedar memainkan melodinya, silakan unduh teksnya di Teks Lagu Mentari versi Trial Error. Versi MIDI dapat diunduh di sini.

NB: Mohon dikoreksi nada yang fals atau chord-nya yang keliru. Ritme-nya juga tak sama persis. Lho? Ya, namanya juga versi trial error :p. Selamat bernostalgia 🙂




My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 180,997 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia