Tak ada yang bisa mencuri mimpi kita

Sabtu, 14 November 2009 antara pukul 13.30 – 14.00 WIB,

Pencuri yang menurut saksi mata berjumlah tiga orang dengan mengendarai tiga motor bebek, melaju kencang dari arah Jl. Siliwangi menuju Jl. Banda, tempat mobil saya diparkir. Mendadak mereka menghentikan laju motornya saat mendekati mobil. Satu orang berjaket merah datang terlebih dahulu. Ia berhenti di depan mobil. Kedua motor lain menyusul dan berhenti di belakang orang pertama tadi. Satu orang turun dari motor, menghampiri mobil. Sisanya berlagak seolah-olah sedang menelepon atau memperbaiki motor. Lima sampai sepuluh menit kemudian mereka pergi. Tidak ada yang mendengar suara apapun. Saksi pun mengira mereka berhenti karena hendak menelepon atau memperbaiki motor. Saksi tidak menaruh curiga. Setengah jam kemudian, saya masuk mobil dan terkejut bukan main! Kaca penumpang depan pecah. Sebuah tas berisi laptop raib. Hilang.

Pukul 13.30 WIB saya datang ke taman bacaan Pitimoss Fun Library di Jl. Banda. Sekedar meluangkan waktu sejenak untuk membaca buku yang baru saja saya pinjam. Akibat tempat parkir di depan taman bacaan sudah terisi mobil, saya terpaksa parkir 30 meter lebih jauh. Tidak ada tukang parkir. Saya tinggalkan tas tersebut di depan jok penumpang depan (tidak di atas jok) dengan pertimbangan saya akan kembali segera. Saat parkir pun saya merasa agak aman karena saya parkir di sebelah gedung milik TNI dan di seberangnya, terdapat bengkel mobil.

Saya memilih untuk duduk di bangku paling luar dari taman bacaan sehingga saat membaca, saya masih bisa mengamati mobil. Tentu hanya bisa saya amati sewaktu-waktu di sela-sela membaca. Tidak saya sangka ternyata saya tenggelam dalam bacaan itu. Kadang tertawa dan terharu sendiri dengan isinya. Waktu yang saya perkirakan hanya 10-15 menit, berubah menjadi 1 jam. Seorang pedagang cilok, yang menjadi saksi kedatangan pria bermotor tersebut, pun mengamati bahwa saat kejadian saya sedang asyik membaca. Maksud saya, memang benar-benar asyik. Sempat saya heran, rasanya hanya saya yang sedang tertawa sendiri saat membaca. Pembaca lain di sekitar saya, yang mayoritas sedang membaca komik, nampak sangat serius. Saya bertanya-tanya, apa komik-komik keluaran terbaru tidak ada cerita lucunya? Jangan-jangan semuanya serial detektif atau misteri. Sampai pukul 14.30 WIB, pikiran saya berteriak-teriak, jungkir balik, kadang terharu, hanyut dalam bacaan. Saat dua bab selesai, dan merasa pikiran sudah kembali segar, saya memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Saat itulah saya mengetahui tindak kejahatan yang sudah menimpa saya.

Awalnya saya kaget dan panik saat melihat kaca pecah dan tas hilang. Terpikir data-data pekerjaan yang ada di dalamnya. Terpikir barang-barang lain yang ikut hilang. Terpikir biaya penggantian kaca. Terpikir pula reaksi orang tua. Terpikir saya harus melacak di pusat-pusat penjualan komputer seken. Semua melintas cepat, dan jika tidak dihentikan maka akan menambah panik dan saya tidak bisa mengambil tindakan yang harusnya saya lakukan. Lalu saya menenangkan diri. Saya tarik napas dan mengingatNya, minta tolong biar bisa berpikir. Saya perlu memikirkan apa yang harus saya lakukan berikutnya sebelum saya terdorong untuk menelpon orang tua atau kakak, yang pasti akan menambah jumlah orang yang panik, sebelum masalah sebenarnya terungkap.

Saya keluar dari mobil. Saya amati kaca pintu mobil saya yang bolong dari luar. Saya lihat bekas-bekas perbuatan penjahat itu. Saya lihat kacanya seperti dipotong dari samping. Tidak ada lubang. Entah menggunakan linggis atau peralatan lainnya. Sempat terpikir ini ulah pemulung sebelum mendengar kesaksian pedagang cilok tadi, tapi tak mungkin karena rapi pecahannya. Maaf telah berburuk sangka pada pemulung. Pecahan kaca tidak berserakan karena ada kaca film yang menahannya. Besar kemungkinan saat kaca pecah juga tidak menimbulkan bunyi yang keras akibat pemasangan kaca film tadi.

Saya harus mencoba mencari saksi mata. Saya tanya pemilik bengkel di seberang. Ia tidak mendengar apa-apa pada jam tersebut. Ia ikut kaget. Tapi ia bercerita bahwa jalanan tersebut memang tidak aman. Sebelumnya kaca mobil BMW yang parkir di depan mobil saya pernah dipecahkan juga. Sempat beberapa waktu kami berbincang sebelum saya beralih pada kemungkinan orang yang melihat kejadian itu: seorang pedang cilok dan seorang pedagang lumpia yang rutin mangkal di depan taman bacaan. Saya datangi, dan saya bertanya. Ternyata bapak pedagang cilok melihat kejadian sesuai yang saya ceritakan di paragraf pertama. Bapak pedagang lumpia sedang tertidur. Saya ingat betul waktu itu saya memang sedang melihat kedua pedagang tadi dalam posisi yang mereka bicarakan. Tapi sayang, saat itu pandangan saya tidak ke arah mobil. Saya ingat sekali saat itu.

Ternyata beberapa kehilangan pun pernah terjadi di sekitar taman bacaan itu. Bisa jadi karena ramai orang, tapi semua ramai di dalam. Di luar sering sepi dan tidak ada tukang parkir. Segera saya laporkan pada penjaga taman bacaan. Ia pun tahu sebelumnya pernah ada kejadian lain. Tapi aneh, tetap tak ada tukang parkir karena pertimbangan khwatir membebani orang yang datang jika ditarik biaya parkir. Ah, apa ruginya membayar biara parkir ketimbang keamanan yang terjaga?? Toh, walaupun bukan lahan parkir, tetapi mobil-mobil dan motor-motor kan konsumen taman bacaan itu. Seharusnya dipikirkan cara, selain meminta masing-masing menjaga kendaraannya sendiri, agar keamanan bisa terjaga. Saya ngotot harus ada tukang parkir. Sementara saya tinggalkan penjaga taman bacaan dan pedagang berbincang tentang kejadian ini, saya shalat Ashar. Saya belum shalat, hampir lupa.

Setelah keterangan saksi memperjelas situasinya, saya memikirkan langkah berikutnya: segera melacak ke tempat penjualan komputer seken terdekat atau melaporkan ke polisi dengan bantuan teman kakak. Tak lama saya sadar bahwa agak tidak mungkin melacaknya seorang diri, dan belum tentu dijual sore itu juga. Maka saya meminta bantuan teman kakak untuk membantu saya melapor ke polisi. Minimal prosedur yang harus saya jalani. Saya pun disarankan melapor ke Polres Bandung Tengah di Jl. Ahmad Yani.

Prosedurnya tidak rumit. Saya parkir kendaraan, lalu tim dari reserse memfoto kerusakan, menanyakan kronologis kejadian, keberadaan saksi mata, nilai barang yang hilang, dan bersama-sama menuju TKP. Di sana pun pertanyaan lebih didetailkan. Sayang saya tidak mencatat identitas bapak pedagang cilok tadi, walaupun ia rutin mangkal di tempat tersebut sehingga polisi tidak dapat meminta keterangan saksi. Setelah olah TKP, saya kembali ke Polres, dan membuat BAP. Proses selesai kurang lebih pukul 20:00 WIB. Berikutnya saya akan dikirimi surat yang berisi tim penyidik untuk kejadian yang saya laporkan. Saya disarankan untuk esoknya mencari ke pusat penjualan komputer seken dan segera mengganti kaca mobil. Sebelumnya laptop mahasiswa Malaysia pun pernah dicuri, dan mereka menemukannya di salah satu pusat penjualan komputer tesebut. Saya tidak boleh menyerah begitu saja. Saya akan menemukannya.

Nah, inilah bagian paling mendebarkan dari kejadian ini. Coba tebak, buku apa yang sedang saya baca saat itu? Sebuah buku keren tentang pencapaian mimpi-mimpi. Buku yang berbeda sekali dengan buku-buku dengan tema sejenis yang pernah saya baca sebelumnya. Saya punya firasat bahwa ada jalan mimpi-mimpi baru yang Allah siapkan dimulai dari titik ini. Titik hilangnya mimpi-mimpi yang lama, yang mungkin kerap membingungkan saya. Saya bersiap bahwa ini adalah untuk menguji seberapa yakin saya dengan mimpi-mimpi yang baru. Sebuah buku sketsa selamat dari pencurian, bersama dengan buku yang saya baca. Buku yang berisi gambar-gambar sketsa saya, mimpi-mimpi saya. Saya akan terus menggambar. Saya yakin, bahwa orang bisa saja mencuri barang-barang saya atau Anda, tapi tak seorang pun bisa mencuri mimpi-mimpi kita. Tidak ada. Tidak boleh sama sekali, kawan.

Ahad, 15 November 2009.


Pelajaran dari kejadian ini:

  • Jangan pernah meninggalkan barang berharga di dalam kendaraan. Pencuri lebih lihai dan nekat untuk merusak kendaraan kita. Jika memang tidak ada pilihan lain, simpan barang-barang berharga tersebut di lokasi yang tidak bisa dilihat dari luar. Di bawah jok, dan tutupi dengan sesuatu yang menyamarkan keberadaan barang tersebut.
  • Jangan tinggalkan kendaraan terparkir dalam waktu yang lama di wilayah yang minim pengamanan / pengawasan.
  • Jangan parkir di tempat sepi yang tidak dapat diawasi. Jika terpaksa harus parkir, titipkan pada pedagang atau orang sekitar. Jangan lupa ucapkan terima kasih sesudahnya, atau beli dagangannya untuk menyenangkan hatinya.
  • Alarm bukan jaminan keamanan. Pada kasus ini, alarm tidak berbunyi. Nampaknya pencuri tahu sensitivitas alarm tidak tinggi tehadap getaran akibat pemecahan kaca tadi.
  • Selalu waspada terhadap aksi-aksi mencurigakan.
  • Sarankan pada pengelola yang belum mempunyai tukang parkir agar segera memilikinya untuk meningkatkan keamanan.
  • Asuransikan kendaraan Anda.

Jika peringatan ini terasa biasa-biasa saja, tak apa. Saya pun demikian saat mendapatkan peringatan serupa sebelumnya. Saya kira saya tak akan pernah mengalaminya. Saya salah. Nampaknya kebanyakan kita harus mengalaminya sendiri sebelum benar-benar waspada.
Selamat berkendara, dan selalu waspada!

Waspada ambil ATM di BSM malam hari

Hari Rabu (20 Agustus 2008), kira-kira pukul 10 malam, saya memutuskan untuk melakukan transfer via ATM di Bandung Super Mall (BSM) di jalan Gatot Subroto, Bandung. Sempat ragu untuk memasuki ATM di malam itu, namun apa boleh buat, saya harus membereskan urusan transfer yang tertunda di pagi hari. Saya memilih BSM karena awalnya saya pikir tempat itu relatif aman karena ada satpam di area dekat ATM, ada pos polisi di pintu keluar, dan toko-toko masih ada yang buka. Ternyata dugaan saya keliru.

Selesai melakukan transaksi di ATM, saya keluar dari BSM menuju jalan Kiara Condong, dan merasa semua aman-aman saja. Saat itu, saya menyetir mobil seorang diri. Tak berapa lama, kalau tidak salah setelah melewati Toserba 7/11, seorang pria tanpa helm yang mengendarai motor pria (bukan bebek) bewarna hijau, menyuruh saya menepi. Sambil memberi tanda dengan tangan kirinya, dia bicara sesuatu yang intinya menyuruh saya segera menuruti perintahnya. Saya langsung curiga. Awalnya sempat terpikir lelaki ini akan berusaha menipu saya dengan mengatakan bahwa ban mobil saya bocor, atau saya baru saja menyerempet penyeberang jalan. Modus kriminal yang menipu pengendara mobil seperti ini sudah beberapa kali saya baca di koran. Namun, dia hanya menyuruh saya segera menepi. Dan hal ini semakin meyakinkan saya bahwa pria ini jelas bermaksud buruk. Saya langsung memutuskan bahwa pria ini sudah mengintai saya sejak saya keluar dari ATM. Dan jelas, ia akan memaksa saya untuk menyerahkan uang, yang ia pikir baru saja saya ambil dari ATM.

Dia mulai mengintimidasi dengan beberapa kali mengarahkan laju motornya ke arah bodi mobil sebelah kanan. Saya menghindarinya dengan beberapa kali mengarahkan mobil ke kiri, sambil mencari celah kosong di depan saya agar saya bisa segera tancap gas meninggalkan pria itu. Sayang, lalu lintas di Jalan Gatot Subroto malam itu tidak sepi. Di depan saya ada mobil, sedang di kiri tak cukup ruang untuk menyalipnya. Kondisi ini tidak memungkinkan saya untuk segera kabur. Maka dengan kecepatan yang tidak kencang itu, dia bisa leluasa untuk terus mengintimidasi saya yang terjepit, tidak bisa meloloskan diri. Sempat terpikir untuk menabrakkan mobil ke arahnya, yang mengakibatkan dia jatuh, sehingga dia berhenti mengejar. Namun niat ini saya batalkan karena aksi begini hanya ada di film-film, sebab nyatanya urusan bisa panjang jika ia sampai tewas, atau jika hanya terjatuh, ia akan semakin marah untuk mengejar saya. Belum lagi urusan dengan polisi (maaf, pak Polisi…).

Ia mulai tidak sabar karena saya tidak mengacuhkannya. Ia makin kasar dengan mulai berteriak. Tidak hanya itu, kekesalannya dia lampiaskan dengan dua kali menendang bodi mobil. Salah satunya mengakibatkan lecet dan sedikit penyok. Saya terus melaju, namun tetap tidak bisa menyalip mobil di depan. Dalam kecemasan itu, saya berharap pertolongan Allah untuk menyelamatkan saya dari situasi yang entah kapan berakhir, bahkan bisa jadi lebih buruk (bagaimana kalau dia membawa revolver?). Akhirnya, pria itu menghilang di sekitar jalan Kebon Gedang. Entah ia masuk ke dalam, atau berbalik ke BSM untuk mencari korban berikutnya.

Saya bersyukur Allah telah menyelamatkan saya, sekaligus merasa bodoh dengan pikiran saya sendiri. Pikiran bahwa BSM adalah tempat yang relatif aman untuk bertransaksi via ATM di malam hari. Saya juga baru sadar bahwa pengendara motor bisa parkir di sekitar pintu keluar BSM. Di sini mereka bisa memantau orang-orang yang keluar masuk ATM di dalam tanpa terlihat mencurigakan. Sebabnya, banyak pula pengendara motor yang menunggu karyawan BSM yang pulang malam, selain nampak mampir ke toko atau pedagang kecil di sekitarnya.

Saya tidak mungkin meladeni permintaannya untuk turun dan berkelahi, karena urusan bisa panjang. Belum lagi jika ternyata dia tidak sendiri. Siapa tahu ada pria bermotor lain di belakang mobil.

Pelajaran apa yang bisa diambil? Kita sebaiknya tidak melakukan transaksi di ATM pada malam hari. Apalagi kalau lokasi ATM itu sepi, jauh dari rumah, dan minim penjagaan. Selain itu, kejadian yang menimpa saya bisa lebih buruk jika saya berjalan kaki atau mengendarai motor. BSM yang masih terang dan dilengkapi pos polisi pun tidak menjamin keamanan. Pelaku juga semakin berani mengingat jalanan tidak sepi. Saya seharusnya membunyikan klakson keras-keras, sambil menyalakan lampu kedip jika perlu, untuk menarik perhatian orang di sekitar, agar membuat pelaku segera berhenti meneruskan aksinya. Semoga saya adalah calon korban terakhir, tidak perlu ada lagi yang mengalaminya.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑