Film “The Terminal” dan Grafologi

Inti cerita “The Terminal” (2004) adalah seorang pria yang ‘terjebak’ di bandara John F. Kennedy (JFK), New York karena secara hukum tidak berhak untuk keluar dari bandara dan menuju New York, tapi pada saat bersamaan tidak pula dapat pulang kembali ke negaranya. Hal ini disebabkan saat ia sampai di bandara JFK, negaranya sedang mengalami pemberontakan dari dalam terhadap pemerintah yang sah (Coup d’etat). Akibatnya, paspor negara tersebut tidak berlaku untuk memasuki negara lain, dan tidak pula ada penerbangan yang melayani tujuan ke negara yang sedang kacau itu. Negara buatan itu bernama Krakozhia, dan lelaki sial itu bernama Viktor Navorski (Tom Hanks). Singkat cerita, Viktor seperti jatuh ke dalam celah sistem yang tidak memberikan pilihan kepadanya selain harus menunggu di terminal transit internasional di bandara. Sampai kapan? Sampai negaranya kembali berdaulat atau sampai pemerintah Amerika menemukan aturan legal yang mengizinkan dirinya memasuki New York. Kedua-keduanya tidak jelas. Jadi, Viktor menjalani hari-harinya hidup di terminal transit sambil menunggu waktu yang entah kapan akan berakhir.

Apa gerangan yang terjadi selama waktu Viktor yang tidak jelas itu? Bagaimana caranya bertahan hidup (makan, mandi, tidur, dll) tanpa mampu menukarkan mata uang Krakozhia-nya yang sudah tidak berlaku? Bagaimana ia, yang dalam keadaan sulit, tetap dapat membantu seorang pria yang jatuh cinta? Bagaimana ia tiba-tiba terkenal dan disayangi semua kru bandara, termasuk para penjaga toko, karena menyelamatkan kebebasan seorang pria? Bagaimana pula perasaannya saat ia jatuh hati pada seorang pramugari cantik (Catherine Zeta-Jones)? Berhasilkah ia memasuki New York di tengah ‘jebakan’ yang disiapkan Komisaris Lapangan bandara yang tak berniat memudahkan hidupnya? Dan tentunya, pertanyaan paling penting ini: apa tujuan ia datang ke New York sehingga ia rela bertahan dalam ketidakjelasan? Saksikan sendiri dalam film berdurasi 128 menit ini.

Grafologi

Selain kisah yang menarik, “The Terminal” ternyata menyimpan kejutan lain di akhir filmnya. Setidaknya kejutan bagi saya. Kejutan ini muncul dalam bentuk  penulisan movie credit yang tidak biasa. Wajarnya, credit ditulis dalam huruf-huruf ketik, namun kali ini mereka muncul dalam bentuk tulisan tangan! Ya, tulisan tangan orang-orang yang namanya muncul pada credit tersebut! Maka kita bisa melihat tulisan tangan Steven Spielberg (sang sutradara), Tom Hanks, Catherine Zeta-Jones, berikut semua kru dan aktor yang terlibat. Lalu kenapa? Eh, kenapa bagaimana?? Kita jelas-jelas bisa membaca ‘sekilas’ karakter mereka lewat tulisan tangan mereka sendiri. Inilah yang dinamakan Grafologi, yakni ilmu (atau seni?) membaca karakter dari bentuk tulisan tangan. Keren, bukan?

Tenang saja, saya juga baru membaca dan tertarik sekilas. Tapi melihat manfaatnya, nampaknya ilmu ini patut dipelajari lebih lanjut, hehehe. Ada beberapa buku yang mengulas tentang grafologi ini. Referensi di internet juga ada. Lumayan lah, selain bisa membaca karakter diri sendiri dan orang lain (orang lain yang mana maksudmu, Gung? :P), ternyata Grafologi ini juga bisa dijadikan semacam terapi untuk memperbaiki karakter diri yang negatif. Hebat, bukan? Nah, agar lebih menarik mari kita coba ambil satu saja tulisan tangan yang ada pada movie credit “The Terminal” tadi. Siapa lagi kalau bukan tulisan tangan tuan Spielberg. Siapa tahu kita bisa membaca jejak kesaktiannya sebagai sutradara dari tulisan tangannya sendiri. Dan kawan, saya bisa melihat itu saat pertama kali credit menampilkan namanya.

Yang paling mencolok, menurut saya, dari tulisan Spielberg ini adalah zona atasnya yang tinggi (lihat tinggi dan proporsi huruf “S”, “T”, “L”, dan “B” terhadap huruf lainnya). Garis pada tulisan, berdasarkan letaknya, secara umum dibagi dalam 3 zona: bawah, tengah, dan atas. Masing-masing zona memiliki interpretasinya masing-masing. Nah, zona atas tulisan itu menggambarkan cita-cita, angan-angan, harapan, dan kehidupan spiritual. Maka, bisa dikatakan bahwa orang yang mempunyai tulisan dengan zona atas yang tinggi memiliki kecenderungan untuk memiliki idealisme yang besar, cita-cita yang melangit, harapan yang panjang, imajinasi yang tinggi, atau kehidupan spiritual yang prima. Jreng! Klop sekali dengan kesaktian sutradara Steven Spielberg ini yang film-filmnya selalu memikat karena ramuan jalan ceritanya yang apik, imajinasi yang tinggi, aktornya yang menawan, sampai pengambilan gambarnya yang memukau. Cocok sekali dengan karakter yang dibutuhkan oleh seorang sutradara film-film box office, bukan? Nah, sebenarnya banyak aspek lain yang bisa dinilai dari bentuk tulisan tangan, seperti margin, spasi, jarak antar huruf, jarak antar kata, kemiringan, huruf tegak/bersambung, dan sebagainya. Namun cukuplah analisis sok tahu ini fokus pada zona atasnya yang tinggi.

Sebagai penutup, seolah-olah sambil mendengarkan komposisi musik film “The Terminal” yang menghibur ini (coba dengarkan sendiri) , mari kita lihat bentuk tulisan tangan aktor dan kru lainnya. Siapa tahu jadi lebih tertarik untuk mempelajari grafologi. Selamat penasaran 🙂

Music Composer, John Williams

Director of Photography

Tom Hanks

Catherine Zeta-Jones
Advertisements

Biologi Lelaki(3): Epilog

(sambungan dari Biologi Lelaki(2))

Sejauh ini nampaknya semua lancar-lancar saja, bukan? Benarkah demikian? Ternyata tidak. Setidaknya ada dua pengecualian.

  • Masih ingat dongeng ibu yang menyuplai hormon ke janinnya sesuai jenis kelamin itu? Ternyata disebutkan bahwa pada kondisi ibu sedang stres berat (karena penganiayaan, sakit, atau tekanan jiwa yang berat), masalah suplai hormon ini bisa terganggu. Jadilah seorang anak dengan fisik dan otot lelaki, tetapi otaknya perempuan! Betul, konfigurasi hormon yang menyusun otaknya berbeda dengan jenis kelaminnya! Sempat saya tertegun membacanya, apa ini salah satu penyebab banci atau tomboy?
  • Berikutnya, entah yang kemudian ini akibat masalah konfigurasi hormon atau bukan, tapi di setiap bab pembahasan, penulis memberi ruang untuk pengecualian yang disebut “otak penyeberang”. Maksudnya sebagai contoh, bila sebagian besar lelaki seharusnya lebih cerdas secara spasial ketimbang verbal, ada saja lelaki yang banyak bicara seperti perempuan. Ada saja lelaki yang menikmati betul pekerjaan motorik halus. Ada saja lelaki yang tidak mempunyai ambisi sosial, dan seterusnya. Demikian pula pada perempuan. Mereka inilah yang disebut otak penyeberang, seolah-olah melintas ke daerah yang berlawanan dengan kecenderungan alamiahnya. Apakah itu bermasalah? Bergantung bagaimana menyikapinya. Bisa ya, bisa tidak. Kalau perempuan tidak masalah memiliki suami berotak penyeberang, mengapa repot? –Eh, dengar-dengar lelaki berotak penyebarang sedang naik daun, hihihi…– Intinya, selalu ada pengecualian dari tabiat dasar lelaki atau perempuan ini. Ah, betapa kompleksnya manusia.

Dalam banyak bagian buku ini, terungkap sekian banyak kebingungan dan frustasi kaum perempuan -sebagai pasangan hidup laki-laki- dalam memahami perilaku sang lelakinya. Wajar saja, keduanya memiliki perbedaan kerja otak yang mendasar. Tanpa pengetahuan akan hal tersebut, sulit rasanya menerima perbedaan sikap sebagai hal yang baik-baik saja. Jika tidak paham, sebuah tindakan yang bermaksud baik dapat ditanggapi sebagai penghinaan. Seringkali, perempuan mengeluh bahwa lelaki telah meninggalkannya dengan menilai sikap lelaki melalui otak perempuan.Tidak pas. Nah. setelah memahaminya bersama, –mungkin bisa dibahas berdua sambil menyeduh teh hangat. “Saatnya bicara” Ah, iklan sekali!– rasanya layak untuk ditertawakan bersama pula. “Bodohnya kita, otakmu dan otakku memang berbeda! Ha ha ha….” Simply, that’s the way it is. Jadi, terima saja. Tinggal mereka berdua mempraktekkan strategi tarik-ulur. Kapan mengalah, kapan menuntut. Kapan menggunakan cara kerja otak lelaki, kapan menggunakan cara kerja otak perempuan. Ya, mereka berdua, siapa lagi? Mudah? Ah, tidak juga. Tapi layak dicoba, bukan?

Sebagai penutup, bagi saya, kehadiran buku ini mampu menjelaskan tabiat-tabiat dasar yang dibawa baik oleh lelaki maupun perempuan. Tabiat-tabiat ini, menurut penulis, tetap menjadi faktor dominan yang mempengaruhi cara orang berpikir dan merasa, walaupun faktor budaya telah mempengaruhi manusia untuk terkadang tidak berperilaku sesuai tabiat dasarnya. Maksudnya, tidak peduli dari budaya mana Anda dilahirkan dan dibesarkan, tabiat biologis ini akan menjadi bagian yang dominan dari hidup Anda. Dan karenanya, sayang jika Anda tidak memahaminya. Maksudnya begini, mengapa ambil risiko sampai bercerai jika ternyata hanya dibutuhkan sikap tertentu yang ‘pas’ dalam menghadapi pernikahan yang tampak tak seindah dulu? 😛

Demikian kiranya, cukup sekian, allahu a’lam.

———————————————

Anak: Horeee, selesai juga akhirnya!
Ibu: Sudah larut, Nak. Kau nampak lelah. Tidurlah setelah meminum susu hangat yang Ibu siapkan.
Ayah: Bagus, Nak! Mungkin kelak kau akan membuat buku tentang ini. Ayah mendukungmu!

-nah, mulai lagi percakapan imajiner ini. Sudah ah. Benar-benar sudah :D-

Biologi Lelaki(2): Male Brain

(sambungan dari Biologi Lelaki(1))

Aku adalah lelaki…” (Samsons)

Setelah kita melihat inti dari hubungan otak dan hormon di atas, saatnya membahas salah satu jenis kelamin otak yang menjadi fokus buku ini: Otak Lelaki. Mengingat banyaknya bahasan yang berkaitan dengannya, misalnya mulai dari bagaimana pendapat otak lelaki tentang perasaan dan emosi sampai pekerjaan rumah tangga, maka lebih baik saya comot beberapa poin-poin saja secara acak. Satu sama lain bisa berhubungan bisa tidak. Beberapa bagian yang seru sengaja saya sembunyikan agar kawan penasaran dan terdorong untuk membacanya langsung, hehehe…Tak seru kalau dibuka semua, usaha lah sedikit. (lho, kok??). Mari kita mulai.

  • Testosteron dan Oksitosin
    Ada yang berkelakar bahwa testosteron inilah yang bertanggung jawab terhadap perang dan kekacauan dunia. Hahaha…tak sepenuhnya salah, karena memang hormon inilah yang bertanggung jawab terhadap sikap agresi. Selain itu, sebut saja pengaruhnya pada kecenderungan terhadap seks, kemandirian (independensi), kompetisi, dan ambisi kekuasaan sosial. Bagaimana, terdengar maskulin sekali, bukan? Hormon ini dominan pada lelaki.
    Di sudut ring yang lain berdirilah oksitosin, yakni hormon yang berhubungan dengan kesenangan ibu mengasuh anak, hubungan verbal-emosional, dan keterikatan yang simpatik (intimasi). Seperti yang sudah kawan tebak, hormon ini dominan pada perempuan.
    Selain kedua hormon ini, masih terdapat hormon lain seperti esterogen, progesteron, vasopressin, serotonin, dan sebagainya, yang juga bertanggung jawab terhadap kecenderungan-kecenderungan tertentu. Namun saya menangkap pembahasan menguat pada pengaruh dua hormon ini saja. Sebagai catatan, kandungan hormon-hormon ini mempunyai siklus naik-turunnya. Ada saatnya testosteron yang dominan, ada saatnya oksitosin yang menang. Bahkan sampai ada 12 fase pernikahan berdasarkan siklus ini. Penasaran? Baca bukunya ya 😛
  • Independensi dan Intimasi
    Independensi itu ciri khas lelaki seperti intimasi yang menjadi ciri khas perempuan. Perbedaan ini digambarkan dengan jelas dari dua ungkapan ayah dan ibu melihat anaknya yang beranjak dewasa.
    Ibu: “Anakku sudah besar, dan ia akan segera pergi. Rasanya ia sudah tidak membutuhkan aku lagi. Dia akan pergi meninggalkanku”
    Ayah: “Bagus sekali, Nak! Kau akan segera hidup mandiri dan menemukan jalanmu sendiri. Hidupmu sendiri. Aku hanya bisa menunjukkan jalannya, kaulah sendiri yang harus melaluinya”.
    Bagi pasangan, hubungan yang langgeng adalah hubungan yang mempunyai strategi pengaturan idependensi dan intimasi yang baik. Jangan sangka kalau sudah menikah lama masih ingin intim terus (hei, ini berdasarkan riset penulis, lho). Ada kalanya ingin sendiri, ada kalanya rindu berdua. Begitulah silih berganti. Tak sehat jika terus menerus berintim-ria, apalagi bersendiri-ria, karena demikianlah tabiat jiwa kita ini, ada dinamikanya. Lagipula, bukankah menikah sebenarnya tetap mempertahankan identitas masing-masing walaupun sudah bersatu? Justru itu kan, yang ‘memperkaya’ hubungan?. Ya, Anda betul sekali, saya mulai sok tahu. Mari kita lanjutkan ke bagian berikutnya 😛
  • Pengasuhan paternal (menghargai) dan maternal (membesarkan hati)
    Seorang anak terjatuh saat bermain. Ibu akan berkata, “Kau terjatuh. Apa kau baik-baik saja?”. Ayah akan berkata, “Sudah, tidak apa-apa. Ayo, lanjutkan permainannya”. Well, sebenarnya tergantung jatuhnya seberapa parah sih, kalau sampai patah tulang atau gegar otak, yang jelas Pak Dokter yang akan berkata, hihihi… (lho, orang celaka kok ditertawai?? Eh bukan, ini maksudnya menertawai Pak Dokter berkata itu, bukan ayah atau ibu yang berkata… *halah, dibahas*). Ibu akan cenderung membesarkan hati anak-anaknya. Bersimpati. Sedang ayah cenderung menjaga harga diri anaknya. Me’naik’kannya. Hargailah kekuatan dan ketabahannya. Jatuh tidak masalah. Dia kuat. Jangan sedikit-sedikit, jatuh harga diri. Demikian kiranya.
    Kabar gembiranya adalah kedua sisi ini sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan anak. Ada waktunya saat pertumbuhan dari bayi sampai SD, pengasuhan maternal yang dominan dibutuhkan. Selanjutnya, paternal yang dominan, dan seterusnya.
  • Spasial-Abstrak dan Verbal-Emosional
    Kawan pernah berjumpa pengendara motor / mobil yang berkecepatan rendah tapi mengambil ruang tepat di tengah jalan? Apa, sering?? Hehehe… cobalah tengok pengemudinya, setelah kita klakson dan melewatinya. Hampir semuanya yang saya jumpai adalah perempuan. Wajar saja jika melihat bahwa kecerdasan spasial perempuan tidak sebesar lelaki. Spasial ini maksudnya kecerdasan mengukur diri / objek di dalam ruang. Ruang berarti kiri dan kanan, atas dan bawah, jauh dan dekat. Itulah mungkin penjelasan sederhana pengendara berkecepatan rendah di tengah jalan tadi. Dan itu pula yang menyebabkan lelaki begitu gemar dengan objek dalam ruang. Pandai memperbaiki barang. Sebut saja mobil, mesin, elektronik, komputer, alat musik, bangunan, dan sebagainya. Khusus pada kendaraan, objek ini merupakan objek yang sangat digemari lelaki, berbeda dengan rumah yang sangat digemari perempuan. Sederhananya, kendaraan merupakan manifestasi kekuasaan, kemandirian, petualangan, dan status sosial. Haha, lelaki sekali, bukan?
    Sementara itu, di sisi lain kita juga menjumpai lelaki yang hemat bicara. Sangat hemat. Segan (atau kagok?) orang dibuatnya. Segan istri dan anak dibuatnya, bahkan untuk sekedar meminta pengulangan informasi yang belum jelas. Kalau sudah begini, apalagi mengungkapkan perasaan-perasaan dengan kata-kata. Lupakan. Laki-laki cenderung memiliki kecerdasan verbal-emosional yang lebih rendah daripada perempuan. Bagi lelaki, aksi lebih menarik daripada kata-kata. Bisa saja seorang lelaki menghabiskan berjam-jam memperbaiki mesin mobilnya tanpa bicara sepatah kata pun. Bagi perempuan mungkin itu tampak mengerikan, tapi begitulah dunia lelaki.
    Ketimbang membicarakan perasaannya dengan kata-kata, lelaki memilih untuk menyendiri untuk memulihkan emosinya (pernah dengar istilah lelaki dan ‘gua’nya?). Sikap inilah yang dibaca perempuan sebagai tindakan meninggalkan dirinya. Abang sudah tak cinta lagi karena tak membicarakan masalahnya padaku (perempuan memecahkan masalahnya dengan bercerita, bercerita, dan bercerita). Padahal bukan demikian, karena lelaki itu tetaplah mencintainya. Hanya saja, biarkan aku sendiri dulu. Itu saja.
  • Panggilan hidup
    Bagi lelaki, mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menemukan harga dirinya dibanding perempuan. Perempuan secara inheren telah mendapatkan harga dirinya. Apalagi kalau bukan karena kemampuannya mengandung dan melahirkan anak dari dalam tubuhnya sendiri. Dari rahimnya. Sedangkan laki-laki tak punya rahim. Dia tidak menemukan harga dirinya di ‘dalam’, maka dia harus mencari ke ‘luar’. Berpetualang. Menaklukkan bahaya. Merebut kemenangan. Mendapatkan pekerjaan terbaik. Maka tak heran jika lelaki dengan ambisi sosialnya terus berusaha menonjolkan diri dengan kemampuannya, dengan prestasinya, dengan karyanya. Itulah dorongan terbaik yang dimilikinya. Inilah pula yang membuat kesan lelaki lebih lambat dewasa daripada perempuan. Saat sebagian besar perempuan sudah siap dinikahi (ingat, perempuan tidak punya masalah dengan harga diri), lelaki seumur mereka masih berpetualang ‘menaklukkan dunia’. Membangun harga dirinya.
    Lalu untuk apa itu semua? Harga diri inilah yang memotivasi seorang ayah untuk bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya. Harga diri inilah yang diajarkan ayah pada anaknya kelak. Tanpa harga diri, seorang lelaki tidak akan merasa utuh, seperti layaknya perempuan tanpa kehadiran anak dari rahimnya sendiri.
    Saya merasa bagian ini sudah serius semenjak judulnya, jadi mohon maaf saya tidak membuat lelucon di bagian ini. Tapi Anda tetap boleh tertawa, kok. Terserah alasannya apa. Tapi coba tengok kiri-kanan dulu, pastikan tak ada yang melihat 😀
  • Perempuan dan Ekspektasi terhadap lelaki
  • Biologi Pernikahan
  • Lelaki dan Pekerjaan Rumah Tangga

Dua bagian terakhir ini sengaja saya kosongkan agar kawan penasaran dibuatnya.

Cukup.

Saya tidak akan membahas lebih jauh.

Anda tidak bisa mempengaruhi saya.

Saya tidak akan buka mulut. Percayalah, lebih baik saya diam.

Saya ingatkan sekali lagi, Anda tidak bisa mempengaruhi saya. Saya sudah membuat keputusan. Pergilah dari paragraf tidak penting ini sebelum saya berubah pikiran. Hahaha…

(bersambung ke Biologi Lelaki (3))

Biologi Lelaki(1): Brain Sex

Judul: Apa sih yang si Abang Pikirkan? Membedah Cara Kerja Otak Laki-Laki (What Could He Be Thinking? How Man’s Mind Really)
Penulis: Michael Gurian
Penerbit: Serambi (2005)

Pembahasan tentang biologi jender di buku ini dibuka dengan fakta bahwa otak kita –ya, benda ajaib yang ada di dalam tempurung kepala kita itu– ternyata mempunyai jenis kelamin (Brain Sex). Ada otak lelaki dan ada otak perempuan. Yang satu punya tabiat dan cara kerja yang berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini salah satunya dapat diamati dengan pemindai MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan PET (Positronic Emission Tomography). Pemindai ini mampu menghasilkan gambar-gambar bewarna tentang cara kerja otak. Dan hasilnya, otak lelaki dan perempuan menghasilkan gambar yang berbeda walaupun mereka sedang melakukan aktivitas yang sama. Menarik, bukan? Lalu apa maksudnya perbedaan gambar itu terhadap cara kerja keduanya?

Mari kita mulai dongengnya. Sejak dalam janin ibu, ternyata –betul lho, saya baru tahu hal ini– dengan mekanisme tertentu, sistem hormon pada tubuh ibu akan menyuplai konfigurasi hormon pada otak janin sesuai jenis kelaminnya. Apabila janinnya lelaki (XY), maka konfigurasi hormon lelakilah yang disuplai ke otak.Demikian pula bila janinnya perempuan (XX), maka konfigurasi hormon perempuanlah yang disuplai. (Catatan: Penulis menyebutkan alam lah yang mengaturnya, padahal kita ketahui bersama bahwa Allah lah yang Maha Kuasa atas hal tersebut. Allahu Akbar!) Sebagai contoh, bila janin berjenis kelamin lelaki, maka otaknya akan disuplai oleh lebih banyak hormon testosteron dan lebih sedikit oksitosin. Demikian sebaliknya pada janin perempuan. Selama masa pertumbuhan, hormon-hormon ini akan terus ‘membentuk’ otak. Jangan kaget bahwa ada bagian otak tertentu yang berkembang besar pada perempuan, namun kecil pada lelaki, demikian pula sebaliknya. Sekedar informasi, otak kan pada dasarnya tersusun atas sekian banyak bagian, sebut saja batang otak, corpus colassum, sampai neokorteks. Bagian-bagian ini memegang peran dan fungsi tertentu bagi tubuh, bahkan bertanggung jawab terhadap sikap-sikap tertentu. Nah, akibat perbedaan struktur fisik dan fungsional bagian-bagian otak lelaki dan perempuan inilah (ditambah karakteristik dari hormon yang dikandungnya), maka jelas berbeda pula cara kedua insan ini berpikir, merasa, dan bersikap. Inilah dasar pembahasan buku setebal 400 halaman ini.

Fiuh, istirahat sebentar, ya. Eh ngomong-ngomong, banyak istilah yang kawan tidak paham, ya? Itulah akibat tidak memerhatikan penjelasan guru biologi kita dahulu, hihihi…maklum dulu tak paham apa gunanya belajar hormon selain untuk lulus ujian. Padahal nanti kalau kawan berkesempatan membaca buku ini sampai habis, banyak hal menarik yang membuat kita dapat memahami sikap-sikap kita (dan pasangan kita) sebagai mahluk biologis. Lalu pada akhirnya, lelaki dan perempuan dapat hidup bersama dalam bahtera pernikahan yang langgeng -sampai entah kapan- atas dasar saling memahami tabiat dasar masing-masing. Jreng! Jreng! Inilah sebenarnya harta karun tersembunyi dari buku ini. Sangat baik kiranya kawan yang masih single atau sudah menikah untuk membaca dan merenungkannya baik-baik. Boleh juga dijadikan hadiah jika menjumpai undangan pernikahan seorang teman, dan sebagainya, dan sebagainya. Cukup istirahatnya, lanjut lagi. “Siko ciek, da!” Eh salah, harusnya “Tarik, mang!”

(bersambung ke Biologi Lelaki (2))

Culture Shock

Berikut ini saya alihbahasakan dari panduan Beasiswa Erasmus Mundus untuk Mahasiswa di sini.

Riset terhadap efek psikologis dari hidup (dan belajar) di negeri orang menunjukkan beberapa tahap penyesuaian budaya, yakni:

image

  1. Honeymoon (Bulan Madu)
    Anda kagum bukan main dengan negara yang Anda datangi, dan berharap yang indah-indah tentangnya. Segala perbedaan antara budaya dari negara asal dengan negara asing ini nampak begitu positif. Anda mengambil foto dari setiap bangunan yang indah (dan membaginya di Facebook, tentu saja –ini komentar pribadi 😛), mencoba berbagai macam makanan dan minuman lokal, serta berpetualang ke tempat-tempat yang menarik. Anda merasa sangat bahagia.
  2. Rejection (Penolakan)
    Anda mulai menetap, menjalani rutinitas, dan mulai menghadapi kesalahpahaman. Anda merasa tidak kompeten dan mulai melihat kekurangan negeri baru ini. Anda mulai tidak memahami perilaku penduduk lokal saat mereka menunjukkan sikap cuek dan tidak senang berkawan dengan Anda. Anda mulai merasa rindu kampung halaman saat segala sesuatunya mulai berjalan baik. Saat ini wajar jika Anda membuat stereotip terhadap orang-orang Jerman/Belanda/Spanyol/Swedia sebagai orang-orang yang kasar/tertutup/gila/bodoh/arogan…(hey, saya hanya pengalihbahasa…).
  3. Recovery (Pemulihan)
    Anda mulai menyadari perbedaan budaya yang ada. Anda menerimanya, dan beberapa perilaku Anda mulai berubah menyesuaikan perbedaan tersebut. Anda merasa sudah menjadi bagian dari komunitas yang baru. Anda memahami bagaimana kehidupan berjalan di sana sehingga Anda merasa tidak dikucilkan.
  4. Adjusment (Penyesuaian)
    Anda merasa nyaman dan menjalani rutinitas dengan baik. Anda mulai memahami latar belakang munculnya stereotip yang pernah Anda pikirkan sebelumnya.

Tak diragukan lagi setiap orang akan mengalami beberapa fase penyesuaian budaya dalam waktu yang berbeda-beda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Tingkat intensitas masing-masing fase bergantung pada tipe kepribadian, pengalaman hidup, kondisi keuangan, hubungan kekeluargaan, tingkat pendidikan, dan kemampuan berbahasa.

Beberapa hal berikut dapat Anda lakukan untuk menghindari dampak negatif benturan kebudayaan:

  • Pelajari bahasa yang digunakan di negara tersebut dan bergabunglah dengan komunitas masyarakat. Semakin sering Anda mencoba, semakin baik Anda memahami alasan yang mendasari sikap tertentu dari penduduk lokal.
  • Bersikaplah positif, tetap optimis, dan bangunlah sense of humour. Kritik Anda tidak akan mengubah budaya negara tersebut. Jadi, daripada pusing, lihatlah sisi positifnya, dan cobalah menertawakannya.
  • Tetaplah berhubungan dengan keluarga dan teman di negeri asal. Dengan berbagai macam teknologi yang tersedia, Anda akan mudah untuk berbagi dan mendengar kabar dari orang-orang yang Anda sayangi. Hal ini berguna untuk mengusir kesepian dan perasaan tidak mengikuti perkembangan di negeri asal Anda.
  • Berolahraga. Tanpa Anda sadari, tubuh dan otak Anda sedang berada dalam kondisi tertekan saat Anda belajar (yang memang sudah susah) di negeri asing (tambah susah) dengan bahasa asing (makin tambah susah ++). Bantulah tubuh Anda untuk menjaga daya tahannya. Itu akan membantu meningkatkan gairah Anda.
  • Jadilah proaktif. Selain mengatur waktu untuk belajar, jangan lupakan aktivitas ekstrakurikuler, aktivitas sosial bersama teman, dan jalan-jalan.
  • Alokasikan waktu untuk melakukan refleksi. Hal ini berguna untuk menemukan masalah-masalah pribadi yang tersembunyi, yang butuh ditangani segera. Dengan ini, Anda dapat menemukan sikap terbaik untuk membuat waktu belajar di negeri orang terasa menyenangkan.

Menarik, bukan?

Outliers: Tentang Hutang Budi

Buku “International Best Seller” ini adalah buku ketiga Malcolm Gladwell setelah “Blink” dan “Tipping Point” (sudah baca kan? ah tak apa, saya juga belum). Genre buku ini (baca di sampul belakangnya, terbitan Gramedia) tertulis “Non Fiksi-Psikologi Sosial”. Lalu baca tulisan di halaman depannya dan tulisan dengan maksud yang sama di banner yang berada di toko buku. “Rahasia Di Balik Sukses”. “Ternyata tanggal kelahiran mempengaruhi kesuksesan Anda”. Apa yang Anda pikirkan? Ah, lagi-lagi kiat-kiat sukses. Betul, memang ini lagi-lagi. Bedanya, sesuai genre “Psikologi Sosial” tadi, kesuksesan dianalisa dengan variabel yang lebih kompleks ketimbang sekedar rumus generik sukses seperti kerja keras-cerdas dan banyak berdoa. Ow, bagaimana ceritanya?

Alkisah kesuksesan punya wujud yang berbeda-beda, yang tentu saja tidak datang pada setiap orang, pada setiap waktu. Singkatnya, orang-orang yang kebagian sukses tersebut, bisa dikatakan datang pada saat yang tepat, di tempat yang tepat, keahlian yang tepat, dan jangan lupa, dengan latar belakang keluarga yang tepat juga. Berbagai kombinasi ketepatan inilah yang dibahas secara menarik (terima kasih pada hasil terjemahannya yang apik) pada sembilan bab di buku ini. Disertai kisah riwayat hidup orang-orang yang dijadikan studi kasus kesuksesan (merekalah yang disebut outliers), pembaca diantarkan menuju analisis-analisis dan hasil penelitian yang menyimpulkan penyebab kesuksesan mereka (dan hey, ada Steve Jobs dan Apple-nya di sana!).

Dibagi dalam dua bab besar, yakni “Kesempatan” dan “Warisan Budaya”, kesuksesan outliers menemukan kunci-kunci pentingnya (saya rasa beberapa hal dari buku “Tipping Point” cukup berguna di sini). Sebut saja Bill Gates yang mendapatkan serangkain ‘keberuntungan’ lahir di tahun yang tepat, tinggal dan sekolah di tempat yang tepat (tentu sebelum dia drop-out), ditambah bakat dan kerja kerasnya. Paman Bill bahkan mengakui keberuntungannya itu (ok, baiklah jika Anda lebih nyaman dengan kata ‘takdir’. Buku ini menyebutnya ‘kesempatan’). Lalu ada lagi tentang rahasia kecerdasan matematika anak-anak Asia (sayang sekali, Indonesia belum masuk hitungan) yang secara umum lebih baik daripada anak-anak Amerika. Yang ini masuk kategori ‘Warisan Budaya’. Demikian seterusnya dengan contoh-contoh lainnya yang sayang untuk tidak dibaca sampai habis.

Lalu pelajaran apa yang bisa diambil dari buku ini untuk kehidupan kita? Bagi saya setidaknya ada beberapa hal, yakni:

  1. Teruslah berlatih. Oya, saya lupa menyebutkan kaidah 10.000 jam latihan (yang kira-kira 4 jam per hari selama sepuluh tahun) yang harus dilalui orang-orang untuk menjadi outliers. Para outliers di buku ini telah berlatih kira-kira selama waktu itu sebelum mereka bertemu dengan kesempatan yang melambungkan nama mereka. Lalu bagaimana jika rasanya kita sudah terlalu ‘tua’ untuk itu? Maaf kawan, tak ada ampun. Eh, maksudnya dimulai saja menyisihkan waktu itu sekuat tenaga selama masih ada umur. Itulah mengapa latihan sejak kecil dibutuhkan. Kalau sudah usia tanggung, sudah banyak urusannya. Apalagi sudah menikah dan punya anak, beda lagi ceritanya.
  2. Masukan bagi kurikulum pendidikan sekolah (nah, datang lagi). Sehubungan dengan faktor tanggal lahir yang dibahas di sini (baca sendiri ya), ada kiranya keinginan untuk meninjau ulang sistem pendidikan yang secara seragam mengelompokkan anak-anak yang berusia sama (dengan kemungkinan perbedaan bulan kelahiran yang jauh) untuk disatukan  dalam sekali masa penerimaan dalam setahun. (lihat, anak kalimat yang terlalu panjang memang membingungkan. Lengkapnya baca di buku saja ya).
  3. Banyak-banyak berdoa. Walaupun tidak secara tersurat disarankan di buku ini, perihal bab ‘Kesempatan’ tadi jelas urusan Takdir Allah SWT. Kita tidak tahu yang gaib di masa depan, yang bisa jadi merupakan kesempatan emas bagi kita untuk menyemai benih-benih kesuksesan yang sudah ditanam sebelumnya. Mungkin Paman Bill seharusnya bilang “Aku sangat bersyukur” ketimbang “Aku sangat beruntung”.
  4. Kita jelas berhutang budi pada orang tua kita, orang tua dari orang tua kita, sampai orang tua dari orang tuanya orang tua kita (heh, capek). Berkat usaha, kesempatan, dan warisan budaya merekalah kita akhirnya bisa dilahirkan dalam lingkungan yang kita syukuri hari ini. Terlepas dari kekurangan yang ada, mereka telah membawa kita yang datang kemudian, ke dalam masa-masa yang mudah untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan. Oya, sebenarnya kerusakan lingkungan juga kita rasakan, tapi sudahlah. Intinya, kita berhutang budi yang katanya, dibawa mati. Jadi, mari lakukan hal yang sama untuk generasi sesudah kita. Biarlah masalah hutang jasa-jasa orang tua hanya Allah Yang Bisa Membalasnya. Inilai pelajaran yang paling agung yang saya dapat dari buku ini.

Mari kita tunggu apalagi yang datang dari Malcolm Gladwell setelah Outliers ini. Sementara itu, kita masih punya pekerjaan rumah 10.000 jam (lama amat 10 tahun!) dan hutang budi pada orang tua kita. Tentu saja, tak lupa banyak berdoa. Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaa ha illallah wallahu akbar.

Mengukur Kecerdasan: Tes Psikologi, DMI, dan lainnya

Otak Kanan-Kiri
Otak Kanan-Kiri

Bakat adalah misteri terpendam dari setiap manusia, dan cara mengukurnya bahkan lebih misterius lagi. Tidak mudah mengukur jenis dan kadar kecerdasan setiap orang. Kalaupun dapat, seberapa presisi-kah pengukuran tersebut? Satuan apa yang digunakan untuk menghitungnya? Jika kecerdasan itu terus berubah, baik tumbuh maupun berkurang, seberapa seringkah pengukuran sebaiknya dilakukan? Ah, untuk menjawabnya nampaknya kita harus minta bantuan ahlinya. Tapi setidaknya terbayang oleh kita betapa tidak mudahnya mengukur kecerdasan yang kita miliki. Padahal, sekian banyak keputusan strategis dalam hidup kita ditentukan dari seberapa baik kita mengenali diri kita. Mengenali kecerdasan kita. Semakin baik proses tersebut, semakin ‘lancar’ jalan hidup kita, sehingga semakin dekat kita dengan puncak-puncak pencapaian terbaik dalam hidup kita, yakni menciptakan mahakarya.

Tes Psikologis
Tes ini bertujuan untuk mengukur IQ, kepribadian, minat pekerjaan, emosi, interaksi sosial, intelektual (daya nalar, daya ingat, bahasa, analisis, hitungan, kemampuan abstraksi, ruang), penjurusan IPA/IPS, dan pilihan jenjang studi lanjut (kuat sampai S3 gak?).

Bagian yang paling melelahkan dari tes ini adalah penjumlahan ratusan bilangan di kertas lebar bolak-balik itu, bukan begitu? Mungkin tidak bagi yang menggemari angka-angka. Namun bagi saya, tes ini melelahkan karena kita dituntut untuk menghitung cepat dan akurat, apalagi ia disimpan di jam-jam terakhir tes. Oya, satu lagi yang menyebalkan adalah menebak tingkah laku balok hitam yang sesuka hati menempatkan dirinya di antara kumpulan balok lain yang tak utuh, setelah diputar kanan-kiri-atas-bawah. Maka indikasi itu bagi saya, jelas sekali. Saya tak berbakat menjadi arsitek atau dokter.

Dan anehnya, tes psikologi yang pernah saya ikuti mampu menebak dengan tepat jurusan kuliah yang saya inginkan. Setelah berjam-jam menjawab soal tulis, saya tidak menyangka bahwa jawaban paling ditunggu-tunggu, yakni tentang jurusan kuliah, didapatkan dari wawancara langsung dengan pertanyaan yang langsung pula, “Kamu sukanya masuk jurusan apa?”. Maka tak heran hasil tes begitu pas dengan keinginan.

Tes Sidik Jari

SIdik Jari
SIdik Jari

Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa tak perlu soal secuil pun untuk mengidentifikasi kecerdasan yang tersembunyi ini. Cukup secara sukarela menyerahkan dua telapak tangan dan sepuluh pucuk jari tangan untuk dipindai dengan pemindai sidik jari yang terhubung dengan software tertentu di laptop. Tidak sampai sejam, tes pun selesai. Hasilnya tunggu 2 minggu kemudian. Silakan pilih, laporan hasil analisisnya hendak disajikan dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Setelah laporan diterima, Anda bebas berkonsultasi dengan konsultan pengembangan diri yang juga mempunyai salinan laporan tersebut. Rahasia keluarga, tentu saja. Hebat, bukan?

Inovasi teknologi yang berkembang menjadi bisnis ini ditemukan oleh ilmuwan Singapura yang meneruskan penelitian orang selama ratusan tahun (ini kata laporannya, lho..) tentang sidik jari. Maka tak heran, citra sidik jari kita harus dikirim ke Singapura untuk proses analisisnya, mungkin ke sini.

Bagaimana cara kerja tes ‘ajaib’ ini? Entah bagaimana pastinya, namun di antaranya melibatkan ilmu statistik, medis-terutama tentang syaraf pada telapak tangan, dan bumbu rahasia perusahaan. Awalnya, saya pikir cukup dengan statistik, yakni dengan membandingkan sidik jari kita dengan sidik jari tokoh-tokoh yang terkenal dengan kecerdasan mereka di berbagai bidang, lalu dipetakan dalam bentuk grafik dan ukuran-ukuran tertentu. Walau ini tak mudah, namun nampaknya ini tidak cukup. Cara mengukur kecerdasan tokoh-tokoh itu awalnya pakai apa? Bisa jadi ilmuwan atau seniman top punya kecerdasan lain yang lebih menonjol, dan bisa pula nilai ukuran kecerdasannya akan semakin tinggi jika ia tidak mati muda. Seberapa banyak data sehingga cukup valid untuk dibanding-bandingkan? Ataukah mungkin sidik jari dalam setiap jari, sebenarnya menyimpan informasi unik dalam bentuk lengkungan, lingkaran, atau tekstur, tentang kecerdasan pemiliknya? Misterius, bukan? Nama kerennya DMI (Dermatoglyphics Multiple Intelligence).

Hasil laporannya sebagai berikut:

  • Sejarah peneliti dan penelitian sidik jari yang berhubungan dengan otak.
  • Teori kerja dan karakteristik otak kanan dan kiri.
  • Presentase dominasi penggunaan otak kiri atau kanan.
  • Nilai dan peringkat setiap kecerdasan yang delapan: logika, musikal, visual-ruang, kinestetik-jasmani, interpersonal, intrapersonal, bahasa, dan naturalis.
    Dari grafik akan nampak perbedaan kadar kedelapan kecerdasan itu pada diri kita. Sarannya, kita cukup berkonsentrasi pada peringkat 4 besar.
  • Definisi, karakter, cara peningkatan, dan karir yang tepat untuk setiap kecerdasan.
  • Bobot gaya belajar (visual, auditori, dan kinestetik) dan kepekaan belajar (seberapa cepat kita mempelajari sesuatu).
  • Gaya manajemen kerja, yakni semacam kumpulan karakter sifat, ciri-ciri negatif, bentuk komunikasi, lingkungan kerja yang sesuai, penampilan saat rapat, sikap di bawah tekanan, dan sebagainya.

Bagi saya, hasilnya cukup membesarkan hati.

Ya iyalah, siapa yang nggak senang tahu kelebihan diri yang bisa dieksplorasi lebih dalam?

Akurat-kah?

Dari delapan kecerdasan itu, kecerdasan visual-ruang saya menempati urutan 2 terendah. Cocok. Walaupun ada yang mungkin belum muncul, yakni kecerdasan naturalis yang masuk 4 besar. Jelas belum ada ketertarikan mengadopsi hewan peliharaan atau merawat kebun anggrek. Paling cukup terhibur menonton beruang es yang bergumul memperebutkan wilayah kekuasaan atau perjalanan arung samudera paus bongkok mencari makanan.

‘Tes-tes’ lainnya
Beberapa bentuk tes lain berusaha mendekati pengenalan kecerdasan (bahkan nasib, rejeki, dan jodoh!) dengan cara pandang yang berbeda. Ada yang dengan membacanya dari golongan darah seperti di buku ini, menjawab pertanyaan teka-teki unik, mengitung hari lahir, sampai kombinasi nomor handphone. Ada yang ilmiah, dan ada yang ‘supranatural’. Namun tidak dibahas di sini, karena sejauh ini baru 2 jenis tes ini, yang pernah saya coba, yang hasilnya detail dan dikemas dengan ‘serius’.

Tapi bukankah dengan sekian banyak metode akan semakin mendekati hasil pembacaan yang ‘sebenarnya’? Layaknya semakin banyak titik pada koordinat akan semakin memudahkan pencarian persamaan garis yang melewatinya? Atau proses ini sebenarnya layaknya persamaan asymtot yang selalu-mendekati-namun-tak-pernah-bertemu itu? Mungkinkah di situ tersimpan pesan bagi kita untuk tak henti ‘membaca diri’? Bagaimanapun juga, tindak lanjut setelah mengetahui sekian kecerdasan terbaik diri tidak boleh dilupakan, yakni berlatih terus menciptakan karya. Sayang sekali, untuk yang satu ini tidak ada cara lain.

Catatan:
Jika kawan-kawan tertarik mencoba DMI, silakan menghubungi Bimbingan Belajar Primagama cabang Jl. Belitung, Bandung. Primagama pusat di Yogyakarta juga bisa. Situsnya di sini. Investasinya Rp. 1.000.000. Relatif mahal untuk ukuran tes bakat. Relatif murah daripada waktu dan biaya yang terbuang jika ‘salah’ jurusan atau ‘salah’ pekerjaan.

The Right Man on The Right Place

Dan pada dirimu sendiri, tidakkah kamu memperhatikan?
(Q.S. Adz-Dzaariyat:21)

Sejak kecil, menjadi rangking 1 di kelas terasa begitu prestisius. Tidak hanya kita, orang tua pun bangga jika anaknya selalu masuk 10 besar. Wajar, sebab nilai bagus adalah jaminan masuk ke sekolah top, lalu ke universitas top. Tiket emas memperoleh kehidupan masa depan yang lebih baik. Di sana ada pekerjaan bagus, gaji memuaskan, dan jodoh yang bibit-bebet-bobot-nya baik. Begitu kira-kira.

Semakin lama semakin kita sadar bahwa masuk rangking tidak memberikan gambaran yang pas tentang diri kita yang terbaik. Mungkin rangking lebih semacam teknik motivasi dari guru sekolah agar anak didiknya bersemangat mengejar prestasi. Mengalahkan temen-temannya, lebih tepatnya. Dan menyenangkan orang tua, tentu saja. Rangking, yang ditentukan dari akumulasi nilai-nilai mata pelajaran itu, tentu berkait erat dengan sistem pendidikan kita yang berbasis nilai. Nilai pelajaran IPA, maksudnya. Nilai-nilai ini begitu memesona sehingga sistem pendidikan lebih membuat sekolah yang tumbuh, ketimbang siswanya. Indikatornya, selepas sekolah banyak siswa tidak kunjung mampu mengaktualisasikan potensinya. Tidak tahu potensi terbaiknya. Tidak punya rencana masa depan. Tidak kunjung menemukan makna keberadaan dirinya dalam hidup. Tidak tahu / yakin mau kuliah jurusan apa. Salah jurusan? ‘Salah’ pekerjaan? Silakan disensus sendiri jumlahnya.

Jika ‘salah’, maka peluang terciptanya masterpiece atau karya-karya adiluhung yang menggerakkan roda peradaban dan membuat hidup bermakna, akan semakin sulit terwujud. Jika setiap orang di negeri ini mengalaminya, maka hasil akumulasinya akan membuat negeri ini minim kontribusi. ‘Pasar potensial’, demikian reputasi kita yang mendunia. “Gung, pernah kepikiran nggak untuk bikin masterpiece?”, tanya kawan saya yang multi-talented ini. Sesaat saya heran, orang sepertinya masih menanyakan pertanyaan semacam ini. Dengan kemampuannya, tentu masterpiece buatan tangannya hanya menunggu waktu. Sesaat kemudian saya sadar, pertanyaannya cukup beralasan. Kami memang tidak dibesarkan dari sistem pendidikan yang fokus membentuk kami sesuai dengan kekuatan yang kami miliki. Sekian lama kami diberi seragam untuk ‘diseragamkan’ kemampuannya. Hal ini disebabkan sistem kami tidak mampu mengelola potensi-potensi kami dengan baik. Sistem kami tidak mampu mencerna anak yang blingsatan mencari jati diri sehingga demi kemudahan segera melabelinya dengan ‘nakal’. Sistem kami tidak siap mengelola sekian banyak perbedaan manusia karena potensinya. Sistem kami tidak ‘manusiawi’, tidak membuat manusia semakin merasa menjadi ‘manusia’. Status kemanusiaan kami adalah rangking dan nilai UAN. Masterpiece? Cari di kegiatan ekstrakurikuler saja.

Kita tahu Allah membekali kita dengan kecerdasan dengan berbagai tipe. Mengapa? Untuk menjalani misi sebagai khalifah, kita akan sangat membutuhkan kecerdasan. Dan dengan alasan yang sama, setiap kita diberikan kecerdasan-kecerdasan dengan kadar yang berbeda. Mengapa? Karena setiap kita ditakdirkan mengisi ‘pos’-‘pos’ khalifah yang demikian banyak. Layaknya pekerjaan, pos-pos itu membutuhkan orang yang tepat. Orang yang tahu apa yang harus dilakukan di pos itu, dan sepenuh hati melakukannya. Orang ini adalah ahlinya. The right man on the right place. Jika pos-pos tidak dijaga ahlinya, “Jika urusan tidak diserahkan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.”, demikian pesan Rasulullah.

Lihat, pekerjaan memilih orang yang tepat menjadi salah satu pekerjaan utusan Allah. Karena tanpanya, misi mulia menebar rahmat ke seluruh penjuru bumi semakin jauh panggang dari api. Dan kelak, potensi ini harus dipertanggungjawabkan. Kadar dosa kita akan dihitung dari seberapa dekat kita mampu mengaktualisasikan potensi diri dengan potensi yang sebenarnya Allah Berikan untuk kita sebagai penjaga ‘pos khalifah’ tadi.

Masalah besarnya adalah potensi ini sesuatu yang abstrak di dalam diri kita. Cara meyakininya serupa dengan cara meyakini adanya Allah, yakni lihatlah wujud ciptaannya. Maka portofolio pribadi adalah sesuatu yang sebaiknya kita simpan baik-baik untuk melacak jejak potensi-potensi itu. Cara lainnya, ikutilah tes yang mampu membaca potensi-potensi tadi. Sejauh ini, baru satu tes ‘ajaib’ yang saya coba. Tak ada satu soal pun. Semuanya cukup dibaca dari SIDIK JARI. Tenang, ini cukup ilmiah, dan punya kredibilitas.

Penasaran?

Catatan:

Berikut BUKU WAJIB untuk pengenalan kecerdasan dan bakat diri. Wajib dimiliki individu atau keluarga. Guru, dosen, sekolah, mahasiswa. Penting untuk setiap orang. Bukan main. Buku yang membesarkan hati. Buku untuk menghilangkan kebodohan dan rasa minder.

5 Langkah Melahirkan Mahakarya

5 Langkah Melahirkan Mahakarya
Penulis: Muhammad Musrofi
Penerbit: hikmah
Buku yang SANGAT INSPIRATIF! Menceritakan betapa berharganya bakat kita, lalu menunjukkan cara ‘mengeluarkannya’ dalam 5 langkah. Dilengkapi kisah dan contoh nyata bertabur ayat-ayat suci AlQur’an dan Hadits Rasul. Ini buku praktek, jadi segera terapkan 5 langkah itu!

Youre Smarter Than You Think

Kamu itu Lebih Cerdas daripada yang Kamu Duga
Penulis: Thomas Armstrong, Ph.D
Penerbit: Interaksara
Betapa mudahnya untuk menjadi CERDAS! Tidak hanya satu, tapi delapan kali lebih cerdas. Kecerdasan bahasa, logika, musikal, interpersonal, intrapersonal, naturalis, jasmani, dan visual. Identifikasi kecerdasan diri Anda! Lengkap, lengkap sekali! Tidak lupa berbagai profesi yang cocok dengan kecerdasan, kombinasi berbagai kecerdasan itu, saran pengembangan, dan referensi bermutu. Dilengkapi fakta menarik dan ilustrasi lucu, Anda masih tak mau membelinya?
Percayalah, dijamin meningkatkan percaya diri Anda!

Kursus Bahasa Mars dan Venus

Kursus bahasa Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Jepang atau Mandarin bukan hal yang asing bagi kita. Sekian banyak lembaga menawarkan program untuk mempelajari bahasa di luar bahasa ibu kita tersebut. Penguasaan bahasa ‘asing’ membuat orang mampu mencerna informasi yang disampaikan dalam bahasa ‘asing’, berkomunikasi dengan baik dengan orang ‘asing’, memahami budaya ‘asing’, sampai tak masalah kalau harus tinggal di negara ‘asing’. Tak heran program beasiswa atau pertukaran pelajar menuntut penguasaan bahasa ‘asing’ ini, agar misalnya jangan sampai ekspresi suka cita ditanggapi sebagai hinaan oleh orang ‘asing’.

Berbicara tentang ‘asing’ dan bahasanya, nampaknya ‘asing’ tak melulu berwujud bangsa yang berbeda. Semua di luar diri kita bisa disebut ‘asing’. Bahkan sebagian besar diri kita pun masih ‘asing’. ‘Asing’ yang coba saya tampilkan adalah ‘asing’ antara bahasa pria dan wanita.

Komentar: What?

Mungkin sebagian besar kita sudah pernah membaca, atau setidaknya mendengar slogan “Men are from Mars, Women are from Venus”. Ya, slogan yang dijabarkan panjang lebar tentang cara berbahasa dua jenis manusia itu berbentuk buku dengan judul yang sama. Penelitian yang dilakukan John Gray, Ph.D ini membagi karakter yang berpengaruh terhadap cara berbahasa pria dan wanita menjadi karakter ‘makhluk’ ala planet Mars dan Venus.

Komentar: Hei kawan, itu buku lama, kami sudah pernah membacanya. So what?

Tak perlu saya uraikan berbagai karakter dan studi kasus yang sudah cukup detail dari buku itu. Kebanyakan saya amini. Kebanyakan yang lain saya tercerahkan dalam memahami cara berbahasa diri saya sebagai pria dan ibu saya, kakak saya, serta teman-teman saya sebagai wanita. Sederhananya, pria dan wanita punya cara berbahasa yang berbeda, yang dipengaruhi karakter bawaanya sebagai pria dan wanita tersebut. Memang, selalu saja ada pengecualian, namun pada umumnya sejauh ini demikian adanya.

Komentar: Ha, kemana aja ente? Baru ngerti kalo beda?

Memahami cara berbahasa orang lain sangat membantu kita memahami mereka, di samping memperkaya cara kita memandang masalah. Lebih jauh hal itu akan membantu terciptanya hubungan yang sehat dan saling pengertian. Ini tidak melulu soal hubungan asmara antara pria dan wanita. Di keluarga, organisasi, kantor, sekolah, bisnis, sampai politik pun bisa, selama ada komunikasi, sesederhana apapun bentuknya. Tak usah cemas pikiran kita dibaca orang. Toh untuk itu kan kita berkomunikasi. Bukannya kita di sini untuk bekerja dan berkarya bersama? Bukankah menyenangkan kalau orang lain bisa memahami kita dan kita pun memahami mereka? Bukankah nyaman kalau kita bisa menempatkan diri dengan baik terhadap orang lain? Lalu saling melengkapi? Kalau canggih, bahkan orang sudah paham sebelum mulut berbicara, seperti kata Ronan Keating, “You say it best when you say nothing at all“.

Jika setiap pria dan wanita saling memahami cara berbahasa mereka masing-masing, beberapa hal berikut mungkin dapat diatasi:

  • Kasus KDRT yang sering diakibatkan masalah ‘sepele’ yang tidak dibicarakan, atau tidak dipahami bersama
  • Kasus ’emansipasi’ wanita dan ‘sok-kuasa’ pria dalam wadah kerja bersama
  • Kasus sales yang penjualannya tak kunjung meningkat
  • Kasus dosen yang heran mengapa hanya murid perempuannya saja yang mayoritas nilainya bagus (ha?)

Terimalah kenyataan ini. Pria dan wanita punya bahasa yang berbeda. Tanpa mengetahuinya, keduanya sering nggak nyambung. Masalah tak selesai, hati tak puas, kepala pusing, sampai stres bisa muncul. Lalu, kenapa sampai hari ini masalah perbedaan bahasa ini belum sampai pada taraf cukup ‘asing’ untuk dijadikan semacam kursus atau pelajaran yang bisa diambil SKS-nya?

Hal ini nampaknya baru muncul pada pelatihan atau kursus pra-nikah, sebuah persiapan pria dan wanita yang ingin bersatu dalam sebuah keluarga. Padahal setiap pria sudah harus berurusan dengan wanita sejak bertemu ibu dan adik perempuannya. Begitu pula setiap wanita sudah harus berurusan dengan pria sejak bertemu ayah dan kakak laki-lakinya. Dan sejak saat itu mereka menggunakan bahasa masing-masing yang harus diartikan tanpa pedoman yang jelas tentang grammar dan vocabulary dari masing-masing bahasa tersebut. Bahasa ini begitu basic , bahkan lebih basic daripada bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Ini bahasa karakter, bahasa bawaan, bahkan bahasa pikiran. Lebih sederhana dan inti daripada bahasa lisan.

Komentar: Ow, gitu maksudmu. Jadi kongkritnya apa mas?

Jadi, mengapa besok kita tidak buka kelas kursus “Belajar Bahasa Pria dan Wanita”? Biar keren, namanya dibuat jadi “Kursus Bahasa Mars dan Venus”, norak bukan? Taruhlah 2-4 SKS saja. Atau dibuat 3 level: beginner, intermediate, advanced. Gagal uang kembali. Kuliah jarak jauh juga bisa. Tidak perlu ijazah apapun untuk memulainya. Hari ini daftar, besok mulai kursus. Dibuka kelas karyawan malam hari. Ruangan ber-AC dan dilengkapi fasilitas audio visual. Satu kelas dibatasi 10 pria dan 10 wanita. Mau daftar nggak?

Tak ada alasan untuk malu kan? Ini bukan hak eksklusif mahasiswa psikologi, konsultan keluarga, atau divisi SDM perusahaan kan? Iya kan? Ya kan?…

Komentar:

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑