Mengubah Kebiasaan Berkendara Kita

Mengendarai mobil di jalan umum, yang secara sederhana diizinkan bagi mereka yang sudah mempunyai SIM, ternyata tidak sesederhana dapat dikuasai mereka yang telah lulus kursus mengemudi. Dibutuhkan lebih dari sekedar kemampuan mengendalikan arah mobil, mengatur kecepatannya, serta membaca rambu lalu lintas. Hal ini dapat dipahami karena masalah yang mungkin muncul saat mobil sudah melaju di jalan umum begitu bervariasi. Sebut saja mulai dari kemacetan lalu lintas, ban bocor, hingga ditabrak atau menabrak kendaraan lain. Hingga saat ini kesiapan kita dalam mengatasi berbagai masalah tersebut sepertinya belum menjadi bagian dari syarat pengambilan SIM. Kita rasanya mau cepat saja mendapat izin mengendarai mobil, tanpa terlebih dahulu menyiapkan diri memahami hal-hal yang, bisa jadi, suatu hari akan menyelamatkan nyawa kita dan orang lain. Misalnya, Anda tidak ingin kejadian dalam video berikut menimpa Anda, bukan?

Pada Pesta Blogger 2009 yang lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti sesi Driving Skills For Life (DSFL) yang diselenggarakan oleh Ford Motor Indonesia (FMI) yang bekerja sama dengan beberapa pihak, termasuk Indonesia Defensive Driving Centre (IDDC). Program ini merupakan bentuk Corporate Society Responsibility (CSR) dari FMI untuk pengemudi kendaraan bermotor di Indonesia, khususnya mobil. Tujuan DSFL sendiri yaitu:

  1. Pengemudi yang aman dan selamat
  2. Pengemudi yang bijak
  3. Meningkatkan jarak tempuh kendaraan Anda
  4. Menghemat pengeluaran
  5. Mengurangi polusi

Untuk mencapai tujuan tersebut, DSFL menyusun 10 tips yang diharapkan dapat mengubah kebiasaan berkendara kita. Tips ini dapat dilihat di sini, akan tetapi saya mencoba menceritakan kembali sesuai pengalaman pribadi dan pelatihan yang saya dapat di sesi di Pesta Blogger 2009 yang lalu.

  1. Mengenakan sabuk pengaman karena aturan, bukan kesadaran
    Tips1Sejak dihimbaunya penggunaan sabuk pengaman, pengemudi mobil segera mematuhinya dengan berbagai alasan. Sebagian besar mungkin takut dengan denda yang berjumlah ratusan ribu tersebut. Sebagian yang lain mungkin sadar akan risiko cedera yang mungkin terjadi tanpa menggunakan sabuk pengaman.
    Fungsi sabuk pengaman sendiri adalah melindungi penggunanya dari cedera yang lebih parah dalam suatu kecelakaan. Nah, seringkali kita berpikir bahwa kecelakaan tidak akan menimpa kita bila kita berkendara bukan dengan kecepatan tinggi dan tidak sedang mengadakan perjalanan keluar kota. Padahal yang namanya kecelakaan dapat terjadi kapan saja dimana saja. Jika bukan kita yang menabrak, peluangnya dapat terjadi dari kendaraan lain yang menabrak kita. Jika sudah terjadi kecelakaan dan pengemudi mengalami cedera yang lebih parah tanpa menggunakan sabuk pengaman, maka alasan tadi jadi omong kosong, bukan?
    Oya, sabuk pengaman bukan hanya untuk pengemudi, melainkan untuk penumpang juga karena semua orang di dalam kendaraan dapat mengalami cedera. Dalam sebuah video simulasi kecelakaan berkecepatan 50 km/jam (tidak kencang), penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman laksana bola yang terpantul-pantul: menghantam dasboard, terlempar keluar dari kaca depan atau samping, dan melukai penumpang lain yang menggunakan sabuk pengaman (bayangkan saja sebuah bola yang terpantul-pantul dalam sebuah ruang, ia akan bergerak tidak teratur dan membentur ke segala arah).
    Gunakan sabuk pengaman yang standar, seperti model reclining seatbelt, yang secara otomatis menyesuaikan dengan ukuran tubuh kita. Ia akan mengunci tubuh kita bila menerima tarikan yang besar dan cepat akibat hentakan saat kecelakaan. Jangan gunakan seatbelt yang harus disesuaikan dulu ukurannya, karena tidak berfungsi menahan tubuh kita sebagaimana mestinya. Apalagi yang hanya diselempangkan di depan tubuh sekedar untuk menunjukkan kepada polisi bahwa kita terlihat sudah menggunakan sabuk pengaman.
  2. Tidak mengoptimalkan fungsi spion
    Tips2Spion kanan, kiri, dan tengah dapat membantu kita mengamati posisi kendaraan lain di belakang, sekaligus menghitung jarak kita dengan kendaraan di sekitar kita. Pengamatan ini penting saat kita harus mengambil keputusan untuk berpindah jalur, berbelok, dan saat melakukan pengereman (berhenti). Seringkali kecelakaan terjadi saat pengemudi tidak sering meng-update posisi kendaraan di belakang (ah, ternyata bukan hanya status FB yang harus sering di-update). Saat akan berbelok/berpindah jalur ternyata ada kendaraan dari arah belakang yang sedang melaju kencang. Saat akan berhenti ternyata jarak kendaraan belakang dengan kita terlalu dekat.
    Akan tetapi spion belumlah cukup karena spion memiliki area penglihatan yang terbatas, sehingga ada area di sekitar kendaraan yang disebut blind spot. Blind spot kendaraan dapat diminimalisir dengan menoleh 90 derajat ke kiri, kanan (shoulder/head check), atau belakang (untuk mundur) untuk meng-update posisi kendaraan.
    Bagi kendaraan besar seperti bis atau truk semen, blind spot yang dimilikinya lebih besar lagi karena ditambah area di bawah penglihatan pengemudi yang tidak dapat dilihatnya (ingat, posisi pengemudi kendaraan besar lebih tinggi dari kendaraan biasa). Dalam sebuah video CCTV nampak seorang penyeberang jalan yang tergilas truk semen karena ia menyeberang dekat sekali dengan hidung truk semen tersebut, sehingga pengemudi tidak dapat melihat penyeberang tersebut. Maka jika kita sedang berada atau mengemudi dekat dengan kendaraan besar, segeralah mengubah posisi tersebut karena bisa jadi kita sedang berada di area blind spot.
    Seberapa sering kita meng-update posisi kendaraan kita lewat spion atau shoulder check? Kira-kira setiap 8 detik. (Wah, kalau begitu mengemudi itu butuh konsentrasi tinggi, dong? Nah, baru sadar, kan? Tapi ini baru sampai poin kedua, masih ada delapan lagi hehehe).
  3. Yang waras, ngalah!
    Tips3Entah jika istilah ini terinspirasi dari lakon Srimulat, tapi demikian prinsip sederhana yang disampaikan Pak Dodi saat presentasi DSFL di Pesta Blogger yang lalu. Bagi sebagian besar kita, jalanan itu gila, apalagi di kota-kota besar. Orang jadi beringas ingin menang sendiri tanpa memerhatikan keselamatan orang lain. Dalam kondisi tersebut, seringkali kita pun ikut-ikutan berperilaku gila. Sesama orang gila saling memperebutkan jalan? Maka bertengkar dan kecelakaan lah yang menanti. Nah, agar terhindar dari pemborosan energi, waktu, dan emosi ini, maka gunakanlah prinsip sederhana: “Yang waras, ngalah!”
    Dalam DSFL, prinsip ini disebut Defensive Driving. Pada intinya, pengemudi yang Defensive (yang waras, tentu saja) selalu berpikir jauh ke depan dan selalu waspada terhadap segala kemungkinan risiko yang terjadi. Ia mampu mengemudikan kendaraannya dengan tenang dan mampu mengantisipasi situasi lalu lintas di depannya.
    Beberapa perilaku yang dilakukannya antara lain:

    • Tenang dan menghindari provokasi (tepat sekali pemilihan kata ini hehehe) pengguna jalan lain
    • Sopan dalam mengemudi dan dapat mengontrol emosi
    • Dapat mempertahankan suasana hati yang positif
      Misalnya jika ada orang yang tiba-tiba meyerobot jalur kita dengan sembrono, pikirkan saja bisa jadi ia terburu-buru karena istrinya akan melahirkan, orang tuanya sakit, terlambat masuk kantor (yang ini sering, nampaknya), atau sedang kebelet ke kamar kecil. Dengan demikian kita akan memakluminya, dan segera melupakannya, tidak terpancing untuk balas menyerobot.
    • Bersikap adil terhadap pengguna jalan yang lain dan memberi hak yang sama
      Misalnya jika berjumpa dengan zebracross, berilah kesempatan kepada penyeberang yang sudah menunggu untuk dapat menyeberang jalan. Atau memberi kesempatan pada kendaraan lain yang akan akan berbelok memotong jalur di depan kita.
    • Waspada terhadap kemungkinan kesalahan yang disebabkan pengguna jalan yang lain
      Kita waspada, tapi orang lain tidak waspada, kecelakaan tetap dapat terjadi. Intinya bukan siapa yang bersalah, tapi hindari kecelakaan semaksimal mungkin. Kalau sudah terjadi kecelakaan, pasti ada kerugian, minimal kerugian waktu dan emosi. Tak ada yang diuntungkan, dan tidak penting siapa yang bersalah dibandingkan kerugian yang harus ditanggung.
    • Takut menyebabkan celaka orang lain / kerusakan barang
  4. Mengemudi dengan gangguan
    Tips4Saya teringat sebuah berita terjadinya beberapa kecelakaan di sekitar sebuah papan reklame iklan sabun. Beberapa pengemudi yang nahas itu, tentunya laki-laki, sesaat terpesona dengan pesona sang model iklan sabun. Beberapa detik mereka kehilangan konsentrasi mengemudi sehingga menyebabkan kecelakaan. Hanya beberapa detik tanpa konsentrasi yang dibutuhkan untuk sebuah kecelakaan. Entah yang salah si model iklan sabun, pemasang reklame, atau pengemudi. Kemudian, kalau tidak salah, reklame tersebut dipindah atau diganti dengan yang lebih ‘tidak menggoda’ untuk mengurangi kecelakaan. Contoh reklame ini termasuk gangguan eksternal terhadap pengemudi.
    Gangguan berikutnya tentu sudah cukup akrab. Berikut beberapa pekerjaan sambilan saat mengemudi:

    • Membaca/menulis SMS
    • Bertelepon
      Penggunaan handsfree tetap saja mengurangi konsentrasi mengemudi, jadi bukan solusi bertelepon saat mengemudi. Menepilah jika menerima telepon yang dianggap cukup penting. Kita sebagai orang yang menghubungi pun hendaknya mempunyai kesadaran. Tanyakan terlebih dahulu pada penerima telepon aktivitas yang sedang ia lakukan. Jika ia sedang mengemudi, segera putuskan hubungan, dan katakan kita akan menghubunginya kembali.
    • Makan/minum
    • Berbincang topik berat dengan penumpang
    • Merokok
    • Melihat TV atau mengganti kaset/CD Audio

    Statistik menunjukkan gangguan-gangguan internal ini dapat meningkatkan risiko kecelakaan akibat kehilangan konsentrasi. Aktivitas-aktivitas tersebut nampak ringan, tapi memang hanya dibutuhkan beberapa detik untuk sebuah kecelakaan. Mengemudi membutuhkan konsentrasi tinggi, oleh karena itu hilangkan gangguan apapun semaksimal mungkin.

  5. Tidak menjaga jarak aman dan terlalu mengandalkan rem
    Tips5Seringkali kita terlalu percaya diri mengikuti kendaraan di depan kita dengan jarak yang minimal. Kita terlalu percaya diri dengan kecepatan kita merespon kendaraan depan yang berhenti mendadak. Kita terlalu percaya diri dengan kemampuan rem kendaraan kita. Setelah terjadi kecelakaan akibat jarak yang terlalu dekat tersebut, kita bingung kemana hilangnya kepercayaan diri kita tadi.
    Prinsip sederhana mengenai ruang kosong antara kendaraan kita dengan kendaraan lain, baik di depan, belakang, kanan, dan kiri adalah semakin besar ruang yang tersedia, semakin banyak waktu untuk bereaksi dan menghindari kecelakaan.
    Berdasarkan penelitian, setidaknya dibutuhkan waktu 3 detik untuk bereaksi jika kendaraan di depan kita berhenti secara mendadak, yakni:

    • 1 detik waktu reaksi manusia,
    • 1 detik waktu pengereman, dan
    • 1 detik waktu cadangan (safety factor).

    Bagaimana menghitung 3 detik ini? Cara sederhana adalah dengan membuat patokan objek diam di pinggir jalan yang telah dilewati kendaraan di depan kita. Misalnya pohon atau tiang listrik. Begitu kendaraan di depan kita melewati objek tersebut, kita mulai menghitung: “Seribu dan satu”, “Seribu dan dua”, dan “Seribu dan tiga”. Kira-kira “Seribu dan satu” ini lebih dekat ke nilai satu detik ketimbang “Satu”, “Dua”, dan “Tiga”.
    Jika sampai “Seribu dan tiga” kendaraan kita pas melewati objek atau kurang, maka kita sudah berada di jarak yang relatif aman dengan kendaraan depan. Demikian sebaliknya, jika jarak kita kurang dari 3 detik, maka sebaiknya kita mengurangi kecepatan untuk memenuhi jarak aman ini. Tidak peduli berapa kecepatan kita, karena waktu 3 detik ini pun akan menghasilkan jarak yang berbeda seiring kecepatan kendaraan.
    Jika kondisi jalan licin atau cuaca sedang hujan, maka kita dapat menambahkan hingga 4 sampai 6 detik.
    Ingat, ruang aman di sekitar kendaraan kita merupakan waktu yang kita butuhkan untuk bereaksi jika keadaan darurat terjadi. Semakin besar ruang aman, semakin banyak waktu yang kita miliki.

  6. Mengoptimalkan kecepatan persneling
    Tips6Sudah tips ke-6, masih kuat? Hehehe. Kapan saat/kecepatan yang tepat untuk memindahkan perseneling dari rendah ke tinggi? Dalam kaitannya dengan penghematan bahan bakar, sebaiknya kita memindahkan persneling saat putaran mesin berada di antara 1500-2500 rpm (putaran per menit). Hal ini disebabkan mesin dengan bahan bakar bensin rata-rata bekerja optimal di putaran tersebut. Jika putaran terlalu tinggi, hal ini menyebabkan bahan bakar cepat terbuang, sedangkan jika terlalu rendah dapat menyebabkan mesin kehilangan torsi sehingga butuh injakan pedal gas yang lebih dalam, yang berarti lebih banyak pula bahan bakar yang digunakan. Oleh karena itu, kita berusaha untuk melaju sekonstan mungkin dan menghindari akselerasi mendadak atau pengereman yang berlebihan.

  7. Memanfaatkan momentum gerak kendaraan
    Tips7Saat mendekati lampu merah atau berbelok, seringkali kita tidak sabar dan tetap memacu kendaraan, lalu berhenti dengan cepat menggunakan rem. Kebiasaan ini ternyata berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar dan cepat mengurangi ketahanan rem. Hal ini dapat kita ubah dengan memanfaatkan momentum gerakan kendaraan yang masih tersisa dari kecepatan sebelumnya.
    Biarkan kendaraan kita menggelinding tanpa injakan gas sehingga saat mendekati lampu merah / belokan, kecepatan yang sudah jauh berkurang tersebut dapat menghemat penggunaan rem. Buat apa memacu kendaraan yang tidak lama lagi harus berhenti??
    Selain itu, kita dapat menggunakan engine break ketimbang rem jika menghadapi jalan yang turun. Engine break secara prinsip adalah menurunkan persneling untuk menurunkan kecepatan. Teknik ini lebih aman daripada menggunakan rem untuk mengurangi laju kendaraan yang sedang dalam persneling tinggi.

  8. Tetap menyalakan mesin saat berhenti
    Tips8Mesin yang tetap menyala dari sekian banyak kendaraan yang sedang berhenti di lampu merah jelas menambah tingkat polusi, selain memboroskan bahan bakar. Jika kendaraan kita berhenti lebih dari 20 detik, maka akan lebih ekonomis bila kita mematikan mesin. Kondisi ini sering kita rasakan di pemberhentian lampu merah, kemacetan lalu lintas, perlintasan kereta api, atau menurunkan orang / barang dari kendaraan. Mematikan mesin tidak akan merusak atau mengurangi umur dari motor starter.
    Sebagai ilustrasi, mesin hidup dan diam selama 3 menit sama artinya dengan mengemudi 1 kilometer dengan kecepatan konstan 50 km/jam. Mematikan mesin saat menunggu tentu dapat menghemat bahan bakar dan membuat kendaraan kita mampu menempuh jarak yang lebih jauh, selain mengurangi polusi.

  9. Jarang melakukan pengecekan kondisi mobil
    Tips9Ada berapa banyak pengemudi yang memahami cara kerja kendaraannya? Dari jumlah tersebut, berapa banyak yang mengetahui apa yang harus dilakukan bila sistem kendaraannya tidak berjalan sebagaimana mestinya? Saya rasa sebagian besar kita tidak termasuk yang pertama, apalagi yang kedua. Sebagian besar kita hanya bisa mengemudi, tapi tidak memahami bahwa kendaraan, layaknya mesin apapun, butuh perawatan dan pengecekan berkala. Kita terlalu percaya diri atau cuek dengan kondisi kendaraan. Hal ini dapat diperbaiki dengan beberapa pengecekan ringan setiap kali kita berkendara. Ya, itung-itung rasa terima kasih kita terhadap kendaraan yang sudah berjasa mengantar kita ke sana ke mari. Pengecekan yang kita lakukan dapat mendeteksi kerusakan sejak dini agar kerusakan yang parah tidak terjadi.

    • Pengecekan Eksternal
      • P: Petrol = Bahan bakar
      • O:Oil = Minyak mesin, transmisi, rem, power steering
      • W:Water = Air pembersih kaca, pendingin
      • E:Electricals = Sistem kelistrikan
      • R:Rubber = Karet selang, karet wiper
    • Pengecekan Internal
      Pengecekan ini dilakukan terhadap bagian dalam kendaraan, seperti kaca spion, alat kontrol, rem parkir, lampu-lampu, dan sebagainya.
    • Perawatan Ban
      Apa arti penting ban? Sadarilah bahwa ban adalah satu-satunya bagian kendaraan kita yang langsung bersentuhan dengan permukaan jalan. Kondisinya harus terus dijaga, agar jangan sampai terjadi kasus kecelakaan fatal yang sering kita dengar: pecah ban di jalan tol. Pecah ban ini terjadi sebagian besar karena tekanan ban lebih rendah daripada yang seharusnya (under pressure). Tekanan udara yang rendah pada ban akan menyebabkan ban sering ‘terlipat’ di sisi sampingnya, yang menyebabkan ketahanan karetnya cepat habis karena sering mengalami tekanan dari bobot kendaraan yang sedang melaju. Sebagai informasi, bagian samping adalah bagian yang terlemah dari sebuah ban.
      Oleh karena itu, jagalah tekanan ban sesuai dengan standar tekanan yang tertera pada stiker di dekat pintu mobil pengemudi. Tekanan dapat ditambah 2-3 psi jika mengangkut beban berat atau akan melaju di jalan tol. Selain itu, mengingat harga ban yang tidak murah, sebaiknya kita rajin merawatnya.
  10. Membawa beban berlebihan
    Tips10Kelebihan beban dapat memboroskan bahan bakar dan mengurangi usia shock breaker. Sebagai gambaran, setiap penambahan beban 20 Kg, konsumsi bahan bakar akan meningkat 1%. Selain itu, kelebihan beban dapat mengurangi kemampuan kendaraan untuk merespon pengereman mendadak.

Demikian beberapa tips yang berguna untuk menyelamatkan nyawa kita dan nyawa kendaraan kita. Secara bertahap kita dapat menjadikan tips-tips tersebut sebagai kebiasaan baru kita dalam berkendara. Sesuai slogan DSFL:

Smart Driving, Protecting Lives, Saving Fuel

Menutup tulisan ini, sekaligus sebagai semacam shock therapy (seperti yang dilakukan pada pelatihan DSFL), coba saksikan video berikut. Dengan cara berkendara yang aman dan benar, semoga kejadian seperti ini tidak akan menimpa kita, baik kita sebagai pengemudi maupun penyeberang jalan. Selamat berkendara 🙂

Referensi:
  • Gambar diambil dari sini.
  • Penjelasan tips sebagian diambil dari buku panduan DSFL.

Jangan Keluar Dari Pekerjaan Sebelum Dipecat

Sebelum dibahas, saya cuplik satu kutipan yang saya suka di dalam buku ini. Coba dengar ini,

Membenci Senin adalah alasan lemah karena telah menyia-nyiakan sepertujuh hidup Anda.

DSC00691 Ok kawan, pasti ada yang tak sepakat dengan judul tulisan ini. Setidaknya dengarkanlah dulu isi buku terjemahan dari judul aslinya ini, “Love It, Don’t Leave It: 26 Ways to Get What You Want At Work”. Kalau di-Indonesiakan menjadi “26 Kiat Meraih Kesuksesan dan Kepuasan Kerja Tanpa Berganti Pekerjaan”. Hoah…another How-To Books? No, thanks. Eit tunggu, duduklah sebentar, dan coba pikirkan beberapa pertanyaan ini,

  • Bagaimana pekerjaan dapat membuat saya bergegas bangun di pagi hari?
  • Seandainya saya memenangkan undian dan berhenti bekerja, apakah yang menjadi kehilangan terbesar bagi saya?
  • Apakah Anda sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tak sempat untuk memikirkan masa depan?
  • Dalam bekerja, pencapaian apa yang secara khusus membuat saya merasa bangga?
  • Perubahan besar apakah yang sedang terjadi di bidang industri, ekonomi, politik, dan sosial yang memengaruhi perusahaan?
  • Apakah pekerjaan Anda membuat hubungan Anda dengan keluarga menjadi renggang?
  • Kapankah terakhir kali Anda tertawa terbahak-bahak (ya, maksudnya tertawa dengan rasa gembira yang amat sangat) sewaktu bekerja? Tahun lalu? Bulan lalu? Minggu lalu? Kemarin?
  • Bayaran saya kurang dibanding dengan apa yang saya kerjakan?
  • … Bagaimana, seperti yang ditanyakan saat wawancara masuk kerja ya? Hihihi…

Bekerja, seperti kita tahu, merupakan aktivitas yang kita jalani hampir selama separuh umur hidup kita. Pagi sampai sore (bahkan sampai malam) kita habiskan untuk bekerja. Bekerja menjadi hidup kita yang kedua. Layaknya hidup, berbagai macam hal harus kita hadapi, baik yang sederhana maupun yang kompleks. Mulai dari pekerjaan itu sendiri, rekan kerja, atasan, lingkungan kantor, peraturan perusahaan, gaji, kesempatan mengembangkan diri, sampai menu makanan di kantin. Seiring waktu, tak semua hal ini memuaskan. Setidaknya itu yang kita pikirkan selain rumput tetangga yang nampak lebih hijau. Jadi, apakah ini saat yang tepat untuk mengundurkan diri? Keluar? Pindah perusahaan? Atau memulai bisnis sendiri? Apapun jawabannya, setidaknya ada beberapa pekerjaan rumah yang hendaknya dikerjakan. Nah, buku ini memberikan 26 daftar pekerjaan rumah itu.

Heh sebentar, mengapa pula saya harus bertahan di perusahaan ini kalau semuanya sudah ‘selesai’ buat saya? Hmm…bagaimana ya, apa Anda yakin semuanya sudah ‘selesai’? Apa Anda yakin rumput itu memang lebih hijau? Apa Anda yakin masalah-masalah yang menyebalkan di perusahaan ini tidak akan Anda alami di perusahaan yang baru? Apa Anda yakin sudah tidak ada lagi yang menantang untuk dipelajari? Nah, demikianlah kiranya sebagian besar isi buku ini. Keluhan. Pertanyaan. Curhat. Jawaban. Lalu pertanyaan lagi. Demikian seterusnya. Kalau mau dirangkum dalam beberapa ide besar, kiranya demikian:

  • Tanyalah. Anda tidak akan mendapatkan apa yang tidak anda minta. Tak ada ruginya, karena memang Anda berhak untuk bertanya dan meminta. Tentu dengan cara-cara yang elegan.
  • Jangan menunggu orang lain, siapapun itu, melakukannya untuk Anda. Jika Anda menginginkan sesuatu, Andalah orang pertama yang melakukannya, bukan orang lain.
  • Banyak-banyak mendengar dan memahami.
  • Terus kenali diri Anda sendiri. Cita-cita, rasa suka, rasa benci, semuanya. Apa yang Anda inginkan? Bagaimana semua itu mempengaruhi pilihan-pilihan Anda?
  • (Hei, ini tampak sebagai penjabaran, bukan rangkuman…) Ups, nampaknya saya belum mendapatkan ide-ide besarnya. Eh, atau memang ide besarnya cukup banyak?

Yang membuat buku ini bagus antara lain penulisnya yang berpengalaman menangani keluhan rutin karyawan yang hendak keluar, gaya penyampaiannya yang santai tapi mengena, pertanyaan-pertanyaan yang bagus, dan kutipan-kutipan yang sayang untuk dilupakan. Ternyata bersyukur dengan pekerjaan yang sudah dijalani memang tidak mudah. Apalagi jika terdengar kabar lulusan perguruan tinggi tertentu mudah sekali pindah-pindah perusahaan sehingga muncul istilah ‘kutu loncat’ itu lho.

Membaca buku ini saya jadi teringat nasihat tentang hak dan kewajiban yang memang seharusnya sudah kita miliki saat kita bergabung ke organisasi tertentu. Saat kita telah bergabung, kita sudah termasuk pada definisi tentang organisasi itu. Dengan kata lain, kita menentukan bagaimana bentuk organisasi itu kemudian. Lihat? Kita punya kuasa. Kita adalah penentu. Hanya memang, sering kita abai. Tak mudah memang untuk benar-benar ‘klik’ dengan pekerjaan berikut segala macam keterkaitannya. Kalau ada yang bilang,

Pilihlah pekerjaan yang kau sukai, maka Engkau tak akan perlu bekerja dalam hidupmu. (Confusius)

maka seperti yang (mungkin) sering diulang oleh bagian HRD perusahaan,

Ini bukan tentang memilih pekerjaan yang dicintai, tapi tentang mencintai pekerjaanmu.

Hmm… butuh waktu melakukannya. Baca buku dulu, ah.

—————

Keterangan:

  • Judul: Jangan Keluar Dari Pekerjaan Sebelum Dipecat, 26 Kiat Meraih Kesuksesan dan Kepuasan Kerja Tanpa Berganti Pekerjaan
  • Penulis: Beverly Kaye dan Sharon Jordan-Evans
  • Penerbit: Kaifa (2004)

Outliers: Tentang Hutang Budi

Buku “International Best Seller” ini adalah buku ketiga Malcolm Gladwell setelah “Blink” dan “Tipping Point” (sudah baca kan? ah tak apa, saya juga belum). Genre buku ini (baca di sampul belakangnya, terbitan Gramedia) tertulis “Non Fiksi-Psikologi Sosial”. Lalu baca tulisan di halaman depannya dan tulisan dengan maksud yang sama di banner yang berada di toko buku. “Rahasia Di Balik Sukses”. “Ternyata tanggal kelahiran mempengaruhi kesuksesan Anda”. Apa yang Anda pikirkan? Ah, lagi-lagi kiat-kiat sukses. Betul, memang ini lagi-lagi. Bedanya, sesuai genre “Psikologi Sosial” tadi, kesuksesan dianalisa dengan variabel yang lebih kompleks ketimbang sekedar rumus generik sukses seperti kerja keras-cerdas dan banyak berdoa. Ow, bagaimana ceritanya?

Alkisah kesuksesan punya wujud yang berbeda-beda, yang tentu saja tidak datang pada setiap orang, pada setiap waktu. Singkatnya, orang-orang yang kebagian sukses tersebut, bisa dikatakan datang pada saat yang tepat, di tempat yang tepat, keahlian yang tepat, dan jangan lupa, dengan latar belakang keluarga yang tepat juga. Berbagai kombinasi ketepatan inilah yang dibahas secara menarik (terima kasih pada hasil terjemahannya yang apik) pada sembilan bab di buku ini. Disertai kisah riwayat hidup orang-orang yang dijadikan studi kasus kesuksesan (merekalah yang disebut outliers), pembaca diantarkan menuju analisis-analisis dan hasil penelitian yang menyimpulkan penyebab kesuksesan mereka (dan hey, ada Steve Jobs dan Apple-nya di sana!).

Dibagi dalam dua bab besar, yakni “Kesempatan” dan “Warisan Budaya”, kesuksesan outliers menemukan kunci-kunci pentingnya (saya rasa beberapa hal dari buku “Tipping Point” cukup berguna di sini). Sebut saja Bill Gates yang mendapatkan serangkain ‘keberuntungan’ lahir di tahun yang tepat, tinggal dan sekolah di tempat yang tepat (tentu sebelum dia drop-out), ditambah bakat dan kerja kerasnya. Paman Bill bahkan mengakui keberuntungannya itu (ok, baiklah jika Anda lebih nyaman dengan kata ‘takdir’. Buku ini menyebutnya ‘kesempatan’). Lalu ada lagi tentang rahasia kecerdasan matematika anak-anak Asia (sayang sekali, Indonesia belum masuk hitungan) yang secara umum lebih baik daripada anak-anak Amerika. Yang ini masuk kategori ‘Warisan Budaya’. Demikian seterusnya dengan contoh-contoh lainnya yang sayang untuk tidak dibaca sampai habis.

Lalu pelajaran apa yang bisa diambil dari buku ini untuk kehidupan kita? Bagi saya setidaknya ada beberapa hal, yakni:

  1. Teruslah berlatih. Oya, saya lupa menyebutkan kaidah 10.000 jam latihan (yang kira-kira 4 jam per hari selama sepuluh tahun) yang harus dilalui orang-orang untuk menjadi outliers. Para outliers di buku ini telah berlatih kira-kira selama waktu itu sebelum mereka bertemu dengan kesempatan yang melambungkan nama mereka. Lalu bagaimana jika rasanya kita sudah terlalu ‘tua’ untuk itu? Maaf kawan, tak ada ampun. Eh, maksudnya dimulai saja menyisihkan waktu itu sekuat tenaga selama masih ada umur. Itulah mengapa latihan sejak kecil dibutuhkan. Kalau sudah usia tanggung, sudah banyak urusannya. Apalagi sudah menikah dan punya anak, beda lagi ceritanya.
  2. Masukan bagi kurikulum pendidikan sekolah (nah, datang lagi). Sehubungan dengan faktor tanggal lahir yang dibahas di sini (baca sendiri ya), ada kiranya keinginan untuk meninjau ulang sistem pendidikan yang secara seragam mengelompokkan anak-anak yang berusia sama (dengan kemungkinan perbedaan bulan kelahiran yang jauh) untuk disatukan  dalam sekali masa penerimaan dalam setahun. (lihat, anak kalimat yang terlalu panjang memang membingungkan. Lengkapnya baca di buku saja ya).
  3. Banyak-banyak berdoa. Walaupun tidak secara tersurat disarankan di buku ini, perihal bab ‘Kesempatan’ tadi jelas urusan Takdir Allah SWT. Kita tidak tahu yang gaib di masa depan, yang bisa jadi merupakan kesempatan emas bagi kita untuk menyemai benih-benih kesuksesan yang sudah ditanam sebelumnya. Mungkin Paman Bill seharusnya bilang “Aku sangat bersyukur” ketimbang “Aku sangat beruntung”.
  4. Kita jelas berhutang budi pada orang tua kita, orang tua dari orang tua kita, sampai orang tua dari orang tuanya orang tua kita (heh, capek). Berkat usaha, kesempatan, dan warisan budaya merekalah kita akhirnya bisa dilahirkan dalam lingkungan yang kita syukuri hari ini. Terlepas dari kekurangan yang ada, mereka telah membawa kita yang datang kemudian, ke dalam masa-masa yang mudah untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan. Oya, sebenarnya kerusakan lingkungan juga kita rasakan, tapi sudahlah. Intinya, kita berhutang budi yang katanya, dibawa mati. Jadi, mari lakukan hal yang sama untuk generasi sesudah kita. Biarlah masalah hutang jasa-jasa orang tua hanya Allah Yang Bisa Membalasnya. Inilai pelajaran yang paling agung yang saya dapat dari buku ini.

Mari kita tunggu apalagi yang datang dari Malcolm Gladwell setelah Outliers ini. Sementara itu, kita masih punya pekerjaan rumah 10.000 jam (lama amat 10 tahun!) dan hutang budi pada orang tua kita. Tentu saja, tak lupa banyak berdoa. Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaa ha illallah wallahu akbar.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑