Archive Page 2

12
Dec
09

Biologi Lelaki(1): Brain Sex

Judul: Apa sih yang si Abang Pikirkan? Membedah Cara Kerja Otak Laki-Laki (What Could He Be Thinking? How Man’s Mind Really)
Penulis: Michael Gurian
Penerbit: Serambi (2005)

Pembahasan tentang biologi jender di buku ini dibuka dengan fakta bahwa otak kita –ya, benda ajaib yang ada di dalam tempurung kepala kita itu– ternyata mempunyai jenis kelamin (Brain Sex). Ada otak lelaki dan ada otak perempuan. Yang satu punya tabiat dan cara kerja yang berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini salah satunya dapat diamati dengan pemindai MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan PET (Positronic Emission Tomography). Pemindai ini mampu menghasilkan gambar-gambar bewarna tentang cara kerja otak. Dan hasilnya, otak lelaki dan perempuan menghasilkan gambar yang berbeda walaupun mereka sedang melakukan aktivitas yang sama. Menarik, bukan? Lalu apa maksudnya perbedaan gambar itu terhadap cara kerja keduanya?

Mari kita mulai dongengnya. Sejak dalam janin ibu, ternyata –betul lho, saya baru tahu hal ini– dengan mekanisme tertentu, sistem hormon pada tubuh ibu akan menyuplai konfigurasi hormon pada otak janin sesuai jenis kelaminnya. Apabila janinnya lelaki (XY), maka konfigurasi hormon lelakilah yang disuplai ke otak.Demikian pula bila janinnya perempuan (XX), maka konfigurasi hormon perempuanlah yang disuplai. (Catatan: Penulis menyebutkan alam lah yang mengaturnya, padahal kita ketahui bersama bahwa Allah lah yang Maha Kuasa atas hal tersebut. Allahu Akbar!) Sebagai contoh, bila janin berjenis kelamin lelaki, maka otaknya akan disuplai oleh lebih banyak hormon testosteron dan lebih sedikit oksitosin. Demikian sebaliknya pada janin perempuan. Selama masa pertumbuhan, hormon-hormon ini akan terus ‘membentuk’ otak. Jangan kaget bahwa ada bagian otak tertentu yang berkembang besar pada perempuan, namun kecil pada lelaki, demikian pula sebaliknya. Sekedar informasi, otak kan pada dasarnya tersusun atas sekian banyak bagian, sebut saja batang otak, corpus colassum, sampai neokorteks. Bagian-bagian ini memegang peran dan fungsi tertentu bagi tubuh, bahkan bertanggung jawab terhadap sikap-sikap tertentu. Nah, akibat perbedaan struktur fisik dan fungsional bagian-bagian otak lelaki dan perempuan inilah (ditambah karakteristik dari hormon yang dikandungnya), maka jelas berbeda pula cara kedua insan ini berpikir, merasa, dan bersikap. Inilah dasar pembahasan buku setebal 400 halaman ini.

Fiuh, istirahat sebentar, ya. Eh ngomong-ngomong, banyak istilah yang kawan tidak paham, ya? Itulah akibat tidak memerhatikan penjelasan guru biologi kita dahulu, hihihi…maklum dulu tak paham apa gunanya belajar hormon selain untuk lulus ujian. Padahal nanti kalau kawan berkesempatan membaca buku ini sampai habis, banyak hal menarik yang membuat kita dapat memahami sikap-sikap kita (dan pasangan kita) sebagai mahluk biologis. Lalu pada akhirnya, lelaki dan perempuan dapat hidup bersama dalam bahtera pernikahan yang langgeng -sampai entah kapan- atas dasar saling memahami tabiat dasar masing-masing. Jreng! Jreng! Inilah sebenarnya harta karun tersembunyi dari buku ini. Sangat baik kiranya kawan yang masih single atau sudah menikah untuk membaca dan merenungkannya baik-baik. Boleh juga dijadikan hadiah jika menjumpai undangan pernikahan seorang teman, dan sebagainya, dan sebagainya. Cukup istirahatnya, lanjut lagi. “Siko ciek, da!” Eh salah, harusnya “Tarik, mang!”

(bersambung ke Biologi Lelaki (2))

Advertisements
07
Dec
09

Belajar Gitar Klasik

Semenjak kemunculan acoustic fingerstyle guitarist Indonesia, Jubing Kristianto, rasanya bermain gitar klasik terasa lebih menarik untuk dipelajari. Setidaknya karena dua alasan berikut:

  1. Panggilan jiwanya untuk menjadi gitaris profesional membuatnya meninggalkan pekerjaannya sebagai wartawan sebuah tabloid yang sudah lama digelutinya. Tentu ia begitu mencintai alat musik ini dengan beragam bunyi dan komposisi lagu yang bisa dihasilkan dari gitar. Tidak sedikit penghargaan yang sudah diraihnya.
    • Kagum rasanya melihat musisi profesional yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk menggeluti musik. Musik sebagai profesi utama. Dan untuk yang satu ini kawan, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk berlatih. Misalnya saja, menurut sebuah referensi, untuk menjadi pemain biola profesional dibutuhkan waktu berlatih setidaknya 7-8 jam sehari! Persis seperti orang kantoran. Saya rasa tidak jauh berbeda juga untuk alat musik lainnya. Sampai berapa lama? Jika ingin menjadi outliers, setidaknya lakukanlah minimal selama 10 tahun (horeee!).
    • Bergantung pada motivasi Anda bermain musik, Anda dapat menentukan besarnya pengorbanan (waktu, biaya, dan sebagainya) yang akan Anda lakukan. Bagi saya yang tidak bercita-cita menjadi musisi profesional, rasanya cukuplah belajar dan melancarkan permainan setengah sampai 1 jam sehari. Satu jam terasa sudah cukup mewah. Lumayan, selain menghibur diri, rasanya bisa sekalian senam otak 🙂
    • Kapan waktu terbaik untuk berlatih, dan bagaimana? Setiap orang punya waktu-waktu tertentu yang dirasa optimal untuk berlatih musik. Bagi saya, waktu itu adalah pagi hari, saat pikiran dan tenaga masih segar. Berhubung saat berlatih banyak melakukan kesalahan :P, maka pikiran yang segar dan mood yang baik akan sangat membantu. Selain itu, sebelum mulai bekerja (dan berpikir), senam otak di pagi hari akan membantu ‘membangunkan’ dan menyiapkan otak untuk berpikir kreatif. Sebagai referensi, tips berlatih salah satunya dapat dibaca di sini.

    Intinya, musisi profesional telah menginspirasi orang lain untuk menemukan keindahan dan kecintaan yang diwujudkan dalam permainan yang indah dan ‘dalam’. Mendengarnya membuat kita jatuh hati sehingga tertarik untuk ikut mempelajarinya. Untuk kasus gitar klasik ini, walaupun sempat mengikuti les gitar klasik saat SMP, tapi rasanya ‘hambar’ sehingga ditinggalkan. Nah, kehadiran bung Jubing dan permainannya telah membangkitkan kenangan lama dan mengubah rasa ‘hambar’ tadi menjadi ‘manis’. Walaupun terasa ‘pahit’ saat berlatih, tapi kalau sudah bisa, ‘manis’ rasanya. Lebay? Ah dikit-dikit lebay, plis deh 😛

  2. Banyak lagu-lagu Indonesia dalam albumnya yang diaransemen ulang untuk dimainkan dengan gaya acoustic fingerstyle tersebut seperti Ambilkan Bulan, Melati dari Jayagiri, Indonesia Pusaka, Delman Fantasy, Hujan Fantasy, dan sebagainya. Menurutnya, komposisi lagu-lagu Indonesia lama ini tidak kalah menarik dibanding lagu-lagu import. Ini menarik sekali. Setelah diaransemen ulang, lagu-lagu tersebut terdengar ‘ramai’ dan indah. Bangga juga rasanya memainkan lagu Indonesia aseli dalam gaya gitar klasik. Biasanya kan yang dimainkan adalah karya-karya komposer Barat yang kita sama sekali tidak mengerti cerita lagu-lagu itu, atau kalaupun tahu, rasanya tidak nyambung dengan iklim kehidupan tanah air ini. Keren sih kalau sudah memainkan karya-karya klasik yang njelimet dan terasa ‘tinggi’. Lalu orang-orang bertepuk tangan tanda kagum. Kagum karena tampak canggih, walaupun tidak mengerti ceritanya 😛
    Dilihat dari aransemennya, jelas tak mudah untuk dibuat. Jadi, salut untuk bung Jubing yang sudah menyumbangkan karya aransemen lagu-lagu Indonesia untuk gitar klasik. Singkatnya, senang dan bangga memainkan lagu Indonesia dengan gaya acoustic fingerstyle.

Dua alasan ini cukup, kan? 🙂

Lalu, belajarnya mulai dari mana?
Banyak jalan untuk memulai belajar gitar klasik ini. Paling mudah ya ikut kursus. Tak perlu banyak urusan, ikuti saja kurikulum yang sudah disediakan. Atur waktu, bayar gurunya, beli bukunya, selesai urusan. Tapi jangan lupa berlatih dan berlatih. Biasanya untuk yang satu ini butuh motivasi lebih. Secara alami kita akan malas berlatih. Rasanya sudah cukup dengan mengikuti kursus dan hadir saat jam pelajaran. Bangga sudah ikut kursus, padahal kan baru mulai, belum  bisa apa-apa. Seringkali waktu kursus yang hanya setengah jam habis untuk melatih materi pertemuan sebelumnya karena tidak dilatih di rumah. Semakin sulit lagu, semakin butuh waktu berlatih. Jika tidak disikapi dengan baik, sayang uang dan sayang waktu. Lalu akhirnya frustasi karena merasa semakin tertinggal. Semenjak itu siswa tidak pernah datang lagi (gurunya juga tidak mencari), dan les gitar pun berakhir tragis. Bagaimana, terasa menjiwai, bukan? Maklumlah, pengalaman pribadi 😛

Tentu banyak pula siswa yang sukses mengikuti kursus ini. Syaratnya selain bakat, dukungan orang tua, lingkungan, guru, dan fasilitas, tentu tidak lupa berlatih dan berlatih. Sayang sekali tidak ada cara instan bermain musik. Ada sih, kalau melihat judul buku-buku musik rilis terbaru belakangan ini. “Menjadi gitaris handal dalam sehari”,”Cara Cepat Bermain Keyboard”, “Jurus Cepat Menguasai Accord”, dan sebagainya. Sebagai catatan, contoh tersebut bukanlah judul asli buku, saya hanya mengarang indah sesuai ingatan yang intinya menawarkan cara instan jago bermusik. Bisa jadi memang bisa dikuasai dalam waktu singkat untuk jurus-jurus atau lagu-lagu tertentu, tapi biasanya penulis tetap sangat menyarankan untuk memperbanyak latihan. Lagipula, kita membutuhkan bumbu-bumbu kesalahan dan kesulitan untuk mendapatkan feeling yang pas, bukan begitu?

Cara berikutnya adalah dengan otodidak. Belajar sendiri. Sumbernya? Wuih, banyak sekali. Situs, buku, software, apapun namanya banyak sekali memberikan pelajaran semacam jump start atau quick start bermain gitar klasik. Metodenya macam-macam, tinggal pilih sesuai kebutuhan dan kesukaan. Yang jelas tidak ada jaminan mutu, karena tidak ditemani guru yang bersertifikat, hehehe. Tapi yang menyenangkan ada proses berpikir dan merasakan saat belajar. Mau belajar apa dulu, dari mana, bagaimana caranya, berapa lama, kapan saja, setelah ini apalagi, dan seterusnya. Kita jadi lebih fleksibel mengukur dan mengapresiasi diri. Kadang, dalam kursus guru sudah memberikan materi kedua saat yang pertama belum kita kuasai dengan baik. Belum ‘klik’. Wajar saja karena ada tuntutan kurikulum dan waktu. Jalan tengahnya tentu mengkombinasikan otodidak dan berguru. Selain bisa berpikir dan mengatur diri, adanya guru jelas dapat memberikan ilmu lebih berikut umpan balik berupa kritik dan masukan yang kita butuhkan untuk mengembangkan permainan kita.

Jadi, selamat belajar gitar klasik.

Sebagai penutup, tak seru jika tidak dicoba langsung. Berikut ini dari lagu “Ambilkan Bulan”. Selamat mendengarkan.
Oya, mohon maaf jika tidak sebaik aslinya 😀

———————————————-
Keterangan: Gambar diambil dari sini
03
Dec
09

Short Movie(2): “Mendingan”

Setelah film sebelumnya, film pendek (hanya 1 menit) yang berjudul “Mendingan” ini menjadi salah satu peserta kompetisi film pendek di HelloFest. Selamat menyaksikan!

Wika harus menemukan semua temannya yang sedang bersembunyi.
Mereka punya waktu 10 detik sebelum Wika mulai mencari.
Apa yang dilakukan Wika sebelum 10 detik habis?
Saksikan hanya di “Mendingan”!

Behind the scene:

22
Nov
09

Naik Haji 1430 H

Budi: Naik apa yang nggak pernah turun?
Wati: Naik haji, dong!
Budi: Yak,tul!

Lebih kurang seminggu lagi umat Muslim sedunia berkumpul di Masjidil Haram untuk menunaikan ibadah haji. Teriring do’a dan air mata melepas kepergian kakek, nenek, bapak, ibu, paman, bibi, saudara, dan kerabat yang sudah berangkat memenuhi seruan Allah yang agung ini. Semoga mereka menjadi haji yang mabrur, dan yang wafat menjadi syahid / syahidah.

Kita yang belum bisa memenuhi panggilan itu hendaknya berkurban di tanah air sebagai bukti ketaatan kita pada perintahNya sekaligus menjadi jalan kebaikan untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Ya Allah, Ka’bah ini indah nian, kapankah giliran kami bisa memenuhi  panggilanmu? Kalaulah film bilang “Emak ingin naik haji”, bolehlah judul itu ditimpali “Aye juga pengen, mak”. Lalu tahun depan muncul sekuelnya, “Emak ingin naik haji (sekali lagi)”, dan seterusnya 🙂

Selamat Idul Adha 1430 H

Keterangan sketsa:
Sketsa ka’bah bersumber dari foto postcard di majalah National Geographic Indonesia:

Mekah, Arab Saudi (1965)
oleh Thomas J. Abercrombie
Seprempat juta Muslim mengelilingi Ka’bah untuk berdoa kepada Allah.
Efek buram pada foto orang-orang yang mengelilingi Ka’bah tepat di tengah,
menciptakan, “bayangan tentang gerakan kosmis,” kata Abercrombie.

Gambar “Emak ingin naik haji” diambil dari sini.

19
Nov
09

Setengah Isi, Setengah Kosong

Filosofi yang kita sering dengar dalam melihat wujud gelas yang setengah isi dan setengah kosong adalah sebagai berikut:

  • OPTIMIS: “Gelas ini terisi setengahnya”.
  • PESIMIS: “Gelas ini kosong setengahnya”.

Optimis berpikir kelimpahan, sedangkan pesimis berpikir kekurangan. Demikian filosofi umum yang melihat gelas tersebut berdasarkan KEADAANnya,  yakni kondisi SAAT INI. SAAT INI gelas bisa dalam keadaan setengah isi atau setengah kosong. Setengah isi atau setengah kosong menggambarkan seseorang melihat kelebihan dan bersyukur atau melihat kekurangan dan mengeluh.

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan perspektif baru memaknai gelas setengah isi – setengah kosong ini. Ketimbang menilai KEADAAN gelas pada SAAT INI, kita dapat menilainya dengan PROSES apa yang SEDANG TERJADI pada gelas tersebut. Apa jadinya isi gelas tersebut di MASA DEPAN. Begini maksudnya:

  • OPTIMIS: “Gelas ini SEDANG DIISI. Beberapa waktu kemudian ia AKAN PENUH”.
  • PESIMIS: “Gelas ini SEDANG DIKOSONGKAN. Beberapa waktu kemudian ia AKAN KOSONG”.

Beda dengan yang pertama, perspektif yang kedua mengamati PROSES YANG SEDANG TERJADI pada gelas tersebut. Setengah isi menggambarkan optimisme bahwa masa depan akan lebih baik, “wah, sudah terisi sebagian!”. Bisa saja sebenarnya orang berpikir AKAN PENUH tapi melihat pada sisi kosongnya, “kurang sedikit lagi nih airnya!”. Demikian pula berpikir AKAN KOSONG juga bisa dilihat dari dua sisi tersebut, tapi dengan pandangan bahwa masa depan akan sulit. Minimal kita akan kehabisan air :P.

Mungkin ada lagi pandangan lainnya, Anda mau menambahkan?

Ket: Gambar diambil dari sini
17
Nov
09

Tak ada yang bisa mencuri mimpi kita

Sabtu, 14 November 2009 antara pukul 13.30 – 14.00 WIB,

Pencuri yang menurut saksi mata berjumlah tiga orang dengan mengendarai tiga motor bebek, melaju kencang dari arah Jl. Siliwangi menuju Jl. Banda, tempat mobil saya diparkir. Mendadak mereka menghentikan laju motornya saat mendekati mobil. Satu orang berjaket merah datang terlebih dahulu. Ia berhenti di depan mobil. Kedua motor lain menyusul dan berhenti di belakang orang pertama tadi. Satu orang turun dari motor, menghampiri mobil. Sisanya berlagak seolah-olah sedang menelepon atau memperbaiki motor. Lima sampai sepuluh menit kemudian mereka pergi. Tidak ada yang mendengar suara apapun. Saksi pun mengira mereka berhenti karena hendak menelepon atau memperbaiki motor. Saksi tidak menaruh curiga. Setengah jam kemudian, saya masuk mobil dan terkejut bukan main! Kaca penumpang depan pecah. Sebuah tas berisi laptop raib. Hilang.

Pukul 13.30 WIB saya datang ke taman bacaan Pitimoss Fun Library di Jl. Banda. Sekedar meluangkan waktu sejenak untuk membaca buku yang baru saja saya pinjam. Akibat tempat parkir di depan taman bacaan sudah terisi mobil, saya terpaksa parkir 30 meter lebih jauh. Tidak ada tukang parkir. Saya tinggalkan tas tersebut di depan jok penumpang depan (tidak di atas jok) dengan pertimbangan saya akan kembali segera. Saat parkir pun saya merasa agak aman karena saya parkir di sebelah gedung milik TNI dan di seberangnya, terdapat bengkel mobil.

Saya memilih untuk duduk di bangku paling luar dari taman bacaan sehingga saat membaca, saya masih bisa mengamati mobil. Tentu hanya bisa saya amati sewaktu-waktu di sela-sela membaca. Tidak saya sangka ternyata saya tenggelam dalam bacaan itu. Kadang tertawa dan terharu sendiri dengan isinya. Waktu yang saya perkirakan hanya 10-15 menit, berubah menjadi 1 jam. Seorang pedagang cilok, yang menjadi saksi kedatangan pria bermotor tersebut, pun mengamati bahwa saat kejadian saya sedang asyik membaca. Maksud saya, memang benar-benar asyik. Sempat saya heran, rasanya hanya saya yang sedang tertawa sendiri saat membaca. Pembaca lain di sekitar saya, yang mayoritas sedang membaca komik, nampak sangat serius. Saya bertanya-tanya, apa komik-komik keluaran terbaru tidak ada cerita lucunya? Jangan-jangan semuanya serial detektif atau misteri. Sampai pukul 14.30 WIB, pikiran saya berteriak-teriak, jungkir balik, kadang terharu, hanyut dalam bacaan. Saat dua bab selesai, dan merasa pikiran sudah kembali segar, saya memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Saat itulah saya mengetahui tindak kejahatan yang sudah menimpa saya.

Awalnya saya kaget dan panik saat melihat kaca pecah dan tas hilang. Terpikir data-data pekerjaan yang ada di dalamnya. Terpikir barang-barang lain yang ikut hilang. Terpikir biaya penggantian kaca. Terpikir pula reaksi orang tua. Terpikir saya harus melacak di pusat-pusat penjualan komputer seken. Semua melintas cepat, dan jika tidak dihentikan maka akan menambah panik dan saya tidak bisa mengambil tindakan yang harusnya saya lakukan. Lalu saya menenangkan diri. Saya tarik napas dan mengingatNya, minta tolong biar bisa berpikir. Saya perlu memikirkan apa yang harus saya lakukan berikutnya sebelum saya terdorong untuk menelpon orang tua atau kakak, yang pasti akan menambah jumlah orang yang panik, sebelum masalah sebenarnya terungkap.

Saya keluar dari mobil. Saya amati kaca pintu mobil saya yang bolong dari luar. Saya lihat bekas-bekas perbuatan penjahat itu. Saya lihat kacanya seperti dipotong dari samping. Tidak ada lubang. Entah menggunakan linggis atau peralatan lainnya. Sempat terpikir ini ulah pemulung sebelum mendengar kesaksian pedagang cilok tadi, tapi tak mungkin karena rapi pecahannya. Maaf telah berburuk sangka pada pemulung. Pecahan kaca tidak berserakan karena ada kaca film yang menahannya. Besar kemungkinan saat kaca pecah juga tidak menimbulkan bunyi yang keras akibat pemasangan kaca film tadi.

Saya harus mencoba mencari saksi mata. Saya tanya pemilik bengkel di seberang. Ia tidak mendengar apa-apa pada jam tersebut. Ia ikut kaget. Tapi ia bercerita bahwa jalanan tersebut memang tidak aman. Sebelumnya kaca mobil BMW yang parkir di depan mobil saya pernah dipecahkan juga. Sempat beberapa waktu kami berbincang sebelum saya beralih pada kemungkinan orang yang melihat kejadian itu: seorang pedang cilok dan seorang pedagang lumpia yang rutin mangkal di depan taman bacaan. Saya datangi, dan saya bertanya. Ternyata bapak pedagang cilok melihat kejadian sesuai yang saya ceritakan di paragraf pertama. Bapak pedagang lumpia sedang tertidur. Saya ingat betul waktu itu saya memang sedang melihat kedua pedagang tadi dalam posisi yang mereka bicarakan. Tapi sayang, saat itu pandangan saya tidak ke arah mobil. Saya ingat sekali saat itu.

Ternyata beberapa kehilangan pun pernah terjadi di sekitar taman bacaan itu. Bisa jadi karena ramai orang, tapi semua ramai di dalam. Di luar sering sepi dan tidak ada tukang parkir. Segera saya laporkan pada penjaga taman bacaan. Ia pun tahu sebelumnya pernah ada kejadian lain. Tapi aneh, tetap tak ada tukang parkir karena pertimbangan khwatir membebani orang yang datang jika ditarik biaya parkir. Ah, apa ruginya membayar biara parkir ketimbang keamanan yang terjaga?? Toh, walaupun bukan lahan parkir, tetapi mobil-mobil dan motor-motor kan konsumen taman bacaan itu. Seharusnya dipikirkan cara, selain meminta masing-masing menjaga kendaraannya sendiri, agar keamanan bisa terjaga. Saya ngotot harus ada tukang parkir. Sementara saya tinggalkan penjaga taman bacaan dan pedagang berbincang tentang kejadian ini, saya shalat Ashar. Saya belum shalat, hampir lupa.

Setelah keterangan saksi memperjelas situasinya, saya memikirkan langkah berikutnya: segera melacak ke tempat penjualan komputer seken terdekat atau melaporkan ke polisi dengan bantuan teman kakak. Tak lama saya sadar bahwa agak tidak mungkin melacaknya seorang diri, dan belum tentu dijual sore itu juga. Maka saya meminta bantuan teman kakak untuk membantu saya melapor ke polisi. Minimal prosedur yang harus saya jalani. Saya pun disarankan melapor ke Polres Bandung Tengah di Jl. Ahmad Yani.

Prosedurnya tidak rumit. Saya parkir kendaraan, lalu tim dari reserse memfoto kerusakan, menanyakan kronologis kejadian, keberadaan saksi mata, nilai barang yang hilang, dan bersama-sama menuju TKP. Di sana pun pertanyaan lebih didetailkan. Sayang saya tidak mencatat identitas bapak pedagang cilok tadi, walaupun ia rutin mangkal di tempat tersebut sehingga polisi tidak dapat meminta keterangan saksi. Setelah olah TKP, saya kembali ke Polres, dan membuat BAP. Proses selesai kurang lebih pukul 20:00 WIB. Berikutnya saya akan dikirimi surat yang berisi tim penyidik untuk kejadian yang saya laporkan. Saya disarankan untuk esoknya mencari ke pusat penjualan komputer seken dan segera mengganti kaca mobil. Sebelumnya laptop mahasiswa Malaysia pun pernah dicuri, dan mereka menemukannya di salah satu pusat penjualan komputer tesebut. Saya tidak boleh menyerah begitu saja. Saya akan menemukannya.

Nah, inilah bagian paling mendebarkan dari kejadian ini. Coba tebak, buku apa yang sedang saya baca saat itu? Sebuah buku keren tentang pencapaian mimpi-mimpi. Buku yang berbeda sekali dengan buku-buku dengan tema sejenis yang pernah saya baca sebelumnya. Saya punya firasat bahwa ada jalan mimpi-mimpi baru yang Allah siapkan dimulai dari titik ini. Titik hilangnya mimpi-mimpi yang lama, yang mungkin kerap membingungkan saya. Saya bersiap bahwa ini adalah untuk menguji seberapa yakin saya dengan mimpi-mimpi yang baru. Sebuah buku sketsa selamat dari pencurian, bersama dengan buku yang saya baca. Buku yang berisi gambar-gambar sketsa saya, mimpi-mimpi saya. Saya akan terus menggambar. Saya yakin, bahwa orang bisa saja mencuri barang-barang saya atau Anda, tapi tak seorang pun bisa mencuri mimpi-mimpi kita. Tidak ada. Tidak boleh sama sekali, kawan.

Ahad, 15 November 2009.


Pelajaran dari kejadian ini:

  • Jangan pernah meninggalkan barang berharga di dalam kendaraan. Pencuri lebih lihai dan nekat untuk merusak kendaraan kita. Jika memang tidak ada pilihan lain, simpan barang-barang berharga tersebut di lokasi yang tidak bisa dilihat dari luar. Di bawah jok, dan tutupi dengan sesuatu yang menyamarkan keberadaan barang tersebut.
  • Jangan tinggalkan kendaraan terparkir dalam waktu yang lama di wilayah yang minim pengamanan / pengawasan.
  • Jangan parkir di tempat sepi yang tidak dapat diawasi. Jika terpaksa harus parkir, titipkan pada pedagang atau orang sekitar. Jangan lupa ucapkan terima kasih sesudahnya, atau beli dagangannya untuk menyenangkan hatinya.
  • Alarm bukan jaminan keamanan. Pada kasus ini, alarm tidak berbunyi. Nampaknya pencuri tahu sensitivitas alarm tidak tinggi tehadap getaran akibat pemecahan kaca tadi.
  • Selalu waspada terhadap aksi-aksi mencurigakan.
  • Sarankan pada pengelola yang belum mempunyai tukang parkir agar segera memilikinya untuk meningkatkan keamanan.
  • Asuransikan kendaraan Anda.

Jika peringatan ini terasa biasa-biasa saja, tak apa. Saya pun demikian saat mendapatkan peringatan serupa sebelumnya. Saya kira saya tak akan pernah mengalaminya. Saya salah. Nampaknya kebanyakan kita harus mengalaminya sendiri sebelum benar-benar waspada.
Selamat berkendara, dan selalu waspada!

08
Nov
09

Mengubah Kebiasaan Berkendara Kita

Mengendarai mobil di jalan umum, yang secara sederhana diizinkan bagi mereka yang sudah mempunyai SIM, ternyata tidak sesederhana dapat dikuasai mereka yang telah lulus kursus mengemudi. Dibutuhkan lebih dari sekedar kemampuan mengendalikan arah mobil, mengatur kecepatannya, serta membaca rambu lalu lintas. Hal ini dapat dipahami karena masalah yang mungkin muncul saat mobil sudah melaju di jalan umum begitu bervariasi. Sebut saja mulai dari kemacetan lalu lintas, ban bocor, hingga ditabrak atau menabrak kendaraan lain. Hingga saat ini kesiapan kita dalam mengatasi berbagai masalah tersebut sepertinya belum menjadi bagian dari syarat pengambilan SIM. Kita rasanya mau cepat saja mendapat izin mengendarai mobil, tanpa terlebih dahulu menyiapkan diri memahami hal-hal yang, bisa jadi, suatu hari akan menyelamatkan nyawa kita dan orang lain. Misalnya, Anda tidak ingin kejadian dalam video berikut menimpa Anda, bukan?

Pada Pesta Blogger 2009 yang lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti sesi Driving Skills For Life (DSFL) yang diselenggarakan oleh Ford Motor Indonesia (FMI) yang bekerja sama dengan beberapa pihak, termasuk Indonesia Defensive Driving Centre (IDDC). Program ini merupakan bentuk Corporate Society Responsibility (CSR) dari FMI untuk pengemudi kendaraan bermotor di Indonesia, khususnya mobil. Tujuan DSFL sendiri yaitu:

  1. Pengemudi yang aman dan selamat
  2. Pengemudi yang bijak
  3. Meningkatkan jarak tempuh kendaraan Anda
  4. Menghemat pengeluaran
  5. Mengurangi polusi

Untuk mencapai tujuan tersebut, DSFL menyusun 10 tips yang diharapkan dapat mengubah kebiasaan berkendara kita. Tips ini dapat dilihat di sini, akan tetapi saya mencoba menceritakan kembali sesuai pengalaman pribadi dan pelatihan yang saya dapat di sesi di Pesta Blogger 2009 yang lalu.

  1. Mengenakan sabuk pengaman karena aturan, bukan kesadaran
    Tips1Sejak dihimbaunya penggunaan sabuk pengaman, pengemudi mobil segera mematuhinya dengan berbagai alasan. Sebagian besar mungkin takut dengan denda yang berjumlah ratusan ribu tersebut. Sebagian yang lain mungkin sadar akan risiko cedera yang mungkin terjadi tanpa menggunakan sabuk pengaman.
    Fungsi sabuk pengaman sendiri adalah melindungi penggunanya dari cedera yang lebih parah dalam suatu kecelakaan. Nah, seringkali kita berpikir bahwa kecelakaan tidak akan menimpa kita bila kita berkendara bukan dengan kecepatan tinggi dan tidak sedang mengadakan perjalanan keluar kota. Padahal yang namanya kecelakaan dapat terjadi kapan saja dimana saja. Jika bukan kita yang menabrak, peluangnya dapat terjadi dari kendaraan lain yang menabrak kita. Jika sudah terjadi kecelakaan dan pengemudi mengalami cedera yang lebih parah tanpa menggunakan sabuk pengaman, maka alasan tadi jadi omong kosong, bukan?
    Oya, sabuk pengaman bukan hanya untuk pengemudi, melainkan untuk penumpang juga karena semua orang di dalam kendaraan dapat mengalami cedera. Dalam sebuah video simulasi kecelakaan berkecepatan 50 km/jam (tidak kencang), penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman laksana bola yang terpantul-pantul: menghantam dasboard, terlempar keluar dari kaca depan atau samping, dan melukai penumpang lain yang menggunakan sabuk pengaman (bayangkan saja sebuah bola yang terpantul-pantul dalam sebuah ruang, ia akan bergerak tidak teratur dan membentur ke segala arah).
    Gunakan sabuk pengaman yang standar, seperti model reclining seatbelt, yang secara otomatis menyesuaikan dengan ukuran tubuh kita. Ia akan mengunci tubuh kita bila menerima tarikan yang besar dan cepat akibat hentakan saat kecelakaan. Jangan gunakan seatbelt yang harus disesuaikan dulu ukurannya, karena tidak berfungsi menahan tubuh kita sebagaimana mestinya. Apalagi yang hanya diselempangkan di depan tubuh sekedar untuk menunjukkan kepada polisi bahwa kita terlihat sudah menggunakan sabuk pengaman.
  2. Tidak mengoptimalkan fungsi spion
    Tips2Spion kanan, kiri, dan tengah dapat membantu kita mengamati posisi kendaraan lain di belakang, sekaligus menghitung jarak kita dengan kendaraan di sekitar kita. Pengamatan ini penting saat kita harus mengambil keputusan untuk berpindah jalur, berbelok, dan saat melakukan pengereman (berhenti). Seringkali kecelakaan terjadi saat pengemudi tidak sering meng-update posisi kendaraan di belakang (ah, ternyata bukan hanya status FB yang harus sering di-update). Saat akan berbelok/berpindah jalur ternyata ada kendaraan dari arah belakang yang sedang melaju kencang. Saat akan berhenti ternyata jarak kendaraan belakang dengan kita terlalu dekat.
    Akan tetapi spion belumlah cukup karena spion memiliki area penglihatan yang terbatas, sehingga ada area di sekitar kendaraan yang disebut blind spot. Blind spot kendaraan dapat diminimalisir dengan menoleh 90 derajat ke kiri, kanan (shoulder/head check), atau belakang (untuk mundur) untuk meng-update posisi kendaraan.
    Bagi kendaraan besar seperti bis atau truk semen, blind spot yang dimilikinya lebih besar lagi karena ditambah area di bawah penglihatan pengemudi yang tidak dapat dilihatnya (ingat, posisi pengemudi kendaraan besar lebih tinggi dari kendaraan biasa). Dalam sebuah video CCTV nampak seorang penyeberang jalan yang tergilas truk semen karena ia menyeberang dekat sekali dengan hidung truk semen tersebut, sehingga pengemudi tidak dapat melihat penyeberang tersebut. Maka jika kita sedang berada atau mengemudi dekat dengan kendaraan besar, segeralah mengubah posisi tersebut karena bisa jadi kita sedang berada di area blind spot.
    Seberapa sering kita meng-update posisi kendaraan kita lewat spion atau shoulder check? Kira-kira setiap 8 detik. (Wah, kalau begitu mengemudi itu butuh konsentrasi tinggi, dong? Nah, baru sadar, kan? Tapi ini baru sampai poin kedua, masih ada delapan lagi hehehe).
  3. Yang waras, ngalah!
    Tips3Entah jika istilah ini terinspirasi dari lakon Srimulat, tapi demikian prinsip sederhana yang disampaikan Pak Dodi saat presentasi DSFL di Pesta Blogger yang lalu. Bagi sebagian besar kita, jalanan itu gila, apalagi di kota-kota besar. Orang jadi beringas ingin menang sendiri tanpa memerhatikan keselamatan orang lain. Dalam kondisi tersebut, seringkali kita pun ikut-ikutan berperilaku gila. Sesama orang gila saling memperebutkan jalan? Maka bertengkar dan kecelakaan lah yang menanti. Nah, agar terhindar dari pemborosan energi, waktu, dan emosi ini, maka gunakanlah prinsip sederhana: “Yang waras, ngalah!”
    Dalam DSFL, prinsip ini disebut Defensive Driving. Pada intinya, pengemudi yang Defensive (yang waras, tentu saja) selalu berpikir jauh ke depan dan selalu waspada terhadap segala kemungkinan risiko yang terjadi. Ia mampu mengemudikan kendaraannya dengan tenang dan mampu mengantisipasi situasi lalu lintas di depannya.
    Beberapa perilaku yang dilakukannya antara lain:

    • Tenang dan menghindari provokasi (tepat sekali pemilihan kata ini hehehe) pengguna jalan lain
    • Sopan dalam mengemudi dan dapat mengontrol emosi
    • Dapat mempertahankan suasana hati yang positif
      Misalnya jika ada orang yang tiba-tiba meyerobot jalur kita dengan sembrono, pikirkan saja bisa jadi ia terburu-buru karena istrinya akan melahirkan, orang tuanya sakit, terlambat masuk kantor (yang ini sering, nampaknya), atau sedang kebelet ke kamar kecil. Dengan demikian kita akan memakluminya, dan segera melupakannya, tidak terpancing untuk balas menyerobot.
    • Bersikap adil terhadap pengguna jalan yang lain dan memberi hak yang sama
      Misalnya jika berjumpa dengan zebracross, berilah kesempatan kepada penyeberang yang sudah menunggu untuk dapat menyeberang jalan. Atau memberi kesempatan pada kendaraan lain yang akan akan berbelok memotong jalur di depan kita.
    • Waspada terhadap kemungkinan kesalahan yang disebabkan pengguna jalan yang lain
      Kita waspada, tapi orang lain tidak waspada, kecelakaan tetap dapat terjadi. Intinya bukan siapa yang bersalah, tapi hindari kecelakaan semaksimal mungkin. Kalau sudah terjadi kecelakaan, pasti ada kerugian, minimal kerugian waktu dan emosi. Tak ada yang diuntungkan, dan tidak penting siapa yang bersalah dibandingkan kerugian yang harus ditanggung.
    • Takut menyebabkan celaka orang lain / kerusakan barang
  4. Mengemudi dengan gangguan
    Tips4Saya teringat sebuah berita terjadinya beberapa kecelakaan di sekitar sebuah papan reklame iklan sabun. Beberapa pengemudi yang nahas itu, tentunya laki-laki, sesaat terpesona dengan pesona sang model iklan sabun. Beberapa detik mereka kehilangan konsentrasi mengemudi sehingga menyebabkan kecelakaan. Hanya beberapa detik tanpa konsentrasi yang dibutuhkan untuk sebuah kecelakaan. Entah yang salah si model iklan sabun, pemasang reklame, atau pengemudi. Kemudian, kalau tidak salah, reklame tersebut dipindah atau diganti dengan yang lebih ‘tidak menggoda’ untuk mengurangi kecelakaan. Contoh reklame ini termasuk gangguan eksternal terhadap pengemudi.
    Gangguan berikutnya tentu sudah cukup akrab. Berikut beberapa pekerjaan sambilan saat mengemudi:

    • Membaca/menulis SMS
    • Bertelepon
      Penggunaan handsfree tetap saja mengurangi konsentrasi mengemudi, jadi bukan solusi bertelepon saat mengemudi. Menepilah jika menerima telepon yang dianggap cukup penting. Kita sebagai orang yang menghubungi pun hendaknya mempunyai kesadaran. Tanyakan terlebih dahulu pada penerima telepon aktivitas yang sedang ia lakukan. Jika ia sedang mengemudi, segera putuskan hubungan, dan katakan kita akan menghubunginya kembali.
    • Makan/minum
    • Berbincang topik berat dengan penumpang
    • Merokok
    • Melihat TV atau mengganti kaset/CD Audio

    Statistik menunjukkan gangguan-gangguan internal ini dapat meningkatkan risiko kecelakaan akibat kehilangan konsentrasi. Aktivitas-aktivitas tersebut nampak ringan, tapi memang hanya dibutuhkan beberapa detik untuk sebuah kecelakaan. Mengemudi membutuhkan konsentrasi tinggi, oleh karena itu hilangkan gangguan apapun semaksimal mungkin.

  5. Tidak menjaga jarak aman dan terlalu mengandalkan rem
    Tips5Seringkali kita terlalu percaya diri mengikuti kendaraan di depan kita dengan jarak yang minimal. Kita terlalu percaya diri dengan kecepatan kita merespon kendaraan depan yang berhenti mendadak. Kita terlalu percaya diri dengan kemampuan rem kendaraan kita. Setelah terjadi kecelakaan akibat jarak yang terlalu dekat tersebut, kita bingung kemana hilangnya kepercayaan diri kita tadi.
    Prinsip sederhana mengenai ruang kosong antara kendaraan kita dengan kendaraan lain, baik di depan, belakang, kanan, dan kiri adalah semakin besar ruang yang tersedia, semakin banyak waktu untuk bereaksi dan menghindari kecelakaan.
    Berdasarkan penelitian, setidaknya dibutuhkan waktu 3 detik untuk bereaksi jika kendaraan di depan kita berhenti secara mendadak, yakni:

    • 1 detik waktu reaksi manusia,
    • 1 detik waktu pengereman, dan
    • 1 detik waktu cadangan (safety factor).

    Bagaimana menghitung 3 detik ini? Cara sederhana adalah dengan membuat patokan objek diam di pinggir jalan yang telah dilewati kendaraan di depan kita. Misalnya pohon atau tiang listrik. Begitu kendaraan di depan kita melewati objek tersebut, kita mulai menghitung: “Seribu dan satu”, “Seribu dan dua”, dan “Seribu dan tiga”. Kira-kira “Seribu dan satu” ini lebih dekat ke nilai satu detik ketimbang “Satu”, “Dua”, dan “Tiga”.
    Jika sampai “Seribu dan tiga” kendaraan kita pas melewati objek atau kurang, maka kita sudah berada di jarak yang relatif aman dengan kendaraan depan. Demikian sebaliknya, jika jarak kita kurang dari 3 detik, maka sebaiknya kita mengurangi kecepatan untuk memenuhi jarak aman ini. Tidak peduli berapa kecepatan kita, karena waktu 3 detik ini pun akan menghasilkan jarak yang berbeda seiring kecepatan kendaraan.
    Jika kondisi jalan licin atau cuaca sedang hujan, maka kita dapat menambahkan hingga 4 sampai 6 detik.
    Ingat, ruang aman di sekitar kendaraan kita merupakan waktu yang kita butuhkan untuk bereaksi jika keadaan darurat terjadi. Semakin besar ruang aman, semakin banyak waktu yang kita miliki.

  6. Mengoptimalkan kecepatan persneling
    Tips6Sudah tips ke-6, masih kuat? Hehehe. Kapan saat/kecepatan yang tepat untuk memindahkan perseneling dari rendah ke tinggi? Dalam kaitannya dengan penghematan bahan bakar, sebaiknya kita memindahkan persneling saat putaran mesin berada di antara 1500-2500 rpm (putaran per menit). Hal ini disebabkan mesin dengan bahan bakar bensin rata-rata bekerja optimal di putaran tersebut. Jika putaran terlalu tinggi, hal ini menyebabkan bahan bakar cepat terbuang, sedangkan jika terlalu rendah dapat menyebabkan mesin kehilangan torsi sehingga butuh injakan pedal gas yang lebih dalam, yang berarti lebih banyak pula bahan bakar yang digunakan. Oleh karena itu, kita berusaha untuk melaju sekonstan mungkin dan menghindari akselerasi mendadak atau pengereman yang berlebihan.

  7. Memanfaatkan momentum gerak kendaraan
    Tips7Saat mendekati lampu merah atau berbelok, seringkali kita tidak sabar dan tetap memacu kendaraan, lalu berhenti dengan cepat menggunakan rem. Kebiasaan ini ternyata berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar dan cepat mengurangi ketahanan rem. Hal ini dapat kita ubah dengan memanfaatkan momentum gerakan kendaraan yang masih tersisa dari kecepatan sebelumnya.
    Biarkan kendaraan kita menggelinding tanpa injakan gas sehingga saat mendekati lampu merah / belokan, kecepatan yang sudah jauh berkurang tersebut dapat menghemat penggunaan rem. Buat apa memacu kendaraan yang tidak lama lagi harus berhenti??
    Selain itu, kita dapat menggunakan engine break ketimbang rem jika menghadapi jalan yang turun. Engine break secara prinsip adalah menurunkan persneling untuk menurunkan kecepatan. Teknik ini lebih aman daripada menggunakan rem untuk mengurangi laju kendaraan yang sedang dalam persneling tinggi.

  8. Tetap menyalakan mesin saat berhenti
    Tips8Mesin yang tetap menyala dari sekian banyak kendaraan yang sedang berhenti di lampu merah jelas menambah tingkat polusi, selain memboroskan bahan bakar. Jika kendaraan kita berhenti lebih dari 20 detik, maka akan lebih ekonomis bila kita mematikan mesin. Kondisi ini sering kita rasakan di pemberhentian lampu merah, kemacetan lalu lintas, perlintasan kereta api, atau menurunkan orang / barang dari kendaraan. Mematikan mesin tidak akan merusak atau mengurangi umur dari motor starter.
    Sebagai ilustrasi, mesin hidup dan diam selama 3 menit sama artinya dengan mengemudi 1 kilometer dengan kecepatan konstan 50 km/jam. Mematikan mesin saat menunggu tentu dapat menghemat bahan bakar dan membuat kendaraan kita mampu menempuh jarak yang lebih jauh, selain mengurangi polusi.

  9. Jarang melakukan pengecekan kondisi mobil
    Tips9Ada berapa banyak pengemudi yang memahami cara kerja kendaraannya? Dari jumlah tersebut, berapa banyak yang mengetahui apa yang harus dilakukan bila sistem kendaraannya tidak berjalan sebagaimana mestinya? Saya rasa sebagian besar kita tidak termasuk yang pertama, apalagi yang kedua. Sebagian besar kita hanya bisa mengemudi, tapi tidak memahami bahwa kendaraan, layaknya mesin apapun, butuh perawatan dan pengecekan berkala. Kita terlalu percaya diri atau cuek dengan kondisi kendaraan. Hal ini dapat diperbaiki dengan beberapa pengecekan ringan setiap kali kita berkendara. Ya, itung-itung rasa terima kasih kita terhadap kendaraan yang sudah berjasa mengantar kita ke sana ke mari. Pengecekan yang kita lakukan dapat mendeteksi kerusakan sejak dini agar kerusakan yang parah tidak terjadi.

    • Pengecekan Eksternal
      • P: Petrol = Bahan bakar
      • O:Oil = Minyak mesin, transmisi, rem, power steering
      • W:Water = Air pembersih kaca, pendingin
      • E:Electricals = Sistem kelistrikan
      • R:Rubber = Karet selang, karet wiper
    • Pengecekan Internal
      Pengecekan ini dilakukan terhadap bagian dalam kendaraan, seperti kaca spion, alat kontrol, rem parkir, lampu-lampu, dan sebagainya.
    • Perawatan Ban
      Apa arti penting ban? Sadarilah bahwa ban adalah satu-satunya bagian kendaraan kita yang langsung bersentuhan dengan permukaan jalan. Kondisinya harus terus dijaga, agar jangan sampai terjadi kasus kecelakaan fatal yang sering kita dengar: pecah ban di jalan tol. Pecah ban ini terjadi sebagian besar karena tekanan ban lebih rendah daripada yang seharusnya (under pressure). Tekanan udara yang rendah pada ban akan menyebabkan ban sering ‘terlipat’ di sisi sampingnya, yang menyebabkan ketahanan karetnya cepat habis karena sering mengalami tekanan dari bobot kendaraan yang sedang melaju. Sebagai informasi, bagian samping adalah bagian yang terlemah dari sebuah ban.
      Oleh karena itu, jagalah tekanan ban sesuai dengan standar tekanan yang tertera pada stiker di dekat pintu mobil pengemudi. Tekanan dapat ditambah 2-3 psi jika mengangkut beban berat atau akan melaju di jalan tol. Selain itu, mengingat harga ban yang tidak murah, sebaiknya kita rajin merawatnya.
  10. Membawa beban berlebihan
    Tips10Kelebihan beban dapat memboroskan bahan bakar dan mengurangi usia shock breaker. Sebagai gambaran, setiap penambahan beban 20 Kg, konsumsi bahan bakar akan meningkat 1%. Selain itu, kelebihan beban dapat mengurangi kemampuan kendaraan untuk merespon pengereman mendadak.

Demikian beberapa tips yang berguna untuk menyelamatkan nyawa kita dan nyawa kendaraan kita. Secara bertahap kita dapat menjadikan tips-tips tersebut sebagai kebiasaan baru kita dalam berkendara. Sesuai slogan DSFL:

Smart Driving, Protecting Lives, Saving Fuel

Menutup tulisan ini, sekaligus sebagai semacam shock therapy (seperti yang dilakukan pada pelatihan DSFL), coba saksikan video berikut. Dengan cara berkendara yang aman dan benar, semoga kejadian seperti ini tidak akan menimpa kita, baik kita sebagai pengemudi maupun penyeberang jalan. Selamat berkendara 🙂

Referensi:
  • Gambar diambil dari sini.
  • Penjelasan tips sebagian diambil dari buku panduan DSFL.



My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 182,753 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia