Posts Tagged ‘Bandung

17
Nov
09

Tak ada yang bisa mencuri mimpi kita

Sabtu, 14 November 2009 antara pukul 13.30 – 14.00 WIB,

Pencuri yang menurut saksi mata berjumlah tiga orang dengan mengendarai tiga motor bebek, melaju kencang dari arah Jl. Siliwangi menuju Jl. Banda, tempat mobil saya diparkir. Mendadak mereka menghentikan laju motornya saat mendekati mobil. Satu orang berjaket merah datang terlebih dahulu. Ia berhenti di depan mobil. Kedua motor lain menyusul dan berhenti di belakang orang pertama tadi. Satu orang turun dari motor, menghampiri mobil. Sisanya berlagak seolah-olah sedang menelepon atau memperbaiki motor. Lima sampai sepuluh menit kemudian mereka pergi. Tidak ada yang mendengar suara apapun. Saksi pun mengira mereka berhenti karena hendak menelepon atau memperbaiki motor. Saksi tidak menaruh curiga. Setengah jam kemudian, saya masuk mobil dan terkejut bukan main! Kaca penumpang depan pecah. Sebuah tas berisi laptop raib. Hilang.

Pukul 13.30 WIB saya datang ke taman bacaan Pitimoss Fun Library di Jl. Banda. Sekedar meluangkan waktu sejenak untuk membaca buku yang baru saja saya pinjam. Akibat tempat parkir di depan taman bacaan sudah terisi mobil, saya terpaksa parkir 30 meter lebih jauh. Tidak ada tukang parkir. Saya tinggalkan tas tersebut di depan jok penumpang depan (tidak di atas jok) dengan pertimbangan saya akan kembali segera. Saat parkir pun saya merasa agak aman karena saya parkir di sebelah gedung milik TNI dan di seberangnya, terdapat bengkel mobil.

Saya memilih untuk duduk di bangku paling luar dari taman bacaan sehingga saat membaca, saya masih bisa mengamati mobil. Tentu hanya bisa saya amati sewaktu-waktu di sela-sela membaca. Tidak saya sangka ternyata saya tenggelam dalam bacaan itu. Kadang tertawa dan terharu sendiri dengan isinya. Waktu yang saya perkirakan hanya 10-15 menit, berubah menjadi 1 jam. Seorang pedagang cilok, yang menjadi saksi kedatangan pria bermotor tersebut, pun mengamati bahwa saat kejadian saya sedang asyik membaca. Maksud saya, memang benar-benar asyik. Sempat saya heran, rasanya hanya saya yang sedang tertawa sendiri saat membaca. Pembaca lain di sekitar saya, yang mayoritas sedang membaca komik, nampak sangat serius. Saya bertanya-tanya, apa komik-komik keluaran terbaru tidak ada cerita lucunya? Jangan-jangan semuanya serial detektif atau misteri. Sampai pukul 14.30 WIB, pikiran saya berteriak-teriak, jungkir balik, kadang terharu, hanyut dalam bacaan. Saat dua bab selesai, dan merasa pikiran sudah kembali segar, saya memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Saat itulah saya mengetahui tindak kejahatan yang sudah menimpa saya.

Awalnya saya kaget dan panik saat melihat kaca pecah dan tas hilang. Terpikir data-data pekerjaan yang ada di dalamnya. Terpikir barang-barang lain yang ikut hilang. Terpikir biaya penggantian kaca. Terpikir pula reaksi orang tua. Terpikir saya harus melacak di pusat-pusat penjualan komputer seken. Semua melintas cepat, dan jika tidak dihentikan maka akan menambah panik dan saya tidak bisa mengambil tindakan yang harusnya saya lakukan. Lalu saya menenangkan diri. Saya tarik napas dan mengingatNya, minta tolong biar bisa berpikir. Saya perlu memikirkan apa yang harus saya lakukan berikutnya sebelum saya terdorong untuk menelpon orang tua atau kakak, yang pasti akan menambah jumlah orang yang panik, sebelum masalah sebenarnya terungkap.

Saya keluar dari mobil. Saya amati kaca pintu mobil saya yang bolong dari luar. Saya lihat bekas-bekas perbuatan penjahat itu. Saya lihat kacanya seperti dipotong dari samping. Tidak ada lubang. Entah menggunakan linggis atau peralatan lainnya. Sempat terpikir ini ulah pemulung sebelum mendengar kesaksian pedagang cilok tadi, tapi tak mungkin karena rapi pecahannya. Maaf telah berburuk sangka pada pemulung. Pecahan kaca tidak berserakan karena ada kaca film yang menahannya. Besar kemungkinan saat kaca pecah juga tidak menimbulkan bunyi yang keras akibat pemasangan kaca film tadi.

Saya harus mencoba mencari saksi mata. Saya tanya pemilik bengkel di seberang. Ia tidak mendengar apa-apa pada jam tersebut. Ia ikut kaget. Tapi ia bercerita bahwa jalanan tersebut memang tidak aman. Sebelumnya kaca mobil BMW yang parkir di depan mobil saya pernah dipecahkan juga. Sempat beberapa waktu kami berbincang sebelum saya beralih pada kemungkinan orang yang melihat kejadian itu: seorang pedang cilok dan seorang pedagang lumpia yang rutin mangkal di depan taman bacaan. Saya datangi, dan saya bertanya. Ternyata bapak pedagang cilok melihat kejadian sesuai yang saya ceritakan di paragraf pertama. Bapak pedagang lumpia sedang tertidur. Saya ingat betul waktu itu saya memang sedang melihat kedua pedagang tadi dalam posisi yang mereka bicarakan. Tapi sayang, saat itu pandangan saya tidak ke arah mobil. Saya ingat sekali saat itu.

Ternyata beberapa kehilangan pun pernah terjadi di sekitar taman bacaan itu. Bisa jadi karena ramai orang, tapi semua ramai di dalam. Di luar sering sepi dan tidak ada tukang parkir. Segera saya laporkan pada penjaga taman bacaan. Ia pun tahu sebelumnya pernah ada kejadian lain. Tapi aneh, tetap tak ada tukang parkir karena pertimbangan khwatir membebani orang yang datang jika ditarik biaya parkir. Ah, apa ruginya membayar biara parkir ketimbang keamanan yang terjaga?? Toh, walaupun bukan lahan parkir, tetapi mobil-mobil dan motor-motor kan konsumen taman bacaan itu. Seharusnya dipikirkan cara, selain meminta masing-masing menjaga kendaraannya sendiri, agar keamanan bisa terjaga. Saya ngotot harus ada tukang parkir. Sementara saya tinggalkan penjaga taman bacaan dan pedagang berbincang tentang kejadian ini, saya shalat Ashar. Saya belum shalat, hampir lupa.

Setelah keterangan saksi memperjelas situasinya, saya memikirkan langkah berikutnya: segera melacak ke tempat penjualan komputer seken terdekat atau melaporkan ke polisi dengan bantuan teman kakak. Tak lama saya sadar bahwa agak tidak mungkin melacaknya seorang diri, dan belum tentu dijual sore itu juga. Maka saya meminta bantuan teman kakak untuk membantu saya melapor ke polisi. Minimal prosedur yang harus saya jalani. Saya pun disarankan melapor ke Polres Bandung Tengah di Jl. Ahmad Yani.

Prosedurnya tidak rumit. Saya parkir kendaraan, lalu tim dari reserse memfoto kerusakan, menanyakan kronologis kejadian, keberadaan saksi mata, nilai barang yang hilang, dan bersama-sama menuju TKP. Di sana pun pertanyaan lebih didetailkan. Sayang saya tidak mencatat identitas bapak pedagang cilok tadi, walaupun ia rutin mangkal di tempat tersebut sehingga polisi tidak dapat meminta keterangan saksi. Setelah olah TKP, saya kembali ke Polres, dan membuat BAP. Proses selesai kurang lebih pukul 20:00 WIB. Berikutnya saya akan dikirimi surat yang berisi tim penyidik untuk kejadian yang saya laporkan. Saya disarankan untuk esoknya mencari ke pusat penjualan komputer seken dan segera mengganti kaca mobil. Sebelumnya laptop mahasiswa Malaysia pun pernah dicuri, dan mereka menemukannya di salah satu pusat penjualan komputer tesebut. Saya tidak boleh menyerah begitu saja. Saya akan menemukannya.

Nah, inilah bagian paling mendebarkan dari kejadian ini. Coba tebak, buku apa yang sedang saya baca saat itu? Sebuah buku keren tentang pencapaian mimpi-mimpi. Buku yang berbeda sekali dengan buku-buku dengan tema sejenis yang pernah saya baca sebelumnya. Saya punya firasat bahwa ada jalan mimpi-mimpi baru yang Allah siapkan dimulai dari titik ini. Titik hilangnya mimpi-mimpi yang lama, yang mungkin kerap membingungkan saya. Saya bersiap bahwa ini adalah untuk menguji seberapa yakin saya dengan mimpi-mimpi yang baru. Sebuah buku sketsa selamat dari pencurian, bersama dengan buku yang saya baca. Buku yang berisi gambar-gambar sketsa saya, mimpi-mimpi saya. Saya akan terus menggambar. Saya yakin, bahwa orang bisa saja mencuri barang-barang saya atau Anda, tapi tak seorang pun bisa mencuri mimpi-mimpi kita. Tidak ada. Tidak boleh sama sekali, kawan.

Ahad, 15 November 2009.


Pelajaran dari kejadian ini:

  • Jangan pernah meninggalkan barang berharga di dalam kendaraan. Pencuri lebih lihai dan nekat untuk merusak kendaraan kita. Jika memang tidak ada pilihan lain, simpan barang-barang berharga tersebut di lokasi yang tidak bisa dilihat dari luar. Di bawah jok, dan tutupi dengan sesuatu yang menyamarkan keberadaan barang tersebut.
  • Jangan tinggalkan kendaraan terparkir dalam waktu yang lama di wilayah yang minim pengamanan / pengawasan.
  • Jangan parkir di tempat sepi yang tidak dapat diawasi. Jika terpaksa harus parkir, titipkan pada pedagang atau orang sekitar. Jangan lupa ucapkan terima kasih sesudahnya, atau beli dagangannya untuk menyenangkan hatinya.
  • Alarm bukan jaminan keamanan. Pada kasus ini, alarm tidak berbunyi. Nampaknya pencuri tahu sensitivitas alarm tidak tinggi tehadap getaran akibat pemecahan kaca tadi.
  • Selalu waspada terhadap aksi-aksi mencurigakan.
  • Sarankan pada pengelola yang belum mempunyai tukang parkir agar segera memilikinya untuk meningkatkan keamanan.
  • Asuransikan kendaraan Anda.

Jika peringatan ini terasa biasa-biasa saja, tak apa. Saya pun demikian saat mendapatkan peringatan serupa sebelumnya. Saya kira saya tak akan pernah mengalaminya. Saya salah. Nampaknya kebanyakan kita harus mengalaminya sendiri sebelum benar-benar waspada.
Selamat berkendara, dan selalu waspada!

Advertisements
03
Aug
09

Yomart MTC, Bandung

Yomart_MTC

Yomart Metro Trade Center (MTC), Bandung” – Pensil HB, 20 Juni 2009
(dengan pengaturan Brightness dan Contrast tertentu saat dipindai)

18
Feb
09

Makan Murah, Variatif, dan Enak: Warung Meja Makan

Mencari makan siang saat istirahat susah-susah-gampang, bukan? Susah kalau pilihannya terbatas, harganya mahal, atau sedang akhir bulan (ups…). Mudah kalau sudah punya langganan yang cocok di lidah dan di kantong, atau bisa di-hutang-in (ups…). Tempat makan berikut mungkin termasuk kategori kedua. Tak ada namanya, tapi dari setting ruangannya mungkin cocok kalau diberi nama mengikuti model “Rumah Nenek”, “Nyonya Rumah”, atau “Dapur Teteh”. Resepnya rumahan, dan tempatnya memang di rumah! Lihat, yuk!

dsc00424Diawali dari lewat di depannya menuju masjid saat jam istirahat, seterusnya justru jadi langganan. Bagi orang yang sekedar lewat, tempat makan ini agak tak meyakinkan. Tak ada spanduk tulisan ala “Warung Makan” yang dipajang, apalagi menu yang disediakan. Hanya terlihat lorong yang menuju ke dalam rumah. Setengah bagian lorong digunakan untuk meja panjang dengan kursi-kursi plastik untuk makan. Tak nampak ibu-ibu penjaga warung yang biasa melayani pembeli di depan rumah layaknya rumah merangkap tempat makan kecil. Yang lebih aneh lagi, begitu orang-orang yang nampaknya sudah menjadi pelanggan tetapnya melewati lorong itu, mereka baru keluar setelah setengah sampai satu jam berikutnya. Jarang saya amati mereka duduk di meja yang berada di lorong tadi. Lalu di mana mereka menyantap makanannya?

Saya penasaran, dan sempat berpikir bahwa ini hanyalah usaha tempat makan yang khusus untuk langganan tertentu saja, bukan untuk orang luar. Akan tetapi, berhubung sejauh ini belum ada tempat makan sekitar kantor yang memuaskan sesuai dengan kriteria di paragraf pertama tadi, maka tempat makan ini harus dicoba. Masak di restoran Padang terus yang terkenal mahal itu, atau soto lagi-soto lagi, dan seterusnya. Dengan diliputi rasa penasaran, suatu hari saya memberanikan diri melewati lorong bermeja panjang itu dengan risiko terburuk diusir karena ternyata saya tak termasuk daftar pelanggan tetapnya. Tentu saja, saat memasukinya saya merasa bodoh. Repot sekali makan siang ini, dan repot sekali cara kerja tempat makan ini melayani pembelinya. Mereka harus penasaran terlebih dahulu.

dsc00419Di ujung lorong, rahasia itu terkuak. Saya sedang berada di ruang makan rumah itu. Saya berdiri di depan magic jar berisi nasi hangat, di sebelah lemari yang berisi piring-piring makan. Saya berdiri tak jauh dari meja makan berkapasitas 6 orang yang berada di tengah ruangan. Meja itu penuh orang, dan semuanya tak saya kenal. Saya mencoba mengacuhkan pandangan orang-orang yang sedang makan itu, bersikap sesantai mungkin, seolah-olah ini bukan kali pertama saya datang. Segera saya ambil piring dan mengisinya dengan nasi. Sampai sini saya masih bingung. Pelayannya mana?? Saya pesan lauk dan minumannya bagaimana?? Mahal gak harganya??
dsc00420
Belum selesai rasa penasaran saya, seorang ibu yang saya yakin adalah pemilik rumah ini segera menawarkan lauk-pauk menu siang itu.

“Ada ini, ada itu (hehe saya sudah lupa menu hari itu…), sok ambil aja. Nasi tambah gratis kok. Minumnya ada jus jambu, jeruk, tomat, alpukat,….anggap aja rumah sendiri ya…”

Wah, ramah sekali ibu ini untuk orang baru seperti saya. Fiuh…dugaan bahwa ini tempat makan untuk pelanggan tertentu saja sudah gugur. Saya diterima. Walau masih agak janggal harus makan di dalam rumah orang. Sempat saya duga orang-orang di meja makan itu adalah keluarga ibu tadi, bukan pelanggan. Ya, bayangkan saja siapa yang biasanya makan di meja makan rumah kita. Keluarga atau teman dekat, bukan? Lho, ini mau makan atau mau mikir? Susah betul mau makan saja! Ya sudah, karena meja makan penuh, saya dipersilakan makan di ruang tamunya! dsc00418Nah loh, sekarang saya makan di ruang tamu orang! Makin aneh saja. Ah, tapi karena lapar, nikmati saja makanannya 🙂

Enak juga masakannya. Jusnya juga enak. Eh, ternyata harganya murah. Hore! Eksperimen penasaran saya tidak sia-sia. Saya punya tempat makan yang enak, murah, dan personal. Ya, personal karena ibu itu mengenal semua pelanggannya. Mulai dari nama, pekerjaan, rumah, tempat kuliah, sampai proyek yang sedang dikerjakan. Sempat saya heran bagaimana ibu itu mengingat semuanya. Ia biasa menyiapkan masakan dan minuman pesanan sambil mengajak ngobrol tamu-tamunya satu persatu. Di sini saya menemukan bahwa memang perempuan mampu mengerjakan beberapa pekerjaan secara paralel tanpa kehilangan fokus. Masalah kepuasan pelanggan tak perlu diragukan. Pesan saja menu apa yang diinginkan. Besok bisa tersedia. Setiap hari menu berganti-ganti jadi tidak bosan. Mau masak mi instan dan telor sendiri? bisa juga di sana (tapi ngapain??). Mau dibungkus untuk dibawa pulang jadi lauk di rumah? Bisa juga. Mau ngutang karena ga bawa duit? Bisa juga, tapi malu dong mas! Modal dong! Eh, tapi bisa saja kalau kebetulan si ibu sedang tidak ada kembalian. Oya, hanya buka siang hari saja.

Orang menyebutnya Warung Bu Muji karena demikian panggilan ibu tadi. Ramah orangnya, enak masakannya. Walau teknik pemasaran untuk menjaring banyak pelanggannya tidak dapat nilai 100, tapi nampaknya merawat pelanggan tetap, jauh lebih penting. Cerita yang baik dari mulut ke telinga sampai rasa masakan yang enak dan murah akan membuat pelanggan betah, bukan? Apalagi mampu membangun kedekatan personal antara pembeli dan penjual, langsung dari dalam rumah. Saya tak habis pikir untuk membangun tempat makan tepat di salah satu bagian paling personal dari sebuah rumah: meja makan! Besar dugaan saya Bu Muji tidak terlalu mencari untung besar dari usahanya. Pastilah beliau hobi memasak dan gemar membantu orang lain, terutama karena merasa pelanggan-pelanggannya adalah seperti anak-anaknya juga yang kini sedang bekerja. Ya, bekerja dan membutuhkan makan siang yang enak dan murah. Apa ya, nama yang cocok, “Warung Meja Makan” ? 🙂




My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 182,753 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia