Posts Tagged ‘brain

12
Dec
09

Biologi Lelaki(3): Epilog

(sambungan dari Biologi Lelaki(2))

Sejauh ini nampaknya semua lancar-lancar saja, bukan? Benarkah demikian? Ternyata tidak. Setidaknya ada dua pengecualian.

  • Masih ingat dongeng ibu yang menyuplai hormon ke janinnya sesuai jenis kelamin itu? Ternyata disebutkan bahwa pada kondisi ibu sedang stres berat (karena penganiayaan, sakit, atau tekanan jiwa yang berat), masalah suplai hormon ini bisa terganggu. Jadilah seorang anak dengan fisik dan otot lelaki, tetapi otaknya perempuan! Betul, konfigurasi hormon yang menyusun otaknya berbeda dengan jenis kelaminnya! Sempat saya tertegun membacanya, apa ini salah satu penyebab banci atau tomboy?
  • Berikutnya, entah yang kemudian ini akibat masalah konfigurasi hormon atau bukan, tapi di setiap bab pembahasan, penulis memberi ruang untuk pengecualian yang disebut “otak penyeberang”. Maksudnya sebagai contoh, bila sebagian besar lelaki seharusnya lebih cerdas secara spasial ketimbang verbal, ada saja lelaki yang banyak bicara seperti perempuan. Ada saja lelaki yang menikmati betul pekerjaan motorik halus. Ada saja lelaki yang tidak mempunyai ambisi sosial, dan seterusnya. Demikian pula pada perempuan. Mereka inilah yang disebut otak penyeberang, seolah-olah melintas ke daerah yang berlawanan dengan kecenderungan alamiahnya. Apakah itu bermasalah? Bergantung bagaimana menyikapinya. Bisa ya, bisa tidak. Kalau perempuan tidak masalah memiliki suami berotak penyeberang, mengapa repot? –Eh, dengar-dengar lelaki berotak penyebarang sedang naik daun, hihihi…– Intinya, selalu ada pengecualian dari tabiat dasar lelaki atau perempuan ini. Ah, betapa kompleksnya manusia.

Dalam banyak bagian buku ini, terungkap sekian banyak kebingungan dan frustasi kaum perempuan -sebagai pasangan hidup laki-laki- dalam memahami perilaku sang lelakinya. Wajar saja, keduanya memiliki perbedaan kerja otak yang mendasar. Tanpa pengetahuan akan hal tersebut, sulit rasanya menerima perbedaan sikap sebagai hal yang baik-baik saja. Jika tidak paham, sebuah tindakan yang bermaksud baik dapat ditanggapi sebagai penghinaan. Seringkali, perempuan mengeluh bahwa lelaki telah meninggalkannya dengan menilai sikap lelaki melalui otak perempuan.Tidak pas. Nah. setelah memahaminya bersama, –mungkin bisa dibahas berdua sambil menyeduh teh hangat. “Saatnya bicara” Ah, iklan sekali!– rasanya layak untuk ditertawakan bersama pula. “Bodohnya kita, otakmu dan otakku memang berbeda! Ha ha ha….” Simply, that’s the way it is. Jadi, terima saja. Tinggal mereka berdua mempraktekkan strategi tarik-ulur. Kapan mengalah, kapan menuntut. Kapan menggunakan cara kerja otak lelaki, kapan menggunakan cara kerja otak perempuan. Ya, mereka berdua, siapa lagi? Mudah? Ah, tidak juga. Tapi layak dicoba, bukan?

Sebagai penutup, bagi saya, kehadiran buku ini mampu menjelaskan tabiat-tabiat dasar yang dibawa baik oleh lelaki maupun perempuan. Tabiat-tabiat ini, menurut penulis, tetap menjadi faktor dominan yang mempengaruhi cara orang berpikir dan merasa, walaupun faktor budaya telah mempengaruhi manusia untuk terkadang tidak berperilaku sesuai tabiat dasarnya. Maksudnya, tidak peduli dari budaya mana Anda dilahirkan dan dibesarkan, tabiat biologis ini akan menjadi bagian yang dominan dari hidup Anda. Dan karenanya, sayang jika Anda tidak memahaminya. Maksudnya begini, mengapa ambil risiko sampai bercerai jika ternyata hanya dibutuhkan sikap tertentu yang ‘pas’ dalam menghadapi pernikahan yang tampak tak seindah dulu? 😛

Demikian kiranya, cukup sekian, allahu a’lam.

———————————————

Anak: Horeee, selesai juga akhirnya!
Ibu: Sudah larut, Nak. Kau nampak lelah. Tidurlah setelah meminum susu hangat yang Ibu siapkan.
Ayah: Bagus, Nak! Mungkin kelak kau akan membuat buku tentang ini. Ayah mendukungmu!

-nah, mulai lagi percakapan imajiner ini. Sudah ah. Benar-benar sudah :D-

12
Dec
09

Biologi Lelaki(2): Male Brain

(sambungan dari Biologi Lelaki(1))

Aku adalah lelaki…” (Samsons)

Setelah kita melihat inti dari hubungan otak dan hormon di atas, saatnya membahas salah satu jenis kelamin otak yang menjadi fokus buku ini: Otak Lelaki. Mengingat banyaknya bahasan yang berkaitan dengannya, misalnya mulai dari bagaimana pendapat otak lelaki tentang perasaan dan emosi sampai pekerjaan rumah tangga, maka lebih baik saya comot beberapa poin-poin saja secara acak. Satu sama lain bisa berhubungan bisa tidak. Beberapa bagian yang seru sengaja saya sembunyikan agar kawan penasaran dan terdorong untuk membacanya langsung, hehehe…Tak seru kalau dibuka semua, usaha lah sedikit. (lho, kok??). Mari kita mulai.

  • Testosteron dan Oksitosin
    Ada yang berkelakar bahwa testosteron inilah yang bertanggung jawab terhadap perang dan kekacauan dunia. Hahaha…tak sepenuhnya salah, karena memang hormon inilah yang bertanggung jawab terhadap sikap agresi. Selain itu, sebut saja pengaruhnya pada kecenderungan terhadap seks, kemandirian (independensi), kompetisi, dan ambisi kekuasaan sosial. Bagaimana, terdengar maskulin sekali, bukan? Hormon ini dominan pada lelaki.
    Di sudut ring yang lain berdirilah oksitosin, yakni hormon yang berhubungan dengan kesenangan ibu mengasuh anak, hubungan verbal-emosional, dan keterikatan yang simpatik (intimasi). Seperti yang sudah kawan tebak, hormon ini dominan pada perempuan.
    Selain kedua hormon ini, masih terdapat hormon lain seperti esterogen, progesteron, vasopressin, serotonin, dan sebagainya, yang juga bertanggung jawab terhadap kecenderungan-kecenderungan tertentu. Namun saya menangkap pembahasan menguat pada pengaruh dua hormon ini saja. Sebagai catatan, kandungan hormon-hormon ini mempunyai siklus naik-turunnya. Ada saatnya testosteron yang dominan, ada saatnya oksitosin yang menang. Bahkan sampai ada 12 fase pernikahan berdasarkan siklus ini. Penasaran? Baca bukunya ya 😛
  • Independensi dan Intimasi
    Independensi itu ciri khas lelaki seperti intimasi yang menjadi ciri khas perempuan. Perbedaan ini digambarkan dengan jelas dari dua ungkapan ayah dan ibu melihat anaknya yang beranjak dewasa.
    Ibu: “Anakku sudah besar, dan ia akan segera pergi. Rasanya ia sudah tidak membutuhkan aku lagi. Dia akan pergi meninggalkanku”
    Ayah: “Bagus sekali, Nak! Kau akan segera hidup mandiri dan menemukan jalanmu sendiri. Hidupmu sendiri. Aku hanya bisa menunjukkan jalannya, kaulah sendiri yang harus melaluinya”.
    Bagi pasangan, hubungan yang langgeng adalah hubungan yang mempunyai strategi pengaturan idependensi dan intimasi yang baik. Jangan sangka kalau sudah menikah lama masih ingin intim terus (hei, ini berdasarkan riset penulis, lho). Ada kalanya ingin sendiri, ada kalanya rindu berdua. Begitulah silih berganti. Tak sehat jika terus menerus berintim-ria, apalagi bersendiri-ria, karena demikianlah tabiat jiwa kita ini, ada dinamikanya. Lagipula, bukankah menikah sebenarnya tetap mempertahankan identitas masing-masing walaupun sudah bersatu? Justru itu kan, yang ‘memperkaya’ hubungan?. Ya, Anda betul sekali, saya mulai sok tahu. Mari kita lanjutkan ke bagian berikutnya 😛
  • Pengasuhan paternal (menghargai) dan maternal (membesarkan hati)
    Seorang anak terjatuh saat bermain. Ibu akan berkata, “Kau terjatuh. Apa kau baik-baik saja?”. Ayah akan berkata, “Sudah, tidak apa-apa. Ayo, lanjutkan permainannya”. Well, sebenarnya tergantung jatuhnya seberapa parah sih, kalau sampai patah tulang atau gegar otak, yang jelas Pak Dokter yang akan berkata, hihihi… (lho, orang celaka kok ditertawai?? Eh bukan, ini maksudnya menertawai Pak Dokter berkata itu, bukan ayah atau ibu yang berkata… *halah, dibahas*). Ibu akan cenderung membesarkan hati anak-anaknya. Bersimpati. Sedang ayah cenderung menjaga harga diri anaknya. Me’naik’kannya. Hargailah kekuatan dan ketabahannya. Jatuh tidak masalah. Dia kuat. Jangan sedikit-sedikit, jatuh harga diri. Demikian kiranya.
    Kabar gembiranya adalah kedua sisi ini sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan anak. Ada waktunya saat pertumbuhan dari bayi sampai SD, pengasuhan maternal yang dominan dibutuhkan. Selanjutnya, paternal yang dominan, dan seterusnya.
  • Spasial-Abstrak dan Verbal-Emosional
    Kawan pernah berjumpa pengendara motor / mobil yang berkecepatan rendah tapi mengambil ruang tepat di tengah jalan? Apa, sering?? Hehehe… cobalah tengok pengemudinya, setelah kita klakson dan melewatinya. Hampir semuanya yang saya jumpai adalah perempuan. Wajar saja jika melihat bahwa kecerdasan spasial perempuan tidak sebesar lelaki. Spasial ini maksudnya kecerdasan mengukur diri / objek di dalam ruang. Ruang berarti kiri dan kanan, atas dan bawah, jauh dan dekat. Itulah mungkin penjelasan sederhana pengendara berkecepatan rendah di tengah jalan tadi. Dan itu pula yang menyebabkan lelaki begitu gemar dengan objek dalam ruang. Pandai memperbaiki barang. Sebut saja mobil, mesin, elektronik, komputer, alat musik, bangunan, dan sebagainya. Khusus pada kendaraan, objek ini merupakan objek yang sangat digemari lelaki, berbeda dengan rumah yang sangat digemari perempuan. Sederhananya, kendaraan merupakan manifestasi kekuasaan, kemandirian, petualangan, dan status sosial. Haha, lelaki sekali, bukan?
    Sementara itu, di sisi lain kita juga menjumpai lelaki yang hemat bicara. Sangat hemat. Segan (atau kagok?) orang dibuatnya. Segan istri dan anak dibuatnya, bahkan untuk sekedar meminta pengulangan informasi yang belum jelas. Kalau sudah begini, apalagi mengungkapkan perasaan-perasaan dengan kata-kata. Lupakan. Laki-laki cenderung memiliki kecerdasan verbal-emosional yang lebih rendah daripada perempuan. Bagi lelaki, aksi lebih menarik daripada kata-kata. Bisa saja seorang lelaki menghabiskan berjam-jam memperbaiki mesin mobilnya tanpa bicara sepatah kata pun. Bagi perempuan mungkin itu tampak mengerikan, tapi begitulah dunia lelaki.
    Ketimbang membicarakan perasaannya dengan kata-kata, lelaki memilih untuk menyendiri untuk memulihkan emosinya (pernah dengar istilah lelaki dan ‘gua’nya?). Sikap inilah yang dibaca perempuan sebagai tindakan meninggalkan dirinya. Abang sudah tak cinta lagi karena tak membicarakan masalahnya padaku (perempuan memecahkan masalahnya dengan bercerita, bercerita, dan bercerita). Padahal bukan demikian, karena lelaki itu tetaplah mencintainya. Hanya saja, biarkan aku sendiri dulu. Itu saja.
  • Panggilan hidup
    Bagi lelaki, mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menemukan harga dirinya dibanding perempuan. Perempuan secara inheren telah mendapatkan harga dirinya. Apalagi kalau bukan karena kemampuannya mengandung dan melahirkan anak dari dalam tubuhnya sendiri. Dari rahimnya. Sedangkan laki-laki tak punya rahim. Dia tidak menemukan harga dirinya di ‘dalam’, maka dia harus mencari ke ‘luar’. Berpetualang. Menaklukkan bahaya. Merebut kemenangan. Mendapatkan pekerjaan terbaik. Maka tak heran jika lelaki dengan ambisi sosialnya terus berusaha menonjolkan diri dengan kemampuannya, dengan prestasinya, dengan karyanya. Itulah dorongan terbaik yang dimilikinya. Inilah pula yang membuat kesan lelaki lebih lambat dewasa daripada perempuan. Saat sebagian besar perempuan sudah siap dinikahi (ingat, perempuan tidak punya masalah dengan harga diri), lelaki seumur mereka masih berpetualang ‘menaklukkan dunia’. Membangun harga dirinya.
    Lalu untuk apa itu semua? Harga diri inilah yang memotivasi seorang ayah untuk bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya. Harga diri inilah yang diajarkan ayah pada anaknya kelak. Tanpa harga diri, seorang lelaki tidak akan merasa utuh, seperti layaknya perempuan tanpa kehadiran anak dari rahimnya sendiri.
    Saya merasa bagian ini sudah serius semenjak judulnya, jadi mohon maaf saya tidak membuat lelucon di bagian ini. Tapi Anda tetap boleh tertawa, kok. Terserah alasannya apa. Tapi coba tengok kiri-kanan dulu, pastikan tak ada yang melihat 😀
  • Perempuan dan Ekspektasi terhadap lelaki
  • Biologi Pernikahan
  • Lelaki dan Pekerjaan Rumah Tangga

Dua bagian terakhir ini sengaja saya kosongkan agar kawan penasaran dibuatnya.

Cukup.

Saya tidak akan membahas lebih jauh.

Anda tidak bisa mempengaruhi saya.

Saya tidak akan buka mulut. Percayalah, lebih baik saya diam.

Saya ingatkan sekali lagi, Anda tidak bisa mempengaruhi saya. Saya sudah membuat keputusan. Pergilah dari paragraf tidak penting ini sebelum saya berubah pikiran. Hahaha…

(bersambung ke Biologi Lelaki (3))

12
Dec
09

Biologi Lelaki(1): Brain Sex

Judul: Apa sih yang si Abang Pikirkan? Membedah Cara Kerja Otak Laki-Laki (What Could He Be Thinking? How Man’s Mind Really)
Penulis: Michael Gurian
Penerbit: Serambi (2005)

Pembahasan tentang biologi jender di buku ini dibuka dengan fakta bahwa otak kita –ya, benda ajaib yang ada di dalam tempurung kepala kita itu– ternyata mempunyai jenis kelamin (Brain Sex). Ada otak lelaki dan ada otak perempuan. Yang satu punya tabiat dan cara kerja yang berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini salah satunya dapat diamati dengan pemindai MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan PET (Positronic Emission Tomography). Pemindai ini mampu menghasilkan gambar-gambar bewarna tentang cara kerja otak. Dan hasilnya, otak lelaki dan perempuan menghasilkan gambar yang berbeda walaupun mereka sedang melakukan aktivitas yang sama. Menarik, bukan? Lalu apa maksudnya perbedaan gambar itu terhadap cara kerja keduanya?

Mari kita mulai dongengnya. Sejak dalam janin ibu, ternyata –betul lho, saya baru tahu hal ini– dengan mekanisme tertentu, sistem hormon pada tubuh ibu akan menyuplai konfigurasi hormon pada otak janin sesuai jenis kelaminnya. Apabila janinnya lelaki (XY), maka konfigurasi hormon lelakilah yang disuplai ke otak.Demikian pula bila janinnya perempuan (XX), maka konfigurasi hormon perempuanlah yang disuplai. (Catatan: Penulis menyebutkan alam lah yang mengaturnya, padahal kita ketahui bersama bahwa Allah lah yang Maha Kuasa atas hal tersebut. Allahu Akbar!) Sebagai contoh, bila janin berjenis kelamin lelaki, maka otaknya akan disuplai oleh lebih banyak hormon testosteron dan lebih sedikit oksitosin. Demikian sebaliknya pada janin perempuan. Selama masa pertumbuhan, hormon-hormon ini akan terus ‘membentuk’ otak. Jangan kaget bahwa ada bagian otak tertentu yang berkembang besar pada perempuan, namun kecil pada lelaki, demikian pula sebaliknya. Sekedar informasi, otak kan pada dasarnya tersusun atas sekian banyak bagian, sebut saja batang otak, corpus colassum, sampai neokorteks. Bagian-bagian ini memegang peran dan fungsi tertentu bagi tubuh, bahkan bertanggung jawab terhadap sikap-sikap tertentu. Nah, akibat perbedaan struktur fisik dan fungsional bagian-bagian otak lelaki dan perempuan inilah (ditambah karakteristik dari hormon yang dikandungnya), maka jelas berbeda pula cara kedua insan ini berpikir, merasa, dan bersikap. Inilah dasar pembahasan buku setebal 400 halaman ini.

Fiuh, istirahat sebentar, ya. Eh ngomong-ngomong, banyak istilah yang kawan tidak paham, ya? Itulah akibat tidak memerhatikan penjelasan guru biologi kita dahulu, hihihi…maklum dulu tak paham apa gunanya belajar hormon selain untuk lulus ujian. Padahal nanti kalau kawan berkesempatan membaca buku ini sampai habis, banyak hal menarik yang membuat kita dapat memahami sikap-sikap kita (dan pasangan kita) sebagai mahluk biologis. Lalu pada akhirnya, lelaki dan perempuan dapat hidup bersama dalam bahtera pernikahan yang langgeng -sampai entah kapan- atas dasar saling memahami tabiat dasar masing-masing. Jreng! Jreng! Inilah sebenarnya harta karun tersembunyi dari buku ini. Sangat baik kiranya kawan yang masih single atau sudah menikah untuk membaca dan merenungkannya baik-baik. Boleh juga dijadikan hadiah jika menjumpai undangan pernikahan seorang teman, dan sebagainya, dan sebagainya. Cukup istirahatnya, lanjut lagi. “Siko ciek, da!” Eh salah, harusnya “Tarik, mang!”

(bersambung ke Biologi Lelaki (2))




My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 180,998 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia