Posts Tagged ‘film

16
Dec
09

Film “The Terminal” dan Grafologi

Inti cerita “The Terminal” (2004) adalah seorang pria yang ‘terjebak’ di bandara John F. Kennedy (JFK), New York karena secara hukum tidak berhak untuk keluar dari bandara dan menuju New York, tapi pada saat bersamaan tidak pula dapat pulang kembali ke negaranya. Hal ini disebabkan saat ia sampai di bandara JFK, negaranya sedang mengalami pemberontakan dari dalam terhadap pemerintah yang sah (Coup d’etat). Akibatnya, paspor negara tersebut tidak berlaku untuk memasuki negara lain, dan tidak pula ada penerbangan yang melayani tujuan ke negara yang sedang kacau itu. Negara buatan itu bernama Krakozhia, dan lelaki sial itu bernama Viktor Navorski (Tom Hanks). Singkat cerita, Viktor seperti jatuh ke dalam celah sistem yang tidak memberikan pilihan kepadanya selain harus menunggu di terminal transit internasional di bandara. Sampai kapan? Sampai negaranya kembali berdaulat atau sampai pemerintah Amerika menemukan aturan legal yang mengizinkan dirinya memasuki New York. Kedua-keduanya tidak jelas. Jadi, Viktor menjalani hari-harinya hidup di terminal transit sambil menunggu waktu yang entah kapan akan berakhir.

Apa gerangan yang terjadi selama waktu Viktor yang tidak jelas itu? Bagaimana caranya bertahan hidup (makan, mandi, tidur, dll) tanpa mampu menukarkan mata uang Krakozhia-nya yang sudah tidak berlaku? Bagaimana ia, yang dalam keadaan sulit, tetap dapat membantu seorang pria yang jatuh cinta? Bagaimana ia tiba-tiba terkenal dan disayangi semua kru bandara, termasuk para penjaga toko, karena menyelamatkan kebebasan seorang pria? Bagaimana pula perasaannya saat ia jatuh hati pada seorang pramugari cantik (Catherine Zeta-Jones)? Berhasilkah ia memasuki New York di tengah ‘jebakan’ yang disiapkan Komisaris Lapangan bandara yang tak berniat memudahkan hidupnya? Dan tentunya, pertanyaan paling penting ini: apa tujuan ia datang ke New York sehingga ia rela bertahan dalam ketidakjelasan? Saksikan sendiri dalam film berdurasi 128 menit ini.

Grafologi

Selain kisah yang menarik, “The Terminal” ternyata menyimpan kejutan lain di akhir filmnya. Setidaknya kejutan bagi saya. Kejutan ini muncul dalam bentuk  penulisan movie credit yang tidak biasa. Wajarnya, credit ditulis dalam huruf-huruf ketik, namun kali ini mereka muncul dalam bentuk tulisan tangan! Ya, tulisan tangan orang-orang yang namanya muncul pada credit tersebut! Maka kita bisa melihat tulisan tangan Steven Spielberg (sang sutradara), Tom Hanks, Catherine Zeta-Jones, berikut semua kru dan aktor yang terlibat. Lalu kenapa? Eh, kenapa bagaimana?? Kita jelas-jelas bisa membaca ‘sekilas’ karakter mereka lewat tulisan tangan mereka sendiri. Inilah yang dinamakan Grafologi, yakni ilmu (atau seni?) membaca karakter dari bentuk tulisan tangan. Keren, bukan?

Tenang saja, saya juga baru membaca dan tertarik sekilas. Tapi melihat manfaatnya, nampaknya ilmu ini patut dipelajari lebih lanjut, hehehe. Ada beberapa buku yang mengulas tentang grafologi ini. Referensi di internet juga ada. Lumayan lah, selain bisa membaca karakter diri sendiri dan orang lain (orang lain yang mana maksudmu, Gung? :P), ternyata Grafologi ini juga bisa dijadikan semacam terapi untuk memperbaiki karakter diri yang negatif. Hebat, bukan? Nah, agar lebih menarik mari kita coba ambil satu saja tulisan tangan yang ada pada movie credit “The Terminal” tadi. Siapa lagi kalau bukan tulisan tangan tuan Spielberg. Siapa tahu kita bisa membaca jejak kesaktiannya sebagai sutradara dari tulisan tangannya sendiri. Dan kawan, saya bisa melihat itu saat pertama kali credit menampilkan namanya.

Yang paling mencolok, menurut saya, dari tulisan Spielberg ini adalah zona atasnya yang tinggi (lihat tinggi dan proporsi huruf “S”, “T”, “L”, dan “B” terhadap huruf lainnya). Garis pada tulisan, berdasarkan letaknya, secara umum dibagi dalam 3 zona: bawah, tengah, dan atas. Masing-masing zona memiliki interpretasinya masing-masing. Nah, zona atas tulisan itu menggambarkan cita-cita, angan-angan, harapan, dan kehidupan spiritual. Maka, bisa dikatakan bahwa orang yang mempunyai tulisan dengan zona atas yang tinggi memiliki kecenderungan untuk memiliki idealisme yang besar, cita-cita yang melangit, harapan yang panjang, imajinasi yang tinggi, atau kehidupan spiritual yang prima. Jreng! Klop sekali dengan kesaktian sutradara Steven Spielberg ini yang film-filmnya selalu memikat karena ramuan jalan ceritanya yang apik, imajinasi yang tinggi, aktornya yang menawan, sampai pengambilan gambarnya yang memukau. Cocok sekali dengan karakter yang dibutuhkan oleh seorang sutradara film-film box office, bukan? Nah, sebenarnya banyak aspek lain yang bisa dinilai dari bentuk tulisan tangan, seperti margin, spasi, jarak antar huruf, jarak antar kata, kemiringan, huruf tegak/bersambung, dan sebagainya. Namun cukuplah analisis sok tahu ini fokus pada zona atasnya yang tinggi.

Sebagai penutup, seolah-olah sambil mendengarkan komposisi musik film “The Terminal” yang menghibur ini (coba dengarkan sendiri) , mari kita lihat bentuk tulisan tangan aktor dan kru lainnya. Siapa tahu jadi lebih tertarik untuk mempelajari grafologi. Selamat penasaran 🙂

Music Composer, John Williams

Director of Photography

Tom Hanks

Catherine Zeta-Jones

Advertisements
03
Dec
09

Short Movie(2): “Mendingan”

Setelah film sebelumnya, film pendek (hanya 1 menit) yang berjudul “Mendingan” ini menjadi salah satu peserta kompetisi film pendek di HelloFest. Selamat menyaksikan!

Wika harus menemukan semua temannya yang sedang bersembunyi.
Mereka punya waktu 10 detik sebelum Wika mulai mencari.
Apa yang dilakukan Wika sebelum 10 detik habis?
Saksikan hanya di “Mendingan”!

Behind the scene:

10
Jun
09

Kungfu: The Legend Continues

kung_fu_the_legend_continues-showKungfu: The Legend Continues. Yes, that’s the title of my favorite TV serial on RCTI back there in 1990s (what? that’s more than 10 years ago). It becomes my favorite at least for two reasons. First, i admire the old-wise-monk character, Kwai Chang Caine, which is a father of a 30-year-old LA cop. Though he’s not young anymore, he’s really good at kungfu and Tai Chi (CMIIW, in one of the episode, even bullets can’t stop him). He becomes a good father that always there for his growing-up son (hey, his son is 30 years old, what you mean growing-up?). In his calm way, Mr. Caine helps his son to solve the case, helps his son to find wife, and specially, teaches his son the wisdom of life from the spirit of Kungfu (okay, we can argue about this later). Misunderstanding between them who come from two different worlds –old and new world– happens everytime, but somehow they learn to understand each other. But please, don’t ask me why Mr.Caine misteriously dissapear  when he thinks he must go somewhere else after helping his son fighting the bad guys. Enough for Mr.Caine. The second reason is, in that time, RCTI is the only TV station that had ‘good’ TV serials, so let’s forget about having ‘Bioskop TransTV at night (gee, where are you living anyway? in what year?). Ok, back again to Mr.Caine (i mean, in the next paragraph).

Last week i read a news about the death of Mr. David Carradine,  the actor who played Kwai Chang Caine. Sad to hear that. His good role in that Kungfu serial made me interesting on Kungfu and Tai Chi (okay, for 10-years-old boy, a martial art that moves elegantly and still able to knock down the enemies without hitting hard on them, is very interesting). He produces several video lessons about Kungfu and TaiChi that makes him more famous. I bought one of them to learn Tai Chi (you can find it easily in Gramedia Book Store). It’s a good and easy-to-follow Tai Chi tutorial. If you think that doing slow movement in Tai Chi makes you fell that you’re part of old-ages doing the same thing at city park in the morning, than you’re half right. Young-ages should also practice their breathing, while at the same time, adjust their body movement with the harmony of the nature (hm, nice).

So, Mr.Carradine taught me Tai Chi years after “Kungfu: The Legend Continues” has gone throughout the history of my childhood. My sympathy to his family and relatives. Good bye, Mr. Caine.

13
Feb
09

Behind The Scene: Membuat Film Pendek

“It’s wrapped!” (Terjemahan bebas: “Bungkus!”), seru sutradara kami sesaat setelah pengambilan adegan terakhir untuk ketiga kalinya. Entah bagaimana sejarahnya, kata-kata ini adalah indikasi bahwa tahap produksi (syuting) selesai dilakukan. Pertama kali saya dengar istilah ini saat menonton acara “MTV Screen” yang menceritakan proses di balik pembuatan sebuah film. Hari itu ternyata kami mendengarnya langsung karena memang kami sedang membuat film! Film pendek pertama kami! Film yang membutuhkan waktu syuting seharian untuk menghasilkan film dengan durasi mendekati 5 menit. Belum ditambah waktu menggodok ide, menyusun skenario, membuat naskah, menyiapkan properti, mengajukan sponsor, dan lain sebagainya yang memakan waktu satu bulan. Semua itu hanya untuk durasi 5 menit?? Bukan main!

Berhubung kami bukan insan film dan tidak kuliah di jurusan film,  maka kami wajib mencari referensi yang singkat dan padat tentang teknik pembuatan film pendek (bisa juga disebut film indie). Minimal kami harus tahu tahap-tahap apa yang harus kami jalani dan mempersiapkan segala sesuatunya dari A sampai Z. Syukurlah kami menemukan buku bagus ini: “Bikin Film Indie itu Mudah!” (Penerbit Andi). Sederhana bukunya, lengkap dan padat isinya. Rasanya buku ini bacaan wajib untuk pembuat film amatir seperti kami ini. Tak terbayang betapa putus asanya kami jika dari awal kami tidak memperhitungkan lamanya waktu persiapan untuk menghasilkan film berdurasi 5 menit itu.

Benar saja, mengetahui tahap-tahap pembuatan film memberi kami perspektif yang berbeda dalam menonton film karena kami berusaha menempatkan diri sebagai orang-orang yang berada di balik layar proses produksi sebuah film. Ada rasa salut pada orang-orang yang telah memproduksi film-film box office semacam Lord of The Ring yang katanya membutuhkan waktu 3 tahun untuk merancang segala macam propertinya, dan menyiapkan 3 stel pakaian untuk setiap tentara uruk-hai yang buannyaak itu, belum lagi karakter-karakter utamanya…

Bagian paling penting dan paling lama dari proses pembuatan film adalah tahap pra-produksi. Intinya adalah mendapatkan ide cerita, menyusun skenario, merancang adegan (lihat “Film: Komik, Imajinasi, dan Pesan Rahasia”) merancang properti, menyusun jadwal, mendapatkan aktor, dan mengkalkulasi anggaran. Setelah pra produksi siap, berikutnya masuk ke tahap produksi, yakni syuting. Tahap ini bisa cepat jika sebelumnya telah jelas adegan-adegan apa yang harus diambil berikut segala macam detilnya. Jadi, jangan terburu-buru ingin syuting sebelum jalan cerita dan detil adegan selesai dibuat. Hal ini sama saja menghabiskan waktu dan membuat frustasi karena tak jelas gambar seperti apa yang harus diambil. Bagian terakhir adalah pasca produksi. Bagian ini meliputi proses penyuntingan adegan-adegan yang telah diambil sampai terbentuk film yang diinginkan. Tak lupa ditambahkan berbagai efek video dan suara, serta tulisan dan credit (daftar kru film). Jika film yang dibuat untuk tujuan komersial, maka setelahnya ada proses pemasaran lewat konferensi pers, nonton bareng, atau jumpa fans. Oya, jangan lupa beres-beres lokasi syuting dan mengumpulkan uang dan bon-bon belanja untuk dicocokkan pengeluaran dan pemasukan oleh produser, siapa tahu nombok-nya kebanyakan hihihi…

Seperti yang ditulis pada buku “Membuat Film Indie” itu, benar sekali bahwa penonton tidak peduli proses pembuatannya, yang penting hasinya harus sempurna. Penonton sangat mudah mengetahui kekurangan dalam pengambilan gambar, akting yang kaku, suara yang jelek, sampai cerita yang membingungkan. Bukannya diapresiasi, film yang sudah capek-capek dibuat bisa saja enggan ditonton sampai ditertawakan karena kelihatan bohongnya (kecuali film komedi kali yak…). Maka dibutuhkan kerjasama yang apik antara sutradara yang mampu bercerita secara visual dengan detil yang baik, kameramen yang jeli mengambil gambar, produser yang siap menyediakan segala macam kebutuhan sutradara, editor yang pandai mengolah video dan suara, serta aktor yang menjiwai perannya dengan utuh. Tentu saja, itu semua didukung kru yang siap bekerja demi hasil yang sempurna. Nah, kalau filmnya sukses, jangan lupa makan-makan ya! (halah). Selamat bercerita lewat film.

Suplemen: Film: Komik, Imajinasi, dan Pesan Rahasia

Film merupakan salah satu teknik bercerita secara visual. Sebenarnya teknik bercerita film ini mirip dengan komik (panjang lebar mengenai komik dapat dibaca di buku “Understanding Comics“). Jadi bagi kawan yang menggemari komik, maka rasanya tidak berlebihan kalau kelak ingin membuat film pendek sendiri dan menjadi sutradara di dalamnya. Beberapa persamaan dan perbedaan film dan komik antara lain:

  • Komik tersusun atas kumpulan potongan-potongan gambar yang saling terkait dengan alur tertentu. Bisa alur maju, mundur, atau kombinasi keduanya. Begitu juga dengan film yang tersusun dari kumpulan adegan yang saling terkait dengan alur tertentu.
  • Keduanya bertutur secara visual atau lewat gambar, sehingga hal ini menjadi pertimbangan utama saat menyusun alur cerita. Contohnya karakter jahat digambarkan dengan warna-warna gelap, diperlihatkan dari sudut pandang yang mengancam ditambah suara latar yang menegangkan. Sebaliknya karakter baik digambarkan dengan warna-warna terang, raut muka yang bersahabat ditambah suara latar yang heroik. Semuanya untuk membangun kesan karakter dan jalan cerita sesuai yang diinginkan sutradara / pembuat komik.
  • Film lebih kaya secara visual lewat kumpulan gambar yang bergerak dan secara audio lewat suara. Komik hanya memiliki kumpulan gambar diam tanpa suara. Komik yang nampak lebih “miskin” bukan berarti kalah dengan film. Pembaca komik diajak lebih berimajinasi untuk menyatukan kumpulan gambar diam itu dan memproduksi suara masing-masing sesuai tulisan yang mewakili suara, semacam “JREENG!”, “DUARR!”, “JLEB!”, dan sebagainya.

Film yang bagus adalah film yang berhasil menggiring pikiran dan perasaan penontonnya untuk berpikir sesuai keinginan sutradara. Jadi jangan protes kalau pikiran dan perasaan kita terasa ‘dipermainkan’ oleh sutradara. Itu memang tugasnya. Maka jangan kesal kalau mendadak muncul fantasi seram di tempat sepi setelah menonton film psikopat atau horor.

Film yang bagus juga mampu membangun sebuah kenyataan baru yang sebelumnya tidak ada, seperti bertamasya ke masa depan, melongok masa lalu, sampai mengubah sejarah. Lihat saja yang melontarkan pikiran penontonnya jauh ke masa depan lewat perjalanan galaksi ala Star Trek, menyaksikan pertarungan antar ras makhluk hidup memperebutkan cincin sakti ala Lord of The Ring, dan mengguncangkan kesadaran saat datangnya bencana global ala Deep Impact atau The Day After Tomorrow. Ada sebuah dunia semu yang bisa diatur seenaknya dalam film, dan tak perlu masuk akal. Lihat saja aksi agen 007 yang tetap ganteng dan tak terluka setelah diberondong sekian puluh tentara yang begitu tampak bodoh tak bisa melumpuhkan satu orang. Sebagaimana muskilnya tokoh jahat yang selalu gagal membunuh tokoh utamanya di detik-detik terakhir.

Ajaibnya, sedemikian rupa penonton dibuat percaya. Oleh karena itu film menjadi alat propaganda yang ampuh untuk membangun cara berpikir dan merasa penontonnya. Maka tak heran sensor dibutuhkan untuk menyaring pikiran-pikiran yang secara halus / kasar diselipkan pada ide-ide cerita film (tapi gimana caranya? sensor visual mah gampang, yang non visual itu sulit bahkan hampir tak mungkin). Contohnya, sudah rahasia umum film-film barat mengirimkan pesan-pesan materialisme dan permisivisme dalam film-filmnya (lihat Eramuslim Digest: HollyWood Undercover). Anyway, membuat film merupakan peluang bagus bagi kawan yang gemar bercerita dan ingin menyampaikan pesan-pesan ke pikiran orang lain (tanpa sepenuhnya disadari) lewat kemampuan mengolah cerita, gambar dan suara.

01
Feb
09

Film: Save Energy, Save Your Life!

Indosat mengadakan kompetisi “Indosat Short Movie” dalam rangka ulang tahunnya yang ke-41 dengan mengusung tema “Green Technology“. Tim kami, yang disponsori oleh Humane City Foundation, membuat film dengan judul “Save Energy, Save Your Life”. Film ini ber-genre komedi-thriller. Selamat menyaksikan.

Sinopsis:
Tommy cuek dalam menghemat energi. Ia suka menjahili Bayu yang punya kebiasaan sebaliknya. Larut malam, saat ia menonton TV, ia kena batunya. Terbukti, sikap hemat akan menyelamatkan nyawa Anda.

(mengerti kan, mengapa komedi-thriller?)

Dukung film ini? Thanks, kunjungi kami di:

http://indosatshortmovie.com/?ad=v&d=706

(catatan: selain penilaian juri yang utama, terbuka kesempatan bagi pemilih untuk memilih film favoritnya sampai 10 Februari 2009)

FAQ bagi voters (dikutip dari FAQ indosatshortmovie)

  • Bagaimanakah cara melakukan voting?
    Voting bisa dengan dua cara, yaitu dengan klik tombol “Vote” pada film yang anda pilih, atau dengan cara mengirimkan sms ke 668 dengan format ISM<spasi>Kode Film.
  • Apa perbedaan voting lewat website dengan voting lewat sms?
    Untuk voting langsung melalui website, setiap user hanya dapat mem-vote satu kali untuk setiap film yang dia pilih. Sedangkan voting melalui sms, setiap nomor pengirim sms dapat mengirimkan sms vote sebanyak-banyaknya untuk setiap film yang dia pilih.
  • Apakah bisa mengirimkan voting sms dari nomor selain Indosat?
    Voting sms hanya berlaku bagi nomor Indosat saja.
  • Bagaimana bila ada peserta yang curang membuat account palsu dan melakukan voting palsu untuk filmnya sendiri?
    Setiap voting yang masuk ke database akan melalui pengecekan secara ketat oleh sistem dan tim Admin ISMC, jadi apabila ada yang berbuat curang seperti itu dia hanya buang-buang waktu dan tenaga saja, karena voting dia akan langsung kami batalkan. Jadi setiap kali melakukan voting, isilah data diri anda secara benar, terutama nomor indosat dan alamat email anda, bila tidak voting anda nantinya akan kami batalkan.

Credits
Alhamdulillah, terima kasih untuk Pak Bambang dari HCF, Tri (produser), Nita (asisten produser), Luky (aktor), mas Gele (director, cameraman, dan editor), dan mas Fendi (lighting). We did our best! Senang rasanya bekerja dengan orang-orang yang kreatif dan bersemangat. Semoga karya kita berkah dan menang! (Looking forward for our next project 🙂 )

That’s all, hope you’ll enjoy. Ada komentar?

28
Jan
09

HAMAS, Palestina, dan Salahuddin Al-Ayyubi

Agresi militer Israel ke Gaza yang masih segar dalam ingatan kita semoga tidak berlalu begitu saja seiring berkurangnya liputan media. Selain nampak media mana saja yang peduli (saya nggak bilang TV One lho…) dan tidak peduli (saya juga nggak bilang Metro TV lho ya…) terhadap krisis ini, beberapa pertanyaan penting setidaknya terlintas dalam pikiran kita. Menyegarkan memori kita tentang apa yang sebenarnya terjadi di sana. Bagaimana sejarahnya. Siapa saja yang terlibat. Dan bagaimana perkembangannya dalam tahun-tahun ke depan.

Saya yakin banyak dari kita aktif mencari jawaban-jawaban pertanyaan itu selain ikut menyumbang, berdoa, dan memutar berulang-ulang lagu “We Will Not Go Down” setelah mengunduhnya dari situs Michael Heart. Banyak juga yang mencari chord-nya atau menjadikannya nada dering ponsel. Semua untuk menunjukkan dukungan atas perjuangan rakyat Palestina atas aksi biadab Israel. Mengenai sejarah Palestina yang panjang dapat dibaca di berbagai literatur, situs, atau buku-buku yang sudah sangat banyak mengulasnya. Mengenai alasan politis Israel menjelang Pemilu pun ada di Pikiran Rakyat dan Majalah Gatra. Mengenai jumlah korban sebenarnya dari Israel yang ternyata mencapai ratusan orang pun ada di Eramuslim. Mengenai nasib diplomasi dengan perantara Amerika pasca dilantiknya Obama pun ada dimana-mana (emang ngaruh ya?). Tulisan sekaligus resensi berikut lebih pada melihat sosok HAMAS sebagai motor perjuangan rakyat Palestina dan pemenang Pemilu 2006 lalu.

Berikut saya kutip beberapa isi buku “HAMAS Kenapa Dibenci Amerika” yang ditulis oleh Tiar Anwar Bachtiar dan diterbitkan oleh Penerbit Hikmah.

dsc004131Banyak analis memperkirakan bahwa sikap keras HAMAS ini sesungguhnya bukan karakter asli HAMAS, mengingat latar belakang HAMAS yang sebelum tahun 1987 (Intifadhah I) merupakan organisasi sosial dan keagamaan. Sikap keras HAMAS justru dipicu oleh kekerasan yang dilakukan Israel dan dukungan Amerika atas segala bentuk kekerasan itu. Menurut pengamat politik Arab, Huda Huseini seperti dikutip Mustafa Abd Rahman: “HAMAS mulai melakukan aksi kekerasan dengan cara bunuh diri sejak pembantaian oleh ekstrimis Yahudi, Baruch Goldstein, di Hebron tahun 1994 yang menewaskan sekitar 40 warga Palestina. Maka, kata Huda, HAMAS secara ideologi pada dasarnya bukan organisasi radikal. Lingkungan politik keras yang diciptakan Israel memaksa HAMAS melakukan aksi kekerasan.”

“Wahai Muadz, sesungguhnya Allah akan menaklukkan Syam untuk kalian pada abad sesudahnya sejak dari Arisy sampai ke Furat. Para penduduknya, laki-laki, wanita atau para budak, “bersiap-siaga” sampai Hari Kiamat. Siapa saja di antara kamu memilih (bertempat tinggal) di salah satu pantai Syam atau Baitulmaqdis, berarti dalam keadaan jihad terus-menerus sampai Hari Kiamat”

Cita-Cita dan Tujuan HAMAS

  1. Tujuan Umum: Mendirikan Negara Islam di Palestina
  2. Tujuan Strategis: Memerdekakan Seluruh Tanah Palestina
  3. Tujuan Antara
    • Membebaskan Tepi Barat dan Jalur Gaza
    • Mengislamkan masyarakat
    • Memperkuat legitimasi Sayap Militer
    • Melanjutkan gerakan Intifadhah
    • Menjaga Kesatuan Nasional
    • Membebaskan para tawanan dan menghentikan serangan Israel terhadap rakyat sipil Palestina
    • Menggali dukungan negara-negara Arab dan Islam
  4. Tujuan Segera
    • Netralisasi Kekuatan Militer Israel
      (Inilah salah satu penjelasan aksi Intifadhah dalam bentuk pelemparan batu yang  tampak tak seimbang melawan senjata Israel. Aksi ini bertujuan untuk menetralisasi kekuatan militer Israel agar tidak terlampau merasuk ke dalam jantung-jantung pertahanan rakyat Palestina)
    • Memantapkan legitimasi politik

Buku kecil ini memberikan kita pemahaman yang objektif (ya iyalah, situ dukung HAMAS) tentang sejarah, cita-cita, tujuan, tokoh-tokoh penting, bentuk organisasi, sampai ke strategi perjuangan HAMAS dalam konteks sejarah Palestina. Yang lebih keren lagi ditambah Lampiran Piagam HAMAS yang menjabarkan landasan, cita-cita, koridor perjuangan, serta sikap HAMAS. Sayang sekali untuk dilewatkan, apalagi mumpung memori dan semangat kita masih belum padam pasca kekalahan agresi Israel kemarin.

Menutup tulisan ini, saya segarkan kembali ingatan kita akan pahlawan pembebas Palestina pada 2 Oktober 1187, Salahuddin Al-Ayubi (“Saladin” kata orang Barat). Satu video berupa film animasi yang dibuat Malaysia (kapan ni film sampai Indonesia?). Satu video lagi menampilkan nasyid Sami Yusuf yang berlatar belakang cuplikan dari film “Kingdom of Heaven” yang luar biasa (sudah nonton, kan?). Film yang disudtradarai Ridley Scott dan dibintangi Orlando Bloom (pemeran Legolas dalam Lord Of The Ring) ini dinilai sebagai film produksi Holywood yang objektif menggambarkan peristiwa pembebasan Palestina saat itu. Heroik. Tidak ada pembantaian. Elegan sekali.

Selamat menonton.




My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 181,870 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia