Posts Tagged ‘resensi

10
Jun
09

Outliers: Tentang Hutang Budi

Buku “International Best Seller” ini adalah buku ketiga Malcolm Gladwell setelah “Blink” dan “Tipping Point” (sudah baca kan? ah tak apa, saya juga belum). Genre buku ini (baca di sampul belakangnya, terbitan Gramedia) tertulis “Non Fiksi-Psikologi Sosial”. Lalu baca tulisan di halaman depannya dan tulisan dengan maksud yang sama di banner yang berada di toko buku. “Rahasia Di Balik Sukses”. “Ternyata tanggal kelahiran mempengaruhi kesuksesan Anda”. Apa yang Anda pikirkan? Ah, lagi-lagi kiat-kiat sukses. Betul, memang ini lagi-lagi. Bedanya, sesuai genre “Psikologi Sosial” tadi, kesuksesan dianalisa dengan variabel yang lebih kompleks ketimbang sekedar rumus generik sukses seperti kerja keras-cerdas dan banyak berdoa. Ow, bagaimana ceritanya?

Alkisah kesuksesan punya wujud yang berbeda-beda, yang tentu saja tidak datang pada setiap orang, pada setiap waktu. Singkatnya, orang-orang yang kebagian sukses tersebut, bisa dikatakan datang pada saat yang tepat, di tempat yang tepat, keahlian yang tepat, dan jangan lupa, dengan latar belakang keluarga yang tepat juga. Berbagai kombinasi ketepatan inilah yang dibahas secara menarik (terima kasih pada hasil terjemahannya yang apik) pada sembilan bab di buku ini. Disertai kisah riwayat hidup orang-orang yang dijadikan studi kasus kesuksesan (merekalah yang disebut outliers), pembaca diantarkan menuju analisis-analisis dan hasil penelitian yang menyimpulkan penyebab kesuksesan mereka (dan hey, ada Steve Jobs dan Apple-nya di sana!).

Dibagi dalam dua bab besar, yakni “Kesempatan” dan “Warisan Budaya”, kesuksesan outliers menemukan kunci-kunci pentingnya (saya rasa beberapa hal dari buku “Tipping Point” cukup berguna di sini). Sebut saja Bill Gates yang mendapatkan serangkain ‘keberuntungan’ lahir di tahun yang tepat, tinggal dan sekolah di tempat yang tepat (tentu sebelum dia drop-out), ditambah bakat dan kerja kerasnya. Paman Bill bahkan mengakui keberuntungannya itu (ok, baiklah jika Anda lebih nyaman dengan kata ‘takdir’. Buku ini menyebutnya ‘kesempatan’). Lalu ada lagi tentang rahasia kecerdasan matematika anak-anak Asia (sayang sekali, Indonesia belum masuk hitungan) yang secara umum lebih baik daripada anak-anak Amerika. Yang ini masuk kategori ‘Warisan Budaya’. Demikian seterusnya dengan contoh-contoh lainnya yang sayang untuk tidak dibaca sampai habis.

Lalu pelajaran apa yang bisa diambil dari buku ini untuk kehidupan kita? Bagi saya setidaknya ada beberapa hal, yakni:

  1. Teruslah berlatih. Oya, saya lupa menyebutkan kaidah 10.000 jam latihan (yang kira-kira 4 jam per hari selama sepuluh tahun) yang harus dilalui orang-orang untuk menjadi outliers. Para outliers di buku ini telah berlatih kira-kira selama waktu itu sebelum mereka bertemu dengan kesempatan yang melambungkan nama mereka. Lalu bagaimana jika rasanya kita sudah terlalu ‘tua’ untuk itu? Maaf kawan, tak ada ampun. Eh, maksudnya dimulai saja menyisihkan waktu itu sekuat tenaga selama masih ada umur. Itulah mengapa latihan sejak kecil dibutuhkan. Kalau sudah usia tanggung, sudah banyak urusannya. Apalagi sudah menikah dan punya anak, beda lagi ceritanya.
  2. Masukan bagi kurikulum pendidikan sekolah (nah, datang lagi). Sehubungan dengan faktor tanggal lahir yang dibahas di sini (baca sendiri ya), ada kiranya keinginan untuk meninjau ulang sistem pendidikan yang secara seragam mengelompokkan anak-anak yang berusia sama (dengan kemungkinan perbedaan bulan kelahiran yang jauh) untuk disatukan  dalam sekali masa penerimaan dalam setahun. (lihat, anak kalimat yang terlalu panjang memang membingungkan. Lengkapnya baca di buku saja ya).
  3. Banyak-banyak berdoa. Walaupun tidak secara tersurat disarankan di buku ini, perihal bab ‘Kesempatan’ tadi jelas urusan Takdir Allah SWT. Kita tidak tahu yang gaib di masa depan, yang bisa jadi merupakan kesempatan emas bagi kita untuk menyemai benih-benih kesuksesan yang sudah ditanam sebelumnya. Mungkin Paman Bill seharusnya bilang “Aku sangat bersyukur” ketimbang “Aku sangat beruntung”.
  4. Kita jelas berhutang budi pada orang tua kita, orang tua dari orang tua kita, sampai orang tua dari orang tuanya orang tua kita (heh, capek). Berkat usaha, kesempatan, dan warisan budaya merekalah kita akhirnya bisa dilahirkan dalam lingkungan yang kita syukuri hari ini. Terlepas dari kekurangan yang ada, mereka telah membawa kita yang datang kemudian, ke dalam masa-masa yang mudah untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan. Oya, sebenarnya kerusakan lingkungan juga kita rasakan, tapi sudahlah. Intinya, kita berhutang budi yang katanya, dibawa mati. Jadi, mari lakukan hal yang sama untuk generasi sesudah kita. Biarlah masalah hutang jasa-jasa orang tua hanya Allah Yang Bisa Membalasnya. Inilai pelajaran yang paling agung yang saya dapat dari buku ini.

Mari kita tunggu apalagi yang datang dari Malcolm Gladwell setelah Outliers ini. Sementara itu, kita masih punya pekerjaan rumah 10.000 jam (lama amat 10 tahun!) dan hutang budi pada orang tua kita. Tentu saja, tak lupa banyak berdoa. Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaa ha illallah wallahu akbar.

13
Feb
09

Behind The Scene: Membuat Film Pendek

“It’s wrapped!” (Terjemahan bebas: “Bungkus!”), seru sutradara kami sesaat setelah pengambilan adegan terakhir untuk ketiga kalinya. Entah bagaimana sejarahnya, kata-kata ini adalah indikasi bahwa tahap produksi (syuting) selesai dilakukan. Pertama kali saya dengar istilah ini saat menonton acara “MTV Screen” yang menceritakan proses di balik pembuatan sebuah film. Hari itu ternyata kami mendengarnya langsung karena memang kami sedang membuat film! Film pendek pertama kami! Film yang membutuhkan waktu syuting seharian untuk menghasilkan film dengan durasi mendekati 5 menit. Belum ditambah waktu menggodok ide, menyusun skenario, membuat naskah, menyiapkan properti, mengajukan sponsor, dan lain sebagainya yang memakan waktu satu bulan. Semua itu hanya untuk durasi 5 menit?? Bukan main!

Berhubung kami bukan insan film dan tidak kuliah di jurusan film,  maka kami wajib mencari referensi yang singkat dan padat tentang teknik pembuatan film pendek (bisa juga disebut film indie). Minimal kami harus tahu tahap-tahap apa yang harus kami jalani dan mempersiapkan segala sesuatunya dari A sampai Z. Syukurlah kami menemukan buku bagus ini: “Bikin Film Indie itu Mudah!” (Penerbit Andi). Sederhana bukunya, lengkap dan padat isinya. Rasanya buku ini bacaan wajib untuk pembuat film amatir seperti kami ini. Tak terbayang betapa putus asanya kami jika dari awal kami tidak memperhitungkan lamanya waktu persiapan untuk menghasilkan film berdurasi 5 menit itu.

Benar saja, mengetahui tahap-tahap pembuatan film memberi kami perspektif yang berbeda dalam menonton film karena kami berusaha menempatkan diri sebagai orang-orang yang berada di balik layar proses produksi sebuah film. Ada rasa salut pada orang-orang yang telah memproduksi film-film box office semacam Lord of The Ring yang katanya membutuhkan waktu 3 tahun untuk merancang segala macam propertinya, dan menyiapkan 3 stel pakaian untuk setiap tentara uruk-hai yang buannyaak itu, belum lagi karakter-karakter utamanya…

Bagian paling penting dan paling lama dari proses pembuatan film adalah tahap pra-produksi. Intinya adalah mendapatkan ide cerita, menyusun skenario, merancang adegan (lihat “Film: Komik, Imajinasi, dan Pesan Rahasia”) merancang properti, menyusun jadwal, mendapatkan aktor, dan mengkalkulasi anggaran. Setelah pra produksi siap, berikutnya masuk ke tahap produksi, yakni syuting. Tahap ini bisa cepat jika sebelumnya telah jelas adegan-adegan apa yang harus diambil berikut segala macam detilnya. Jadi, jangan terburu-buru ingin syuting sebelum jalan cerita dan detil adegan selesai dibuat. Hal ini sama saja menghabiskan waktu dan membuat frustasi karena tak jelas gambar seperti apa yang harus diambil. Bagian terakhir adalah pasca produksi. Bagian ini meliputi proses penyuntingan adegan-adegan yang telah diambil sampai terbentuk film yang diinginkan. Tak lupa ditambahkan berbagai efek video dan suara, serta tulisan dan credit (daftar kru film). Jika film yang dibuat untuk tujuan komersial, maka setelahnya ada proses pemasaran lewat konferensi pers, nonton bareng, atau jumpa fans. Oya, jangan lupa beres-beres lokasi syuting dan mengumpulkan uang dan bon-bon belanja untuk dicocokkan pengeluaran dan pemasukan oleh produser, siapa tahu nombok-nya kebanyakan hihihi…

Seperti yang ditulis pada buku “Membuat Film Indie” itu, benar sekali bahwa penonton tidak peduli proses pembuatannya, yang penting hasinya harus sempurna. Penonton sangat mudah mengetahui kekurangan dalam pengambilan gambar, akting yang kaku, suara yang jelek, sampai cerita yang membingungkan. Bukannya diapresiasi, film yang sudah capek-capek dibuat bisa saja enggan ditonton sampai ditertawakan karena kelihatan bohongnya (kecuali film komedi kali yak…). Maka dibutuhkan kerjasama yang apik antara sutradara yang mampu bercerita secara visual dengan detil yang baik, kameramen yang jeli mengambil gambar, produser yang siap menyediakan segala macam kebutuhan sutradara, editor yang pandai mengolah video dan suara, serta aktor yang menjiwai perannya dengan utuh. Tentu saja, itu semua didukung kru yang siap bekerja demi hasil yang sempurna. Nah, kalau filmnya sukses, jangan lupa makan-makan ya! (halah). Selamat bercerita lewat film.

Suplemen: Film: Komik, Imajinasi, dan Pesan Rahasia

Film merupakan salah satu teknik bercerita secara visual. Sebenarnya teknik bercerita film ini mirip dengan komik (panjang lebar mengenai komik dapat dibaca di buku “Understanding Comics“). Jadi bagi kawan yang menggemari komik, maka rasanya tidak berlebihan kalau kelak ingin membuat film pendek sendiri dan menjadi sutradara di dalamnya. Beberapa persamaan dan perbedaan film dan komik antara lain:

  • Komik tersusun atas kumpulan potongan-potongan gambar yang saling terkait dengan alur tertentu. Bisa alur maju, mundur, atau kombinasi keduanya. Begitu juga dengan film yang tersusun dari kumpulan adegan yang saling terkait dengan alur tertentu.
  • Keduanya bertutur secara visual atau lewat gambar, sehingga hal ini menjadi pertimbangan utama saat menyusun alur cerita. Contohnya karakter jahat digambarkan dengan warna-warna gelap, diperlihatkan dari sudut pandang yang mengancam ditambah suara latar yang menegangkan. Sebaliknya karakter baik digambarkan dengan warna-warna terang, raut muka yang bersahabat ditambah suara latar yang heroik. Semuanya untuk membangun kesan karakter dan jalan cerita sesuai yang diinginkan sutradara / pembuat komik.
  • Film lebih kaya secara visual lewat kumpulan gambar yang bergerak dan secara audio lewat suara. Komik hanya memiliki kumpulan gambar diam tanpa suara. Komik yang nampak lebih “miskin” bukan berarti kalah dengan film. Pembaca komik diajak lebih berimajinasi untuk menyatukan kumpulan gambar diam itu dan memproduksi suara masing-masing sesuai tulisan yang mewakili suara, semacam “JREENG!”, “DUARR!”, “JLEB!”, dan sebagainya.

Film yang bagus adalah film yang berhasil menggiring pikiran dan perasaan penontonnya untuk berpikir sesuai keinginan sutradara. Jadi jangan protes kalau pikiran dan perasaan kita terasa ‘dipermainkan’ oleh sutradara. Itu memang tugasnya. Maka jangan kesal kalau mendadak muncul fantasi seram di tempat sepi setelah menonton film psikopat atau horor.

Film yang bagus juga mampu membangun sebuah kenyataan baru yang sebelumnya tidak ada, seperti bertamasya ke masa depan, melongok masa lalu, sampai mengubah sejarah. Lihat saja yang melontarkan pikiran penontonnya jauh ke masa depan lewat perjalanan galaksi ala Star Trek, menyaksikan pertarungan antar ras makhluk hidup memperebutkan cincin sakti ala Lord of The Ring, dan mengguncangkan kesadaran saat datangnya bencana global ala Deep Impact atau The Day After Tomorrow. Ada sebuah dunia semu yang bisa diatur seenaknya dalam film, dan tak perlu masuk akal. Lihat saja aksi agen 007 yang tetap ganteng dan tak terluka setelah diberondong sekian puluh tentara yang begitu tampak bodoh tak bisa melumpuhkan satu orang. Sebagaimana muskilnya tokoh jahat yang selalu gagal membunuh tokoh utamanya di detik-detik terakhir.

Ajaibnya, sedemikian rupa penonton dibuat percaya. Oleh karena itu film menjadi alat propaganda yang ampuh untuk membangun cara berpikir dan merasa penontonnya. Maka tak heran sensor dibutuhkan untuk menyaring pikiran-pikiran yang secara halus / kasar diselipkan pada ide-ide cerita film (tapi gimana caranya? sensor visual mah gampang, yang non visual itu sulit bahkan hampir tak mungkin). Contohnya, sudah rahasia umum film-film barat mengirimkan pesan-pesan materialisme dan permisivisme dalam film-filmnya (lihat Eramuslim Digest: HollyWood Undercover). Anyway, membuat film merupakan peluang bagus bagi kawan yang gemar bercerita dan ingin menyampaikan pesan-pesan ke pikiran orang lain (tanpa sepenuhnya disadari) lewat kemampuan mengolah cerita, gambar dan suara.




My Facebook

Agung Prasetyo

Halaman

For Sale: Biola 3/4 Skylark

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 180,997 klik

RSS Fortune Apple 2.0 News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia