08
Nov
09

Mengubah Kebiasaan Berkendara Kita

Mengendarai mobil di jalan umum, yang secara sederhana diizinkan bagi mereka yang sudah mempunyai SIM, ternyata tidak sesederhana dapat dikuasai mereka yang telah lulus kursus mengemudi. Dibutuhkan lebih dari sekedar kemampuan mengendalikan arah mobil, mengatur kecepatannya, serta membaca rambu lalu lintas. Hal ini dapat dipahami karena masalah yang mungkin muncul saat mobil sudah melaju di jalan umum begitu bervariasi. Sebut saja mulai dari kemacetan lalu lintas, ban bocor, hingga ditabrak atau menabrak kendaraan lain. Hingga saat ini kesiapan kita dalam mengatasi berbagai masalah tersebut sepertinya belum menjadi bagian dari syarat pengambilan SIM. Kita rasanya mau cepat saja mendapat izin mengendarai mobil, tanpa terlebih dahulu menyiapkan diri memahami hal-hal yang, bisa jadi, suatu hari akan menyelamatkan nyawa kita dan orang lain. Misalnya, Anda tidak ingin kejadian dalam video berikut menimpa Anda, bukan?

Pada Pesta Blogger 2009 yang lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti sesi Driving Skills For Life (DSFL) yang diselenggarakan oleh Ford Motor Indonesia (FMI) yang bekerja sama dengan beberapa pihak, termasuk Indonesia Defensive Driving Centre (IDDC). Program ini merupakan bentuk Corporate Society Responsibility (CSR) dari FMI untuk pengemudi kendaraan bermotor di Indonesia, khususnya mobil. Tujuan DSFL sendiri yaitu:

  1. Pengemudi yang aman dan selamat
  2. Pengemudi yang bijak
  3. Meningkatkan jarak tempuh kendaraan Anda
  4. Menghemat pengeluaran
  5. Mengurangi polusi

Untuk mencapai tujuan tersebut, DSFL menyusun 10 tips yang diharapkan dapat mengubah kebiasaan berkendara kita. Tips ini dapat dilihat di sini, akan tetapi saya mencoba menceritakan kembali sesuai pengalaman pribadi dan pelatihan yang saya dapat di sesi di Pesta Blogger 2009 yang lalu.

  1. Mengenakan sabuk pengaman karena aturan, bukan kesadaran
    Tips1Sejak dihimbaunya penggunaan sabuk pengaman, pengemudi mobil segera mematuhinya dengan berbagai alasan. Sebagian besar mungkin takut dengan denda yang berjumlah ratusan ribu tersebut. Sebagian yang lain mungkin sadar akan risiko cedera yang mungkin terjadi tanpa menggunakan sabuk pengaman.
    Fungsi sabuk pengaman sendiri adalah melindungi penggunanya dari cedera yang lebih parah dalam suatu kecelakaan. Nah, seringkali kita berpikir bahwa kecelakaan tidak akan menimpa kita bila kita berkendara bukan dengan kecepatan tinggi dan tidak sedang mengadakan perjalanan keluar kota. Padahal yang namanya kecelakaan dapat terjadi kapan saja dimana saja. Jika bukan kita yang menabrak, peluangnya dapat terjadi dari kendaraan lain yang menabrak kita. Jika sudah terjadi kecelakaan dan pengemudi mengalami cedera yang lebih parah tanpa menggunakan sabuk pengaman, maka alasan tadi jadi omong kosong, bukan?
    Oya, sabuk pengaman bukan hanya untuk pengemudi, melainkan untuk penumpang juga karena semua orang di dalam kendaraan dapat mengalami cedera. Dalam sebuah video simulasi kecelakaan berkecepatan 50 km/jam (tidak kencang), penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman laksana bola yang terpantul-pantul: menghantam dasboard, terlempar keluar dari kaca depan atau samping, dan melukai penumpang lain yang menggunakan sabuk pengaman (bayangkan saja sebuah bola yang terpantul-pantul dalam sebuah ruang, ia akan bergerak tidak teratur dan membentur ke segala arah).
    Gunakan sabuk pengaman yang standar, seperti model reclining seatbelt, yang secara otomatis menyesuaikan dengan ukuran tubuh kita. Ia akan mengunci tubuh kita bila menerima tarikan yang besar dan cepat akibat hentakan saat kecelakaan. Jangan gunakan seatbelt yang harus disesuaikan dulu ukurannya, karena tidak berfungsi menahan tubuh kita sebagaimana mestinya. Apalagi yang hanya diselempangkan di depan tubuh sekedar untuk menunjukkan kepada polisi bahwa kita terlihat sudah menggunakan sabuk pengaman.
  2. Tidak mengoptimalkan fungsi spion
    Tips2Spion kanan, kiri, dan tengah dapat membantu kita mengamati posisi kendaraan lain di belakang, sekaligus menghitung jarak kita dengan kendaraan di sekitar kita. Pengamatan ini penting saat kita harus mengambil keputusan untuk berpindah jalur, berbelok, dan saat melakukan pengereman (berhenti). Seringkali kecelakaan terjadi saat pengemudi tidak sering meng-update posisi kendaraan di belakang (ah, ternyata bukan hanya status FB yang harus sering di-update). Saat akan berbelok/berpindah jalur ternyata ada kendaraan dari arah belakang yang sedang melaju kencang. Saat akan berhenti ternyata jarak kendaraan belakang dengan kita terlalu dekat.
    Akan tetapi spion belumlah cukup karena spion memiliki area penglihatan yang terbatas, sehingga ada area di sekitar kendaraan yang disebut blind spot. Blind spot kendaraan dapat diminimalisir dengan menoleh 90 derajat ke kiri, kanan (shoulder/head check), atau belakang (untuk mundur) untuk meng-update posisi kendaraan.
    Bagi kendaraan besar seperti bis atau truk semen, blind spot yang dimilikinya lebih besar lagi karena ditambah area di bawah penglihatan pengemudi yang tidak dapat dilihatnya (ingat, posisi pengemudi kendaraan besar lebih tinggi dari kendaraan biasa). Dalam sebuah video CCTV nampak seorang penyeberang jalan yang tergilas truk semen karena ia menyeberang dekat sekali dengan hidung truk semen tersebut, sehingga pengemudi tidak dapat melihat penyeberang tersebut. Maka jika kita sedang berada atau mengemudi dekat dengan kendaraan besar, segeralah mengubah posisi tersebut karena bisa jadi kita sedang berada di area blind spot.
    Seberapa sering kita meng-update posisi kendaraan kita lewat spion atau shoulder check? Kira-kira setiap 8 detik. (Wah, kalau begitu mengemudi itu butuh konsentrasi tinggi, dong? Nah, baru sadar, kan? Tapi ini baru sampai poin kedua, masih ada delapan lagi hehehe).
  3. Yang waras, ngalah!
    Tips3Entah jika istilah ini terinspirasi dari lakon Srimulat, tapi demikian prinsip sederhana yang disampaikan Pak Dodi saat presentasi DSFL di Pesta Blogger yang lalu. Bagi sebagian besar kita, jalanan itu gila, apalagi di kota-kota besar. Orang jadi beringas ingin menang sendiri tanpa memerhatikan keselamatan orang lain. Dalam kondisi tersebut, seringkali kita pun ikut-ikutan berperilaku gila. Sesama orang gila saling memperebutkan jalan? Maka bertengkar dan kecelakaan lah yang menanti. Nah, agar terhindar dari pemborosan energi, waktu, dan emosi ini, maka gunakanlah prinsip sederhana: “Yang waras, ngalah!”
    Dalam DSFL, prinsip ini disebut Defensive Driving. Pada intinya, pengemudi yang Defensive (yang waras, tentu saja) selalu berpikir jauh ke depan dan selalu waspada terhadap segala kemungkinan risiko yang terjadi. Ia mampu mengemudikan kendaraannya dengan tenang dan mampu mengantisipasi situasi lalu lintas di depannya.
    Beberapa perilaku yang dilakukannya antara lain:

    • Tenang dan menghindari provokasi (tepat sekali pemilihan kata ini hehehe) pengguna jalan lain
    • Sopan dalam mengemudi dan dapat mengontrol emosi
    • Dapat mempertahankan suasana hati yang positif
      Misalnya jika ada orang yang tiba-tiba meyerobot jalur kita dengan sembrono, pikirkan saja bisa jadi ia terburu-buru karena istrinya akan melahirkan, orang tuanya sakit, terlambat masuk kantor (yang ini sering, nampaknya), atau sedang kebelet ke kamar kecil. Dengan demikian kita akan memakluminya, dan segera melupakannya, tidak terpancing untuk balas menyerobot.
    • Bersikap adil terhadap pengguna jalan yang lain dan memberi hak yang sama
      Misalnya jika berjumpa dengan zebracross, berilah kesempatan kepada penyeberang yang sudah menunggu untuk dapat menyeberang jalan. Atau memberi kesempatan pada kendaraan lain yang akan akan berbelok memotong jalur di depan kita.
    • Waspada terhadap kemungkinan kesalahan yang disebabkan pengguna jalan yang lain
      Kita waspada, tapi orang lain tidak waspada, kecelakaan tetap dapat terjadi. Intinya bukan siapa yang bersalah, tapi hindari kecelakaan semaksimal mungkin. Kalau sudah terjadi kecelakaan, pasti ada kerugian, minimal kerugian waktu dan emosi. Tak ada yang diuntungkan, dan tidak penting siapa yang bersalah dibandingkan kerugian yang harus ditanggung.
    • Takut menyebabkan celaka orang lain / kerusakan barang
  4. Mengemudi dengan gangguan
    Tips4Saya teringat sebuah berita terjadinya beberapa kecelakaan di sekitar sebuah papan reklame iklan sabun. Beberapa pengemudi yang nahas itu, tentunya laki-laki, sesaat terpesona dengan pesona sang model iklan sabun. Beberapa detik mereka kehilangan konsentrasi mengemudi sehingga menyebabkan kecelakaan. Hanya beberapa detik tanpa konsentrasi yang dibutuhkan untuk sebuah kecelakaan. Entah yang salah si model iklan sabun, pemasang reklame, atau pengemudi. Kemudian, kalau tidak salah, reklame tersebut dipindah atau diganti dengan yang lebih ‘tidak menggoda’ untuk mengurangi kecelakaan. Contoh reklame ini termasuk gangguan ekstrenal terhadap pengemudi.
    Gangguan berikutnya tentu sudah cukup akrab. Berikut beberapa pekerjaan sambilan saat mengemudi:

    • Membaca/menulis SMS
    • Bertelepon
      Penggunaan handsfree tetap saja mengurangi konsentrasi mengemudi, jadi bukan solusi bertelepon saat mengemudi. Menepilah jika menerima telepon yang dianggap cukup penting. Kita sebagai orang yang menghubungi pun hendaknya mempunyai kesadaran. Tanyakan terlebih dahulu pada penerima telepon aktivitas yang sedang ia lakukan. Jika ia sedang mengemudi, segera putuskan hubungan, dan katakan kita akan menghubunginya kembali.
    • Makan/minum
    • Berbincang topik berat dengan penumpang
    • Merokok
    • Melihat TV atau mengganti kaset/CD Audio

    Statistik menunjukkan gangguan-gangguan internal ini dapat meningkatkan risiko kecelakaan akibat kehilangan konsentrasi. Aktivitas-aktivitas tersebut nampak ringan, tapi memang hanya dibutuhkan beberapa detik untuk sebuah kecelakaan. Mengemudi membutuhkan konsentrasi tinggi, oleh karena itu hilangkan gangguan apapun semaksimal mungkin.

  5. Tidak menjaga jarak aman dan terlalu mengandalkan rem
    Tips5Seringkali kita terlalu percaya diri mengikuti kendaraan di depan kita dengan jarak yang minimal. Kita terlalu percaya diri dengan kecepatan kita merespon kendaraan depan yang berhenti mendadak. Kita terlalu percaya diri dengan kemampuan rem kendaraan kita. Setelah terjadi kecelakaan akibat jarak yang terlalu dekat tersebut, kita bingung kemana hilangnya kepercayaan diri kita tadi.
    Prinsip sederhana mengenai ruang kosong antara kendaraan kita dengan kendaraan lain, baik di depan, belakang, kanan, dan kiri adalah semakin besar ruang yang tersedia, semakin banyak waktu untuk bereaksi dan menghindari kecelakaan.
    Berdasarkan penelitian, setidaknya dibutuhkan waktu 3 detik untuk bereaksi jika kendaraan di depan kita berhenti secara mendadak, yakni:

    • 1 detik waktu reaksi manusia,
    • 1 detik waktu pengereman, dan
    • 1 detik waktu cadangan (safety factor).

    Bagaimana menghitung 3 detik ini? Cara sederhana adalah dengan membuat patokan objek diam di pinggir jalan yang telah dilewati kendaraan di depan kita. Misalnya pohon atau tiang listrik. Begitu kendaraan di depan kita melewati objek tersebut, kita mulai menghitung: “Seribu dan satu”, “Seribu dan dua”, dan “Seribu dan tiga”. Kira-kira “Seribu dan satu” ini lebih dekat ke nilai satu detik ketimbang “Satu”, “Dua”, dan “Tiga”.
    Jika sampai “Seribu dan tiga” kendaraan kita pas melewati objek atau kurang, maka kita sudah berada di jarak yang relatif aman dengan kendaraan depan. Demikian sebaliknya, jika jarak kita kurang dari 3 detik, maka sebaiknya kita mengurangi kecepatan untuk memenuhi jarak aman ini. Tidak peduli berapa kecepatan kita, karena waktu 3 detik ini pun akan menghasilkan jarak yang berbeda seiring kecepatan kendaraan.
    Jika kondisi jalan licin atau cuaca sedang hujan, maka kita dapat menambahkan hingga 4 sampai 6 detik.
    Ingat, ruang aman di sekitar kendaraan kita merupakan waktu yang kita butuhkan untuk bereaksi jika keadaan darurat terjadi. Semakin besar ruang aman, semakin banyak waktu yang kita miliki.

  6. Mengoptimalkan kecepatan persneling
    Tips6Sudah tips ke-6, masih kuat? Hehehe. Kapan saat/kecepatan yang tepat untuk memindahkan perseneling dari rendah ke tinggi? Dalam kaitannya dengan penghematan bahan bakar, sebaiknya kita memindahkan persneling saat putaran mesin berada di antara 1500-2500 rpm (putaran per menit). Hal ini disebabkan mesin dengan bahan bakar bensin rata-rata bekerja optimal di putaran tersebut. Jika putaran terlalu tinggi, hal ini menyebabkan bahan bakar cepat terbuang, sedangkan jika terlalu rendah dapat menyebabkan mesin kehilangan torsi sehingga butuh injakan pedal gas yang lebih dalam, yang berarti lebih banyak pula bahan bakar yang digunakan. Oleh karena itu, kita berusaha untuk melaju sekonstan mungkin dan menghindari akselerasi mendadak atau pengereman yang berlebihan.

  7. Memanfaatkan momentum gerak kendaraan
    Tips7Saat mendekati lampu merah atau berbelok, seringkali kita tidak sabar dan tetap memacu kendaraan, lalu berhenti dengan cepat menggunakan rem. Kebiasaan ini ternyata berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar dan cepat mengurangi ketahanan rem. Hal ini dapat kita ubah dengan memanfaatkan momentum gerakan kendaraan yang masih tersisa dari kecepatan sebelumnya.
    Biarkan kendaraan kita menggelinding tanpa injakan gas sehingga mendekati lampu merah / belokan, kecepatan yang sudah jauh berkurang tersebut dapat menghemat penggunaan rem. Buat apa memacu kendaraan yang tidak lama lagi harus berhenti??
    Selain itu, kita dapat menggunakan engine break ketimbang rem jika menghadapi jalan yang turun. Engine break secara prinsip adalah menurunkan persneling untuk menurunkan kecepatan. Teknik ini lebih aman daripana menggunakan rem untuk mengurangi laju kendaraan yang sedang dalam persneling tinggi.

  8. Tetap menyalakan mesin saat berhenti
    Tips8Mesin yang tetap menyala dari sekian banyak kendaraan yang sedang berhenti di lampu merah jelas menambah tingkat polusi, selain memboroskan bahan bakar. Jika kendaraan kita berhenti lebih dari 20 detik, maka akan lebih ekonomis bila kita mematikan mesin. Kondisi ini sering kita rasakan di pemberhentian lampu merah, kemacetan lalu lintas, perlintasan kereta api, atau menurunkan orang / barang dari kendaraan. Mematikan mesin tidak akan merusak atau mengurangi umur dari motor starter.
    Sebagai ilustrasi, mesin hidup dan diam selama 3 menit sama artinya dengan mengemudi 1 kilometer dengan kecepatan konstan 50 km/jam. Mematikan mesin saat menunggu tentu dapat menghemat bahan bakar dan membuat kendaraan kita mampu menempuh jarak yang lebih jauh, selain mengurangi polusi.

  9. Jarang melakukan pengecekan kondisi mobil
    Tips9Ada berapa banyak pengemudi yang memahami cara kerja kendaraannya? Dari jumlah tersebut, berapa banyak yang mengetahui apa yang harus dilakukan bila sistem kendaraannya tidak berjalan sebagaimana mestinya? Saya rasa sebagian besar kita tidak termasuk yang pertama, apalagi yang kedua. Sebagian besar kita hanya bisa mengemudi, tapi tidak memahami bahwa kendaraan, layaknya mesin apapun, butuh perawatan dan pengecekan berkala. Kita terlalu percaya diri atau cuek dengan kondisi kendaraan. Hal ini dapat diperbaiki dengan beberapa pengecekan ringan setiap kali kita berkendara. Ya, itung-itung rasa terima kasih kita terhadap kendaraan yang sudah berjasa mengantar kita ke sana ke mari. Pengecekan yang kita lakukan dapat mendeteksi kerusakan sejak dini agar kerusakan yang parah tidak terjadi.

    • Pengecekan Eksternal

      • P: Petrol = Bahan bakar
      • O:Oil = Minyak mesin, transmisi, rem, power steering
      • W:Water = Air pembersih kaca, pendingin
      • E:Electricals = Sistem kelistrikan
      • R:Rubber = Karet selang, karet wiper
    • Pengecekan Internal
      Pengecekan ini dilakukan terhadap bagian dalam kendaraan, seperti kaca spion, alat kontrol, rem parkir, lampu-lampu, dan sebagainya.
    • Perawatan Ban
      Apa arti penting ban? Sadarilah bahwa ban adalah satu-satunya bagian kendaraan kita yang langsung bersentuhan dengan permukaan jalan. Kondisinya harus terus dijaga, agar jangan sampai terjadi kasus kecelakaan fatal yang sering kita dengar: pecah ban di jalan tol. Pecah ban ini terjadi sebagian besar karena tekanan ban lebih rendah daripada yang seharusnya (under pressure). Tekanan udara yang rendah pada ban akan menyebabkan ban sering ‘terlipat’ di sisi sampingnya, yang menyebabkan ketahanan karetnya cepat habis karena sering mengalami tekanan dari bobot kendaraan yang sedang melaju. Sebagai informasi, bagian samping adalah bagian yang terlemah dari sebuah ban.
      Oleh karena itu, jagalah tekanan ban sesuai dengan standar tekanan yang tertera pada stiker di dekat pintu mobil pengemudi. Tekanan dapat ditambah 2-3 psi jika mengangkut beban berat atau akan melaju di jalan tol. Selain itu, mengingat harga ban yang tidak murah, sebaiknya kita rajin merawatnya.
  10. Membawa beban berlebihan
    Tips10Kelebihan beban dapat memboroskan bahan bakar dan mengurangi usia shock breaker. Sebagai gambaran, setiap penambahan beban 20 Kg, konsumsi bahan bakar akan meningkat 1%. Selain itu, kelebihan beban dapat mengurangi kemampuan kendaraan untuk merespon pengereman mendadak.

Demikian beberapa tips yang berguna untuk menyelamatkan nyawa kita dan nyawa kendaraan kita. Secara bertahap kita dapat menjadikan tips-tips tersebut sebagai kebiasaan baru kita dalam berkendara. Sesuai slogan DSFL:

Smart Driving, Protecting Lives, Saving Fuel

Menutup tulisan ini, sekaligus sebagai semacam shock therapy (seperti yang dilakukan pada pelatihan DSFL), coba saksikan video berikut. Dengan cara berkendara yang aman dan benar, semoga kejadian seperti ini tidak akan menimpa kita, baik kita sebagai pengemudi maupun penyeberang jalan. Selamat berkendara :)

Referensi:
  • Gambar diambil dari sini.
  • Penjelasan tips sebagian diambil dari buku panduan DSFL.
22
Oct
09

Sketsa Masa Depan

Kita mafhum bahwa mayoritas usaha skala kecil atau menengah tidak membutuhkan gedung besar. Cukup dalam bentuk rumah tinggal, operasional kantor bisa berjalan. Apalagi untuk usaha di bidang IT (konsultan IT merangkap software house), infrastruktur yang dibutuhkan tidak menuntut berbagai hal untuk disiapkan. Ditambah koneksi internet, rumah tinggal dapat dijadikan kantor yang menaungi sekian karyawan yang berkutat dengan komputernya setiap hari kerja. Saking sederhananya infrastruktur yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk-produk IT sejenis perangkat lunak, seorang dosen pernah berkelakar bahwa untuk membuat perangkat lunak cukup bermodal komputer dan nasi saja. Maksudnya, nasi untuk makan si programmer. Mengapa? Hampir semua bahan baku pembuatan perangkat lunak berwujud ‘gaib’ mulai dari file dalam satuan bit sampai Gigabyte hingga knowledge yang dimiliki oleh programmer yang berguna dalam penyusunan algoritma program sesuai fungsi perangkat lunak yang dikehendaki. Maka yang tidak gaib hanya komputer dan nasi yang dimakan si programmer tersebut. Selebihnya seperti dianggap intangible asset, karena agak butuh waktu untuk menaksir nilainya dalam rupiah. Misalnya, berapa harga perangkat lunak untuk optimasi proses produksi yang terdiri dari sekian ribu baris kode? Atau berapa harga knowledge yang menjadi inti sebuah core banking? Tidak mudah. Saya juga heran kenapa jadi membahas ini, padahal tulisan ini intinya bukan tentang itu.

Alkisah suatu hari datang kabar bahwa kantor membuka cabang baru yang letaknya tidak jauh dari kantor utama. Wah, alhamdulillah, selamat! Ekspansi pertanda bisnis sedang bagus. Kapasitas produksi meningkat, klien bertambah, dan produk semakin berdiferensiasi serta teruji kualitasnya. Selang beberapa hari, saya baru sempat melihat rumah yang dijadikan kantor baru ini. Maklum, masih soft launching, jadi belum ada acara gunting pita atau makan dan doa bersama yang mengumpulkan semua stakeholder. Saat tiba di depan rumah kantor ini (bisakah disebut ruko? apa ruko harus terkumpul bersama dan bentuknya seragam?), saya seperti mengalami Deja Vu. Kaget sekaligus takjub. Rasanya rumah ini pernah terlintas dalam memori saya sekian bulan yang lalu.

Suatu hari saya sedang mencari pencerahan dan sedikit relaksasi. Bagi sebagian orang, menggambar dapat membantu hal tersebut. Maka saya pun menggaet pensil dan kertas gambar, lalu mulai mencari objek gambar. Mencari objek gambar ini perlu pertimbangan estetis dan pragmatis. Estetis bahwa si objek haruslah unik dan menarik untuk digambar, dan pragmatis bahwa untuk menggambarnya tidak harus sampai basah kuyup atau terbakar matahari. Singkatnya, menggambar objek yang menarik dengan nyaman. Setelah sedikit berkeliling, pilihan objek gambar jatuh pada sebuah rumah yang letaknya dekat dengan sebuah kantor RW yang di luarnya tersedia bangku kayu. Ah, momen dan infrastrukturnya sudah cukup artistik. Saatnya menggambar sketsanya. Saat itu tak ada pikiran apapun. Hanya berusaha menggambar dengan baik. Mengapa rumah itu? Feeling saja. Bentuknya agak unik dan tempat menggambarnya nyaman. Sudah, itu saja.

Sudah bisa menebak rumah apa yang saat itu saya gambar? Betul sekali, rumah tersebut tak lain dan tak bukan adalah rumah yang sekian bulan berikutnya menjadi cabang kantor kami. Kebetulan? Bisa jadi, tapi apa guna dan manfaatnya sebuah kebetulan? Melihat kejadian sebagai kebetulan seperti merasakan kehidupan diatur dengan melempar dadu. Takdir? nah, ini lebih menarik. Kita yakin tidak ada yang namanya kebetulan. Segala sesuatunya terjadi dan ditakdirkan demikian oleh Allah dengan sebab dan pengaturan tertentu.

Hal ini nampak jelas jika mencoba melihat ke belakang tentang komponen-komponen penyusun sebuah kejadian. Andai salah satu komponen tersebut tidak diatur pada posisi tertentu, maka kejadian yang dihasilkan pun akan lain. Misalnya, jika hari itu hujan, maka aktivitas relaksasi saya bisa jadi tidur setelah menyeruput secangkir teh hangat. Jika tak ada kursi kayu di kantor RW itu, bisa jadi saya memilih objek yang lain. Jika di depan rumah itu ada penghuninya yang sedang membereskan tanaman, maka saya juga akan memilih objek lain. Oya, ini salah satu alasan saya memilih rumah ini, agar jangan sampai dicurigai orang. Dicurigai sebagai anggota dari komplotan garong yang sedang mengintai rumah sambil memetakan cara dan waktu yang tepat untuk menyatroni rumah tersebut di malam harinya. Dan jika saya tidak sedang tertarik belajar membuat sketsa, maka objek gambar pun tak akan tercipta.

Baiklah Gung, jadi ini sebuah takdir. Tapi takdir apa? Kalau ada pesan, apa pesannya? Nah, kalau yang ini kita hanya punya kuasa menebak-nebak. Sempat terpikir di awal sebuah pola sederhana. Saya gambar rumah. Tak lama rumah dimiliki kantor. Polanya: Saya menggambar sesuatu yang kelak akan dimiliki atau ditempati. Menarik! Mulailah imajinasi bergulir. Selanjutnya saya akan menggambar rumah yang lebih besar dan mewah. Kalau perlu istana. Saya akan menggambar mobil BMW. Saya akan menggambar pesawat jet. Saya akan menggambar seorang… ah tidak jadi. Saya akan menggambar… surga? Amiiin. Tapi ngawur, mana bisa digambar?? Bukankah surga terlalu indah untuk dipandang? Keindahan yang belum pernah dilihat mata? Ini pola sederhana yang sungguh sangat menarik. Sesaat saya merasa seperti Nobita yang memiliki pensil ajaib yang dimantrai Doraemon. Atau seperti robot cerdas yang mampu menggambar masa depannya sendiri (film i-robot). Ah, atau (tiba-tiba teringat) munculnya bayangan penaklukan Romawi dan Persia saat Rasulullah memukul batu keras saat membuat parit di Perang Khandaq (Perang Ahzab). Luar biasa!

Sesakti itukah? Entahlah, allahu a’lam. Yang jelas saya mengalami pengalaman yang mungkin menjadi inspirasi adegan di i-robot tadi. Visualisasi masa depan memang selalu menarik. Berbagai ramalan dengan berbagai metode oleh berbagai peramal memenuhi berbagai literasi berbagai zaman di berbagai tempat (wah, pengulangan kata ‘berbagai’nya menyebalkan). Manusia memang selalu ingin tahu nasibnya di masa depan yang penuh misteri (gaib). Walaupun demikian, diwanti-wanti agar tidak jadi banyak berangan-angan lalu malas berusaha. Masa depan bergantung pada amal manusia tanpa terlepas takdir Allah. (Hei, siapa yang tahu takdir Allah? Bukankah kita harus tetap optimis dan menyempurnakan amal?)

Tapi ada yang lebih menarik lagi. Mari kita kembali ke rumah ini. Setelah memasukinya, saya mengalami perasaan yang lain lagi. Rumah ini jelas dirancang dengan ilmu arsitek dan desain interior yang baik. Ada taman dan kolam ikan di dalam. Ada desain gaya minimalis-keren di interior dan eksteriornya. Ada sentuhan seni yang membuat rumah berbentuk huruf “L” ini (tampak atas) terasa asri dan sejuk.

Baiklah, lalu? Lalu?? Bagaimana tidak menarik saat saya menemukannya dalam keadaan sedang tertarik dunia arsitektur dan desain interior? Apakah ada pesan tersembunyi di balik rumah ini? Adakah ia memberikan sedikit potongan kejadian masa depan lainnya? Adakah sesuatu yang harus dijadikan perhatian lebih dibanding lainnya? Saya mulai sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak bisa dibuktikan selain dengan tindakan. Tak ada gunanya berimajinasi tanpa bertindak, bukan? Tapi setidaknya, rumah ini menambah tempat-tempat yang mempunyai arti khusus bagi saya. Nah, sekarang apa sebaiknya saya mulai menggambar istana-istana megah bertaman luas berikut segala isinya? Hehehe. Mungkin Anda juga tertarik untuk mencobanya :)

Berikut sketsa rumah tersebut,

A House Near Office

17
Oct
09

Sketsa cepat: Gedung HSBC

SCAN0203

Selalu ada saatnya dalam perjalanan kita melihat sesuatu yang sayang untuk tidak diabadikan dalam bentuk foto atau gambar. Malang pada saat tersebut kita meninggalkan kamera yahud 18 megapiksel DSLR kita di rumah (halah, seperti punya saja :P ). Yang kita bawa di tas (dan bisa untuk mengabadikan gambar) hanya beberapa lembar kertas dan pena. Maka tidak ada pilihan lain selain mengerjakan sketsa cepat dengan kertas dan pena tersebut. Soal hasil, ya jelas DSLR bewarna dan realisitis. Tapi jangan lupakan kesan artistik dan simpel dari sebuah sketsa. Dan karena dibuat dengan pena, tentu tekstur dan gelap-terangnya tidak mampu dihadirkan layaknya menggunakan media pensil. Maka inilah sketsa cepat gedung HSBC di Jl. Sudirman, Jakarta Pusat yang digambar di malam hari (mana kelihatan di sketsa ?? hehe).

Mengapa gedung ini cukup menarik untuk diabadikan? Arsitekturnya unik, karena mengkombinasikan bentu-bentuk silinder, lingkaran, setengah lingkaran bersama balok serta persegi. Dan yang paling memikat di malam hari, tentu saja logo HSBC yang menjadi judul bangunan ini. Dilatarbelakangi cahaya putih, font hitam bergaya serif dan simbol segitiga-segitiga bewarna merah-putih itu nampak ‘bersinar’. Ditempatkan dengan apik di tengah dinding bangunan setengah silinder itu, maka lengkaplah citra elegan dan profesional perusahaan yang bergerak di bidang jasa perbankan ini. Setuju? :)




My Facebook

Agung Prasetyo

Driving Skills For Life (DSFL)

kontes

Halaman

Arsip

Kategori

Butuh layanan software open source?

Kunjungan

  • 21,895 klik

Advertisements & Awards

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia