Culture Shock
Berikut ini saya alihbahasakan dari panduan Beasiswa Erasmus Mundus untuk Mahasiswa di sini.
Riset terhadap efek psikologis dari hidup (dan belajar) di negeri orang menunjukkan beberapa tahap penyesuaian budaya, yakni:
- Honeymoon (Bulan Madu)
Anda kagum bukan main dengan negara yang Anda datangi, dan berharap yang indah-indah tentangnya. Segala perbedaan antara budaya dari negara asal dengan negara asing ini nampak begitu positif. Anda mengambil foto dari setiap bangunan yang indah (dan membaginya di Facebook, tentu saja –ini komentar pribadi
), mencoba berbagai macam makanan dan minuman lokal, serta berpetualang ke tempat-tempat yang menarik. Anda merasa sangat bahagia. - Rejection (Penolakan)
Anda mulai menetap, menjalani rutinitas, dan mulai menghadapi kesalahpahaman. Anda merasa tidak kompeten dan mulai melihat kekurangan negeri baru ini. Anda mulai tidak memahami perilaku penduduk lokal saat mereka menunjukkan sikap cuek dan tidak senang berkawan dengan Anda. Anda mulai merasa rindu kampung halaman saat segala sesuatunya mulai berjalan baik. Saat ini wajar jika Anda membuat stereotip terhadap orang-orang Jerman/Belanda/Spanyol/Swedia sebagai orang-orang yang kasar/tertutup/gila/bodoh/arogan…(hey, saya hanya pengalihbahasa…). - Recovery (Pemulihan)
Anda mulai menyadari perbedaan budaya yang ada. Anda menerimanya, dan beberapa perilaku Anda mulai berubah menyesuaikan perbedaan tersebut. Anda merasa sudah menjadi bagian dari komunitas yang baru. Anda memahami bagaimana kehidupan berjalan di sana sehingga Anda merasa tidak dikucilkan. - Adjusment (Penyesuaian)
Anda merasa nyaman dan menjalani rutinitas dengan baik. Anda mulai memahami latar belakang munculnya stereotip yang pernah Anda pikirkan sebelumnya.
Tak diragukan lagi setiap orang akan mengalami beberapa fase penyesuaian budaya dalam waktu yang berbeda-beda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Tingkat intensitas masing-masing fase bergantung pada tipe kepribadian, pengalaman hidup, kondisi keuangan, hubungan kekeluargaan, tingkat pendidikan, dan kemampuan berbahasa.
Beberapa hal berikut dapat Anda lakukan untuk menghindari dampak negatif benturan kebudayaan:
- Pelajari bahasa yang digunakan di negara tersebut dan bergabunglah dengan komunitas masyarakat. Semakin sering Anda mencoba, semakin baik Anda memahami alasan yang mendasari sikap tertentu dari penduduk lokal.
- Bersikaplah positif, tetap optimis, dan bangunlah sense of humour. Kritik Anda tidak akan mengubah budaya negara tersebut. Jadi, daripada pusing, lihatlah sisi positifnya, dan cobalah menertawakannya.
- Tetaplah berhubungan dengan keluarga dan teman di negeri asal. Dengan berbagai macam teknologi yang tersedia, Anda akan mudah untuk berbagi dan mendengar kabar dari orang-orang yang Anda sayangi. Hal ini berguna untuk mengusir kesepian dan perasaan tidak mengikuti perkembangan di negeri asal Anda.
- Berolahraga. Tanpa Anda sadari, tubuh dan otak Anda sedang berada dalam kondisi tertekan saat Anda belajar (yang memang sudah susah) di negeri asing (tambah susah) dengan bahasa asing (makin tambah susah ++). Bantulah tubuh Anda untuk menjaga daya tahannya. Itu akan membantu meningkatkan gairah Anda.
- Jadilah proaktif. Selain mengatur waktu untuk belajar, jangan lupakan aktivitas ekstrakurikuler, aktivitas sosial bersama teman, dan jalan-jalan.
- Alokasikan waktu untuk melakukan refleksi. Hal ini berguna untuk menemukan masalah-masalah pribadi yang tersembunyi, yang butuh ditangani segera. Dengan ini, Anda dapat menemukan sikap terbaik untuk membuat waktu belajar di negeri orang terasa menyenangkan.
Menarik, bukan?
Wisata Taman Nasional Pulau Komodo
Bagi Anda yang gemar bepergian, Anda pasti tak ingin melewatkan objek wisata yang mengesankan di seluruh penjuru nusantara. Berpetualang ke pulau-pulau yang eksotis, menyelami birunya laut, dan bermandikan cahaya mentari akan membuat liburan Anda tak terlupakan. Bayangkan, Anda juga berkesempatan untuk melihat jejak-jejak kehidupan masa lalu yang terpelihara, sekaligus berperan serta menjaga kelestariannya. Anda dan keluarga tak hanya betah menikmati wisata alamnya, tetapi juga bangga menjadi bagian dari ragam keindahan Indonesia. Dan di sini, di Taman Nasional Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, Anda akan mendapatkan semuanya.
Pulau Komodo terletak di ujung paling barat Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tepatnya di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Sejak tahun 1980, kawasan seluas 1.817 km2 ini dijadikan Taman Nasional oleh Pemerintah Indonesia, yang kemudian diakui UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada 1986. Bersama dua pulau besar lainnya, yakni Pulau Rinca dan Padar, Pulau Komodo dan beberapa pulau kecil di sekitarnya terus dipelihara sebagai habitat asli reptil yang dijuluki “Komodo Dragon” ini.
Menyandang nama latin Varanus Komodoensis dan nama lokal “Ora”, kadal raksasa ini menurut cerita dipublikasikan pertama kali pada tahun 1912 di harian nasional Hindia Belanda. Peter A. Ouwens, direktur Museum Zoologi di Bogor adalah orang yang telah mengenalkan komodo kepada dunia lewat papernya itu. Semenjak itu, ekspedisi dan penelitian terhadap spesies langka ini terus dilakukan, bahkan dikabarkan sempat menginspirasi Film KingKong di tahun 1933. Menyadari perlunya perlindungan terhadap Komodo di tengah aktivitas manusia di habitat aslinya itu, pada tahun 1915 Pemerintah Belanda mengeluarkan larangan perburuan dan pembunuhan komodo.
Berkat usaha pemerintah dan masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian Taman Nasional, wisatawan yang datang kini dapat berkunjung dan melihat dari dekat kehidupan reptil purba ini. Dengan panjang tubuh 2-3 meter, komodo dapat memiliki berat hingga 70-100 kilogram. Hewan yang menyukai tempat panas dan kering ini hidup di habitat sabana atau hutan tropis pada ketinggian rendah. Jika malam tiba, komodo bersarang di lubang dengan dalam 1-3 meter sambil menjaga panas tubuhnya di malam hari. Sebagai karnivora yang berada di puncak rantai makanan, mangsa Komodo antara lain kambing, rusa, babi hutan, dan burung. Pada kondisi tertentu, Komodo dapat berperilaku kanibal dengan memangsa Komodo lainnya. Dengan mengandalkan indera penciuman pada lidahnya, komodo dapat mencium bangkai mangsanya hingga sejauh 9 kilometer. Gigitannya yang mengandung bisa dan bakteri yang mematikan, ditambah cakar depannya yang tajam merupakan senjata alaminya. Selain itu, komodo ternyata mampu berlari 20 kilometer per jam dalam jarak yang pendek, memanjat pohon, berenang, bahkan menyelam.
Layaknya reptil lain, komodo berkembang biak dengan bertelur. Walaupun demikian, penelitian membuktikan terdapat cara lain komodo melakukan regenerasi, yakni dengan cara partenogenesis. Cara ini memungkinkan komodo betina untuk menghasilkan telur tanpa dibuahi oleh jantan. Partenogenesis diduga telah menyelamatkan komodo dari kepunahan sejak ribuan tahun silam. Akan tetapi, kerusakan habitat, aktivitas vulkanis, gempa bumi, kebakaran, sampai perburuan gelap terindikasi telah mengakibatkan penurunan jumlah populasi komodo sampai taraf rentan terhadap kepunahan. Diperkirakan terdapat 4-5 ribu ekor komodo dengan keberadaan betina yang produktif hanya berjumlah ratusan. Kondisi demikian merupakan tantangan bagi usaha konservasi Taman Nasional Pulau Komodo.
Menikmati wisata Taman Nasional Pulau Komodo dengan mengamati kehidupan komodo dari dekat mungkin belum cukup bagi Anda. Bagi Anda yang hobi dengan olahraga air, Anda dapat mencoba melakukan penyelaman di perairan utara maupun selatan kepulauan ini. Perairan utara merupakan perairan hangat hasil pertemuan arus dari Laut Banda dan Flores. Sebaliknya, perairan selatan menawarkan perairan dingin dari arus Samudera Indonesia. Kombinasi kedua karakter perairan yang berbeda ini menghasilkan ekosistem bawah laut yang kaya. Berbagai macam jenis terumbu karang hidup subur dan menjadi tempat hidup sekian banyak spesies ikan sekaligus penyedia sistem penunjang kehidupan air laut. Banyak penyelam telah menyaksikan kehidupan bawah laut perairan pulau Komodo yang memesona, yang menyimpan berjuta potensi keanekaragaman hayati.
Sebagai salah satu objek wisata andalan Indonesia, Pulau Komodo menyediakan akomodasi mulai dari pondokan yang didirikan masyarakat setempat sampai resort bertaraf internasional. Bagi wisatawan domestik, Anda dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp. 75.000, sedangkan wisatawan asing sebesar US$ 15. Untuk mencapai Pulau Komodo, Anda dapat melalui rute pesawat dari Kupang (ibukota Nusa Tenggara Timur-NTT) ke kota Ende di Pulau Flores. Berikutnya perjalanan dilanjutkan dengan minibus ke Labuhanbajo yang memakan waktu 10 jam. Dari Labuhanbajo, speedboat akan membawa Anda ke Pulau Komodo setelah menempuh penyeberangan selama 2 jam. Beberapa rute lainnya dapat Anda tempuh dengan penerbangan dari Bali sesuai maskapai penerbangan yang melayani tujuan ke NTT. Berbagai paket wisata yang ditawarkan agen wisata rasanya cukup menarik untuk dicoba bagi Anda yang baru pertama kali mendatangi Pulau Komodo ini.
Eco-wisata yang dicanangkan pemerintah terhadap Taman Nasional Pulau Komodo ini diharapkan mampu mendatangkan lebih banyak lagi wisatawan domestik / manca negara. Tidak hanya orang tua, bahkan anak-anak sekalipun tidak perlu takut untuk datang dan berkunjung ke sana. Dengan peraturan dan keamanan berwisata yang terjaga, manusia dan Komodo dapat hidup berdampingan dengan damai. Dan layaknya anak-anak, kecintaan mereka terhadap Komodo merupakan benih-benih yang dapat menumbuhkan kecintaan mereka pada kekayaan negeri dan sejarahnya. Nampaknya pesan inilah yang dulu di tahun 90-an pernah dibawakan dengan apik oleh Kak Seto lewat boneka Si Komo-nya. Lewat karakter Si Komo, Kak Seto membawa pesan pelestarian komodo ke hati dan pikiran anak-anak Indonesia, agar mereka bangga dengan kekayaan negerinya.
Jika demikian, sangat layak kiranya Taman Nasional Pulau Komodo diangkat menjadi salah satu dari 7 Keajaiban Alam (7 Wonders Of Nature), bersanding dengan beragam keajaiban dunia lainnya yang mengagumkan. Jejak-jejak kehidupan dunia purba telah menyajikan dirinya kepada manusia hari ini untuk becermin melihat sejarah dunia masa lalu. Kehidupan yang telah melewati ratusan, bahkan ribuan tahun. Lewat Taman Nasional Pulau Komodo ini, dunia hari ini memiliki warisan yang tak ternilai harganya untuk dilestarikan. Mari dukung Taman Nasional Pulau Komodo menjadi satu dari 7 Keajaiban Alam. Dengan demikian, Anda telah berpartisipasi dalam usaha memperkenalkan Taman Nasional Pulau Komodo kepada dunia, sehingga upaya pelestarian ini tidak hanya menjadi perhatian bangsa Indonesia, tapi seluruh masyarakat dunia. Vote Taman Nasional Pulau Komodo for 7 Wonders of Nature.
Jadi, sudahkah Anda memutuskan tujuan wisata keluarga di liburan kali ini? Tentu, Taman Nasional Pulau Komodo jawabannya. Hanya satu-satunya di dunia. Hanya di Indonesia.
——————
Beberapa gambar diambil dari sini.
Kunjungi situs:

Outliers: Tentang Hutang Budi
Buku “International Best Seller” ini adalah buku ketiga Malcolm Gladwell setelah “Blink” dan “Tipping Point” (sudah baca kan? ah tak apa, saya juga belum). Genre buku ini (baca di sampul belakangnya, terbitan Gramedia) tertulis “Non Fiksi-Psikologi Sosial”. Lalu baca tulisan di halaman depannya dan tulisan dengan maksud yang sama di banner yang berada di toko buku. “Rahasia Di Balik Sukses”. “Ternyata tanggal kelahiran mempengaruhi kesuksesan Anda”. Apa yang Anda pikirkan? Ah, lagi-lagi kiat-kiat sukses. Betul, memang ini lagi-lagi. Bedanya, sesuai genre “Psikologi Sosial” tadi, kesuksesan dianalisa dengan variabel yang lebih kompleks ketimbang sekedar rumus generik sukses seperti kerja keras-cerdas dan banyak berdoa. Ow, bagaimana ceritanya?
Alkisah kesuksesan punya wujud yang berbeda-beda, yang tentu saja tidak datang pada setiap orang, pada setiap waktu. Singkatnya, orang-orang yang kebagian sukses tersebut, bisa dikatakan datang pada saat yang tepat, di tempat yang tepat, keahlian yang tepat, dan jangan lupa, dengan latar belakang keluarga yang tepat juga. Berbagai kombinasi ketepatan inilah yang dibahas secara menarik (terima kasih pada hasil terjemahannya yang apik) pada sembilan bab di buku ini. Disertai kisah riwayat hidup orang-orang yang dijadikan studi kasus kesuksesan (merekalah yang disebut outliers), pembaca diantarkan menuju analisis-analisis dan hasil penelitian yang menyimpulkan penyebab kesuksesan mereka (dan hey, ada Steve Jobs dan Apple-nya di sana!).
Dibagi dalam dua bab besar, yakni “Kesempatan” dan “Warisan Budaya”, kesuksesan outliers menemukan kunci-kunci pentingnya (saya rasa beberapa hal dari buku “Tipping Point” cukup berguna di sini). Sebut saja Bill Gates yang mendapatkan serangkain ‘keberuntungan’ lahir di tahun yang tepat, tinggal dan sekolah di tempat yang tepat (tentu sebelum dia drop-out), ditambah bakat dan kerja kerasnya. Paman Bill bahkan mengakui keberuntungannya itu (ok, baiklah jika Anda lebih nyaman dengan kata ‘takdir’. Buku ini menyebutnya ‘kesempatan’). Lalu ada lagi tentang rahasia kecerdasan matematika anak-anak Asia (sayang sekali, Indonesia belum masuk hitungan) yang secara umum lebih baik daripada anak-anak Amerika. Yang ini masuk kategori ‘Warisan Budaya’. Demikian seterusnya dengan contoh-contoh lainnya yang sayang untuk tidak dibaca sampai habis.
Lalu pelajaran apa yang bisa diambil dari buku ini untuk kehidupan kita? Bagi saya setidaknya ada beberapa hal, yakni:
- Teruslah berlatih. Oya, saya lupa menyebutkan kaidah 10.000 jam latihan (yang kira-kira 4 jam per hari selama sepuluh tahun) yang harus dilalui orang-orang untuk menjadi outliers. Para outliers di buku ini telah berlatih kira-kira selama waktu itu sebelum mereka bertemu dengan kesempatan yang melambungkan nama mereka. Lalu bagaimana jika rasanya kita sudah terlalu ‘tua’ untuk itu? Maaf kawan, tak ada ampun. Eh, maksudnya dimulai saja menyisihkan waktu itu sekuat tenaga selama masih ada umur. Itulah mengapa latihan sejak kecil dibutuhkan. Kalau sudah usia tanggung, sudah banyak urusannya. Apalagi sudah menikah dan punya anak, beda lagi ceritanya.
- Masukan bagi kurikulum pendidikan sekolah (nah, datang lagi). Sehubungan dengan faktor tanggal lahir yang dibahas di sini (baca sendiri ya), ada kiranya keinginan untuk meninjau ulang sistem pendidikan yang secara seragam mengelompokkan anak-anak yang berusia sama (dengan kemungkinan perbedaan bulan kelahiran yang jauh) untuk disatukan dalam sekali masa penerimaan dalam setahun. (lihat, anak kalimat yang terlalu panjang memang membingungkan. Lengkapnya baca di buku saja ya).
- Banyak-banyak berdoa. Walaupun tidak secara tersurat disarankan di buku ini, perihal bab ‘Kesempatan’ tadi jelas urusan Takdir Allah SWT. Kita tidak tahu yang gaib di masa depan, yang bisa jadi merupakan kesempatan emas bagi kita untuk menyemai benih-benih kesuksesan yang sudah ditanam sebelumnya. Mungkin Paman Bill seharusnya bilang “Aku sangat bersyukur” ketimbang “Aku sangat beruntung”.
- Kita jelas berhutang budi pada orang tua kita, orang tua dari orang tua kita, sampai orang tua dari orang tuanya orang tua kita (heh, capek). Berkat usaha, kesempatan, dan warisan budaya merekalah kita akhirnya bisa dilahirkan dalam lingkungan yang kita syukuri hari ini. Terlepas dari kekurangan yang ada, mereka telah membawa kita yang datang kemudian, ke dalam masa-masa yang mudah untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan. Oya, sebenarnya kerusakan lingkungan juga kita rasakan, tapi sudahlah. Intinya, kita berhutang budi yang katanya, dibawa mati. Jadi, mari lakukan hal yang sama untuk generasi sesudah kita. Biarlah masalah hutang jasa-jasa orang tua hanya Allah Yang Bisa Membalasnya. Inilai pelajaran yang paling agung yang saya dapat dari buku ini.
Mari kita tunggu apalagi yang datang dari Malcolm Gladwell setelah Outliers ini. Sementara itu, kita masih punya pekerjaan rumah 10.000 jam (lama amat 10 tahun!) dan hutang budi pada orang tua kita. Tentu saja, tak lupa banyak berdoa. Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaa ha illallah wallahu akbar.



