Mengukur Kecerdasan: Tes Psikologi, DMI, dan lainnya

Otak Kanan-Kiri

Otak Kanan-Kiri

Bakat adalah misteri terpendam dari setiap manusia, dan cara mengukurnya bahkan lebih misterius lagi. Tidak mudah mengukur jenis dan kadar kecerdasan setiap orang. Kalaupun dapat, seberapa presisi-kah pengukuran tersebut? Satuan apa yang digunakan untuk menghitungnya? Jika kecerdasan itu terus berubah, baik tumbuh maupun berkurang, seberapa seringkah pengukuran sebaiknya dilakukan? Ah, untuk menjawabnya nampaknya kita harus minta bantuan ahlinya. Tapi setidaknya terbayang oleh kita betapa tidak mudahnya mengukur kecerdasan yang kita miliki. Padahal, sekian banyak keputusan strategis dalam hidup kita ditentukan dari seberapa baik kita mengenali diri kita. Mengenali kecerdasan kita. Semakin baik proses tersebut, semakin ‘lancar’ jalan hidup kita, sehingga semakin dekat kita dengan puncak-puncak pencapaian terbaik dalam hidup kita, yakni menciptakan mahakarya.

Tes Psikologis
Tes ini bertujuan untuk mengukur IQ, kepribadian, minat pekerjaan, emosi, interaksi sosial, intelektual (daya nalar, daya ingat, bahasa, analisis, hitungan, kemampuan abstraksi, ruang), penjurusan IPA/IPS, dan pilihan jenjang studi lanjut (kuat sampai S3 gak?).

Bagian yang paling melelahkan dari tes ini adalah penjumlahan ratusan bilangan di kertas lebar bolak-balik itu, bukan begitu? Mungkin tidak bagi yang menggemari angka-angka. Namun bagi saya, tes ini melelahkan karena kita dituntut untuk menghitung cepat dan akurat, apalagi ia disimpan di jam-jam terakhir tes. Oya, satu lagi yang menyebalkan adalah menebak tingkah laku balok hitam yang sesuka hati menempatkan dirinya di antara kumpulan balok lain yang tak utuh, setelah diputar kanan-kiri-atas-bawah. Maka indikasi itu bagi saya, jelas sekali. Saya tak berbakat menjadi arsitek atau dokter.

Dan anehnya, tes psikologi yang pernah saya ikuti mampu menebak dengan tepat jurusan kuliah yang saya inginkan. Setelah berjam-jam menjawab soal tulis, saya tidak menyangka bahwa jawaban paling ditunggu-tunggu, yakni tentang jurusan kuliah, didapatkan dari wawancara langsung dengan pertanyaan yang langsung pula, “Kamu sukanya masuk jurusan apa?”. Maka tak heran hasil tes begitu pas dengan keinginan.

Tes Sidik Jari

SIdik Jari

SIdik Jari

Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa tak perlu soal secuil pun untuk mengidentifikasi kecerdasan yang tersembunyi ini. Cukup secara sukarela menyerahkan dua telapak tangan dan sepuluh pucuk jari tangan untuk dipindai dengan pemindai sidik jari yang terhubung dengan software tertentu di laptop. Tidak sampai sejam, tes pun selesai. Hasilnya tunggu 2 minggu kemudian. Silakan pilih, laporan hasil analisisnya hendak disajikan dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Setelah laporan diterima, Anda bebas berkonsultasi dengan konsultan pengembangan diri yang juga mempunyai salinan laporan tersebut. Rahasia keluarga, tentu saja. Hebat, bukan?

Inovasi teknologi yang berkembang menjadi bisnis ini ditemukan oleh ilmuwan Singapura yang meneruskan penelitian orang selama ratusan tahun (ini kata laporannya, lho..) tentang sidik jari. Maka tak heran, citra sidik jari kita harus dikirim ke Singapura untuk proses analisisnya, mungkin ke sini.

Bagaimana cara kerja tes ‘ajaib’ ini? Entah bagaimana pastinya, namun di antaranya melibatkan ilmu statistik, medis-terutama tentang syaraf pada telapak tangan, dan bumbu rahasia perusahaan. Awalnya, saya pikir cukup dengan statistik, yakni dengan membandingkan sidik jari kita dengan sidik jari tokoh-tokoh yang terkenal dengan kecerdasan mereka di berbagai bidang, lalu dipetakan dalam bentuk grafik dan ukuran-ukuran tertentu. Walau ini tak mudah, namun nampaknya ini tidak cukup. Cara mengukur kecerdasan tokoh-tokoh itu awalnya pakai apa? Bisa jadi ilmuwan atau seniman top punya kecerdasan lain yang lebih menonjol, dan bisa pula nilai ukuran kecerdasannya akan semakin tinggi jika ia tidak mati muda. Seberapa banyak data sehingga cukup valid untuk dibanding-bandingkan? Ataukah mungkin sidik jari dalam setiap jari, sebenarnya menyimpan informasi unik dalam bentuk lengkungan, lingkaran, atau tekstur, tentang kecerdasan pemiliknya? Misterius, bukan? Nama kerennya DMI (Dermatoglyphics Multiple Intelligence).

Hasil laporannya sebagai berikut:

  • Sejarah peneliti dan penelitian sidik jari yang berhubungan dengan otak.
  • Teori kerja dan karakteristik otak kanan dan kiri.
  • Presentase dominasi penggunaan otak kiri atau kanan.
  • Nilai dan peringkat setiap kecerdasan yang delapan: logika, musikal, visual-ruang, kinestetik-jasmani, interpersonal, intrapersonal, bahasa, dan naturalis.
    Dari grafik akan nampak perbedaan kadar kedelapan kecerdasan itu pada diri kita. Sarannya, kita cukup berkonsentrasi pada peringkat 4 besar.
  • Definisi, karakter, cara peningkatan, dan karir yang tepat untuk setiap kecerdasan.
  • Bobot gaya belajar (visual, auditori, dan kinestetik) dan kepekaan belajar (seberapa cepat kita mempelajari sesuatu).
  • Gaya manajemen kerja, yakni semacam kumpulan karakter sifat, ciri-ciri negatif, bentuk komunikasi, lingkungan kerja yang sesuai, penampilan saat rapat, sikap di bawah tekanan, dan sebagainya.

Bagi saya, hasilnya cukup membesarkan hati.

Ya iyalah, siapa yang nggak senang tahu kelebihan diri yang bisa dieksplorasi lebih dalam?

Akurat-kah?

Dari delapan kecerdasan itu, kecerdasan visual-ruang saya menempati urutan 2 terendah. Cocok. Walaupun ada yang mungkin belum muncul, yakni kecerdasan naturalis yang masuk 4 besar. Jelas belum ada ketertarikan mengadopsi hewan peliharaan atau merawat kebun anggrek. Paling cukup terhibur menonton berung es yang bergumul memperebutkan wilayah kekuasaan atau perjalanan arung samudera paus bongkok mencari makanan.

‘Tes-tes’ lainnya
Beberapa bentuk tes lain berusaha mendekati pengenalan kecerdasan (bahkan nasib, rejeki, dan jodoh!) dengan cara pandang yang berbeda. Ada yang dengan membacanya dari golongan darah seperti di buku ini, menjawab pertanyaan teka-teki unik, mengitung hari lahir, sampai kombinasi nomor handphone. Ada yang ilmiah, dan ada yang ’supranatural’. Namun tidak dibahas di sini, karena sejauh ini baru 2 jenis tes ini, yang pernah saya coba, yang hasilnya detail dan dikemas dengan ’serius’.

Tapi bukankah dengan sekian banyak metode akan semakin mendekati hasil pembacaan yang ’sebenarnya’? Layaknya semakin banyak titik pada koordinat akan semakin memudahkan pencarian persamaan garis yang melewatinya? Atau proses ini sebenarnya layaknya persamaan asymtot yang selalu-mendekati-namun-tak-pernah-bertemu itu? Mungkinkah di situ tersimpan pesan bagi kita untuk tak henti ‘membaca diri’? Bagaimanapun juga, tindak lanjut setelah mengetahui sekian kecerdasan terbaik diri tidak boleh dilupakan, yakni berlatih terus menciptakan karya. Sayang sekali, untuk yang satu ini tidak ada cara lain.

Catatan:
Jika kawan-kawan tertarik mencoba DMI, silakan menghubungi Bimbingan Belajar Primagama cabang Jl. Belitung, Bandung. Primagama pusat di Yogyakarta juga bisa. Situsnya di sini. Investasinya Rp. 750.000. Relatif mahal untuk ukuran tes bakat. Relatif murah daripada waktu dan biaya yang terbuang jika ’salah’ jurusan atau ’salah’ pekerjaan.

2 comments July 24, 2008

The Right Man on The Right Place

Dan pada dirimu sendiri, tidakkah kamu memperhatikan?
(Q.S. Adz-Dzaariyat:21)

Sejak kecil, menjadi rangking 1 di kelas terasa begitu prestisius. Tidak hanya kita, orang tua pun bangga jika anaknya selalu masuk 10 besar. Wajar, sebab nilai bagus adalah jaminan masuk ke sekolah top, lalu ke universitas top. Tiket emas memperoleh kehidupan masa depan yang lebih baik. Di sana ada pekerjaan bagus, gaji memuaskan, dan jodoh yang bibit-bebet-bobot-nya baik. Begitu kira-kira.

Semakin lama semakin kita sadar bahwa masuk rangking tidak memberikan gambaran yang pas tentang diri kita yang terbaik. Mungkin rangking lebih semacam teknik motivasi dari guru sekolah agar anak didiknya bersemangat mengejar prestasi. Mengalahkan temen-temannya, lebih tepatnya. Dan menyenangkan orang tua, tentu saja. Rangking, yang ditentukan dari akumulasi nilai-nilai mata pelajaran itu, tentu berkait erat dengan sistem pendidikan kita yang berbasis nilai. Nilai pelajaran IPA, maksudnya. Nilai-nilai ini begitu memesona sehingga sistem pendidikan lebih membuat sekolah yang tumbuh, ketimbang siswanya. Indikatornya, selepas sekolah banyak siswa tidak kunjung mampu mengaktualisasikan potensinya. Tidak tahu potensi terbaiknya. Tidak punya rencana masa depan. Tidak kunjung menemukan makna keberadaan dirinya dalam hidup. Tidak tahu / yakin mau kuliah jurusan apa. Salah jurusan? ‘Salah’ pekerjaan? Silakan disensus sendiri jumlahnya.

Jika ’salah’, maka peluang terciptanya masterpiece atau karya-karya adiluhung yang menggerakkan roda peradaban dan membuat hidup bermakna, akan semakin sulit terwujud. Jika setiap orang di negeri ini mengalaminya, maka hasil akumulasinya akan membuat negeri ini minim kontribusi. ‘Pasar potensial’, demikian reputasi kita yang mendunia. “Gung, pernah kepikiran nggak untuk bikin masterpiece?”, tanya kawan saya yang multi-talented ini. Sesaat saya heran, orang sepertinya masih menanyakan pertanyaan semacam ini. Dengan kemampuannya, tentu masterpiece buatan tangannya hanya menunggu waktu. Sesaat kemudian saya sadar, pertanyaannya cukup beralasan. Kami memang tidak dibesarkan dari sistem pendidikan yang fokus membentuk kami sesuai dengan kekuatan yang kami miliki. Sekian lama kami diberi seragam untuk ‘diseragamkan’ kemampuannya. Hal ini disebabkan sistem kami tidak mampu mengelola potensi-potensi kami dengan baik. Sistem kami tidak mampu mencerna anak yang blingsatan mencari jati diri sehingga demi kemudahan segera melabelinya dengan ‘nakal’. Sistem kami tidak siap mengelola sekian banyak perbedaan manusia karena potensinya. Sistem kami tidak ‘manusiawi’, tidak membuat manusia semakin merasa menjadi ‘manusia’. Status kemanusiaan kami adalah rangking dan nilai UAN. Masterpiece? Cari di kegiatan ekstrakurikuler saja.

Kita tahu Allah membekali kita dengan kecerdasan dengan berbagai tipe. Mengapa? Untuk menjalani misi sebagai khalifah, kita akan sangat membutuhkan kecerdasan. Dan dengan alasan yang sama, setiap kita diberikan kecerdasan-kecerdasan dengan kadar yang berbeda. Mengapa? Karena setiap kita ditakdirkan mengisi ‘pos’-'pos’ khalifah yang demikian banyak. Layaknya pekerjaan, pos-pos itu membutuhkan orang yang tepat. Orang yang tahu apa yang harus dilakukan di pos itu, dan sepenuh hati melakukannya. Orang ini adalah ahlinya. The right man on the right place. Jika pos-pos tidak dijaga ahlinya, “Jika urusan tidak diserahkan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.”, demikian pesan Rasulullah.

Lihat, pekerjaan memilih orang yang tepat menjadi salah satu pekerjaan utusan Allah. Karena tanpanya, misi mulia menebar rahmat ke seluruh penjuru bumi semakin jauh panggang dari api. Dan kelak, potensi ini harus dipertanggungjawabkan. Kadar dosa kita akan dihitung dari seberapa dekat kita mampu mengaktualisasikan potensi diri dengan potensi yang sebenarnya Allah Berikan untuk kita sebagai penjaga ‘pos khalifah’ tadi.

Masalah besarnya adalah potensi ini sesuatu yang abstrak di dalam diri kita. Cara meyakininya serupa dengan cara meyakini adanya Allah, yakni lihatlah wujud ciptaannya. Maka portofolio pribadi adalah sesuatu yang sebaiknya kita simpan baik-baik untuk melacak jejak potensi-potensi itu. Cara lainnya, ikutilah tes yang mampu membaca potensi-potensi tadi. Sejauh ini, baru satu tes ‘ajaib’ yang saya coba. Tak ada satu soal pun. Semuanya cukup dibaca dari SIDIK JARI. Tenang, ini cukup ilmiah, dan punya kredibilitas.

Penasaran?

Catatan:

Berikut BUKU WAJIB untuk pengenalan kecerdasan dan bakat diri. Wajib dimiliki individu atau keluarga. Guru, dosen, sekolah, mahasiswa. Penting untuk setiap orang. Bukan main. Buku yang membesarkan hati. Buku untuk menghilangkan kebodohan dan rasa minder.

5 Langkah Melahirkan Mahakarya

5 Langkah Melahirkan Mahakarya
Penulis: Muhammad Musrofi
Penerbit: hikmah
Buku yang SANGAT INSPIRATIF! Menceritakan betapa berharganya bakat kita, lalu menunjukkan cara ‘mengeluarkannya’ dalam 5 langkah. Dilengkapi kisah dan contoh nyata bertabur ayat-ayat suci AlQur’an dan Hadits Rasul. Ini buku praktek, jadi segera terapkan 5 langkah itu!

Youre Smarter Than You Think

Kamu itu Lebih Cerdas daripada yang Kamu Duga
Penulis: Thomas Armstrong, Ph.D
Penerbit: Interaksara
Betapa mudahnya untuk menjadi CERDAS! Tidak hanya satu, tapi delapan kali lebih cerdas. Kecerdasan bahasa, logika, musikal, interpersonal, intrapersonal, naturalis, jasmani, dan visual. Identifikasi kecerdasan diri Anda! Lengkap, lengkap sekali! Tidak lupa berbagai profesi yang cocok dengan kecerdasan, kombinasi berbagai kecerdasan itu, saran pengembangan, dan referensi bermutu. Dilengkapi fakta menarik dan ilustrasi lucu, Anda masih tak mau membelinya?
Percayalah, dijamin meningkatkan percaya diri Anda!

6 comments July 15, 2008

Sandal Megalomania

Pria sekarang semakin doyan bersolek. Ah, bukan, bukan, maksudku semakin memperhatikan cita rasa dalam penampilannya, terutama yang tinggal di kota macam Bandung. Beragam aksesori pria semakin artistik dan mencerminkan karakter pemakainya, tak kalah dengan ragam aksesori wanita. Sebut saja untuk yang satu ini, sandal, yang selain berfungsi utama sebagai alas kaki, juga harus matching dengan kepribadian orang dan busana yang dikenakannya.

Alkisah saya sedang mencari sandal baru untuk menggantikan sandal lama yang sudah usang. Well, biasanya atas alasan kepraktisan, saya (dan mungkin sekian banyak pria lainnya) akan memilih sandal tipe ATS (All Terrain Sandal), alias sandal satu bisa dipake macam-macam. Mulai dari jalan-jalan santai sampai hiking ringan.Ya, benar, untuk yang begini, sandal gunung adalah jawabannya.

Selain penampilannya yang macho, sandal gunung terkenal awet, dan akibatnya, jarang dirawat alias jarang dicuci, karena pria menganggap sandal itu sudah mampu merawat dirinya sendiri (what?). Tak heran, banyak sandal gunung yang mengakhiri masa baktinya dalam keadaan yang cukup tragis. Terkoyak di sana-sini, hilang, sampai mengeluarkan bau yang tak keruan.

Strategi ATS ini jelas sekali menyimpan kekurangan besar. Coba pikirkan, apa jadinya mobil jeep yang biasa untuk offroad dipakai untuk datang ke acara-acara onroad? Ya, pemiliknya akan nampak cuek, tak bisa menempatkan diri, dan agaknya, si mobil juga malu. Demikian juga dengan sandal gunung yang dipakai untuk bertandang ke rumah orang lain, makan-makan silaturahmi di restoran, atau sekedar mampir ke toko buku besar. Sandal gunung akan nampak terlalu macho. Cuek lebih tepatnya.

Maka saya putuskan untuk mengubah strategi per-sandal-an ini. Mari kita pilih sandal yang sesuai dengan habitatnya. Gunung untuk hiking, dan sandal ala bapak-bapak mapan untuk selainnya. Bagaimana, canggih bukan? (kemana aja loe?). Sudah saatnya memperhatikan penampilan. Tak perlu macam model tersohor di Milan, tapi setidaknya tidak terlalu amburadul macam tentara baru keluar dari hutan. Maka sore itu strategi hebat ini diputuskan. Btw, alasan sebenarnya lebih pada harga sandal gunung bagus yang ternyata agak mahal, jadi ‘terpaksa’ cari alternatif tanpa harus kehilangan muka. Maka muncullah strategi di atas.

Sandal cokelat muda ini cukup manis dilihat dan nyaman dipakai. Tapi ternyata bukan itu daya tarik sesungguhnya yang ditawarkan pembuatnya. Wajar bukan, bila kita melakukan uji coba ‘kepeleset’ pada sandal yang mau kita beli. Maksudnya, saat dipakai, sandal mampu mencengkeram tanah dengan baik, sehingga kelak kita bisa sigap berlari jika harus mengejar seorang pencopet di keramaian mall. Maka kuperiksa telapak sandal itu.

Peta Australia

Peta Australia

Subhanallah! Bukan main! Lihatlah kawan, telapaknya bukan sembarangan. Peta sebagian dunia, yakni benua Australia tertulis di atasnya! Tepat berada di kakimu kemana pun kau melangkah. Bukan main, betul-betul bukan main pembuatnya. Besar sekali imajinasinya membuat sandal. Bukan hanya untuk melangkah biasa. Melainkan ia ingin mengajak kita melangkah besar. Langkah yang mendunia. Jelajahi Australia dan dunia, mungkin begitu pesannya. Walaupun sangat sulit kuhindari untuk mengaitkan (sebagian) dunia di telapak sandal ini dengan konsep “Megalomania” dari Ustadz Anis Matta.

Konsep ala Nabi Sulaiman ini mengajarkan pikiran kita untuk mendunia, bahwa suatu saat nanti peradaban dunia ketiga, dunia timur, kelak minimal akan sejajar dengan peradaban Barat. Target ujungnya mengontrol, mendominasi, dengan nilai keimanan, kebaikan dan keadilan, tentu saja (tapi mengejar Barat untuk sejajar saja sudah ngos-ngosan, nggak nyampe-nyampe. Kita maju selangkah, situ sudah seribu langkah). Lalu mengadakan dialog peradaban, untuk bersama-sama membangun dunia yang lebih baik, yang lebih beriman, tepatnya. Dan untuk mencapainya harus dimulai dari pikiran megalomania itu.

Jadi, strategi membeli sandal megalomania ini sudah tepat nampaknya. Merasakan perasaan mendunia, “the world at your feet“. Entah mengapa tiba-tiba aku terkena sindrom megalomania ini. Aku merasa gagah sekali saat melangkah, disertai beban berat dari ‘dunia’ yang kuinjak setiap kali berjalan. Bukan main ini sandal. Sesaat aku merasa menjadi Ibnu Batutah atau Marcopolo yang mahsyur akan perjalanan keliling dunianya yang melegenda. Efek psikologisnya bukan main, rasanya kaki ini akan siap melangkah ke dunia, memimpin peradaban yang gilang gemilang, sekali lagi. Besar dugaanku pembuat sandal ini mungkin terinspirasi dari sandal-sandal milik para pembesar zaman kuno. Bukan tak mungkin para khalifah memesan sandal bertapak kaki peta dunia untuk memberinya sugesti lebih akan daerah yang akan dibebaskannya. Atau setidaknya seperti kata tokoh Arai dalam Laskar Pelangi, “Dunia, ini Aku, datang padamu”.

Demikian sejarah sandal megalomania yang inspiratif itu. Belakangan aku harus rela melepas ambisiku untuk mengejar copet di mall itu, jika ada. Sebabnya, tak lain akibat peta dunia di sandal itu, karetnya tak mencengkeram kuat di lantai yang licin. Sebenarnya dia tak lulus tes ‘kepeleset’, namun godaan “the world at your feet” ini begitu sulit ditolak. Pelajaran penting segera kuambil. Untuk menjadi megaloman, risiko langsungnya adalah mudah terpeleset dan terjungkal. Terjungkal karena terlalu banyak bermimpi, atau terlalu sombong ingin menaklukkan dunia di kakinya sendiri.

7 comments July 7, 2008

Kursus Bahasa Mars dan Venus

Kursus bahasa Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Jepang atau Mandarin bukan hal yang asing bagi kita. Sekian banyak lembaga menawarkan program untuk mempelajari bahasa di luar bahasa ibu kita tersebut. Penguasaan bahasa ‘asing’ membuat orang mampu mencerna informasi yang disampaikan dalam bahasa ‘asing’, berkomunikasi dengan baik dengan orang ‘asing’, memahami budaya ‘asing’, sampai tak masalah kalau harus tinggal di negara ‘asing’. Tak heran program beasiswa atau pertukaran pelajar menuntut penguasaan bahasa ‘asing’ ini, agar misalnya jangan sampai ekspresi suka cita ditanggapi sebagai hinaan oleh orang ‘asing’.

Berbicara tentang ‘asing’ dan bahasanya, nampaknya ‘asing’ tak melulu berwujud bangsa yang berbeda. Semua di luar diri kita bisa disebut ‘asing’. Bahkan sebagian besar diri kita pun masih ‘asing’. ‘Asing’ yang coba saya tampilkan adalah ‘asing’ antara bahasa pria dan wanita.

Komentar: What?

Mungkin sebagian besar kita sudah pernah membaca, atau setidaknya mendengar slogan “Men are from Mars, Women are from Venus”. Ya, slogan yang dijabarkan panjang lebar tentang cara berbahasa dua jenis manusia itu berbentuk buku dengan judul yang sama. Penelitian yang dilakukan John Gray, Ph.D ini membagi karakter yang berpengaruh terhadap cara berbahasa pria dan wanita menjadi karakter ‘makhluk’ ala planet Mars dan Venus.

Komentar: Hei kawan, itu buku lama, kami sudah pernah membacanya. So what?

Tak perlu saya uraikan berbagai karakter dan studi kasus yang sudah cukup detail dari buku itu. Kebanyakan saya amini. Kebanyakan yang lain saya tercerahkan dalam memahami cara berbahasa diri saya sebagai pria dan ibu saya, kakak saya, serta teman-teman saya sebagai wanita. Sederhananya, pria dan wanita punya cara berbahasa yang berbeda, yang dipengaruhi karakter bawaanya sebagai pria dan wanita tersebut. Memang, selalu saja ada pengecualian, namun pada umumnya sejauh ini demikian adanya.

Komentar: Ha, kemana aja ente? Baru ngerti kalo beda?

Memahami cara berbahasa orang lain sangat membantu kita memahami mereka, di samping memperkaya cara kita memandang masalah. Lebih jauh hal itu akan membantu terciptanya hubungan yang sehat dan saling pengertian. Ini tidak melulu soal hubungan asmara antara pria dan wanita. Di keluarga, organisasi, kantor, sekolah, bisnis, sampai politik pun bisa, selama ada komunikasi, sesederhana apapun bentuknya. Tak usah cemas pikiran kita dibaca orang. Toh untuk itu kan kita berkomunikasi. Bukannya kita di sini untuk bekerja dan berkarya bersama? Bukankah menyenangkan kalau orang lain bisa memahami kita dan kita pun memahami mereka? Bukankah nyaman kalau kita bisa menempatkan diri dengan baik terhadap orang lain? Lalu saling melengkapi? Kalau canggih, bahkan orang sudah paham sebelum mulut berbicara, seperti kata Ronan Keating, “You say it best when you say nothing at all“.

Jika setiap pria dan wanita saling memahami cara berbahasa mereka masing-masing, beberapa hal berikut mungkin dapat diatasi:

  • Kasus KDRT yang sering diakibatkan masalah ’sepele’ yang tidak dibicarakan, atau tidak dipahami bersama
  • Kasus ‘emansipasi’ wanita dan ’sok-kuasa’ pria dalam wadah kerja bersama
  • Kasus sales yang penjualannya tak kunjung meningkat
  • Kasus dosen yang heran mengapa hanya murid perempuannya saja yang mayoritas nilainya bagus (ha?)

Terimalah kenyataan ini. Pria dan wanita punya bahasa yang berbeda. Tanpa mengetahuinya, keduanya sering nggak nyambung. Masalah tak selesai, hati tak puas, kepala pusing, sampai stres bisa muncul. Lalu, kenapa sampai hari ini masalah perbedaan bahasa ini belum sampai pada taraf cukup ‘asing’ untuk dijadikan semacam kursus atau pelajaran yang bisa diambil SKS-nya?

Hal ini nampaknya baru muncul pada pelatihan atau kursus pra-nikah, sebuah persiapan pria dan wanita yang ingin bersatu dalam sebuah keluarga. Padahal setiap pria sudah harus berurusan dengan wanita sejak bertemu ibu dan adik perempuannya. Begitu pula setiap wanita sudah harus berurusan dengan pria sejak bertemu ayah dan kakak laki-lakinya. Dan sejak saat itu mereka menggunakan bahasa masing-masing yang harus diartikan tanpa pedoman yang jelas tentang grammar dan vocabulary dari masing-masing bahasa tersebut. Bahasa ini begitu basic , bahkan lebih basic daripada bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Ini bahasa karakter, bahasa bawaan, bahkan bahasa pikiran. Lebih sederhana dan inti daripada bahasa lisan.

Komentar: Ow, gitu maksudmu. Jadi kongkritnya apa mas?

Jadi, mengapa besok kita tidak buka kelas kursus “Belajar Bahasa Pria dan Wanita”? Biar keren, namanya dibuat jadi “Kursus Bahasa Mars dan Venus”, norak bukan? Taruhlah 2-4 SKS saja. Atau dibuat 3 level: beginner, intermediate, advanced. Gagal uang kembali. Kuliah jarak jauh juga bisa. Tidak perlu ijazah apapun untuk memulainya. Hari ini daftar, besok mulai kursus. Dibuka kelas karyawan malam hari. Ruangan ber-AC dan dilengkapi fasilitas audio visual. Satu kelas dibatasi 10 pria dan 10 wanita. Mau daftar nggak?

Tak ada alasan untuk malu kan? Ini bukan hak eksklusif mahasiswa psikologi, konsultan keluarga, atau divisi SDM perusahaan kan? Iya kan? Ya kan?…

Komentar:

2 comments July 4, 2008

Pesimis

Sebuah kajian strategis dari mantan orang penting di Amerika Serikat memprediksi bahwa pada 2025, Indonesia akan lenyap dari bumi disebabkan negara ini akan bergabung melalui aliansi antarnegara atau tercabik-cabik akibat konflik dan peperangan antardaerah.

Aku merinding mendengarnya. Bukan tak mungkin. Bisa jadi lebih cepat. Konspirasi? Mungkin saja. Skenario jahat? Salah siapa meminta mereka jadi sutradaranya?

Pilkada rusuh. Ekonomi anjlok. Protes dan demonstrasi merebak. Korupsi menggila. Kepercayaan runtuh. Wibawa pemerintah kabur. Orang-orang kehilangan akal. Lingkungan beracun. Pendidikan terabaikan. Sumber daya alam habis. Kemiskinan meroket. Pengangguran jutaan. Hukum dibeli. Agama diinjak-injak.

Allah berfirman, ini bumi dititipkanNya pada kita. Orang bilang, ini tanah air beta. Lalu mengapa kita tidak kunjung menjadi tuan di tanah sendiri? Dan mengapa sejarah yang berulang melulu sejarah kekalahan?

Jadi, apa yang Anda pikirkan saat bangun, pagi ini?

9 comments July 1, 2008

Nostlagia: Lagu “Mentari”

Sebuah iklan kebangkitan nasional yang menampilkan Ekspedisi Trike Sabang Merauke, dilatarbelakangi oleh lagu “Mentari”. Lagu ini sering kami dengar saat masa OSKM 2002. Awalnya agak heran mengapa lagu ini ada di iklan itu, karena setahu saya, lagu ini semacam ‘lagu rakyat’ ITB. Namun belakangan diketahui ternyata ekspedisi itu diselenggarakan oleh Wanadri, dan Abah Iwan Abdulrachman, pencipta lagu “Mentari” ini, adalah anggota Wanadri juga. Klop. Perlu diklarifikasi juga nampaknya lagu ini bukan ‘lagu rakyat’ ITB., melainkan untuk semua. Selain itu, nampaknya lagu “Mentari” yang selama ini beredar di ITB sedikit dimodifikasi, karena sedikit berbeda dengan yang tertulis di sini. Yang jelas, akibat pengkondisian panitia OSKM 2002, dan film pergerakan mahasiswa saat orde lama/baru yang menggunakan lagu ini juga, lagu “Mentari” selalu terasa mengharukan.

Ada kesan sedih dari ‘mentari’ masa depan yang ‘terhalang’ ‘tembok’ dan ‘pagar duri’ rezim otoriter. Walau demikian, cahayanya tak kan berhenti menyinari hati-hati yang selalu optimis memandang hari esok. Mungkin demikian yang dirasakan kakak-kakak mahasiswa saat dahulu ditangkap, disiksa, bahkan dipenjara saat harus menyuarakan kebenaran. Mendengarkan versi yang dinyanyikan seorang pria bersuara sendu (tahu kan versi yang diputar saat OSKM 2002?) seperti di sini, serasa mendengarnya dinyanyikan dari balik jeruji penjara. Merinding. Sedikit menyayat, tapi menyimpan harapan. (Walah, sok tahu nih :p).

Siapa tahu tertarik untuk mendendangkannya sendiri, atau sekedar memainkan melodinya, silakan unduh teksnya di Teks Lagu Mentari versi Trial Error. Versi MIDI dapat diunduh di sini.

NB: Mohon dikoreksi nada yang fals atau chord-nya yang keliru. Ritme-nya juga tak sama persis. Lho? Ya, namanya juga versi trial error :p. Selamat bernostalgia :)

2 comments June 25, 2008

Album Biru

Foto_Kecil_@Airport

kubuka album biru
penuh debu dan usang

kupandangi semua gambar diri
bersih putih belum ternoda

Anda punya album kumpulan foto masa kecil? Saat sepeda roda tiga Anda lebih tinggi sedikit daripada Anda? Saat Anda masih suka berlari-lari ke sana ke mari, bermain air, atau membuat nangis anak tetangga? Saat tubuh dan muka Anda begitu menggemaskan untuk digendong dan dicubiti? Saat Anda masih disuapi bubur di pagi hari, lalu sebelum tidur Anda diceritakan dongeng pengantar tidur? Atau saat kedua orang tua Anda lebih ramping sedikit daripada kini?

Beruntunglah jika album-album yang berisi foto kekuning-kuningan itu masih ada, dan berusahalah untuk menjaganya Siapa tahu di sana, ada jendela untuk melihat siapa dulunya kita, siapa yang membantu kita saat kita begitu ‘bodoh’, lugu, dan tidak berdaya, dan ribuan memori yang dihapal betul oleh orang tua kita.

pikirkupun melayang
dahulu penuh kasih
teringat semua cerita orang
tentang riwayatku

Tak ada salah dan malunya jika saat hati sedang keras akibat merasa diri sudah hebat, pintar, dan berbakat bukan main, album ini dibuka lagi. Mungkin di sana ada gambar kita sedang dipangku, digendong, disuapi, ditidurkan, dibawa jalan-jalan, dan difoto, tentu saja. Begitu tergantung dengan orang lain, bukan? Orang lain? begitu caramu menggunakan kata ganti untuk orang tuamu sendiri? Baiklah kawan, tenang, kuralat kalimat ini. Begitu tergantung dengan orang tua, bukan? Bagaimana, puas kau? Nah, lebih baik lagi album itu dibuka bersama orang tua. Saatnya diam. Tanyakan cerita yang ada di satu foto yang kita tunjuk. Dengarkan, dengarkan cerita mereka tentang foto itu. Tentang tanggalnya, tempatnya, orang-orangnya, dan tentu saja, dirimu yang menjadi pusat perhatian foto itu. Biarkanlah tawa dan haru muncul. Tak masalah jika ada sedikit air mata. Rasakan saja kebahagiaan mereka menceritakan dirimu. Dengarkan, dengarkan baik-baik.

kata mereka diriku slalu dimanja
kata mereka diriku slalu ditimang

Nada-nada yang indah
slalu terurai darimu

tangisan nakal dari bibirku
takkan jadi deritamu

Mungkin tak banyak yang kita ingat. Beberapa orang di foto-foto itu mungkin sudah tiada. Atau pergi tak kembali. Begitu cepat waktu berlalu. Begitu cepat kita tumbuh. Lalu begitu cepat pula kita merasa hebat, dan melupakan masa kecil yang serba tergantung. Kacang lupa kulit? Ah, mungkin terlalu berlebihan disebut demikian. Jika begitu, masihkah kelak kita siap menjadi tempat orang tua kita bergantung? Lalu kita coba buat foto album lagi. Bahagiakah isinya? Sebahagia orang-orang di album masa kecil? Kita lihat saja. Semoga.

tangan halus dan suci
tlah mengangkat tubuh ini
jiwa raga dan seluruh hidup
rela dia berikan

oh bunda, ada dan tiada dirimu
kan selalu ada di dalam hatiku

(Bunda, Melly Goeslaw)

3 comments June 17, 2008

Lagi, Koneksi Internet Nirkabel dengan CDMA (Starone-N2115i-Ubuntu)

Walau sudah sering dibahas di forum-forum atau blog, namun ingin rasanya menambahkan panduan berikut ini, dengan maksud melengkapi yang sudah ada, siapa tahu dapat lebih mudah dipahami dan dipraktekkan langsung. Berikut adalah panduan (PDF) koneksi internet nirkabel melalui operator seluler CDMA Starone-Indosat dengan menggunakan handphone Nokia 2115i di sistem operasi Linux Ubuntu. Bagi pengguna Windows, cara instalasinya ada di link di luar file PDF ini.

Baca: Panduan Koneksi Internet Nirkabel dengan CDMA (Starone-N2115i-Ubuntu)

Berikut beberapa link dan file yang tidak tercantum pada file PDF tersebut.

  1. Perbedaan Detail Nokia 2116 / 2115i dan koneksinya ke PC.
  2. Pengaturan dan instalasi Nokia 2116 / 2115i di Windows dan perbandingan tarif beberapa provider CDMA (dari blog yang sudah tidak aktif, jadi saya lampirkan halaman offline-nya)
  3. Pengaturan dan instalasi handset Nokia di Windows untuk koneksi dengan Starone (file PDF, situs resmi Starone).

NB:

  • Trims buat Yudha yang udah membantu koneksi ini di IGOS-Center tempo hari.
  • Matur nuwun buat Pakde Ito yang sudah membantu saya untuk menyelesaikan tulisan ini. Kalo gak kepaksa nulis gak selesai-selesai, Pakde :). Semoga bermanfaat.

5 comments June 9, 2008

Meminjam Wibawa

The SimpsonsYang menarik dari film “Simpsons: The Movie (2007)” adalah ramuan khas “The Simpsons” tentang film kartun keluarga Amerika yang berisi humor, sarkasme, atau ironi tentang berbagai hal yang terjadi di negeri itu atau dunia dari kacamata orang Amerika. Tak heran kadang leluconnya tidak mampu membuat orang Asia macam kita tertawa, karena dibutuhkan pengetahuan ke-Amerika-an terkini untuk memahaminya. Dari sekian sindiran, terdapat sindiran terhadap pemerintah Amerika dalam film itu, yang dikaitkan dengan seorang aktor film Amerika ternama, Tom Hanks.

Tom HanksSiapa yang tak kenal kepiawaian aktingnya dalam Forest Gump, Saving Private Ryan, You’ve Got Mail, Catch Me If You Can, dan Cast Away ini? Tuan Hanks mampu mencitrakan dirinya sebagai aktor berkelas, santun, dan America’s good citizen lewat berbagai peran yang dimainkannya, film yang disutradarainya, dan mungkin juga kehidupan pribadinya yang sepi gosip. Tak rugi mengeluarkan uang untuk menonton filmnya, karena namanya adalah jaminan mutu, demikian kiranya. Maka dalam film “The Simpsons” itu, diceritakan bahwa Pemerintah Amerika meminjam wibawa (kredibilitas) Tom Hanks untuk meredakan protes penduduk Springfield yang tak rela kotanya diisolasi pemerintah atas alasan keamanan. Dalam dialog yang datar bernada sindiran, Tom Hanks kartun berkata bahwa pemerintah sudah kehabisan wibawa, jadi mereka terpaksa meminjam wibawa dirinya. Pemerintah dalam film itu sebenarnya mempunyai rencana tak elok yang sudah bisa dicium oleh penduduk Springfield, namun untuk meyakinkan bahwa yang ada hanya untuk kepentingan rakyat, maka muncullah tuan Hanks tadi. Meminjam wibawa? Ah, konyol dan ‘kena’ sekali.

Deddy MizwarEntah berhubungan atau tidak, sebuah iklan publik menyambut kebangkitan nasional menampilkan seorang sosok sutradara dan aktor senior yang berwibawa (tentu saja karena karya-karyanya yang berkualitas) , bang Deddy Mizwar. Dalam iklan puitis itu, bang Deddy bersajak tentang bagaimana sikap kita sebagai bangsa Indonesia yang serius mau bangkit. Raut mukanya geram, serius, namun ada garis-garis kesedihan melihat kondisi rakyat. Jujur saja, jika pembuat iklan menginginkan penontonnya agak tersetrum melihat iklan ini, agaknya ia berhasil. Baru kali pertama kurasakan pesan nasionalisme setali tiga uang dengan penyampainya. Pas, begitulah rasanya. Mungkin karena pengaruh film garapannya, Nagabonar dan Nagabonar jadi 2, yang membuat bang Deddy pas menyampaikan pesan kebangkitan itu. Berwibawa, begitulah rasanya.

Saya menunggu logo atau tulisan yang muncul di akhir iklan, yang menjelaskan siapa pemberi pesan sebenarnya. Ternyata dari Indosat, dugaan saya bahwa itu iklan pemerintah (lihat pesan nasionalismenya) meleset. Saya senang dengan metode penyampaiannya yang berbeda, artistik, dan pas sekali untuk generasi tua (jamannya Nagabonar) dan muda (jamannya Nagabonar jadi 2). Bolehlah kuusulkan untuk menjadi iklan berwibawa terbaik tahun ini, bukan begitu, kawan? Coba bandingkan dengan iklan ‘tandingan’ yang berisi para menteri (bukan hanya satu lho, 3-4 menteri sekaligus) yang muncul selepas kenaikan harga BBM. Coba rasakan, mana yang lebih berwibawa, sehingga Anda tak berpaling saat iklan itu muncul?

Satu lagi nampak risiko menjadi pemimpin dengan kebijakan tidak populer. Mungkinkah lebih baik menjadi seniman baik saja ya, yang menjunjung nilai luhur dari setiap karyanya? Bukankah kini seniman juga menjadi informal leader ? Tidak menjabat dan punya kuasa secara resmi, tapi sebenarnya mempengaruhi (mengontrol?) sekian banyak orang?

Bagaimana, Anda berwibawa? mungkin Anda-lah orang yang tepat untuk iklan HUT Kemerdekaan atau Sumpah Pemuda yang akan datang. Meminjam wibawa, ah canggih sekali kedengarannya.

8 comments June 3, 2008

Buku: “Aku Bisa Menulis”

Aku Bisa MenulisJudul: Aku Bisa Menulis
Penulis: Didik Komaidi
Penerbit: Sabda
Situs: http://sabdamedia.blogspot.com/
Cetakan Pertama: Agustus 2007

Terinspirasi dari tulisan teman tentang belajar membuat puisi dan terdorong meresensi buku di rumah, maka muncullah tulisan ini. Hal yang paling menarik tentang buku-buku ala beginner’s guide, atau idiot’s guide (bukan bermaksud merendahkan, namun mengaku bodoh dan tak tahu apa-apa tentang sesuatu lebih baik daripada sok tahu bukan? tapi agak kasar memang, atau lucu?) yakni materi yang disajikan adalah yang penting-penting, dan dikemas dalam bahasa yang mudah dimengerti, biasanya dengan banyak metafora. Jika penulisnya punya selera humor yang bagus, biasanya ia akan menertawai kesalahan bodoh yang dilakukan dirinya atau orang lain (biasanya disebabkan ketidaktahuan yang penting-penting itu), memberi tips jitu “to do” dan “not to do” berdasarkan best practice di lapangan, memberi contoh sederhana yang mudah dimengerti, dan jika sempat tak lupa ditambahkan ilustrasi ala komik dengan humor cerdas tentang kesalahan-kesalahan umum tentang pemahaman atau praktek tertentu.

Buku “Aku Bisa Menulis” yang disusun oleh Didik Komaidi ini pun menurut saya tergolong “Beginner’s Guide to Writing” alias semacam “Panduan Menulis untuk Pemula”. Mengapa tak diberi judul demikian? Mungkin penulis ingin lebih persuasif menyajikan karyanya, lewat ajakan motivatif untuk berani, “Aku bisa menulis!”, ketimbang mempersepsikannya menjadi semacam buku petunjuk teknis cara menulis yang baik dan benar. Lagipula, nampaknya menurut penulis hambatan terbesar menulis berada di sikap mental ketimbang teknis menulis itu sendiri. Bagian ini yang dibahas penulis di bagian pertama tulisannya sebelum masuk ke jenis dan teknis penulisan di bagian kedua. Bagian pertama lebih jarang diungkap ketimbang jenis-jenis tulisan yang bisa ditemukan di buku pelajaran bahasa Indonesia untuk sekolah menengah.

Bagian pertama berisi 24 subbab dari ujung ke ujung tentang teori dan motivasi untuk menulis. Bingung menulis mulai dari mana? bingung mencari ide? bingung tulisan tidak selesai-selesai? bagaimana menulis dengan emosi? ingin awet muda dengan menulis? ingin menerbitkan tulisan ke media massa? di bagian pertama inilah tempat yang tepat untuk menanyakannya. Bagian yang paling saya ingat adalah bagian yang menyebutkan keuntungan sering menulis adalah terdorong untuk banyak membaca dan sensitif (kritis?) melihat sesuatu yang mungkin tidak dilihat orang lain, untuk kemudian dipikirkan dan akhirnya menjadi tulisan yang menarik. Seringkali hal sederhana dan dianggap umum oleh orang-orang ternyata bisa menjadi inspirasi dan karya indah dari penulis bertangan dingin (berkepala dingin?)

Bagian kedua berisi 20 subbab, juga dari ujung ke ujung, mengenai jenis tulisan dan praktek menulis. Mulai dari mengenal jurnalistik, meliput berita, menulis esai, artikel ilmiah, kolom, cerpen, puisi, resensi buku, skenario film, drama, surat, hingga catatan harian. Masing-masing jenis tulisan disertai contohnya sehingga pembaca bisa memahami perbedaan masing-masing tulisan dengan lebih jelas. Menyimak bagian kedua ini, pikiran seperti kembali ke bangku SLTP, di sebuah kelas bahasa Indonesia yang selalu ditunggu (karena tidak ada hitungannya, dan banyak puisinya).

Jika tulisan sudah selesai, baiknya dicoba untuk dikirimkan ke media massa atau penerbit agar manfaatnya lebih terasa, baik untuk diri sendiri atau orang lain. Tak tahu alamat media atau penerbit? Balik-balik saja halaman buku ini sampai hampir habis, karena di sana tersedia alamat-alamat tersebut, baik alamat kantor, situs, atau email.

Buku ini tidak memberikan ilustrasi atau humor seperti yang disebutkan di awal, namun semoga itu tidak mengurangi minat dan keinginan penulis pemula untuk mulai menulis. Toh, ilustrasi dan humor adalah bumbu penyedap agar hal-hal sulit bisa lebih dipahami dengan lucu dan sederhana. Lagipula, saya sedang mereferensikan beginner’s guide di awal dari panduan teknis mempelajari bahasa pemrograman yang memang runyam dan membosankan jika disajikan biasa-biasa saja.

Jadi, buku ini cocok sekali untuk yang sedang mulai menulis atau yang sudah menulis dan ingin menajamkan ilmu menulisnya. Bagi orang awam seperti saya, buku ini seperti all-you-need-to-know dan how-to tentang menulis. Salut untuk penulis. Selamat membaca.

4 comments May 27, 2008

Previous Posts


Calendar

July 2008
M T W T F S S
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Kategori

Tulisan yang ada

Komentar

Links

Kunjungan

Cari travel OK di Bandung?

Cari bakmi enak di Bandung?

Butuh layanan software open source?

Iklan


RSS Astronomi

RSS NetSains.com

Pak Taufikurahman for Bandung