Mengukur Kecerdasan: Tes Psikologi, DMI, dan lainnya

Otak Kanan-Kiri
Bakat adalah misteri terpendam dari setiap manusia, dan cara mengukurnya bahkan lebih misterius lagi. Tidak mudah mengukur jenis dan kadar kecerdasan setiap orang. Kalaupun dapat, seberapa presisi-kah pengukuran tersebut? Satuan apa yang digunakan untuk menghitungnya? Jika kecerdasan itu terus berubah, baik tumbuh maupun berkurang, seberapa seringkah pengukuran sebaiknya dilakukan? Ah, untuk menjawabnya nampaknya kita harus minta bantuan ahlinya. Tapi setidaknya terbayang oleh kita betapa tidak mudahnya mengukur kecerdasan yang kita miliki. Padahal, sekian banyak keputusan strategis dalam hidup kita ditentukan dari seberapa baik kita mengenali diri kita. Mengenali kecerdasan kita. Semakin baik proses tersebut, semakin ‘lancar’ jalan hidup kita, sehingga semakin dekat kita dengan puncak-puncak pencapaian terbaik dalam hidup kita, yakni menciptakan mahakarya.
Tes Psikologis
Tes ini bertujuan untuk mengukur IQ, kepribadian, minat pekerjaan, emosi, interaksi sosial, intelektual (daya nalar, daya ingat, bahasa, analisis, hitungan, kemampuan abstraksi, ruang), penjurusan IPA/IPS, dan pilihan jenjang studi lanjut (kuat sampai S3 gak?).
Bagian yang paling melelahkan dari tes ini adalah penjumlahan ratusan bilangan di kertas lebar bolak-balik itu, bukan begitu? Mungkin tidak bagi yang menggemari angka-angka. Namun bagi saya, tes ini melelahkan karena kita dituntut untuk menghitung cepat dan akurat, apalagi ia disimpan di jam-jam terakhir tes. Oya, satu lagi yang menyebalkan adalah menebak tingkah laku balok hitam yang sesuka hati menempatkan dirinya di antara kumpulan balok lain yang tak utuh, setelah diputar kanan-kiri-atas-bawah. Maka indikasi itu bagi saya, jelas sekali. Saya tak berbakat menjadi arsitek atau dokter.
Dan anehnya, tes psikologi yang pernah saya ikuti mampu menebak dengan tepat jurusan kuliah yang saya inginkan. Setelah berjam-jam menjawab soal tulis, saya tidak menyangka bahwa jawaban paling ditunggu-tunggu, yakni tentang jurusan kuliah, didapatkan dari wawancara langsung dengan pertanyaan yang langsung pula, “Kamu sukanya masuk jurusan apa?”. Maka tak heran hasil tes begitu pas dengan keinginan.
Tes Sidik Jari

SIdik Jari
Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa tak perlu soal secuil pun untuk mengidentifikasi kecerdasan yang tersembunyi ini. Cukup secara sukarela menyerahkan dua telapak tangan dan sepuluh pucuk jari tangan untuk dipindai dengan pemindai sidik jari yang terhubung dengan software tertentu di laptop. Tidak sampai sejam, tes pun selesai. Hasilnya tunggu 2 minggu kemudian. Silakan pilih, laporan hasil analisisnya hendak disajikan dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Setelah laporan diterima, Anda bebas berkonsultasi dengan konsultan pengembangan diri yang juga mempunyai salinan laporan tersebut. Rahasia keluarga, tentu saja. Hebat, bukan?
Inovasi teknologi yang berkembang menjadi bisnis ini ditemukan oleh ilmuwan Singapura yang meneruskan penelitian orang selama ratusan tahun (ini kata laporannya, lho..) tentang sidik jari. Maka tak heran, citra sidik jari kita harus dikirim ke Singapura untuk proses analisisnya, mungkin ke sini.
Bagaimana cara kerja tes ‘ajaib’ ini? Entah bagaimana pastinya, namun di antaranya melibatkan ilmu statistik, medis-terutama tentang syaraf pada telapak tangan, dan bumbu rahasia perusahaan. Awalnya, saya pikir cukup dengan statistik, yakni dengan membandingkan sidik jari kita dengan sidik jari tokoh-tokoh yang terkenal dengan kecerdasan mereka di berbagai bidang, lalu dipetakan dalam bentuk grafik dan ukuran-ukuran tertentu. Walau ini tak mudah, namun nampaknya ini tidak cukup. Cara mengukur kecerdasan tokoh-tokoh itu awalnya pakai apa? Bisa jadi ilmuwan atau seniman top punya kecerdasan lain yang lebih menonjol, dan bisa pula nilai ukuran kecerdasannya akan semakin tinggi jika ia tidak mati muda. Seberapa banyak data sehingga cukup valid untuk dibanding-bandingkan? Ataukah mungkin sidik jari dalam setiap jari, sebenarnya menyimpan informasi unik dalam bentuk lengkungan, lingkaran, atau tekstur, tentang kecerdasan pemiliknya? Misterius, bukan? Nama kerennya DMI (Dermatoglyphics Multiple Intelligence).
Hasil laporannya sebagai berikut:
- Sejarah peneliti dan penelitian sidik jari yang berhubungan dengan otak.
- Teori kerja dan karakteristik otak kanan dan kiri.
- Presentase dominasi penggunaan otak kiri atau kanan.
- Nilai dan peringkat setiap kecerdasan yang delapan: logika, musikal, visual-ruang, kinestetik-jasmani, interpersonal, intrapersonal, bahasa, dan naturalis.
Dari grafik akan nampak perbedaan kadar kedelapan kecerdasan itu pada diri kita. Sarannya, kita cukup berkonsentrasi pada peringkat 4 besar. - Definisi, karakter, cara peningkatan, dan karir yang tepat untuk setiap kecerdasan.
- Bobot gaya belajar (visual, auditori, dan kinestetik) dan kepekaan belajar (seberapa cepat kita mempelajari sesuatu).
- Gaya manajemen kerja, yakni semacam kumpulan karakter sifat, ciri-ciri negatif, bentuk komunikasi, lingkungan kerja yang sesuai, penampilan saat rapat, sikap di bawah tekanan, dan sebagainya.
Bagi saya, hasilnya cukup membesarkan hati.
Ya iyalah, siapa yang nggak senang tahu kelebihan diri yang bisa dieksplorasi lebih dalam?
Akurat-kah?
Dari delapan kecerdasan itu, kecerdasan visual-ruang saya menempati urutan 2 terendah. Cocok. Walaupun ada yang mungkin belum muncul, yakni kecerdasan naturalis yang masuk 4 besar. Jelas belum ada ketertarikan mengadopsi hewan peliharaan atau merawat kebun anggrek. Paling cukup terhibur menonton berung es yang bergumul memperebutkan wilayah kekuasaan atau perjalanan arung samudera paus bongkok mencari makanan.
‘Tes-tes’ lainnya
Beberapa bentuk tes lain berusaha mendekati pengenalan kecerdasan (bahkan nasib, rejeki, dan jodoh!) dengan cara pandang yang berbeda. Ada yang dengan membacanya dari golongan darah seperti di buku ini, menjawab pertanyaan teka-teki unik, mengitung hari lahir, sampai kombinasi nomor handphone. Ada yang ilmiah, dan ada yang ’supranatural’. Namun tidak dibahas di sini, karena sejauh ini baru 2 jenis tes ini, yang pernah saya coba, yang hasilnya detail dan dikemas dengan ’serius’.
Tapi bukankah dengan sekian banyak metode akan semakin mendekati hasil pembacaan yang ’sebenarnya’? Layaknya semakin banyak titik pada koordinat akan semakin memudahkan pencarian persamaan garis yang melewatinya? Atau proses ini sebenarnya layaknya persamaan asymtot yang selalu-mendekati-namun-tak-pernah-bertemu itu? Mungkinkah di situ tersimpan pesan bagi kita untuk tak henti ‘membaca diri’? Bagaimanapun juga, tindak lanjut setelah mengetahui sekian kecerdasan terbaik diri tidak boleh dilupakan, yakni berlatih terus menciptakan karya. Sayang sekali, untuk yang satu ini tidak ada cara lain.
Catatan:
Jika kawan-kawan tertarik mencoba DMI, silakan menghubungi Bimbingan Belajar Primagama cabang Jl. Belitung, Bandung. Primagama pusat di Yogyakarta juga bisa. Situsnya di sini. Investasinya Rp. 750.000. Relatif mahal untuk ukuran tes bakat. Relatif murah daripada waktu dan biaya yang terbuang jika ’salah’ jurusan atau ’salah’ pekerjaan.
2 comments July 24, 2008



Mungkin sebagian besar kita sudah pernah membaca, atau setidaknya mendengar slogan “Men are from Mars, Women are from Venus”. Ya, slogan yang dijabarkan panjang lebar tentang cara berbahasa dua jenis manusia itu berbentuk buku dengan judul yang sama. Penelitian yang dilakukan 




Judul: Aku Bisa Menulis


